Cintai Aku Istriku

Cintai Aku Istriku
Bab 16


__ADS_3

Setelah semalam Arman dan Risa kerja rodi untuk menjaga Arsa secara bergantian akhirnya panas Arsa turun juga dan itu menandakan bahwa saat ini Arsa dalam ke adaan baik-baik saja seperti yang dikatakan dokter semalam jika panas Arsa turun maka tidak ada yang perlu di kuatirkan.


Dokter pun sudah memeriksa keadaan Arsa, namun butuh waktu semalam lagi Arsa dirawat inap untuk memastikan kondisinya stabil dan di perbolehkan untuk pulang.


Sepasang suami istri yang terbelenggu dengan rumah tangga yang tidak biasa itu pun lega dengan apa yang dikatakan dokter tentang keadaan anak mereka.


Saat ini mereka hanya bertiga saja didalam kamar rawat inap Arsa, Arman langsung menyodorkan sebuah pertanyaan "Risa...maukah kau memperbaiki hubungan kita dan rumah tangga kita? Aku akan menunggu kamu sampai kamu mau menerima aku sebagai suami mu. Aku akan menunggu kamu tampa batas waktu, aku akan memberikan waktu sampai kamu siap. Kapan pun itu aku akan menunggu" kata Arman sambil menatap wajah dan mata Risa secara intens.


Risa yang melihat kesungguhan dari suaminya langsung memeluk tubuh kekar suaminya "Kamu berkata sungguh-sungguh Arman".


"Iya aku sungguh-sungguh" balas Arman dan mempererat pelukannya.


Tanpa mereka sadari mereka saling menangis dan tanpa mereka sadari juga , dua pasang paruh baya telah menyaksikan adegan drama Korea dikamar rawat inap cucu mereka.


"Begitu dong kan enak di lihatnya" celetuk Rachmi mama Arman.


"Iya mama dan papa senang kalau melihat kalian akur dan mau memulai dan memperbaiki hubungan kalian menjadi lebih baik seperti rumah tangga kebanyakan orang". tambah Airin.


"Sudah kalian sudah bisa pindah ke rumah kalian sendiri , biar jangan ganggu pasangan yang tua ini" kata Brata sedikit bercanda.


Yang mendengar kalimat pak Brata sontak terbahak-bahak dan yang digoda malu dan menundukkan wajahnya.


"Iya pa aku akan bawa keluarga kecil ku, kerumah kami. Ya...kan sayang?" kata Arman sambil menoel dagu istrinya.


"Ihh...apaan sih , malu tahu ada Mama Papa". kata Risa yang risih dengan perkataan dan perlakuan suaminya.


"Tidak perlu malu sayang , Papa dan Mama juga dulu seperti itu. Pernah muda ya kan Ma?". kata Kusuma.

__ADS_1


"Cie...cie...yang uda baikan udah boleh noel-noel hehehe" kata Airin menambah riuh suasana.


Setelah riuh canda dan tawa yang cukup membuat semua orang bahagia akhirnya pak Brata bertanya pada anak dan menantunya "Oh ya kapan Arsa cucu kami di boleh kan pulang oleh dokter?"tanya Brata.


" Kalau Arsa terus stabil dua hari lagi Arsa boleh pulang Pa Ma" jawab Arman.


"Wah ... ternyata semua kesukaran bukanlah sesuatu yang perlu di kuatirkan, terkadang kesukaran merupakan cara Tuhan mempersatukan. Seperti sekarang ini dengan sakitnya Arsa kalian bisa saling membuka diri dan menghilangkan ego kalian demi Arsa" kata Airin yang membuat Arman merangkul pundak Risa dan tersenyum bahagia.


"Doakan saja ma...pa...kami bisa saling mencintai dan selalu bahagia" kata Risa seraya menyingkirkan tangan suaminya dari pundaknya sambil berbisik di telinga Arman ".Aku belum bilang aku mau hidup bersama kamu jadi tidak usah baperan".


"Ya udah kalau begitu kami sebagi Kakek dan Nenek bArsa pulang dulu , Arsa cepat sembuh ya sayang " kata Rachmi sambil mencium pipi Arsa yang sedang tertidur pak Kusuma melakukan hal yang sama pada cucu kesayangannya.


"Ya kami pulang kalian juga istirahat gantian saja jaga Arsanya" kata Airin lagi dan mereka meninggalkan kamar rumah sakit itu.


Setelah semua keluar pergi meninggalkan ruangan rawat Arsa, Arman langsung menodong pertanyaan kepada Risa "Apa maksud kamu bilang kamu belum setuju dan aku jangan baperan? Apa Risa Kusuma Admaja?" kata Arman pelan namun penuh kemarahan "Bukankah kamu tadi sudah setuju dengan apa yang mau kita rencanakan setelah Arsa keluar dari rumah sakit?" saat ini Arman benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Risa yang dia rasa tidak berpendirian.


Akhirnya air mata Arman lolos Tampa permisi membasahi pipinya "Tega sekali kamu ucapkan kalimat itu kepada aku Risa, jadi siapa yang kau cintai si Dandi... Dandi itu? Kamu akan mengikuti nya ke Canada dan meninggalkan kami? Ku mohon Risa.... pertimbangkan. Jika kamu tidak mau hidup bersama ku aku tidak mengapa tapi jangan tinggalkan Arsa. Bila perlu aku akan benar-benar menjauh dari mu asal kamu tetap tinggal bersama Arsa".


Risa hanya diam tanpa menjawab apa-apa , terus terang dia bingung dengan perasaannya. Risa memang menyayangi anaknya, tapi untuk hidup bersama Arman bagaimana mungkin. Risa duduk di kursi dekat dengan ranjang dimana Arsa tertidur. Sedang Arman tidur di sofa yang disediakan oleh pihak rumah sakit.


Lama mereka bisu hingga suara perut Risa yang keroncongan terdengar oleh Arman.


Arman langsung mengambil makanan yang sempat dia beli dan memberikan kepada Risa "Makan lah Risa nanti kamu sakit".


"Aku tidak lapar" jawab Risa menolak kebaikan dari Arman.


"Risa untuk kali ini saja kamu nurut , aku takut kamu sakit. Makanlah Risa jangan begini, jika kamu membenci aku jangan dengan cara menyiksa dirimu sendiri" kata Arman yang sudah prustasi karena Risa tidak juga mau makan .

__ADS_1


Namun Arman menyerah dan dia memakan sendiri makanannya itu. Setelah kenyang akhirnya Arman tidur sambil menemani Arsa ditepi ranjang rumah sakit, dimana Arsa terbaring.


Risa tidak bisa tertidur karena lapar dan dia akhirnya mengambil makanan yang tadi ditawarkan Arman.


Suara box nasi yang di buka menimbulkan suara yang membuat suasana hening tengah malam di kamar rawat inap Arsa pun riuh seketika dan itu membuat Arman terjaga. Arman yang melihat Risa memakan makanan yang tadi di tolak olehnya membuat Arman tersenyum bahagia akhirnya Risa mau makan. Setidaknya Risa tidak kelaparan dan bisa tidur tenang.


"Huk...huk....huk..." Risa tersedak dan itu membuat Arman yang berpura-pura tertidur refleks mengambil minuman dan memberikan nya kepada Risa.


Risa menolak namun Arman berkata " Tidak usah gengsi, bagaimana pun kamu membutuhkan ini. Minumlah Risa!" kata Arman.


Risa mengambil minuman yang ada di tangan Arman dan meminumnya serta menghentikan makannya padahal perutnya masih lapar.


Arman tahu Risa masih lapar dan akhirnya Arman mengambil makanan itu dan mulai menyuapinya ke mulut istrinya. "Buka mulut mu , aku tahu kalau kamu masih lapar".


"Tidak aku tidak lapar" belum sirna suara Risa ditelinga Arman bunyi "kriuk kriuk kriuk' terdengar lagi suara perut Risa yang masih lapar.


"Aduh... kenapa suara perut ini tidak bisa kompromi sih, aku kan jadi malu karena ketahuan aku masih lapar sama dia' kata Risa dalam hati.


"Tuh kan kamu masih lapar, ayo makan" sambil terus menyodorkan makanan itu ke mulut istrinya.


Akhirnya Risa pun mau menerima suapan dari Arman dan Arman merasa bahagia.


"Kamu jadi orang kenapa baik betul sih, kamu kan tahu aku tidak mencintai kamu dan hanya mencintai Dandi" kata Risa tanpa memikirkan bagaimana perasaan Arman saat ini.


Arman geram karena Arman sangat tidak suka jika nama laki-laki lain disebut oleh sang istri didepannya, namun dia tidak boleh menampilkan wajah kesalnya. "Karena aku lebih mencintai dirimu dari pada tunangan kamu itu, aku berharap suatu saat Tuhan membukakan mata dan hatimu untuk bisa melihatnya" kata Arman yang terus menyuapi Risa.


"Bodoh amat, jangan kamu pikir perhatian aku selama ini aku mulai suka sama kamu. Tidak Arman tidak itu aku lakukan semata-mata hanya untuk tanggung jawab aku sebagai mahluk sosial, tepatnya karena kamu ayah dari Arsa tidak lebih. Karena sejak aku tahu aku mengandung anak dari pria seperti kamu aku sangat membenci kamu , sekarang dan nanti. PAHAM? Jadi jangan pernah bermimpi untuk aku bisa mencintai kamu". Risa bangkit dari duduknya dan membaringkan tubuhnya di atas sofa rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2