
Tepat pukul delapan pagi setelah sarapan Arman mengantar Risa pulang kerumah orang tuanya untuk mengambil segala perlengkapan Risa untuk dibawa ke rumah pak Barata.
Setelah selesai mengemasi barang-barangnya Risa pun berpamitan untuk pindah ke rumah keluarga Brata Wijaya kepada orang tuanya.
Pak Kusuma dan ibu Airin sangat senang dengan keputusan Risa yang ingin membina rumah tangga yang lebih baik dengan Arman. Kedua orang paruh baya itu serasa Tuhan sudah mendengar doa mereka.
Sesampainya dirumah keluarga Barata. Risa langsung merapikan barang bawaannya sedang Arman langsung kembali ke kantor. Dibantu asisten rumah tangga keluarga suaminya. Setelah membereskan semua barang yang dibawa Risa dengan si kecil Arsa yang juga ikut membantu sang mama untuk merapikan barang-barang tersebut dengan perasaan yang gembira dan tidak membiarkan sedikitpun sang mama hilang dari pandangan Arsa.
Akhirnya Arsa kelelahan dan tertidur dengan ditemani sang mama. Arsa memeluk tangan Risa dengan erat dan Risa lagi-lagi tanpa diundang air mata Risa menetes melihat Arsa yang sebegitu takutnya kehilangan sang mama.
Risa menemani Arsa tidur hingga rasa kantuk juga melanda Risa dan mereka tertidur pulas. Tidak terasa mereka tertidur hingga sore.
Saking nyenyak nya mereka tertidur hingga mereka lupa untuk mandi dan menyambut Arman pulang dari kantor.
Arman yang baru pulang kantor mencari-cari sosok Arsa sang anak yang selalu menyambutnya.
Ketika dia masuk kedalam rumah dan bertemu dengan bibi Neti " Bi... orang-orang pada kemana? Kok sepi? Arsa mana Bi? Biasa Arsa nungguin saya diteras rumah, kalau saya pulang kantor?" begitu banyak pertanyaan yang Arman ucapkan sampai bibi Neti kewalahan untuk menjawab.
" Sabar tuan muda biar saya jawab satu-satu pertanyaannya. Yang pertama Tuan besar dan nyonya besar sedang pergi keluar untuk menghadiri undangan pesta pernikahan anak sahabat mereka, sedang den Arsa sedang istirahat di kamar bersama nona muda" bibi Neti menjelaskan.
" Terimakasih bi buat infonya, saya ke kamar dulu".
" Iya tuan, saya juga mau nyiapin masakan untuk makan malam". Bibi Neti pergi ke dapur.
Arman langsung masuk ke kamarnya dan mendapati istri dan anaknya tertidur pulas dan entah mengapa pemandangan itu menorehkan senyum.
Risa terbangun dan saat melihat sosok Arman dia terkejut "maaf aku ketiduran di ranjang kamu, aku akan pindah ke sofa biar kamu bisa istirahat" kata Risa beranjak dari tempat tidur menuju sofa.
Canggung tentu saja karena setelah pertengkaran beberapa tahun lalu , Arman dan Risa memang tidak pernah berkomunikasi. Jadi memulai dari awal itu sangatlah sulit. Karena mereka tidak tahu harus mulai dari mana.
Belum sempat Risa berjalan menuju sofa tangannya ditarik oleh Arman , Risa yang kaget dan masih canggung langsung berkata " Lepas aku mau ke sofa itu".
"Sudah kamu tetap tidur di ranjang biar aku yang di sofa, lagian aku juga mau mandi. Gerah karena baru dari kantor" kata Arman lembut. "Terimakasih untuk kamu karena kamu mau tinggal disini bersama kami. Sungguh ini anugerah terindah yang pernah aku rasakan".
"Ini ku lakukan demi Arsa anak ku, bukan demi kamu, jadi tidak perlu berterimakasih" kata Risa jutek.
Arman hanya diam saja tanpa mau berdebat, Arsa yang terbangun karena mendengar Arman dan Risa berbicara langsung berkata "Papa sudah pulang? Ma...sini ma" kata Arsa.
__ADS_1
"Ada apa sayang" kata Risa mendekati Arsa.
"Kalau papa pulang mama harus salam Papa dan cium tangan Papa" kata Arsa.
Arman yang mendengar perkataan Arsa langsung terbatuk-batuk dan tersenyum penuh kemenangan karena tindakan anaknya sangat menguntungkan untuk nya. Sedang Risa wajahnya berubah menjadi merah karena permintaan Arsa , ada rasa canggung dan bingung.
"Ayo ma salam papa dan cium tangan papa, ayo ma cepat. Kalau mama tidak mau Arsa tidak mau makan malam" ancam Arsa kepada Risa.
Akhirnya mau tidak mau Risa melakukan sesuai dengan permintaan Arsa , Arman memberikan tangannya dan lagi-lagi Arman tersenyum penuh kemenangan. Jangan tanya Risa, perasaan sekarang seperti diaduk-aduk antara mau marah dan kesal. Namun dia tidak dapat berbuat apa-apa selai mengikuti perintah sang anak. Risa mencium punggung tangan suaminya.
Ketika Risa mau melepaskan tangannya dari tangan Arman , Arsa kembali bersuara "Pa... sekarang papa cium kening mama".
Sekitika Arman dan Risa saling pandang dan
Arman yang mendengar permintaan Arsa pun melakukan hal yang diinginkan Arsa, setelah selesai Arsa kembali bersorak "Gitu dong kan enak ngelihat nya. Arsa sayang mama dan papa, terimakasih papa dan mama". katanya sambil mencium pipi ke dua orang tuanya.
Namun tidak dengan Risa yang tambah kaku dan canggung karena jujur Risa saat ini masih belum tahu bisa apa tidak hidup berdampingan dengan Arman.
Namun Arman membuka suara "Maaf aku tidak bisa menolak permintaan Arsa".
" Ya aku mandi dulu biar bisa gantian" jawab Arman tidak kalah canggung.
Sementara Arsa sudah mandi dibantu oleh bibi Neti.
Tidak lama kemudian Arman keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian perut hingga lutut.
"Itu pakaian kamu sudah aku siapin, tapi jangan baper dulu , itu semua permintaan Arsa" kata Risa sambil berlalu menuju kamar mandi
Arman tidak ambil pusing dengan kalimat Risa yang jelas semua sudah beres tinggal pakai.
Brata, Rachmi, Arsa dan Arman sudah di meja makan untuk acara makan malam. Tinggal Risa yang belum ada , mereka menunggu Risa dan akhirnya yang ditunggu-tunggu nongol juga.
"Mama ayo duduk samping Papa, biar kita makan malam" titah Arsa.
"Sini sayang piring kamu" kata Rachmi.
"Tidak Nek...mulai sekarang yang ambil nasi Papa itu harus Mama. Ayo ma... ambilkan nasi Papa" kata Arsa dan Risa kaget karena permintaan Arsa itu.
__ADS_1
"Tapi... Arsa..." protes Risa.
"Mama ayo dong kayak Nenek sama Kakek, lihat Kakek yang ambilkan nasi Kakek kan Nenek. Ayo Ma..." rengek Arsa.
Mau tidak mau Risa melakukan lagi permintaan Arsa itu " Sini Arman piring kamu biar aku ambil nasi untuk kamu" kata Risa.
"Mama... jangan panggil nama, panggil sayang bolehkan ma ke Papa?" protes Arsa.
"Aduh... Arsa... ada-ada saja permintaan kamu" keluh Risa.
"Ayolah ma... kasihan Papa" bujuk Arsa.
"Hemm...sini sa...yang...piringnya" kata Risa dengan gigi rapat tanda tidak ikhlas.
"Nih..." Kata Arman tidak kalah ketus.
"Papa...Papa juga harus bilang...ini sayang sambil senyum" perintah Arsa.
"Hemm...ini sayang" juga dengan gigi rapat.
Brata dan Rachmi hanya senyum manis melihat tingkah anak dan menantunya yang dipandu oleh cucunya.
"Nah...gitu...ohh ya Nek malam ini Arsa tidur dikamar Nenek dan Kakek ya? Biar Mama dan Papa tidur berdua , karena kata Johana kalau mau punya adik Papa dan Mama harus tidur berdua. Biar tidak terganggu dengan suara Arsa ngorok. Boleh kan Nek" pinta Arsa.
"Boleh sayang, tentu boleh" kata Rachmi mengiyakan permintaan Arsa sang cucu.
"Hemm.....mmm... Ar...sa...hemm... kamu...tidur sama mama dan papa aja ya di kamar, tidak usah sama Kakek dan Nenek" bujuknya kepada sang anak.
" Tidak mama... Arsa mau tidur dengan Kakek dan Nenek, biar mama dan papa tidak terganggu dengan suara ngorok Arsa" kata Arsa manja khas anak-anak.
Risa dan Arman hanya bisa pasrah kalau malam ini mereka akan tidur berdua tanpa Arsa.
Brata dan Rachmi hanya tersenyum melihat wajah anak menantunya yang bingung karena permintaan Arsa cucunya.
"Sudah jangan lupa habisin makan nya" kata Rachmi yang tidak bisa menahan rasa geli dalam hatinya. Karena setelah hampir lima tahun ini anak dan menantunya itu membangun rumah tangga abnormal , akhirnya kali ini mereka akan tidur berdua lagi.
Suasana makan malam itu sangat canggung untuk Arman dan Risa namun tidak untuk Brata, Rachmi dan Arsa yang sangat bahagia.
__ADS_1