
"Ya baiklah, akan aku tunggu telepon darimu." ucap pak Hamid mengedikan bahunnya.
"Kapan kau akan memulai rencanamu ini?" tanya pak Inod dengan tatapan menyelidik.
"Hm kita tak boleh menunda sesuatu yang penting bukan." ucap pak Hamid di angguki oleh pak inod " tentu saja. malam ini." lanjut pak Hamid menyunggingkan sebelah bibirnya di ikuti juga oleh pak Inod.
"Hm, aku sangat menantikan film laga ini apa lagi yang jadi pemeran utamanya anakku. sesil kau harus kuat nak." batin pak Inod bersorak gembira.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu itu menggema di dalam ruang kantor pak Hamid mereka yang sejak tadi mengobrol ria itu berhenti dan menengok ke arah pintu.
"Masuk." teriak pemilik ruangan itu dan keluarlah sesosok manusia Yang tampan memakai baju beratribut lengkap serta pakaian yang sangat rapi, siapa lagi kalau bukan Syeran Al Ghani. Syeran membungkukkan badannya.
"Hm manusia ini cukup tampan juga ya, tidak seperti tadi, yang acak kadut sekali." batin pak Inod dengan tatapan menelisik.
"Iya Syeran, ada apa" tanya pak Hamid.
"Saya mau memberikan chip yang tadi bapak kasih ke saya." ucap Syeran menyerahkan chip itu kepada pak Hamid.
"A-apa kenapa cepat sekali. padahal kan barangnya kecil." batin pak Inod ia tak percaya akan memperbaikinya secepat itu padahal dia belum satu hari disini sudah jadi aja, pak Hamid menyunggingkan senyumnya. Ia melihat pak Inod dengan tatapan yang tidak percaya akan kinerja bawahannya itu tanpa di sangka-sangka pak Inod merebut alat itu dari tangannya.
__ADS_1
"Ei Nod, kau bisa merusaknya. Kau harus berhati-hati." ucap pak hamid tak di indahkan oleh pak Inod.
"Kalau rusak kan ada yang memperbaiki Mid, gitu aja susah." ucap pak Inod sambil mengamati dari dekat benda kecil itu dan memutar-mutar, ia sangat heran sekali benda sekecil ini bawahannya bisa menyelesaikannya dengan cepat, pak Hamid ia menghela nafasnya kasar.
"Untung kau itu sahabatku. kalau tidak. sudah kupites-pites kau dari dulu." batin pak Hamid. sedangkan Syeran ia hanya sekedar jadi pedengar dan penontonnya saja, ia tak mau menyela omongan bos dan juga temannya.
"Bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya pak inod kepada syeran.
"Apa?" ucap Syeran ia kaget.
"Aku menanyakan benda ini bagaiman bisa kau memodifikasi alat ini." tanya Inod, ini sungguh sangat rapi sekali, tanpa ada celah sedikitpun.
"S-saya.. " ucap Syeran terputus ia bingung bagaimana cara menjawab, pak Hamid yang tau itupun ia agak kesulitan menjawab, ia langsung menyela perkataanya.
"Ck, aku tidak bertanya padamu Hamid." geram pak inod dan pak Hamid hanya mengedikan bahunya.
"Apa kau bisa memasangnya sendiri." ucap pak Hamid sementara itu pak Inod masih kagum dengan alat yang ia pegang "Berhentilah mengagumi alat itu Inod. Cepatlah. Kita sudah tidak mempunyai banyak waktu. Kau bisa memasangnya atau tidak." teriak pak Hamid menggebu-gebu saat ini pak Hamid sedang di buru oleh waktu karena sejak barang itu di amati oleh pak Inod dan tanpa di sadarinya Syeran membisikkan sesuatu di telinga pak Hamid.
"Apa yang kau katakan Hamid." ucap pak Inod ia mengalihkan pandangannya ke arah pak Hamid
"Inod Inod, seharusnya kau bisa membaca situasi mu saat ini dan kau juga harus mempelajari musuhmu saat ini kenapa bisa musuhmu tau kau berada di mana dan kau membicarakan tentang apa." geram pak Hamid dan sialnya penjelasan itu tak bisa di tangkap oleh pikiran pak Inod "Dasar b*d*h. alat itu sudah di pasangi pelacak dan juga suaramu bisa terdengar oleh musuhmu tanpa ada dia di sisimu dan saat ini alat itu di matikan oleh syeran waktu ia memodifikasinya. dan kau tau alat itu sudah mati sejak 20 menit yang lalu musuhmu dan juga para pengawalmu akan mencarimu kesini di tempat terakhir alat itu aktif." ucap pak Hamid menggebu-gebu.
__ADS_1
"Dasar b*d*h. kenapa bisa aku melupakan poin penting itu."ucap pak inod sambil menggigit bibir bawahnya " lalu kita harus bagaimana."ucap pak Inod menekan rasa cemasnya.
"Pasang alat itu kembali seperti semula dan lakukan tadi apa yang kau katakan." bisik pak Hamid lalu ia mengeluarkan bajunya dan mengacak-ngacak rambutnya sedangkan pak Inod ia buru-buru memasangkan alat itu kembali seperti semula memakai dan merapikan sepatu, jas dan juga dasinya tak lupa juga pak Hamid meneteskan obat mata di sudut kedua matanya. terlihatlah pak hamid yang sedang frustasi.
BRAK
Tepat saat itu juga pintu ruangan di buka secara kasar oleh dua orang pengawalnya di belakang pun ada pak sekertaris. Mereka bertiga yang ada di dalam ruangan itu langsung menatap ke arah pengawal dan juga sekertaris pak Inod mereka bertiga membungkuk
"Selamat siang tuan." ucap mereka bertiga serempak.
"O jadi kau ya pak sekertaris, jika kau terlibat dengan hal ini aku tidak akan melepaskan mu dan juga kedua pengawalmu ini. akan ku ingat itu." batin pak Inod geram "Ada apa kalian kesini." ucap pak inod tanpa balik menyapa mereka.
"Inod kau sudah berjanji mau membantuku bukan. Huhu." ucap pak hamid saat ini sedang berakting menangis, pak Hamid segera menghentikan aksi pak Inod yang sedikit melenceng dari perkataannya hanya gara-gara ia di liputi amarah, jika tidak mereka sang pelaku utama itu akan melakukan penyelidikan. Semua orang yang awalnya memperhatikan kedua pengawal dan sekertaris di dekat pintu itu kini beralih ke bintang utamanya. Pak Inod ia hanya mengernyitkan dahinya.
"Pak inspektur kumohon jangan tinggalkan aku pak. Aku mohon. Huhu." ucap syeran ia berpura-pura menangis
"Aku sudah bukan inspektur lagi sekarang aku sudah di pecat dari pekerjaanku aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Aku kismin. Kismin. Huhu." akting pak Hamid semua orang mengernyitkan dahinya mereka tak mengerti perkataan pak Hamid. tapi pak Hamid enggan mengatakan dengan perkataan MISKIN karena, dulu dia pernah miskin dan dia tak mau kembali lagi seperti dulu tidak seperti sahabatnya itu yang sudah kaya dari dulu tapi, temanya tidak mau menikmatinya dan alasannya karena itu bukan miliknya "Itu milik ayahku dan itu semua kerja keras dari ayahku". sungguh sangat di sayangkan sekali bukan dan pak Hamid pun tau dengan tatapan mereka semua "Dasar b*d*h kalian. Masak itu saja tidak tau." batin pak Hamid ia melirik ke kanan dan kekiri "Kalian tau. Luntang-lantung di jalanan. Itu namanya kismin." ucap pak Hamid yang langsung menghentikan tangisan pura-puranya sebentar dan melanjutkannya lagi. Tanpa mereka sadari Inod menahan ketawanya melihat akting sahabatnya itu. sungguh luar biasa pikirnya. Dia tau kalau sahabatnya itu dulu pernah mengalami hal-hal yang sangat sulit, penuh perjuangan dan air mata.
"Iya baiklah aku akan membantumu, kau tenang saja. Jangan bersedih okey." ucap pak Inod sambil merangkul bahu sahabatnya itu
"Ehm maaf tuan, sebenarnya ini ada apa?" tanya sekertaris Mali ia bingung.
__ADS_1
"Apa m*t*mu sudah buta hah, dia sedang menangis karena pekerjaannya sudah hilang, dan dia akan bekerja sama denganku." geram pak Inod yang saat ini hatinya sangat sakit jika memang benar sekertaris nya itu pelakunya.
"Aduh, Inod ini dia memang laki-laki pengendali emosi yang sangat buruk." batin pak hamid was was.