
"Pft haha hamid, ini yang kau sebut harus mengutamakan kebersihan dan kerapian." ucap pak inod tertawa terpingkal-pingkal sedangkan yang di tertawakan hanya menggaruk kepalanya yang agak gatal.
"Dari mana saja kau." geram pak hamid. ia malu, malu sekali punya bawahan seperti ini apalagi ia muncul di depan sahabatnya.
"Saya tadi habis dari kamar mandi pak, saya belum selesai lalu ketika di tengah-tangah saya paksa putuskan dan rasanya itu sangat sakit sekali, karena saya harus terima telpon dari anda." ucap syeran dengan lantang.
"A-apa." ucap pak hamid ia tak menyangka bila telepon darinya itu telah mengganggu bawahannya yang sedang semedi
"Haha wah wah, ternyata kau memiliki orang yang siap siaga untukmu mid. hihihi." untuk ke sekian kalinya pak inod tertawa, menertawai kekonyolan dua manusia ini. yang satu menahan malu dan yang satu lagi, oh ya ampun kerapian dan kebersihan yang di junjung pak hamid sudah jatuh tersungkur, baru kali ini ada bawahan yang berani menyimpang perkataan pak hamid.
"Ya sudah kau lanjutkan saja, nanti kalau kau sudah selesai kembalilah kesini." ucap pak hamid dengan santainya dia berkata seperti itu, memangnya tidak sakit apa di putuskan secara sepihak. Syeran sudah satu Minggu ia tidak bisa membuang hajatnya di karenakan ia kurang minum dan baru tadi ia bisa membuang hajatnya lalu inspekturnya itu memanggil. sungguh sangat menyebalkan.
"Sudah tidak bisa lagi pak, perut saya sudah terlanjur tidak enak." ucap syeran yang tak ada tipu-tipunya itu.
"Pft jujur sekali bawahanmu itu mid." ucap pak inod mencoba menahan tawanya.
"Diam kau, sekali lagi kau tertawa aku akan menimpukmu dengan sepatu mu ini." geram pak hamid sambil memegang sepatu pak inod yang seakan-akan siap untuk di lemparkan kepada pemiliknya dan itu bisa membuat pak inod diam.
"Santai sob oke, aku akan diam." ucap pak inod sambil mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah kalau begitu, aku ingin kau menyelidiki ini." ucap pak hamid menyerahkan chip yang ia temukan di sepatu pak inod tadi.
"Baiklah pak, saya akan melaksanakan perintah bapak." ucap syeran sambil menerima chip itu.
"Kau boleh kembali ke tempatmu syeran." ucap pak hamid.
"Kalau begitu saya permisi pak." ucap syeran ia membungkukkan badannya dan berlalu pergi ketika mau membuka pintu suara pak Hamid menginterupsinya lagi.
"Oh ya syeran, kalau kau sedang ke kamar mandi kau jangan malu mengatakannya." ucap pak hamid syeran hanya bisa menganggukkan kepalanya ia membuka pintu dan menutup nya kembali.
__ADS_1
"Bagaimana aku mengatakannya jika anda menelepon bukan lewat handphone saya, apakah saya harus membawa telepon kantor itu ke kamar mandi. huft ada ada saja." ucap syeran dalam hati. lalu ia pergi ke ruangannya untuk menyelidiki chip itu.
"Dia syeran." tanya pak inod. pak hamid yang tau maksud perkataan pak inod itu ia langsung menjelaskan.
"Iya syeran Al Ghani seorang IT di sini. kau tau." ucap pak Hamid, pak inod ia mengangguk dan mengedikan bahunya.
"Dia dulu sempat mengemis lalu aku memberinya makanan dan juga tempat tinggal, dulu juga aku tidak tau kalau dia sangat cerdas. aku berfikir, ya tak apa lah untuk mengisi rumahku yang sepi ini lalu aku melihat dia sedang mengotak-atik komputerku yang mati tapi aku terlanjur memarahinya ternyata dia bisa membetulkan komputerku. dan kau tau. aku menyekolahkannya sampai dia wisuda." ujar pak hamid bangga, ia tersenyum mengingat saat ia memarahi syeran yang agak ceroboh.
"Wah hebat, ternyata kau menemukan berlian yang sangat berharga di antara tumpukan jerami. kau tau." puji pak inod. pak hamid pun menengok ke arah pak inod dengan kata-katanya yang menggantung.
"Apa." ucap pak hamid
"Kau sudah seperti bapak-bapak saat itu, aku sedang membayangkannya. belum menikah pun kau sudah mengomel." ujar pak inod sedang memangku dagunya dengan satu tanganya.
"A-apa kau bilang." ucap pak hamid barusan saja dia di puji dan di detik selanjutnya ia di jatuhkan sejatuh-jatuhnya oleh sahabatnya ini, dia benar-benar sangat meresahkan. pak inod pun hanya menganggukan kepalanya.
"Silahkan." ucap pak inod pak Hamid pun mengangguk.
"Siapa yang menyiapkan pakaian mu dirumah."
tanya pak hamid ia perlu memastikan sesuatu.
"Hm istriku." jawab pak inod.
"Pakaian kantor." ucap pak Hamid.
"Kadang istriku, sekertarisku, dan kepala pelayanku." ucap pak inod.
"Hm, ternyata ada tiga orang tapi aku tidak bisa menuduh salah satu dari orang itu, salah satu dari mereka juga mengetahui identitas ku aku harus memberi pengamanan di rumah ibuku. apakah aku harus kesana, tidak tidak. itu terlalu beresiko. aku harus bagaimana ya." batin pak hamid ia memijit pangkal hidung yang tiba-tiba terasa kaku dan pak inod pun hanya bisa memperhatikan sahabatnya itu. "ah iya. pertama-tama aku akan menelepon ibu, selanjutnya aku akan memberikan obat tidur itu pada syeran lalu dia akan aku suruh menjadi pengantar paket dan yang harus menerima paket itu hanyalah ibuku ketika semua orang tertidur karena pengaruh obat, aku akan meletakkan kamera setiap sudut ruangan. ya seperti itu." batin pak hamid sambil menumpuk kedua tanganya.
__ADS_1
"Dia kenapa, tadi seperti orang pusing yang sedang memikirkan sesuatu dan sekarang lihatlah dia tersenyum seperti orang yang baru saja mendapatkan jackpot." batin pak inod ia miris sekali dengan sahabatnya ini yang mendadak gila, ia menepuk pelan bahu sahabatnya itu dan pak hamid pun kaget karena hal itu.
"Ada apa." ucap pak hamid ekspresinya berubah
"Kau yang ada apa, kau kenapa apa perlu aku antarkan kau ke psikiater." ledek pak inod ia menyunggingkan senyumnya.
"Kau." geram pak hamid. "bisa-bisa nya dia bercanda, yang benar saja." batin pak hamid lalu ia duduk di kursi mengabaikan pak inod yang sedang berdiri meledeknya "siapa lagi." tanya pak hamid jengkel ia lanjut mengintrogasinya.
"Apanya." jawab pak inod singkat.
"Yang menyiapkan baju kantormu itu siapa lagi."
ucap pak hamid yang sangat jengkel sekali pada sahabatnya itu.
"oh ku kira, kau sudah merestart otakmu." ledek pak inod dengan gamblang sambil memasukkan kedua jarinya di saku celananya.
"Ck sebenarnya kau mau aku bantu atau tidak."ucap pak hamid frustasi.
"Hei, jika kau tak membantuku kau tidak akan mendapatkan calon menantu." ucap pak inod sambil menunjuk jarinya ke arah pak hamid.
"Ck iya iya." ucap pak hamid mengacak-ngacak rambutnya "kau jawab pertanyaanku yang barusan." lanjutnya lagi yang berusaha menetralkan emosinya. ia mengalah. "ini demi anak dan menantuku dan juga keberlangsungan para cucu dan cicit-cicitku. lumayankan dapat jackpot sebesar ini." lanjutnya lagi dalam hati ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan.
"Hm sepertinya tidak ada orang lagi yang menyiapkannya selain ketiga orang itu, tunggu dulu apa kau sedang mencurigai istriku." ucap pak inod dengan tatapan menyelidik.
"Hm bukan mecurigai, kita akan tau setelah kau aku suruh melakukan sesuatu apa kau mau bekerja sama denganku. inod Prasetyo." ucap pak Hamid dengan menekankan setiap katanya dan berjabatan tangan dengan pak inod.
"Baiklah. aku setuju." ucap pak inod menyambut jabatan tanganya dengan senang hati "okey. pertama-tama apa yang harus kita lakukan." ucap pak inod.
"Pertanyaan yang bagus pertama-tama, aku akan memberimu obat tidur." ucap pak Hamid. pak inod ia memelototkan matanya. pak Hamid yang tau itupun segera mengklarifikasikan "kau tenang saja obat ini aman tidak ada efek samping."lanjutnya lagi. dan itu mampu, membuat pejantan tangguh itu percaya.
__ADS_1