
"Calon menantuku terima nggak ya dapat calon mertua yang modelnya seperti ini." ucap pak hamid dalam hati sambil melirik kearah sesil yang tidak merespon sama sekali perkataan pak hamid, sesil menatap lurus ke depan sesenggukan seperti orang yang sedang berfikir "aduh calon mantu diam, jangan-jangan dia memikirkan perkataan ku tadi. tidak bisa, ini tidak boleh terjadi calon menantu ku tak boleh pusing memikirkan itu." ucap pak hamid dalam hati, tiba-tiba ia teringat sesuatu merogoh saku celananya mengambil barang berharga miliknya dan terbukti itu bisa mengalihkan pikiran sesil "ehm non ini, jika non sudah menemukan keluarga bapak tolong non kasihkan ini ya non harus mengenggamnya dengan erat ini adalah salah satu peninggalan dari papa saya." ucap pak hamid ia menyerahkan benda berharganya yaitu sebuah kalung berlian berwarna hijau, sesil tak mau langsung menerima itu ia menggelengkan kepalanya.
"Bapak, jika sesil bisa keluar dari sini bapak juga harus bisa keluar dari mobil ini, kita sama-sama ya." ucap sesil sesenggukan air matanya tak mau berhenti meski sudah di usap-usap beberapa kali mendengar perkataan sesil pak Hamid menggeleng kan kepalanya.
"Tidak non, bapak akan tetap disini non harus lari sekencang-kencangnya jangan pernah menengok ke arah belakang apapun yang non dengar tetaplah berlari." ucap pak hamid.
FLASHBACK ON
Enam tahun yang lalu
Pak inod sedang berkunjung ke kantor pak hamid, pak hamid sendiri adalah inspektur polisi di kota besar x beliau adalah sahabat sekaligus teman seperjuangan sejak masa sekolah SMA, pahit manis mereka sudah merasakannya, dari titik terendah hingga bagaimana mereka menikmati masa kejayaan mereka. pak hamid sendiri bukan sembarang orang dia juga memiliki perusahaanya sendiri, seperti di bidang desain meliputi pakaian, sepatu, sarung tangan dan juga memiliki tambang emas terbesar di dunia. Sebenarnya menjadi pengusaha dan memiliki perusahaan itu hanyalah selingannya, dan yang sebenarnya lagi dia memiliki cita-cita yang sangat mulia menjadi pengabdi negara pemberantas kejahatan yaitu polisi, itu yang ia cita-citakan sejak dulu.
" Hai mid." ucap pak inod yang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan pak hamid membuat orang yang ada di dalam sedang menulis laporan terperanjat kaget mendengar suaranya dan seketika langsung berdiri meninggalkan tempat duduknya melangkah ke depan menyambut tamunya.
"Nod astaga apa kabar." ucap pak Hamid sambil berjabat tangan dan pelukan singkat dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Baik kamu sendiri bagaimana." ucap pak inod sambil melepaskan pelukannya.
"Aku juga, kabar aku ya begini aja." ucap pak hamid mengedikan bahunnya sedangkan pak inod dia langsung duduk di kursi tanpa di persilahkan oleh pemilik ruangan itu sambil mengipas-ngipaskan kedua tangannya.
"Aih kebiasaan kau, dimana-mana ya kalau tamu itu tunggu di persilahkan dulu lah kamu masuk nggak ketuk pintu, main nerobos aja duduk apa lagi. untung saja aku nggak lagi hok ya hok ya sama istri." omel pak hamid lirih di akhir kalimatnya sedangkan yang di omeli hanya mencebikkan bibirnya menirukan perkataan sahabat nya itu.
__ADS_1
"Eh mid dimana-mana ya tamu itu di tawari minum misal nih ya. mau minum apa kau? kau seperti mama-mama di pinggir jalan tau nggak. cerewet sekali. lagian ya kalau kau mau hok ya hok ya sama istri kunci pintunya." ucap pak inod. pak Hamid yang di balas perkataanya itu juga mencebikkan bibirnya lalu pergi ke dapur.
"Iya iya aku ambilin." ucap pak Hamid berjalan mengambil gelas lalu memeriksa stok kopi, ternyata malah habis. ia menghela nafas nya kasar. dia mengambil air di dispenser dan memberikan air itu ke pak inod.
"Nih" ucap pak Hamid sambil sambil menyodorkan gelas yang berisi air.
"Ha" ucap pak inod bingung "ia miskin atau bagaimana." batin pak inod.
"Ha he ho, kau mau apa nggak.!" ucap pak hamid tangannya masih setia memegang gelas menyodorkan minuman itu ke pak inod, yang tak kunjung di ambil olehnya. dan akhirnya setelah beberapa perjuangan gelas yang berisikan air putih dari galon itu di rebut oleh pak inod
gluk gluk gluk
"Segar juga airnya" .batin pak inod "ini air apa?" tanya pak inod dia takut di beri air sumur, bisa-bisa sampai rumah ia kena diare.
"Oh.!" ucap pak inod.
"Kenapa, seger ya airnya." ucap pak Hamid.
"Iya." ucap pak inod singkat dengan santai.
"Udah deh kok jadi bahas air dispenser sih, sebenarnya kau kesini itu mau ngapain nggak biasanya kau menjengukku saat jamnya sibuk begini ketemu juga biasanya di tempat parkir kadang juga di restoran itu pun nggak sengaja kayak nggak ada tempat lain saja. ngajak ketemu di tempat parkir." lirih pak Hamid di akhir kalimatnya "kalau kau nggak ada uang ngomong dong, setelah nikah kelakuan nggak kayak dulu kau takut atau bagaimana sama istri kau. emangnya istri kau kejam apa. hah." teriak pak hamid ia mendapatkan lemparan gelas plastik dari pak inod dan tepat mengenai jidatnya. untung saja gelasnya plastik. kalau tidak bisa pecah dunia. " aduh kau itu apaan sih nod, sakit nih kira-kira dong kau. untung aja bukan gelas kaca kalau pecah ambyar kan." ucap pak hamid sambil mengelus-elus jidatnya yang kena lemparan gelas spesial dari pak inod lalu gelas yang tergeletak di lantai itu di ambil oleh pak hamid.
__ADS_1
"Salah sendiri, kalau ngomong nggak kira-kira asal kau tau ya istriku itu baik dia sayang sama aku dan anak-anaknya. eh ngomong-ngomong soal anak, anak kau umur berapa?" ucap pak inod agak lembut di akhir perkataanya. pak Hamid ia menyunggingkan sebelah bibirnya.
"Anak yang mana, laki-laki atau perempuan." ucap pak Hamid di iringi suara decepan pak inod.
"Ck dua-duanya" ucap pak inod sebal ia berharap salah satu anak dari rekannya ini suatu saat bisa menjadi menantunya.
"Anakku yang perempuan lagi ada di kota A, dia lagi kuliah ambil jurusan bisnis, yang laki-laki masih sekolah di SMA prawijaya kelas tiga." ucap pak Hamid bangga "Kau tau nggak!" ucap pak hamid lirih.
"Nggak." ucap pak inod sambil mengemil kacang yang berada di atas meja.
"Si alan, aku belum selesai tau." ucap pak hamid jengkel setengah hidup dengan sahabatnya itu.
"Ya udah, selesaikan." ucap pak inod yang masih memakan kacangnya. belum selesai bicara omongannya sudah di potong pak hamid sebal dia geram mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Dasar teman nggak tau diri untung kau itu temanku, kalau tidak sudah ku buang kau di bawah jembatan biar di ambil sama orang sekalian." batin pak hamid sambil menepuk pelan mulutnya "eh, nggak jadi deh kasian sama anak dan juga istrinya kan." batinya lagi.
"Kenapa manusia ini bengong, jangan-jangan." batin pak inod melihat ke arah pak hamid yang wajahnya seperti orang jengkel, lalu pak inod melempar kacang yang masih utuh dan itu mengenai pipinya pak hamid dia berhasil menyadarkannya ia menengok ke arah pak inod "Apa kau baru saja mengumpatku, hah!" geram pak inod.
"Iya, eh enggak" jawab pak hamid gelagapan ia langsung mendapat pelototan dari pak inod
"maksud ku, anak aku yang laki-laki sudah kelas tiga sebentar lagi dia mau masuk universitas kalau anak kau." ucap pak Hamid ia mencoba mengalihkan pembicaraany.a
__ADS_1
"O ternyata kau mencoba mengalihkan pembicaraan ya, kau pikir aku ini tidak tau. awas saja kau." batin pak inod ia ingin sekali membalas sahabatnya yang berani mengumpat ini, tapi ini belum saatnya ia menunggu waktu yang tepat "anak laki-lakiku kuliah di universitas negeri kota C anak perempuanku masih SMP kelas tiga dan kemarin..." ucap pak inod.