Cinta Yang Kembali

Cinta Yang Kembali
FLB Awal mula menjadi nakal 03


__ADS_3

Mama varesa yang saat itu khawatir ia mengejar vander anaknya tak pernah sehisteris ini jika ia tinggal keluar kota hingga berhari-hari dan berbulan-bulan lamanya tapi mengapa, mengapa hari ini vander bisa jadi seperti ini dia menangis, berteriak memanggil-manggil nama yata seolah-olah ia tak rela jika yatanya pergi meninggalkannya, belum juga ada satu hari ia sudah meraung-raung seperti ini


Mama varesa menggeleng-gelengkan kepalanya saat tau jika vander sudah seperti bocah perempuan "vander." panggil mama varesa ketika tau anak laki-lakinya saat ini berubah sangat kacau dan dia mendekati vander


"Mama." ucap vander menoleh ke arah mama varesa "mama." lanjutnya lagi sambil memeluk mamanya dan menangis ia tak peduli jika saat ini ia di olok-olok oleh neneknya atau siapa pun itu "mama yata pergi ma, yata ninggalin vander, dan vander nggak tau yata pergi kemana." ucap vander menangis meraung-raung ketika berada di pelukan mamanya


"Ander dengarkan mama ya nak, kamu tak boleh menangis seperti ini yata pergi karena di kantor ayahnya terjadi masalah dan itu sangat sulit di jelaskan, jika kamu ingin bertemu yata tunggu sampai dewasa nanti dan kamu harus giat belajar." ucap mama varesa sambil mengelus-elus punggung vander mama mana yang tega melihat anaknya jadi seperti ini. ia sedih, sangat sedih.


"Apa mama tau di mana tempat tinggal yata saat ini." tanya vander sesenggukan ia melepaskan pelukan mamanya dan mendongakkan kepalanya

__ADS_1


"Mama tidak tau Ander, mama tidak tau alamat rumahnya om inod hanya bilang di perusahaan sedang ada masalah dan itu membutuhkannya dan dia tak mungkin jika pulang pergi ke sana ke sini jadi, om inod mengajak yata dan kak alkhan serta Tante irs tadi om inod juga sempat bicara mama papa kalau yata mau pamit sama kamu dan juga dia ingin meminta hadiah dari mu." ucap mama varesa menangkup kedua pipi vander dan melihat keadaan anaknya yang begitu menyedihkan ia juga menyeka air mata vander yang membasahi kedua pipinya dengan jari tangannya


"Vander, vander nggak percaya apa yang di katakan yata ma, vander kira yata tidak serius dengan omongannya dan itu hanya alasan yata saja supaya dia dapat hadiah dari vander ma." ungkap vander mengatakan yang sebenarnya sambil menggelengkan kepalanya ia tak percaya bahwa hari itu, hari terakhir kebersamaanya dengan yata


"Ander kedepannya kamu tak boleh seperti ini ya, kamu nggak boleh menangis kamu harus bisa membedakan benar salah baik dan buruk dari perkataan perilaku serta tindakan dari setiap orang yang akan kamu temui nanti, di lain hari yang akan datang jika kamu bertemu dengan yata kamu harus bisa menjaganya berada di sampingnya dan selalu percaya padanya, apa kamu mengerti?" ucap mama varesa menasehati vander ia tak mau hal ini terjadi lagi kepada anaknya. vander menganggukkan kepalanya mama varesa mengajak vander berdiri berjalan meninggalkan rumah yang di tempati yata menuju ke rumah neneknya sambil merangkul anaknya yang seperti mau pingsan itu. sesampainya di rumah nenek parki vander melihat neneknya sedang duduk di kursi ia ingin sekali berlari menghindari neneknya tapi tubuhnya serasa tak punya tenaga lagi. ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya


"Vander." teriak mama varesa ketika vander terlepas dari tangannya ia takut jika terjadi sesuatu kepadanya


"Tapi bu." ucap mama varesa khawatir

__ADS_1


"Ibu tau kamu mengkhawatirkannya, tapi kau harus memberi ruang untuknya perhatikan dia dari jauh jika dia bertindak melewati batas tegurlah, jika tak bisa pukul dia." ucap nenek parki mama varesa menganggukkan kepalanya


Di dalam kamar vander tengkurap sambil menangis memeluk bantal, sesekali dia berteriak menyembunyikan wajahnya dan menekannya dengan bantal agar teriakannya tak terdengar oleh siapapun, sungguh dia merasa kehilangan saat itu. karena vander belum sempat mengisi perutnya saat itu ia tertidur, lelah tentu saja ia rasakan. dia ingin menutup matanya sebentar berharap kepergian yata hanya mimpi buruk baginya


Keesokan paginya vander bangun dengan mata sembab dan hati yang sangat berat, lalu ia duduk di pinggiran ranjang "Ini bukan mimpi, jika ini mimpi kenapa bisa sesakit ini." gumam vander memegangi dadanya yang masih terasa sesak. ia menghirup nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan untuk mengurangi sakit yang ada di dadanya, setiap hari setiap pagi ia melakukanya seperti itu dan ia melakukan kegiatannya dengan setengah hati ia sudah tak memiliki semangat sama sekali sampai-sampai semua nilai mata pelajarannya menurun


Varya yang mendengar adiknya hancur berantakan tak tersisa itu terpaksa harus pulang kerumah neneknya, sebenarnya ia harus menuntut ilmu jauh dengan adik dan juga neneknya dia kembali karena dia harus menertibkan adiknya yang masih polos itu hanya karena seorang gadis kecil saja dia jadi seperti ini. pagi-pagi buta ia sudah sampai di rumah nenek parki ia langsung pergi ke kamar adiknya, dia tak peduli jika tubuhnya sudah lelah


Di depan kamar vander ia mulai mengetuk pintu itu satu kali dua kali sampai berkali-kali tak ada jawaban dari dalam kamar tersebut, ia mencoba membuka pintu itu tapi tidak bisa. pintu itu terkunci dari dalam kamar vander "Kenapa pintu ini tidak bisa di buka?" geram varya lalu ia mencoba mendobrak pintu itu satu kali dua kali ia sudah merasakan sakit di lenganya varya tak pantang menyerah ia mencoba menendang pintu itu dengan tendangan mautnya

__ADS_1


BRAK


__ADS_2