
Setelah perawat itu pergi Arman membuka suara " Tega kamu Risa tidak mengakui anak ini sebagai anak mu. Bahkan kau tidak mau menyusui anak mu sendiri".
"Dia memang bukan anak ku, dia anak mu. Kalau anak mu lapar beri saja susu formula, kan beres" kata Risa enteng tanpa beban.
"Risa apa kamu tidak dengar yang dikatakan oleh perawat tadi? Makanan yang paling baik untuk bayi ada ASI? Atau kau takut bentuk payudara mu rusak karena menyusui Arsa?" kata Arman dengan nada tinggi. "Dari pada anak aku minum susu sapi lebih baik aku sewa orang untuk memberi nya ASI" kata Arman yang mulai kesal.
"Apa kau bilang kau mau menyewa orang untuk memberi ASI pada anak mu, dari pada kau menyewa orang lain lebih baik kau sewa aku" kata Risa seperti tidak punya perasaan. "Dan kamu harus membayar aku dimuka".
" Apa aku harus membayar ASI yang kamu berikan pada anak kamu sendiri, tega benar kamu Risa".
" Sudah aku bilang dia bukan anak aku"
"Berapa aku harus membayar kamu Risa, sepuluh juta , dua puluh juta, lima puluh juta , seratus juta atau dua ratus juta" cerca Arman.
"Kau bayar aku dua ratus juta setiap bulannya , selama enam bulan aku akan menyusui anak mu sekarang, kamu kan kaya.... uang segitu tidak berarti untuk mu bukan" kata Risa tersenyum sinis.
"Oek..oek...oek..." tangis Arsa semakin kencang karena lapar.
"Cepat transfer sebelum seisi rumah sakit kacau mendengar suara tangis anak mu" kata Risa seakan mendesak.
Dengan perasaan tidak percaya karena ada seorang ibu kandung meminta imbalan uang untuk menyusui anaknya sendiri, akhirnya Arman mentransfer uang yang diminta oleh Risa "Sudah kau susui dulu, aku akan transfer sekarang juga dua ratus juta. Risa kalau kau membutuhkan uang lebih kamu tidak perlu menjual air susu mu, bilang saja"
" Kan kamu yang bilang mau menyewa orang untuk menyusui bayi ini , jadi apa salahnya aku yang mendapatkan uang itu. Toh sama saja , sama-sama membayar apa yang dirugikan?"
Arman hanya diam dan menggelengkan kepalanya karena masih tidak percaya dengan kejadian yang ada didepannya saat ini.
Ketika Risa menggendong Arsa ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam hati Risa, apa lagi ketika Arsa mulai menyesap air susu langsung dari dirinya, ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam hati perasaan itu semakin kuat seakan ikatan cinta antara ibu dan anak itu mengalir begitu besar di hati Risa.
Arsa meminum ASI mamanya dengan lahap karena saat itu , Arsa memang sangat lapar.
__ADS_1
"Aku sudah transfer dua ratus juta ke rekening kamu, jujur baru kali ini aku melihat ada seorang ibu yang menjual ASI kepada anaknya sendiri...." kata Arman sambil melihat kearah Risa dan Arsa yang sedang disusui. Seketika Arman tertegun dengan pemandangan yang dia lihat, Risa begitu telaten menyusui Arsa. Untuk pertama kalinya Arman melihat sisi keibuan seorang Risa. Garis senyum terpancar dari wajah Arman melihat itu dan tidak jadi meneruskan kalimatnya.
"Iya terimakasih setiap bulan kau harus bayar aku segitu" kata Risa yang mulai risih dengan pandangan Arman kepadanya.
"Sudah sana jangan kamu lihatin terus, aku malu" kata Risa yang langsung menutup bagian dadanya dengan selimut bayi.
"Iya... terimakasih Risa dengan apa yang kamu lakukan ini" kata Arman.
"Tidak usah berterimakasih toh ini tidak gratis, kau membayarnya kan" kata Risa cetus.
Namun tanpa Risa sadari air matanya mengalir tanpa bisa dia cegah, dia seperti menjadi seorang ibu yang kejam karena memberikan ASI-nya sendiri dengan dibayar. Jauh di lubuk hati Risa terdapat penyesalan karena berbuat itu.
Namun itu dia lakukan untuk bisa jauh dari anak dan suaminya , agar suaminya bisa membencinya. Karena ketika berpisah dengan Risa nantinya , Arman bisa melupakan dirinya dan mencari ibu terbaik untuk Arsa karena dirinya ingin meraih masa depannya yang sempat tertunda bersama Dandi.
Namun setelah semua sudah didepan mata dan berjalan sesuai kemauan dan Risa akan pergi menyusul Dandi ke Canada, entah mengapa hatinya ragu dan merasa tidak tega untuk meninggalkan Arsa yang masih terlalu kecil dan masih butuh ASI eksklusif.
Arman juga sudah tidak keberatan dengan keputusan Risa yang ingin berpisah dari dirinya, karena memang itu sudah menjadi keputusan mereka sebelum menikah.
Mendengar pertanyaan Arman hati Risa merasa bergetar , Risa pun tak kuasa menahan air matanya. " Iya aku kan sudah mengatakan itu, untuk apa kamu tanyakan lagi".
Arman terdiam karena memang Risa sudah mengatakan akan menyusui anaknya hingga enam dan itu berarti masih ada waktu lagi untuk Arman.
Tok...tok..tok...
"Risa...kamu sudah sadar nak? Aduh cucu Oma lapar ya?" Kata Rachmi yang melihat menantunya itu sudah sadar dan saat ini sedang menyusui cucunya.
"Sayang kamu kenapa nangis? Apa kamu merasakan sakit? Atau mau mama di panggil kan dokter?" Kata Airin yang merasa kuatir pada Risa putrinya.
"Tidak ma...aku hanya menangis bahagia karena aku bisa menyusui anak aku ma. Sekarang Risa udah benar-benar jadi seorang ibu ma" kata Risa yang tidak mampu menyembunyikan rasa yang luar biasa yang saat ini dia rasakan ketika ada bayi kecil yang sekarang bergantung pada dirinya untuk bertahan hidup pada air susunya.
__ADS_1
"Iya sayang memang seperti itu jadi ibu, rasanya tiada tara" kata Airin "dulu mama juga merasakannya saat mama menyusui kamu untuk pertama kalinya".
"Mama juga Risa, waktu pertama kali menyusui Arman. Anak mu ini pasti sangat kuat menyusu dan mungkin bisa jadi dia seperti Arman, yang tidak mau makan selain ASI selama enam bulan pertama. Jadi kamu harus makan banyak dan jangan takut gendut ya?" jelas Rachmi sang ibu mertua.
Risa yang mendengar langsung memandang ke arah Arman dengan tatapan yang sulit sekali untuk di artikan.
Begitu juga papa dan pak Brata memandang ke arah Arman yang mendapat sorotan dari Risa, mereka seakan tahu apa yang sedang terjadi antara Risa dan Arman.
"Iya ma...aku juga akan menunda niat aku untuk ke Canada, sampai Arsa berusia enam bulan. Sampai dia bisa memakan makanan pendamping" kata Risa dengan yakin.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu Risa?" tanya Kusuma tidak percaya.
"Iya aku yakin tapi dengan satu syarat" kata Risa.
"Apa aku akan penuhi semuanya" kata Arman tak kala yakin.
"Kamu tetap tinggal dirumah kamu , seperti yang selama ini kita jalani" kata Risa dengan nada yang menekan.
"Risa... apa-apaan kamu biar Arman tinggal dirumah kita. Kalau kamu keberatan sekamar dengan Arman, Arman bisa tidur dikamar tamu" bentak Kusuma.
"Tidak apa-apa pa, aku akan melakukan apapun yang Risa minta, asal Arsa bisa dekat dan minum ASI dari ibu kandungnya" kata Arman.
"Tidak Arman kalian sudah menikah kalian harus tinggal satu atap, papa sudah tidak tahan dengan semua ketidak wajaran ini. Mana ada suami istri tinggal lain atap" tegas Kusuma.
" Terserah kalau papa tidak setuju dengan persyaratan aku , aku akan pergi ke Canada besok" ancam Risa.
"Dasar kamu terlalu keras kepala" kata Kusuma.
"Sudahlah pak Kusuma, Arman juga tidak keberatan dengan semua ini. Biar kan saja mereka mengurusi rumah tangga mereka, lagi pula mereka bukan remaja lagi mereka sekarang sudah menjadi orang tua" timpal pak Brata.
__ADS_1
"Iya pak Brata saya mengerti" kata Kusuma pasrah.
Semua hanya diam dengan keputusan Risa.