
"Melcy, aku akan melepaskan lilitan tas itu dari tangannya sudah dari tadi aku lihat tali tas itu melilit tanganya, aku akan mengecek sekalian data-data tentangnya."ucap nenek Parki sambil melepaskan tali tas yang mungkin sengaja di lilitkan gadis itu supaya tidak mudah lepas dari dirinya seolah-olah tas itu lebih berharga dari apapun, lalu dia membuka tas itu memeriksa apakah ada tanda pengenal dari gadis itu. Ia membungkam mulutnya berharap suaranya tidak didengar oleh Melcy betapa kagetnya nenek parki melihat isinya. Ia melihat foto sesil yang ia potret waktu kecil, lalu mengecek kartu pelajar yang ia pegang "Sesil agyata bohemian Prasetyo, umur delapan belas tahun." batin nenek Parki ia tak membaca nama sekolahan Sesil menurutnya itu tidak penting untuknya, yang terpenting untuknya hanyalah nama dan umur. Apakah cocok dengan gadis kecil yang di cari Vander atau bukan dan ternyata itu memang dia. Nenek Parki bengong ia juga melihat kalung yang ia berikan pada anaknya dulu. "Apakah ini yang ia maksud? dasar anak kurang ajar, kenapa dia tidak memberi tahuku." batin nenek Parki, ia geram kepada anaknya, untung saja saat ini ia sedang duduk. Kalau tidak, mungkin ia akan jatuh terkena serangan jantung. "Setelah ini aku akan menelepon Hamid. Anak itu, dia hampir membuatku pingsan." lanjutnya dalam hati ia menghembuskan nafasnya yang seakan berhenti selama satu detik ia kedatangan tamu yang tidak di sangka-sangka.
Melcy dari tadi melihat nyonyanya. Ia heran kenapa nyonya nya ini. Ia sempat melihat ekspresinya, tadi ia kaget lalu satu detik kemudian ia seperti orang yang sedang marah, dan ia memutuskan untuk bertanya sambil menggantikan baju gadis yang sedang pingsan itu "Mohon maaf nyonya, bukannya saya ingin tau tapi, anda kenapa dari tadi anda terlihat aneh. apakah ada sesuatu? maafkan saya kalau saya lancang nyonya." tanya Melcy meminta maaf dulu karena ia takut akan mendapatkan bentakan dari nyonya nenek. Nenek Parki yang tiba-tiba mendapatkan ultimatum dari pelayannya itu, ia tersadar akan kejutan dari anaknya, dan ia teringat akan perkataan anaknya "Tidak semua orang dapat di percaya ibu." nenek Parki gelagapan, ia seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Mm tidak, aku tidak apa-apa Melcy. Aku juga tidak tau gadis itu siapa." ucap nenek Parki berusaha tenang lalu memasukkan tanda pengenal dan lainya lagi ke dalam tas dan Melcy menganggukan kepalanya.
"Gadis ini sangat cantik ya nyonya, dari mana ya dia berasal? kenapa bisa dia jadi seperti ini?." tanya Melcy, ia prihatin dengan gadis itu.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Apakah hanya itu yang kau tanyakan?." ucap nenek Parki menyipitkan matanya sambil memegang tas gadis itu "Oh tuhan maafkan aku, aku sudah berbohong kepada pelayan hamba. Hamid, kau harus membayar ku sangat mahal soal ini." lanjutnya dalam hati ia berdoa kepada Tuhan.
FLASHBACK
Hamid datang kerumah ibunya saat malam tiba ketika orang-orang sedang tertidur pulas, ia datang membawa segudang rencana yang ia siapkan untuk menangkap musuh Inod. Ia mengendarai mobilnya tanpa ada orang di sisinya, ibunya sudah tau kalau ia akan datang tapi ia tidak tau kalau rencana yang ia buat akan melibatkannya, hanya dirinya yang tau, kedua cucu dan orang-orang didekatnya tidak ada yang tau.
__ADS_1
Tok tok tok
Pak Hamid sudah sampai di depan pintu rumah ibunya, dia membuka sendiri pintu gerbang karena tidak ada satupun orang yang terjaga saat ini lalu memasukkan mobilnya sendiri di parkir ke garasi, ia membuka dan menutup pintu gerbang dan garasi sendiri lalu ia melangkah mengetuk pintu depan rumah ibunya, ia menunggu pintu itu di bukakan oleh ibunya. ia melihat jam di tanganya "Ibu lama sekali sih buka pintunya. Keburu kakiku jamurankan ini." gumam pak Hamid.
Ceklek
Tak lama kemudian pintu itu terbuka, entah kenapa senyum pak Hamid mengembang begitu saja, dari dalam terlihat nenek Parki yang sedang menahan kantuknya.
"Ibu, apa yang ibu katakan?." ucap pak Hamid dari sebrang telepon itu, ia bingung ibunya menelepon saat mengatakan menyelundupkan barang haram itu. Telinganya sampai berdenging.
"Apa maksudmu mengirimiku pil-pil sebanyak ini hah, apa kau sudah bosan menjadi inspektur polisi." ucap nenek Parki geram ia tidak sabar untuk mencakar-cakar putranya saat ini juga, ia salah paham dengan anaknya.
"O itu, itu adalah obat tidur bu, nanti malam ibu harus melakukan tugas dariku. Apa ibu bisa? karena ini bayarannya sangat mahal, dan aku dengan suka rela untuk melakukannya." ucap pak Hamid.
__ADS_1
"Apa itu emas, atau berlian?." ucap nenek parki ia mulai tergiur dengan apa yang di katakan oleh anaknya itu.
"Lebih mahal dari itu ibuku sayang, pokoknya nanti ibu akan menyukainya." ucap pak Hamid dari telepon, ia ingin memberikan ibunya kejutan dan hanya ibunya lah yang bisa melakukan tugas itu. Jika ia tiba-tiba datang kesana musuh akan lebih waspada darinya dan jika ia mengirimkan seseorang maka orang itu akan dalam bahaya, contohnya di sekap misal, atau lebih parahnya lagi ia akan di culik dan di bunuh saat ini juga, ia takut kalau musuhnya ini lebih dari satu ia tak mau melibatkan orang luar.
"Hm baiklah, ibu akan menuruti ucapanmu. Apa yang harus ibu lakukan saat ini." ucap nenek Parki, ia tak tau kalau anaknya nanti melakukan misi yang sangat berbahaya.
"Bukan saat ini atau sekarang ibu tapi, nanti malam. Gerus obat itu lalu campurkan ke dalam makanan mereka semua, jangan sampai mereka tau. Ibu harus diam-diam melakukan ini, jangan mempercayai orang-orang terdekat ibu. Bisa saja orang itu adalah suruhan orang lain untuk mematai-matai, dan ibu tidak boleh memakan-makanan yang sudah di campurkan obat, setelah itu ketika mereka tidur, ibu telepon aku lagi. Sampai sini apa ibu mengerti?." ucap pak Hamid dan nenek Parki mengangguk setuju tanpa tau apa yang di rencanakan anaknya melibatkan nyawa seseorang, yang ia fikirkan saat ini adalah emas atau berlian atau lebih dari itu.
"Baiklah, ibu mengerti ibu akan melalukan tugas darimu." ucap nenek Parki, tanpa ucapan salam pak Hamid langsung menutup telepon itu. "Anak tak tau sopan santun." ucapnya dalam hati
Seperti saat ini, ia sedang melancarkan aksinya "Dasar anak kurang ajar, berani sekali kau memerintah ibu ini itu, jangan ini jangan itu memalui telepon. Awas saja kau!" batin nenek parki ia belum tau apa-apa. sedangkan yang di pelototi sama.
"Ibu!" ucap pak Hamid matanya berbinar.
__ADS_1