Cinta Yang Kembali

Cinta Yang Kembali
FLB akhir Awal menjadi nakal 02


__ADS_3

Tak lama kemudian vander bangun dari tidur siangnya dengan mata yang masih lengket ia meraba-raba di samping tempat tidurnya "kosong" itu lah yang ia rasa saat ini, lalu ia membuka matanya "hah tumben yata sudah bangun dulu, biasanyakan aku dulu." gumam vander Sambil beruasaha duduk menyandarkan badanya ke tempat tidur


KRUUK


Vander memegangi perutnya karena dia merasakan perutnya keroncongan mungkin sebentar lagi cacing yang ada di perutnya akan disco, dia berdiri berjalan ke dapur membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa ia makan tapi sebelum itu dia sempat melihat pintu kamar yang di siapkan oleh neneknya untuk sesil tertutup rapat dan lampu kamarnya mati "tumben apa om dan Tante sudah pulang ya." ucapnya dalam hati karena tak biasanya sesil menutup rapat kamarnya dan mematikan lampunya dan sesil takut bila tidak ada yang menemani. didalam kulkas ia menemukan sepotong kue ia mengambilnya sebelum kue itu ia masukkan ke dalam mulutnya ia teringat dengan gadis kecilnya "yata sudah makan belum ya." lanjutnya dalam hati sambil memegang kue dan piring kecil di kedua tanganya dia teringat dengan gadis kecilnya "nanti aja deh aku bagi dengan yata." ucap vander dalam hati ia tak jadi memakan kue itu lalu ia mengembalikannya ke dalam kulkas dan menutupnya ia berjalan ke arah kamar neneknya. kamar sesil dan kamar nenek parki bersebelahan, jadi jika vander ingin membangunkan mereka berdua dia tidak akan kesusahan


Belum sempat ia mengetuk pintu neneknya lebih dulu membukanya


"vander, apa yang sedang kamu lakukan di sini." ucap nenek parki mengejutkannya vander, ia keluar dan menutu pintu itu


"Nenek astaga, kenapa nenek mengejutkanku. aku kira nenek bersama dengan yata." ucap vander memegangi dadanya


Nenek parki mengernyitkan dahinya "dasar segitunya kamu kaget ya, kamu pikir nenek ini apa. hantu."ucap nenek parki lirih dan vander ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal "mau apa kamu kesini." tanya nenek parki sambil bersedekap

__ADS_1


"Em aku mau tanya nek, apa om inod dan Tante irs sudah pulang lalu kak alkhan kemana ya kog akhir-akhir ini aku nggak pernah lihat."jawab vander sedikit ragu karena ia bingung jawaban apa yang harus ia beritahu kepada neneknya jika ia menanyakan yata langsung. ia akan di olok-olok oleh neneknya


Nenek parki mengernyitkan dahinya untuk kesekian kalinya mendengar jawaban vander "tunggu-tunggu, bukannya sesil sudah bilang kalau dia mau pergi." ucap nenek parki dalam hati ia bingung "kalau kak alkhan katanya dia sedang sibuk belajar, tapi nenek juga nggak begitu yakin. kalau om inod dan tante irs sudah pindah membawa kak alkhan dan juga yata." ucap nenek parki hati-hati di akhir kalimatnya. ia tahu kalau ivander cucunya sangat menyukai gadis itu dan diapun juga tau yang di tanyakan vander itu yata, ia menanyakan om inod dan Tante irs tanpa menyebutkan tanpa menyebutkan nama yata itu adalah alibinya. nenek parki memperhatikan exspresi bocah tujuh tahun itu yang berubah yang tadinya terlihat ceria dan baik-baik saja dan sekarang oh ya ampun dia terlihat kaget.


BOOM


Di atas kepala vander seperti ada bom yang siap meledak saat itu juga. ia tak percaya jika teman kecilnya akan pergi saat ini juga "apa nenek bilang, yata pergi." ucap vander menggeleng-gelengkan kepalanya, nenek parki hanya menganggukkan kepalanya pelan "tidak, yata tidak boleh pergi."gumam vander kakinya perlahan mundur ia berlari keluar rumah meninggalkan neneknya yang syok dengan sikap vander yang seperti itu "sampai segitunya dia ditinggalkan kekasih kecilnya. oh tuhan jaga, kuatkan dan lindungilah kami." batin nenek parki berdo'a ia menutup mulutnya agar dia tidak berteriak dia baru pertama kali melihat vander histeris seperti ini "yata tidak boleh pergi."teriak vander berlari menuju rumah sesil. nenek parki menangis mendengar teriakan vander


Mama varesa ibu dari ivander luke graha yang kebetulan saat itu sedang menginap di rumah ibu mertuanya langsung keluar dari kamarnya karena mendengar teriakan vander yang sangat memekakkan telinga dan ia juga mendengar ibu mertuanya "apa benar itu suara ibu." gumam varesa memastikan karena ia tak melihat ibu mertuanya, ia berjalan mencari sumber suara itu di mana. tak lama kemudian ia melihat ibu mertuanya sudah duduk dilantai dia berlari dan mendekati ibu mertuanya "ibu, astaga ibu kenapa."tanya mama varesa mensejajarkan tubuhnya dan membantunya berdiri


"Iya ibu duduk dulu ya." ucap mama varesa sambil membatunya berjalan karena nenek parki tak punya kekuatan untuk hanya sekedar berdiri dia masih terlalu syok. mama varesa membantunya duduk di kursi setelah itu dia berlari mengambil mengambil segelas air putih untuk ibu mertuanya "ibu kenapa?" tanya mama varesa setelah meminumkan air putih yang ia ambil dan nenek parki sudah terlihat sedikit tenang


"Varesa, vander." ucap nenek parki tersendat

__ADS_1


"Iya Bu, vander kenapa?" tanya mama varesa sambil mengelus punggung nenek parki


"Vander dia, dia menangis keluar rumah mencari sesil." ucap nenek parki sesenggukan


"Apa, bukankah tadi inod sudah mengatakan kalau sesil berpamitan dengan vander, lalu kenapa bisa jadi begini?" tanya mama varesa kaget


"Iya, tadi ibu juga sempat dengar kalau sesil akan di berikan hadiah dan vander seperti tidak menganggapnya serius." ucap nenek parki sedikit tenang


"Baiklah ibu tunggu disini sebentar ya, aku akan menyusul vander." ucap mama varesa nenek parki menganggukan kepalanya "vander, apa yang sedang kamu pikirkan nak? kenapa kamu tidak mempercayai sesil?" lanjutnya lagi dalam hati sambil berlari


Vander berlari ke luar rumah mennnuju kediaman om inod, saat itu saat iturumah om inod dan nenek parki masih berdekatan. sangat dekat hanya berbatasan dengan pagar dan jalan raya, vander yang saat itu menangis berlari ke rumah sedil ia sangat terkejut melihat keadaan rumah yang sangat gelap "kenapa lampu di rumah yata mati, dan kenapa lampu di rumah nenek menyala?" tanya vander sebab rumah sesillah yang paling gelap di antara rumah di antara kanan dan kiri "pasti rumahnya sedang mati lampu atau sedang ada pemadaman. ya pasti karena itu." ucap vander mencoba berfikir positif. dalam keadaan rumah yang sepi vander mencoba mengetuk pintu sambil berderai air mata dia berharap semoga masih ada yatanya yang berada di dalam rumah itu


TOK TOK TOK

__ADS_1


"Yata, buka pintunya yata aku tau kamu ada di dalam." ucap vander berulang kali sambil menangis, sesekali ia menggebrak-gebrak pintu itu berharap sang pemilik rumah keluar tapi harapannya itu tinggal harapan. sang pemilik rumah tidak membukakan pintu, ia sedih sangat sedih saat itu. kecewa, kecewa karena dirinya sendiri kenapa saat itu ia tak mempercayai omongan sesil? jika ia mempercayainya sedikit saja ia tak akan membiarkan yatanya pergi saat ini juga, ia juga kecewa dengan dirinya sendiri kenapa saat itu ia tertidur? jika ia berjaga sedikit saja ia akan mengatakan "kalau aku sangat menyayangimu dan jika besar nanti aku, kamu akan menjadi kita, kita akan membuat kisah kita sendiri" itulah kira-kira pemikiran vander


__ADS_2