
Pak Hamid ia menggeleng-geleng kapalanya melihat pemimpin perusahaan CF PST group yang tak bisa mengontrol emosinya "Kasihan mereka yang berani membuat ulah dengannya eh, kenapa aku bilang seperti itu ya kan itu sudah menjadi resikonya ah nggak tau lah aku nggak mau memikirkan itu yang terpenting aku akan mendapatkan menantu yang aku harapkan. yes. aku senang hatiku senang tralala trilili." batin pak Hamid.
"Hm mulai sekarang bereskan barang-barangmu kau bisa bekerja denganku hamid kapan pun itu aku akan menunggumu di rumah. pintu rumahku akan selalu terbuka lebar untukmu. aku pamit dulu." ucap pak Inod sambil menepuk pelan bahu sahabatnya dan menghadap kepadanya tanpa inod dan Hamid sadari mulut orang itu menganga dia syok mendengarkan perkataan bosnya dan yang tau itu hanyalah. Syeran, ke dua pengawalnya hanya menatap lurus ke depan
juga mereka yang berada di dalam ruangan itu tak ada yang tau jika pak hamid dan pak inod telah membuat kode yang hanya bisa di mengerti oleh mereka berdua saja.
"Hm aku menikmati pemandangan ini." batin syeran senang "huaa.. pak inspektur jangan tinggalkan tempat ini." teriak syeran ia masih berakting menangis dan ia juga mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Apa-apaan bocah ini, dia mengejutkan ku." batin pak Hamid. pak inod dia menyungging kan sebelah bibirnya dan ia belum membalikkan badanya.
"J-jadi yang aku dengar tadi sungguhan, aduh bisa gawat ini." batin sekertaris Mali ia takut jika dia sampai di selidiki oleh mantan innpektur ini "T-tapi perusahaan kita masih penuh." ucap sekertaris Mali gelagapan pak inod barulah membalikkan badannya yang mendengar perkataan sekertarisnya yang berada di belakangnya.
__ADS_1
"Hm aku akan menjadikannya, sopir pribadiku." ucapnya pura-pura berfikir.
"A-apa kita sudah punya vekan. tuan." ucapnya dia syok mendengar perkataan tuannya.
"Hm ya, kau benar Vekan akan aku khususkan dia sebagai pengantar bi jiah menemaninya pergi ke pasar."lanjut pak Inod lagi sekertarisnya hanya bisa menganggukan kepalanya lemah.
"Baiklah kalau itu yang anda mau." ucap sekertaris Mali ia lemas. jiwanya mendadak pergi entah kemana "Apakah dia benar-benar di pecat, kalau iya memangnya apa permasalahannya." batinya sekertaris Mali bingung.
"Terima kasih ya nod, memang kau sahabat terbaikku." teriak pak Hamid bertepatan dengan pak inod menutup pintu ruangan pak hamid dan ia hanya bisa menyunggingkan senyumnya.
Flashback end
__ADS_1
"Pak bapak pak Hamid." teriak Sesil sambil mengguncang-guncang lengan pak hamid, pak hamid yang sedang melamun sambil mengemudi itu berjengkit kaget untung saja mobil itu sudah di modif oleh syeran kalau tidak ia bisa bernafas untuk yang terakhir kalinya.
"I-iya non." jawab pak hamid ia kaget setengah bernyawa.
"Bapak ini bagaimana sih, bapak ini sedang mengemudi. bapak jangan melamun. kalau kita celaka bagaimana." ucap Sesil sambil menghapus air matanya perkataanya tersendat-sendat karena menangis.
"Tenang nak, mobil ini sudah ada yang mengendalikan." batin pak Hamid tapi ia tak mungkin berkata seperti itu, ia takut karena calon menantunya kebingungan "m-maafkan bapak non." cicit pak Hamid.
"Itu tidak penting pak yang terpenting sekarang kita harus mencari solusinya." ucap sesil ia yang masih mengeluarkan air matanya.
"Ya itu non, non harus lompat dari sini dan berlari jangan pernah berhenti atau pun menengok ke belakang." ucap pak Hamid.
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau meninggalkan bapak di sini." ucap sesil.