
Setelah nenek parki mengingat kejadian dimana pak Hamid datang membawa segudang rencana, dia menepuk-nepuk kedua pipinya dengan telapak tanganya guna menyadarkan dirinya sendiri "Setelah ini aku harus menelepon Hamid." ucap nenek Parki dalam hati ia menatap lurus kedepan tempat dimana mahkluk cantik itu tertidur setelah itu ia melihat Meir yang sedang tertunduk takut. nenek parki tersenyum kecil "Ternyata dia sudah selesai, aku harus mencari celah supaya tidak ketahuan olehnya." ucap nenek parki sambil berfikir "hm. apa yang harus aku lakukan untuk mengalihkan perhatiannya? oh iya Vander, iya aku harus menggunakannya." lanjutnya dalam hati ia baru teringat cucunya sedari tadi ia suruh keluar "Meir, jika kau sudah selesai keluarlah beritahu Vander untuk datang dan menjaga gadis itu." ucap nenek parki ia baru menemukan alasan yang tepat "Lalu bantulah bi Melcy di dapur." lanjutnya menggumam entah itu di dengar oleh Meir atau tidak, dia tidak tau yang terpenting meir segera keluar dari sini.
Meir dari tadi menundukkan kepalanya itu berjengit kaget sudah pasti mendengar namanya di sebut oleh nyonya nenek. Sejak tadi ia diam, jika ia mengeluarkan suaranya, ia takut akan di sengap lagi oleh nyonyanya, dan sejak tadi pula ia memperhatikan ekspresi nyonya parki yang terkadang melamun, lalu detik selanjutnya ia akan marah menggemelatukkan giginya. Entah lah meir pikir ia ingin sekali menelan orang hidup-hidup. Saat itu yang harus ia lakukan hanyalah diam, dia juga melihat nyonyanya mengepalkan kedua tanganya dan dia juga berfikir nenek parki ingin sekali meninju seseorang "Apakah orang itu tuan muda ya." ucapnya dalam hati, ia tahu kalau nyonyanya saat ini dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, solusi yang paling aman saat itu adalah diam. Jika pun ia di suruh, ia akan melaksanakan sesuai kehendak yang maha kuasa "Baik nyonya saya akan memberitahu tuan Vander." ucap meir, ia mendongakkan kepalanya dan mengangguk lalu ia pergi dari kamar itu. Meir membuka pintu dan menutupnya pelan. Pucuk di cinta, ulam pun tiba, ia tak perlu susah-susah lagi mencari tuan mudanya. Ia melihat tuan mudanya duduk melamun menatap lurus ke depan seperti yang di lakukan nyonyanya tadi. Tidak tidak, yang ia amati sekarang saat ini adalah tuan muda. Bukan nyonya nenek. Tuan mudanya itu hanya sekedar melamun tanpa ekspresi seperti yang di lakukan nyonyanya tadi. "Hari ini semua orang kenapa ya? apakah ini hari melamun sedunia?." ucap nya dalam hati "Permisi tuan muda." ucap Meir dengan sekali tarikan nafas, dan suara yang agak keras sambil memejamkan matanya. Takutnya jika suaranya pelan tuan mudanya tidak bisa mendengar, ia juga takut kalau nanti akan mendapat bentakan dari tuan mudanya. Jika itu terjadi ia siap menerimanya.
__ADS_1
Vander yang saat ini duduk melamun memikirkan gadis yang ia tolong itu kaget, tiba-tiba saja Meir berteriak. Vander tak mendengar suara langkah kaki atau apapun itu, ia mendongakkan kepalanya ke arah orang yang berteriak, ia melihat meir memejamkan matanya. Vander tersenyum kecil ia mengira kalau dia takut mendengar bentakkanya, lalu ia menarik nafas menetralkan jantungya yang sedikit kaget, ia sebal karena ia di ganggu. "Dia pikir aku ini tuli apa." ucapnya dalam hati ia tau kalau saat ini Meir sedang ketakutan "Iya ada apa." ucap vander ketus.
"Saya di utus nyonya nenek Parki untuk memanggil anda tuan." ucap Meir dengan suara normal, ia masih memejamkan matanya. Kali ini dia bukanya takut di sengap tapi ia takut akan bentakan tuan mudanya ini.
__ADS_1
BRAK
tiba-tiba saja vander menutup pintu dan Meir tidak tau jika tuan mudanya sudah melewatinya. Meir berjengit, ia membuka sebelah matanya, memastikan apakah disitu masih ada tuan muda atau tidak. Takutnya, dia mengira kalau yang menutup pintu itu bukan tuan muda melainkan orang lain "Aman." ucap Meir dalam hati. Ia bisa bernafas lega sekarang, lalu Meir meninggalkan tempat itu dan menuju ke dapur ia ingin minum dulu setelah jantungnya senam.
__ADS_1
Sepeninggalan Meir nenek parki melamun memperhatikan gadis yang sedang tertidur itu. Ia berjengit kaget karena Vander menutup pintu agak keras ia pun tak tau jika Vander membuka pintu. ia mengalihkan perhatiannya ke arah Vander, karena Vander diam sambil memperhatikan gadis itu, nenek parki mengira. Vander sudah mengetahui siapa gadis ini sebenarnya "Vander, nenek akan keluar sebentar. Jaga gadis ini baik-baik." ucap nenek parki berjalan mendekati Vander dan berbisik lalu ia membuka pintu dan menutupnya pelan. nenek Parki mengira kalau Vander butuh waktu. Tapi pekiraan nenek Parki salah besar. Diamnya vander karena ia masih mengingat-ingat gadis itu, ia merasa sudah mengenal sangat lama, tapi dimana. Vander menganggukkan kepalanya. Berbeda dari dirinya nenek Parki menutup pintu itu pelan nyaris tanpa suara, dan Vander melihatnya. ia berjalan ke arah sofa dan duduk sambil memperhatikan gadis itu. "Siapa sebenernya dia? mengapa tidak asing sama sekali." ucap vander dalam hati. ia masih penasaran dengan gadis ini "Ok. aku harus menelepon Seiya." ucap vander. ia merogoh saku celana dan mengeluarkan handphonenya. lalu ia mengetikkan sesuatu sebelumnya ia juga mengambil foto gadis itu diam-diam setelah itu menghubunginya.