
"Hm apa lagi." ucap pak inod penasaran.
"Setelah itu kau pulang, kembalilah ke asalmu tadi." ucap Pak Hamid menyunggingkan senyumnya dan itu pun di ketahui oleh pak Inod.
"Apa kau mengusirku?" tanya Pak Inod dengan mengernyitkan dahinya. ia tak percaya dengan sahabatnya ini berani-beraninya dia mengusirnya.
"Tidak-tidak aku tidak mengusirmu, sebelum kau pulang dari sini kau harus merapikan pakaianmu dan setelah pulang dari sini kau harus memerankan permainan dariku. Apa kau paham sekarang?" ucap Pak Hamid menyerahkan jas,sepatu dan dasinya yang sudah lulus seleksi.
"Lalu." ucap pak inod dengan tatapan menyelidik pak Hamid yang tau itupun dia langsung memberitahunya.
"Begini." ucap pak Hamid yang enggan mengatakannya karena dari pada itu dia lebih memilih berjualan di pinggir jalan dari pada harus di perintah kesana-kemari entah lah, dia hanya malas. "Kau kan menyuruhku menyamar menjadi supirmu kan. Aku akan melakukannya." lanjutnya lagi sambil menekankan perkataanya, dan pak Inod pun menyunggingkan senyumnya ia sudah memprediksi rencana pak Hamid. Hanya dialah yang mampu bermain dengan bapak presiden dan juga anak buahnya, pak inod tidak salah memberikan tugas ini kepada seseorang. Rencana yang sangat luar biasa.
"Lalu, bagaimana dengan gelar barumu itu dan juga sebagai pemilik perusahaan."ucap pak Inod terputus pak Hamid yang tau itupun ia langsung menyerobot pertanyaan pak Inod.
__ADS_1
"Aku akan bekerja sama dengan pemerintah lalu perusahaanku, aku akan memerintahkan orang kepercayaanku untuk sementara waktu." ucap pak Hamid dengan gamblang, menurutnya masalah bisnis hal yang sangat mudah untuk saat itu dan hal yang paling sulit membantu menegakkan keadilan.
"Hm seperti yang ku duga, dia berani bermain dengan pemerintah." batin pak Inod "Dan setelah itu." ucapnya lagi dia tidak tau rencana selanjutnya sahabatnya ini
"Dan setelah itu serahkan semua pada ku, kita akan meringkusnya ketika umur anak perempuanmu 18 tahun dan akan memasuki umur ke 19 tahun setelah kau pulang dari sini kau harus mencampurkan obat yang aku berikan padamu ke makanan semua orang yang berada di dalam rumahmu termasuk istri dan juga sekertaris mu, tanpa ada satupun lalat yang tau. Apa kau mengerti, Inod Prasetyo?" ucap pak Hamid dengan menyunggingkan sebelah bibirnya dan menekankan perkataanya.
"Bagaimana dengan nyawa anakku." geram pak Inod ia tidak puas dengan jawabanya.
"Apa kata-katamu bisa ku pegang." ucap pak inod dengan tatapan menyelidik.
"Kau bisa memitaki kepalaku jika aku sampai berbohong." ucap pak Hamid.
"Hm baiklah, aku terima rencana mu." ucap pak Inod sambil berjabatan tangan dengan pak Hamid dan dengan senang hati pak hamid menyambutnya.
__ADS_1
"Kau tau kan apa yang kau lakukan nanti setelah berada di rumah." ucap pak Hamid.
"Hm ya, nanti setelahnya aku pasti di tanyai oleh seseorang yang berada di rumah ku lalu aku akan menjawab aku baru saja di kantor polisi temanku mendapatkan masalah di sana, mungkin saja di akan di pecat, ia sudah tak punya apa-apa lagi dia jatuh miskin gara-gara itu, sebagai temannya aku tak bisa membiarkan dia Luntang-lantung di jalanan. Aku akan memperkerjakan dia sebagai sopir pribadiku." ucap pak inod yang akan berpura-pura akting dengan wajah nya yang sedih, dan hal itu pun mendapat tatapan yang tak biasa dari pak Hamid, pak Inod pun ia berpura-pura tidak tau.
"Si alan si inod." geram pak Hamid "Tapi tidak apa-apa, ini demi cucu dan cicit ku kelak. kalian harus mengingat perjuangan kakek." lanjutnya lagi dalam hati ia menghela nafasnya kasar sambil menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana, apa aktingku ini sudah benar." ledek pak Inod. Sementara yang di ledek hanya memutar bola matanya malas.
"Ya ya kau sudah sangat benar sekali Inod, jika aku menjadi sutradara kau akan langsung ku jadikan pemeran utamanya." ucap pak Hamid
dan pak Inod tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Oh ya, sebelum kau pulang jangan lupakan alat yang berada di sepatumu aku sudah menyuruh Syeran untuk memodifikasi alat itu, ya kau tau lah dia hanya menambahkannya bumbu sedikit, agar dia juga bisa mendengarkan suara musuh." ucap pak Hamid pak Inod ia menganggukkan kepalanya lagi "O satu lagi, jika kau sudah mencampurkan obat itu ke makanan hubungi aku atau kau sendiri yang akan memasangnya." ucap pak hamid menyunggingkan senyum nya.
"Tidak, aku akan menghubungi mu." ucap pak inod dengan cepat.
__ADS_1