
Di dapur, tepatnya di kediaman nenek parki ada keramaian yang di ciptakan oleh Bi Meir, melcy dan dokter hesa. mereka sedang membantu BI meir memasak dan menyiapkan berbagai makanan untuk nyonya parki, tuan muda dan semua orang. dokter hesa yang tadinya mencium aroma yang menggugah selera makannya ia mendatangi dapur. lalu Melcy yang tadinya sudah selesai melaksanakan tugas dari nyonyanya menggantikan baju untuk nona yang tertidur itu ia mampir dulu ke dapur untuk mengambil air minum dan melihat dokter hesa serta bi Meir sedang memasak ia jadi ikut membantu "lumayanlah sebelum melaksanakan tugas dari nyonya, kita harus mengisi perut dulu kawan." ucap Melcy dalam hati
Sedangkan BI meir baru bangun tidur dan pergi ke dapur ia di panggil oleh nyonya parki. ia juga mendengar seseorang yang berteriak menggedor-gedor pintu. entahlah seperti orang yang hendak di terkam singa. tepat ketika ia keluar dari dapur nenek parki keluar dari kamarnya
"Meir, siapa yang menggedor-gedor pintu? seperti orang yang tak punya tata Krama saja." tanya nenek parki menggerutu
"maaf nyonya saya tidak tau, tapi itu seperti suara tuan muda." jawab bi Meir sambil menundukkan kepelanya ia kaget tiba-tiba saja nenek parki membuka pintu dan berpapasan dengannya
Nenek parki mengerutkan keningnya, ia melihat keraguan di wajah bi Meir ia pun juga begitu "masak vander menggedor-gedor pintu sampai segitunya, biasanya kan dia langsung masuk tanpa ada orang yang membukakannya pintu." ucap nenek parki dalam hati "ya sudah kalau begitu, kamu kembali saja ke dapur." ucap nenek parki kepada bi Meir sambil berjalan ke arah pintu depan dan menamatkan suara orang yang sedang menggedor-gedor pintu
"baik nyonya." ucap bi meir menundukkan kepalanya hormat lalu ia kembali melanjutkan tugasnya kembali ke dapur. ia mengeluarkan sayuran serta ikan dari dalam kulkas, dan tak lama ketika ia akan mencuci semua itu nenek parki mendatanginya dengan raut wajah yang terlihat sangat jengkel
__ADS_1
"Meir, siapkan baskom dan air hangat serta washlaf. tinggalkan pekerjaanmu setelah itu ajak temanmu membersihkan kamar tamu." perintah nenek parki. ia sangat jengkel sekali dengan cucunya, berani sekali dia menggendong seorang gadis dan juga ia melihat luka di tubuh gadis itu. cucunya juga berani sekali membawanya ke sini
"Baik nyonya." ucap bi Meir menganggukan kepalanya setelah itu nenek parki meninggalkannya. bi meir mengambil air dari dari kran dan tempatkanya ke dalam panci, setelah itu ia menyalakan kompor dengan api kecil dan meletakkan panci di atasnya. setelah itu ia pergi ke kamar belakang dan membangunkan Melcy keponakanya
"mel-melcy bangun. ini sudah pagi. bantu aku membersihkan kamar tamu. kita di suruh nyonya nenek dia kedatangan tamu." ucap bi Meir sambil menepuk pantat dan lengan Melcy yang sedang tidur miring itu
Melcy yang di bangunkan di tepuk pantat dan juga lenganya itu langsung bangun duduk membelakangi bi meirsambil mengerjapkan matanya "pagi-pagi begini." ucap Melcy kepalanya seperti berputar
"Bibi, aku ini pekerja yang sangat keras. mana mungkin aku sanggup cari pacar. bila bibi Carikan pun aku tidak akan mau." ucap Melcy sambil mengelus-elus kepalanya yang di geplak oleh bibinya. agak berdenyut nyeri
Bi Meir mengangkat satu tangannya hendak menggeplak kepalanya lagi, tapi ia urungkan karena kepalanya di lindungi oleh kedua tanganya. alhasil tanganya hanya mengambang di udara "dasar gadis gepeng siapa juga yang mau sama kamu. bangun aja masih sering kesiangan. dia selalu saja bisa menjawab perkataan ku." ucap bi Meir tangannya yang mengambang di udara itu ia tarik kembali "ehm." bi meir menarik nafasnya dalam-dalam guna mengendurkan otot-otot yang menegang dan menghembuskannya secara perlahan "meir. cepat berdiri dan hilangkan iler kamu yang menempel, lalu bantu aku membersihkan kamar tamu. cepatlah, nyonya parki sudah menunggu." ucap bi Meir berbisik dan meninggalkan Melcy menunggunya di luar. apa dia bilang nyonya sudah menunggu. oh astaga sontak saja Melcy langsung mengelap ilernya tanpa mencuci wajahnya dan berdiri mengikat rambutnya asal-asalan serta menyusul BI meir "kau tak mencuci wajahmu dulu." ucap bi Meir karena ia melihat belek di mata, iler yang masih sedikit membekas serta rambut yang tak rapi
__ADS_1
Melcy menghembuskan nafasnya malas ia juga dapat melihat sedikit bekas belek dan iler di wajah bibinya. "dia menyuruhku mencuci wajah sedangkan dirinya dirinya saja belum." ucapnya dalam hati "tidak. kelamaan, nanti nyonya keburu marah." ucapnya pada bi Meir. bi meir menganggukkan kepalanya lalu mereka pergi ke kamar tamu tak lupa membawa sapu, alat pel dan lap. mereka mengganti seprei yang baru, membersihkan meja lalu menyapu dan mengepel. setelah mereka selesai, mereka membawa alat bersih-bersih dan juga sprei kotor itu ke belakang. ia juga sempat melihat nyonyanya duduk memandangi gadis yang penuh lumpur dan luka sedangkan ia tak melihat tuan mudanya. Melcymemasukkan sprei kotor itu ke dalam mesin cuci dan BI meir pergi ke dapur melihat apakah air yang ia masak tadi sudah hangat atau belum
"meir. airnya tadi sudah hangat apa belum." ucap nenek parki. nenek parki yang tadinya duduk di kursi memandangi gadis malang itu pergi ke dapur setelah bi Meir selesai membersihkan kamar tamu. ia menyusulnya. "Nggak usah sampai mendidih, cukup panas saja setelah itu tuang ke baskom lalu kamu bersihkan gadis yang di bawa vander Dan suruh Meir membantu." lanjutnya lagi lalu kembali lagi ke tempatnya
"Baik nyonya." ucap bi meit menundukkan kepalanya. sesuai perintah nyonyanya. sesudah air itu hangat ia menuangkannya ke baskom yang telah ia siapkan tadi. setelah itu, panci yang ia gunakan untuk merebus air itu ia letakkan kembali ke asalnya tak lupa ia juga memasukkan jari tangannya pada baskom guna merasakan air itu panas atau tidak "pas, tidak panas tidak dingin." ucapnya dalam hati. lalu dia membawa baskom dan washlaf itu kepada nyonya parki serta ia memanggil Melcy yang sedang menyalakan mesin cuci dan berjalan ke arah kamar tamu "loh, di mana gadis itu." ucap nya dalam hati.dia berhenti sejenak, ia tak lagi melihat gadis lumpur itu di kursi. lalu ia melihat pintu kamar tamu itu tertutup "tadi kan pintu ini aku buka apa mungkin nyonya menyuruh tuan vander memindahkan gadis itu, tak mungkin kan jika nyonya memeindahkanya sendiri." lanjutnya dalam hati bingung. bi meir mengetuk pintu itu dan benar saja ada suara nyonya di dalam
"masuk." ucap nenek parki
sesuai yang diperintahkan. Melcy yang baru tiba di belakang bi meir itu membukakan pintu mereka masuk ke dalam lalu menutupnya kembali "permisi nyonya." ucap bi meir menundukkan kepalanya sambil memegang baskom dan washlaf. Meir juga ikut menundukkan kepalanya
"langsung saja mel, Ir kalian bersihkan badanya." perintah nenek parki kepada mereka.
__ADS_1
mereka mulai membersihkan tubuh gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala gadis ini di penuhi lumpur dan juga luka. mereka prihatin dan bertanya-tanya "kenapa dengan gadis ini? kenapa jadi seperti ini?." ucap mereka dalam hati tak lama kemudian pintu itu di ketuk. dan ternyata dokter hesa yang muncul. ia sudah di persilakan masuk dan mulai memeriksa gadis itu lalu nyonya parki menyuruh bi Meir pergi ke dapur