
Ucapan pak Inod menggantung begitu saja, ia menerawang kejadian dua hari yang lalu saat ia di buntuti oleh seseorang, ia menyuruh anak buahnya diam-diam untuk menyelidiki itu dan ternyata sudah satu bulan mereka membuntutinya sialnya lagi pak Inod baru tau dua hari yang lalu.
"Dan kemarin apa." jawab pak Hamid yang tadinya berdiri itu sekarang ikutan duduk di samping pak Inod menutup laporan-laporan yang ia pegang, sambil melambai-lambaikan tangannya ke wajah pak inod yang sedang melamun "Oi nod, kau kenapa." ucap pak hamid sambil menggoyangkan tangannya pak inod.
"Ah enggak, aku nggak apa-apa." ucap pak Inod sadar dari lamunannya.
"Kau kenapa, kau cerita saja." ucap pak Hamid menepuk pelan bahu pak Inod.
Pak Inod menghembuskan nafasnya yang tiba-tiba terasa menghimpit "Mid, aku mau buang angin." ucap pak inod berbisik ke telinga pak Hamid, lalu tiba-tiba pinggang pak Inod di angkat sebelah br**ot... ot*k ot*k pr*t begitulah kira-kira bunyi bom molotov dari pak Inod kawan.😂
"Um, si alan kau." ucap pak Hamid menutup hidungnya mengambil kertas-kertas laporan yang ia letakkan di atas meja lalu ia mengipas-ngipaskannya ke atas, ke bawah, ke samping, ke depan.
"Hehehe." cengir pak Inod "baru tau rasa kau, emang enak." batin pak Inod ia tidak menyesal sedikitpun.
"Udah serius-serius, malah buang gas beracun kau." gerutu pak Hamid bersungut-sungut ia berlari buru-buru membuka jendela.
"Ya maaf, perut aku tiba-tiba nggak enak banget." cicit pak inod dengan tatapan memelasnya.
" Kalau kau mau ke kamar mandi, ya udah sana pergi."ucap pak Hamid.
"Enggak." ucap pak Inod singkat.
"Terus mau ngapain kau di sini, kalau nggak penting-penting banget sebaiknya kamu pulang. aku masih ada banyak pekerjaan." ucap pak Hamid ia kembali duduk di kursi kerjanya.
"Aku mau kamu menyamar jadi supir aku." ucap pak Inod dengan kata-kata penuh penekanan.
"Uhuk uhuk uhuk." pak Hamid tersedak ludahnya sendiri karena mendengar perkataan pak Inod, pak Inod yang sudah memperhitungkanya itupun mengambil air dan melangkah menuju kursi pak hamid menepuk-nepuk punggungnya lalu menyodorkan gelas air putih kepada pak Hamid "Mau balas dendam ya kau." Ucap pak Hamid "Bunuh aku sekalian Nod. bunuh. bukannya bantu menyelesaikan masalah malah buat masalah besar, setidaknya kamu bantu investasikan uangmu ke kantor baru ku ini kah, kantor baruku perlu renovasi lagi tau" batin pak Hamid. pak Inod ia hanya nyengir
"Sebenarnya mau kamu itu apa." ucap pak Hamid sambil mengangkat satu tangannya agar berhenti menepuk-nepuk punggungnya agar berhenti dan memutar tubuhnya berhadapan dengan pak inod.
__ADS_1
"Hmm cepat tanggap sekali kau ya, seperti biasa." batin pak Inod menyunggingkan sebelah bibirnya. "Mau aku, kamu menjadi mata-mata ku sebarkan semua anak buahmu di sekitar rumah dan perusahaan jangan sampai ketahuan oleh musuh, sampai waktunya tiba kita ringkus dia." ucap pak Inod dengan menekankan setiap katanya. siapapun yang melihat raja dari segala raja ini pasti mereka akan mati mengompol, tapi sayang dia masih bermain tak-tik dengan musuhnya.
"Hm, sepertinya calon musuh yang di gadang-gadang ini lumayan berat ah, aku harus minta upah dari **I**nod." batin pak Hamid
"Apa kau sudah menemukan tikus itu?" tanya pak hamid mengeluarkan aura yang berbeda.
"Belum, untuk saat ini masih belum dapat, masih dengan kurcaci-kurcacinya yang berkeliaran, topeng aslinya masih belum dapat, dia seperti belut. licin sekali." ucap pak Inod lirih.
"Hm, bagaimana kalau kita tangkap satu persatu kurcicanya lalu..."ucap pak Hamid menggantung.
"Jangan, jangan membunuhnya." ucap pak Inod membalikkan badannya mengeluarkan smirknya ke arah pak Hamid dan dia tau itu apa.
"O, kau sudah mempunyai rencana lain rupannya." ucap pak Hamid yang sama-sama mengerikannya itu dan pak Inod hanya megedikkan bahunya mereka sama-sama mengeluarkan smirknya.
"Hm, okey kalau anak buahku bisa menemukannya aku meminta upah dari kamu." ucap pak Hamid.
"Tidak masalah, kamu boleh minta apapun dariku." ucap pak Inod.
"Apa itu."ucap pak Inod menyipitkan kedua matanya.
"Aku menginginkan anak kamu." ucap pak Hamid.
"Yang mana." ucap pak Inod dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan oleh nalar.
"Hm, perempuan." akting pak Hamid seperti pedofilia, ia menirukan adegan yang ada di televisi untuk menggoda sahabat nya itu, dia ingin tau seberapa sayangnya pak inod kepada anaknya. Tapi siapa sangka dia malah mendapatkan bogem mentah darinya.
BUK
Satu pukulan dilayangkan pak inod ke arah perut pak Hamid tapi itu tidak membuatnya tumbang. berani sekali dia mempunyai pikiran yang tidak-tidak tentang anaknya.
__ADS_1
"Apa kau sudah bosan hidup. hah. aku tak akan pernah memberikan anak perempuanku kepadamu walaupun nyawaku menjadi taruhannya." ucap pak inod mencengkeram kuat kerah baju pak Hamid.
"Hm seperti dugaanku, manusia seperti dia sangat menyayangi putrinya walau tampangnya terkadang menyeramkan ia tega dengan musuhnya tapi dia tidak akan membiarkan anak nya di sayat satu senti pun oleh musuhnya. Anakku, kelak kau harus menjaga calon menantuku dengan baik atau kau akan di sembelih mertuamu." ucap pak Hamid dalam hati "kau cukup tau diri rupanya Nod." ucap pak Hamid tertawa ia melanjutkan aktingnya sebagai pedofilia.
"Apa maksudmu." geram pak Inod.
BUK
Ia meninju bibir pak Hamid seketika itu dia berhenti tertawa dan itu mampu menumbangkanya dia terduduk di lantai dia diam tak mau membalasnya, dia sudah tau resikonya seperti apa, dia berani menyulut api dan dia harus berani menanggungnya.
"Aku pikir kau sudah tau apa maksudku. dasar bodoh." ucap pak Hamid sambil menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Jangan kau berfikir, kau sahabatku aku tidak berani membunuhmu dan jangan pula kau berfikir, kau inspektur polisi di sini aku tidak berani denganmu, aku bisa membunuhmu sekarang juga di sini. Aku tidak peduli." ucap pak Inod geram.
"Ck kau ini terlalu serius sekali sih." ucap pak Hamid mencoba berdiri dan pak Inod hanya melihatnya dengan tatapan bengisnya. salahnya sendiri dia sudah membuatnya marah "Apa kau tak ada niatan untuk membantuku berdiri." ucap pak Hamid mengulurkan tangannya sedangkan tangan pak Inod di taruh di kedua pinggangnya nya.
"Aku tidak mau." ucap pak Inod, pak Hamid hanya bisa mendesah prustasi dia masih terduduk di lantai.
"Maksudku di sini aku meminta salah satu dari anak kamu menjadi menantuku. Kita besanan." ucap pak Hamid dengan kata-kata penuh penekanan mendengar hal itu pak Inod mau membantunya berdiri. dia mengulurkan satu tangannya untuk membantunya dan itu di sambut dengan senang hati oleh pak Hamid "Kau tau aku lebih suka anak perempuanmu." goda pak Hamid.
"Kau.." geram pak Inod sedangkan pak Hamid hanya bisa menertawakan kebodohan sahabatnya itu "si alan apa tidak cukup dia mendapatkan dua bogem dariku." batin pak inod mengepalkan tangannya.
BRAK
Tiba-tiba pintu ruangan pak hamid di buka secara paksa oleh anggotanya, dua orang yang ada di dalam itu sontak menoleh ke arahnya.
"Maaf pak saya membuka secara paksa pintu ruangan anda, karena saya mendengar kegaduhan dari dalam ruangan bapak apa bapak tidak apa-apa." ucap pak Sharman dia juga melihat sudut bibir atasannya berdarah.
"Ah kami hanya latihan gulat saja pak Sharman, anda tak perlu khawatir." alasan pak Hamid sambil merangkul pundak sahabatnya dan ia mampu memerankan perannya dengan sangat epik tanpa ada kesalahan sedikitpun siapa tau di kantornya ini Juga ada mata-mata yang menyamar sebagai polisi ia hanya berjaga-jaga saja. Itu kesalahannya, dia tidak mau nama Inod Bohemian Prasetyo pemilik sekaligus pemimpin perusahaan batu bara, makanan dan minuman itu terpampang di berbagai media, pak Inod dia hanya diam menyaksikannya.
__ADS_1
"Ah baiklah kalau seperti itu, maaf saya sudah mengganggu kalian. Saya permisi dulu." ucap pak Sharman membungkukkan badanya dan berlalu pergi.