Cintai Aku Istriku

Cintai Aku Istriku
Bab 17


__ADS_3

Ketika Risa mulai terpejam Arman mendekati Risa. Risa mulai takut Arman bertindak nekat , namun Arman menyentuh dagu Risa dan berkata " Kalau memang kamu mengajak perang dengan aku , aku akan ikut. Bagi ku pantang mundur sebelum kalah, kamu pikir dirimu saja yang bisa berbuat kejam dan tidak punya hati? Jangan kamu pikir aku tidak punya batas sabar" ancam Arman.


Risa hanya bisa terdiam mendengar perkataan sang suami. Karena apa yang dikatakan Arman setiap orang pasti punya batas kesabaran.


" Apa segitunya Arman membenci aku? Aku tidak menyalahkan dirinya karena memang aku yang salah, aku terlalu egois karena tidak mampu untuk berterus terang kalau aku juga sudah mencintai Arman. Sebenarnya apa yang aku katakan tadi itu hanya gurau tapi aku tidak menyangka Arman begitu marah." kata Risa dalam hatinya.


"Setelah Arsa ke luar dari rumah sakit , aku akan bawa Arsa kerumah aku. Rumah keluarga Brata Wijaya, kita lihat siapa sebenarnya yang tidak tahan. Aku atau kamu, jangan kamu paluh genderang perang dengan aku, mengerti mamanya Arsa". kata Arman dengan nada yang sangat mengerikan dan membuat Risa yang angkuh merinding mendengar perkataan Arman.


Dua hari berlalu Arsa dibolehkan pulang seperti perkiraan dokter. Semua keluarga datang menjemput cucu kesayangan.


"Ma...pa... Arsa aku bawa kerumah papa dan mama Arman ya, Arsa sudah tidak lagi tergantung dengan ASI eksklusif Risa. Arman juga tidak melarang Risa atau siapa pun yang ingin menjenguk Arsa, pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian" kata Arman mengambil Arsa dari gendongan mama mertua.


"Kenapa begitu bukan kah kalian mau pindah kerumah kalian sendiri? Atau kalian berantem lagi?" kata Brata sambil menatap ke wajah anak dan menantunya secara bergantian.


"Tidak pa...cuma Risa masih perlu waktu untuk memikirkan kesiapan Risa untuk bisa hidup bersama dengan Arman. Risa tidak mau nantinya keputusan yang kita ambil malah menjadi sebuah keputusan yang salah. Seperti yang Mama dan Papa tahu aku belum memutuskan hubungan aku dengan Dandi" Risa mencoba memberikan pengertian kepada para orang tua.


Arman yang mendengar jawaban Risa itu menjadi sangat geram karena lagi-lagi Risa menyebutkan nama pria itu.


"Baiklah jika itu yang menjadi keputusan kalian, kami hanya bisa mendoakan agar pernikahan kalian yang tidak biasa ini menjadi biasa seperti pernikahan orang-orang pada umumnya. Ingat ada anak yang kalian korbankan disini jadi jangan egois. Apalagi kamu Risa sebuah penyesalan akan selalu datang terlambat" kata Kusuma tegas dan sangat pedas kepada putrinya.


*******


Tidak terasa sudah lima tahun berlalu setelah kepulangan Arsa dari rumah sakit , Arsa berada di kediaman keluarga Brata. Rumah itu jadi ramai dengan nada tawa dan tangis Arsa dirumah itu.


Semenjak itu pula Arman tidak pernah bertemu dengan Risa, hanya Arsa yang sering bertemu dengan Risa ketika Arsa meminta untuk bertemu dengan mamanya atau mereka bertemu dengan mamanya di suatu tempat.


Hubungan antara ibu dan anak itu terjalin dengan baik.


Risa juga enggan untuk kerumah mertuanya karena dia malas bertemu dengan Arman, karena jika mereka bertemu selalu berdebat.


Keegoisan yang menyelimuti hati mereka itulah yang membuat mereka tersiksa.


Seperti saat ini, Arman dan Arsa sedang bermain dengan penuh semangat, tiba-tiba Rachmi bertanya pada anak semata wayangnya itu "Arman kenapa kamu tidak pernah mau untuk bertemu dengan Risa? Ini sudah lima tahun Arman?".


"Untuk apa ma...toh Risa juga tidak menginginkan pertemuannya dengan aku dia hanya ingin bertemu anaknya. Lagi pula dia sekarang sedang sibuk dengan urusan butiknya dan tidak mungkin sempat untuk menemui aku secara tiba-tiba perlu atur jadwal khusus ma" jawab Arman sambil terus bermain-main dengan Arsa.


"Sayang kamu harus bisa mengalahkan ego kamu, demi Arsa"

__ADS_1


"Tidak ma... sudah cukup Arman mengalah dan merendahkan diri Arman lima tahun yang lalu dan saat itu Arman hanya mendapatkan penghinaan dari Risa. Jadi Arman sudah tidak mau ma... mungkin Risa menyangka Arman ini lelaki pengangguran yang tidak punya kerjaan dan hanya mengejar cintanya. Arman juga punya harga diri ma, mama juga tahu bagaimana Arman mempertahankan rumah tangga yang abnormal itu. Apa sebaiknya Arman bercerai saja ya ma dan mencari wanita lain untuk menjadi mama sambung Arsa dan membangun rumah tangga yang normal tidak seperti sekarang yang Arman jalani ini" kata Arman meminta pendapat mamanya itu.


"Kamu cobalah sekali lagi Arman demi Arsa" bujuk Rachmi.


"Sudah cukup ma..." kata Arman.


"Cerai itu apa pa?" kata Arsa dengan nada polos.


"Hus...anak kecil tidak boleh berkata seperti itu ya sayang" kata Rachmi sambil menggendong cucunya.


"Arsa kan sudah besar Oma" kata Arsa memanyunkan bibirnya.


"Iya iya anak papa sudah besar" kata Arman mengelus lembut rambut anaknya.


Tiba-tiba ponsel Rachmi berdering dan ternyata Risa melakukan panggilan video "Arsa mama menelepon kita angkat yok"


"Ya Oma ... angkat Oma" kata Arsa bersemangat.


Rachmi menggeser tombol hijau yang ada di ponsel Rachmi " halo sayang anak mama apa kabar?"


"Baik ma Arsa baik, mama baik juga kan?" kata Arsa bersemangat.


"Terimakasih ma" kata Risa.


"Mau...mau...mau...ma. Mama jemput Arsa kesini ya jemput Arsa" kata Arsa bersemangat.


"Iya mama jemput Arsa , Arsa sekarang siap-siap ya tiga puluh menit lagi mama jemput. Mama matikan panggilan nya ya sayang" kata Risa.


Arsa menjawab dengan mengangguk dan Risa mematikan panggilan nya.


Saat Risa jemput Arsa kerumah keluarga Brata, ternyata Arman sedang duduk membaca majalah on line dari ponselnya.


"Arsa... Arsa...kamu sudah siap nak" kata Risa sambil sedikit berteriak.


"Tidak usah berteriak kayak Tarzan" kata Arman jutek dan segera pergi masuk kamar.


"Maaf " hanya kata itu yang terucap.

__ADS_1


Namun Arman tidak perduli dan terus berjalan ke kamar tanpa memperdulikan sosok Risa.


"Mama..." teriak Arsa.


"Sudah siap kan sayang kita berangkat ya, ma kami berangkat ya ma" Risa berpamitan dengan mertuanya dan mencium punggung tangan Rachmi.


"Bek Arsa pergi ya Nek" kata sang cucu sambil berpamitan kepada sang Oma.


"Jangan nakal ya sayang nurut sama mama" pesan sang Nenek kepada sang cucu.


"Siap Nenek cantik..." kata Arsa "Ayok mama kita berangkat" ajak Arsa dan Risa pun pergi meninggalkan rumah Brata menuju kolam renang.


Setelah puas berenang ibu dan anak itu pun pergi makan dan mengajak sang anak bermain di arena permainan anak-anak, setelah puas baru mereka pulang.


Ditengah perjalanan Arsa tertidur lelap mungkin karena kecapekan, Arsa tidur sampai dirumah keluarga Brata Wijaya.


Karena Arsa begitu nyenyak Risa tidak tega untuk membangunkan Arsa dan dia memilih untuk mengendong Arsa, ketika pintu rumah terbuka ternyata Arman yang membukakan pintu.


Arman langsung mengambil Arsa dari gendongan Risa dan membawa Arsa ke kamar Arman, karena selama ini Arsa tidur bersama Arman.


Risa mengikuti Arman dari belakang sambil membawa barang-barang Arsa, sesampainya di kamar Risa bertanya " Taruh dimana barang-barang Arsa ini" kata Risa canggung.


"Letakkan saja di situ dan kamu boleh pergi" jawab Arman.


Ternyata Arsa sudah terjaga " Tidak papa... mama tidak boleh pulang kerumah Kakek Kusuma. Mama...malam ini harus temani Arsa bobo ya ma, Arsa mohon ma" kata Arsa memohon.


Risa melirik Arman yang masih memasang wajah datar "Mama harus pulang sayang besok mama harus kerja cari uang yang banyak untuk beli mainan dan ajak Arsa jalan-jalan lagi ya" bujuk Risa.


"Mama tidak usah cari uang untuk beli mainan, Arsa tidak mau mainan. Arsa mau mama disini temani Arsa, mainan Arsa sudah banyak. Mama tidur sini di samping Arsa hiks hiks hiks" rengek Arsa.


" Sudah Arsa kamu tidur ya, Mama kamu tidak punya waktu dan tidak sudi untuk tidur disini" Arman memang sudah berubah menjadi pria yang kasar bila berbicara pada Risa.


Karena tidak tega melihat Arsa yang merengek dan sindiran Arman akhirnya Risa tidak kuasa dan mau tidur di samping anaknya.


Sementara Arman tidak mau mengganggu kemesraan ibu dan anak itu , Arman memilih keluar dari kamar itu. Namun sebelum Arman pergi Arsa juga berkata " Papa juga sini biar Arsa ditengah kita tidur bertiga , ayo pa sini" ajak Arsa.


Saat ini mata keduanya beradu dengan tatapan yang tidak dapat dimengerti antara bingung canggung namun demi anak mereka menanggalkan ego masing-masing.

__ADS_1


Mau tidak mau Arman juga merebahkan tubuhnya di samping Arsa dan mereka tidur bertiga.


__ADS_2