
Pagi ini Arman yang terlebih dahulu terjaga. Wajah yang selalu dia dambakan selama ini untuk menjadi wajah pertama yang ingin dia lihat , kini telah ada didepannya. Wajah itu adalah wajah sang istri wanita yang sangat dia cintai.
Bahagia kata itu mungkin dapat melukiskan perasaan seorang Arman saat ini. Setelah Arman puas memandangi wajah cantik Risa, dia pun mendaratkan sebuah kecupan manis pada wajah sang istri.
Cup...
"Itu ciuman selamat pagi untuk kamu sayang, aku merasa sangat bahagia, karena setiap hari bisa lihat kamu sebelum orang lain " Arman tersenyum dan membelai pipi Risa yang masih terpejam.
Risa yang merasakan ciuman itu langsung kaget dan Risa mengerenyitkan dahinya " Tumben kamu bagun lebih dulu dari aku papa Arsa? Ada apa gerangan suamiku ini?". Kata Risa dengan suara khas bangun tidur
"Aku ingin menjadi orang yang pertama melihat wajah kamu"
"Suamiku ini ternyata tukang gombal?"
" Aku cuma mau agar kamu makin cinta sama aku sayang. Aku tidak mau manusia yang bernama Dandi itu terus bersarang di sini kamu. Aku mau hanya aku yang bersarang di sini hanya aku , aku selamanya" kata Arman sambil menaruh jari telunjuknya tepat ke dada sebelah kiri Risa.
"Ternyata ada udang di balik rempeyek? Kata-kata manis suami ku ini ternyata ada maksud terselubung" Risa mencubit geram pipi Arman.
"Mulai sekarang kamu panggil aku mas ya sayang jangan nama aku, nama aku boleh kamu sebut ketika kamu menjerit-jerit keenakan saja"
"Maksudnya menjerit-jerit keenakan saja? Apa ada orang menjerit ke enakan bukannya jika orang menjerit-jerit pasti karena kesakitan?" Risa tidak mengerti maksud suaminya.
"Ada kok orang menjerit-jerit keenakan"
"Dimana siapa?"
"Aku dan kamu waktu lagi....di surga dunia" kata Arman santai.
"Aduh Arman kamu tuh dasar suami mesum" Risa mencubit perut Arman.
"Aduh..sakit...sakit sayang. Ohh ya kenapa kamu masih panggil namaku sih?" Protes Arman.
"Maaf... maaf kan aku suamiku"
Cup...
Arman yang mendengar kata suamiku dan mendapatkan kecupan mesra dari sang istri tersenyum bahagia.
" Mas .. maaf kan aku karena selama ini aku belum bisa melupakan dia. Bantu aku untuk menyadari kalau kamu adalah lelaki yang tepat dan dikirim oleh Tuhan untuk aku"
" Sayang cinta itu terkadang seperti saat kita ingin mendaki gunung susah dan begitu banyak halangan dan rintangannya. Tetapi...jika kita sudah berada di puncak kita bisa lihat jelas keindahannya. Seperti rumah tangga kita ini , awalnya berantakan namun mulai saat ini kita harus menjaganya agar tetap awet. Jangan pernah lelah untuk mencintai aku sayang".
" Kamu juga jangan bosan untuk selalu jatuh cinta pada aku ya mas, setiap hari. Ingat setiap hari. Karena aku juga akan terus belajar mencintai kamu"
Keduanya tersenyum dan kembali berpelukan seolah ingin mentransfer kekuatan cinta masing-masing.
"Udah sekarang kita mandi dan terus nyusul Arsa, makan diruang makan kasihan Arsa makan sendiri"
__ADS_1
Mereka pun mandi dan setelah selesai mandi serta berganti pakaian mereka menyusul Arsa dimeja makan.
"Kamu tidak mau makan di sini sayang"
"Tidak karena aku tidak sakit , hanya orang sakit yang makan di kamar" Risa berjalan terus menuju ruang makan dan menemui Arsa yang sedang makan ditemani asisten rumah tangga.
"Ma..pa.. selamat pagi" sapa Arsa.
"Pagi sayang" jawab sepasang suami istri itu sambil memberikan ciuman kepada putra semata wayangnya itu.
"Sayang pagi ini kamu dirumah Nenek ya , karena papa dan mama mau pergi berdua. Kamu mau kan sayang?" Arman mengusap lembut pipi putra nya.
Arsa hanya mengangguk kan kepalanya tanda setuju ketika Arsa menoleh kearah Risa seakan ingin bertanya kenapa dirinya harus tinggal di rumah Nenek dan Kakeknya.
Risa yang mendengar pertanyaan suaminya pun menoleh kearah suaminya sambil menaikkan alisnya heran kenapa tiba-tiba suaminya berkata mereka mau pergi berdua padahal sebelumnya tidak ada rencana.
Arman hanya tersenyum dan santai saja pandangan dari Risa.
"Arsa siapin keperluan Arsa dulu ya ma pa" Arsa bergegas ke kamar untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
"Emang kamu mau ngajak aku kemana mas?"
"Aku mau kita kembali pacaran, karena dengan begitu kita bisa saling mengenal kebiasaan kita masing-masing. Aku tidak pernah tahu dengan jelas apa yang kamu suka dan yang tidak kamu suka. Aku tidak mau orang lain yang lebih mengenal mu dan lebih tahu tentang kamu dari pada aku"
"Maksud kamu?"
Risa hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah laku Arman sang suami "Terserah kamu saja suami...aku nurut saja".
Arman yang mendengar kalimat istrinya tersenyum bahagia " Ayo kita antar Arsa kerumah Papa".
"Ayo siapa takut tapi apakah kita tidak menyiapkan keperluan kita saat kita melakukan proses pacaran" Risa menggoda suaminya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak usah karena aku masih sanggup untuk membelikan semua keperluan untuk kamu di sana, lagi pula kita tidak pergi lama dan juga tidak jauh"
"Baiklah semua aku serahkan kepada mu suami ku. Sekarang kita harus antar Arsa kerumah Papa dan Mama"
Keluarga kecil yang baru saja berdamai dan memutuskan untuk menjadi keluarga yang seutuhnya itu pun pergi ke rumah orang tua Arman dengan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Arman dan Risa sudah tiga bulan tinggal di rumah baru mereka , sejak Arman meminta izin untuk pindah. Selama tiga bulan itu juga Arsa belum pernah menginap di rumah Pak Brata.
Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai dirumah pak Brata dan menitipkan Arsa buah hati mereka kepada orang tua Arman.
Pasangan yang sedang merencanakan hal untuk bisa lebih mengenal itu melanjutkan perjalanan mereka. Setelah Arsa mau untuk ditinggal dirumah kakek Nenek nya.
Risa hanya pasrah kepada sang suami kemana dan apapun rencana sang suami Risa masih belum tahu.
Sementara Arman merencanakan semua karena Arman ingin Risa sang istri melupakan masa lalunya dan yakin sudah melupakan mantan tunangannya itu.
__ADS_1
Satu minggu waktu yang mereka habiskan untuk dapat menerima satu sama lain dan cara Arman dengan membawa Risa berlibur disebuah kota X sukses. Paling tidak selama seminggu itu hanya ada satu nama yang keluar dari mulut mungil Risa yaitu namanya "Arman" ya nama itulah yang terus diucapkan oleh Risa.
Nama Arsa tentu saja keluar dari mulut mereka berdua karena dalam satu minggu itu mereka dan Arsa tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa melakukan video call kepada Arsa sang buah hati. Kata rindu selalu terlontar setiap kali mereka berbicara "Cepat pulang " itulah yang selalu diucapkan oleh Arsa.
Tidak jarang Arsa menangis karena terlalu rindu kepada Arman dan Risa dan sebagai seorang ibu Risa lah yang paling merasakan kesedihan karena telah terlalu lama meninggalkan Arsa.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang kerumah dan menjemput Arsa kerumah keluarga Brata.
******
Di rumah keluarga Brata kedatangan tamu jauh seorang pria yang tidak kalah tampan dari Arman dia bernama Helmi.
Helmi adalah sepupu dari Arman yang selama lima tahun terakhir menetap di Amerika. Dia pulang ke tanah air semata-mata untuk memenuhi panggilan dari sang ayah yang ingin dia memimpin perusahaan keluarga.
Kebetulan karena dia belum aktif bekerja dia menyempatkan mampir kerumah pak Brata yang tidak lain adalah paman satu-satunya.
Helmi memang sangat dekat dengan Arman karena umur mereka hanya terpaut dua tahun, jadi Arman memanggil Helmi dengan sebutan Abang.
Dulu mereka bersekolah di sekolah yang sama, Helmi selalu melindungi Arman dari kakak kelas yang selalu menjahili Arman. Karena Arman saat itu adalah seorang yang sangat pendiam dan tidak mudah berteman berbeda dengan Helmi yang tumbuh menjadi pria pemberani dan selalu dikelilingi oleh gadis-gadis.
"Helmi apa kabar mu nak?" Rachmi memeluk tubuh kekar Helmi dengan penuh kerinduan.
"Baik Tante" Helmi mempererat pelukannya.
Lama keduanya berpelukan sampai mereka tidak menyadari kehadiran Arsa.
" Nenek... Om ini siapa? Kenapa Nenek peluk Om ini?" Arsa mencoba merenggangkan pelukan keponakan dan tantenya itu.
"Ohh...cucu Nenek. Sini sayang ini kenalkan ini adalah Om Helmi" Rachmi memperkenalkan. " Helmi ini Arsa anaknya Arman".
Helmi terlebih dahulu menjulurkan tangannya kepada Arsa , Arsa pun ikut menjulurkan tangannya "Arsa" kata Arsa dengan nada datar.
" Halo ganteng saya Om Helmi" Helmi memperkenalkan diri dengan begitu ramah , karena Helmi sangat sayang pada anak-anak.
Rachmi yang melihat keramahan Helmi langsung bercelatuk " Makanya cari istri biar bisa punya anak sendiri".
" Belum ada yang cocok Tan...dulu ada yang cocok dia malah di gaet orang, ya Tan udah nasib Helmi kali Tan begini. Jadi jomblo akut hehehe " sambil meneguk minuman yang telah disediakan.
" Arman kemana Tan? Apa dia ke kantor aku rindu sama adek aku itu. Pemalu tetapi malah dia duluan yang jadi papa ketimbang aku " Helmi berkata dengan suara pasrah tapi tidak rela.
"Tidak, dia lagi pergi liburan bersama istrinya, mau memupuk kemesraan katanya" sambil tersenyum kepada Helmi.
"Aku penasaran deh Tante sama wanita yang bisa membuat adik manja akut itu sampai dia tega tidak memberi tahukan kalau dia sudah menikah." kata Helmi yang terus bermain bersama Arsa.
"Om...mama aku itu cantik tahu baik lagi , Om pasti suka lihat mama aku. Percaya Arsa deh Om" celetuk Arsa yang sekarang sudah mulai akrab dengan Helmi.
" Iya Om percaya sayang mama kamu. Mama kamu pasti cantik dan baik iya kan? Anaknya saja setampan ini " Helmi mencubit pipi Arsa dengan gemas.
__ADS_1
" Pastinya dong om. Arsa gitu lo" ucap Arsa dengan menarik kerah bajunya dengan bangga.