
Arman sampai ke rumah orangtuanya dia berjalan menuju kamar tidur nya sambil terus membawa Arsa dalam gendongannya.
Rachmi yang melihat anaknya tidak menyapanya bingung. Karena tidak seperti biasanya Arman seperti itu. Ditambah menantunya yang tidak ikut beserta anak dan cucunya. Karena Rachmi tahu kalau tadi pasti mereka bertemu, karena Arsa sekarang bersama dengan Arman. Rachmi pun penasaran dan berjalan mengikuti Arman.
Setelah sampai di dalam kamar " Kamu kenapa pulang dengan wajah yang ditekuk begitu? Apa yang terjadi dan mana Risa".
" Ibu tidak perlu menanyakan itu Bu. Aku akan bercerai dengan Risa. Karena aku sudah menyerah untuk memperjuangkan cinta aku. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa masuk ke dalam hati nya. Aku sudah tidak mau berjuang lagi cukup sudah Bu" Arman mengatakan itu dengan suara bergetar.
" Jika itu sudah menjadi keputusan kamu mama bisa apa, tapi yang jelas perlu mama tekankan. Bahwa apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia" Rachmi menekan kata tidak boleh.
" Aku sudah tidak perduli ma , biar dosa itu akan ku tanggung dan aku akan meminta pengampunan kepada Tuhan. Aku yakin jalan yang aku ambil sudah tepat. Mama hanya tinggal membantu aku merawat Arsa. Karena Arman akan mengambil hak asuh Arsa ". Arman begitu yakin dengan keputusan yang dia ambil sudah tepat.
" Apa kamu tidak mau mengambil waktu untuk berpikir? Agar semua bisa lebih jelas dan kamu tidak menyesal nak " Rachmi tahu keputusan yang diambil oleh anaknya itu hanyalah keputusan yang salah.
" Tidak ma ... Arman sudah yakin dengan keputusan yang Arman ambil ma ".
" Ya ... Kalau kamu sudah yakin mama mau bilang apa semua terserah kamu saja. Karena pada akhirnya kamu yang akan menyesal dan anak kamu yang kasihan. Lagi pula semua keputusan terserah kamu kalau kamu tega Arsa tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu" Rachmi berjalan keluar meninggalkan Arman yang prustasi.
" Aku tidak akan mengubah keputusan ku, Arsa akan tetap baik-baik tampa seorang ibu. Karena aku bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk Arsa" gumamnya.
*****
Di tempat lain di sebuah kamar yang tidak begitu besar Risa menangis dengan keputusan yang Arman ambil.
Sebenarnya dia tidak Menangisi perpisahan nya dengan Arman dia hanya menangisi setelah ini dia tidak akan lagi bertemu dengan Arsa anak lelakinya.
Tapi ... Untuk mengiba memohon kepada Arman, Risa juga tidak mungkin karena itu akan sia-sia dan membuang tenaga karena Risa tahu bagaimana jika Arman sudah marah dia tidak akan merubah keputusannya. Apalagi saat ini dia memang sedang sangat marah.
" Jika aku mau bertemu dengan Arsa aku bisa meminta bantuan mama Rachmi, karena aku bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ini semua hanya salah paham " Risa mencoba meyakinkan diri nya.
Kata perpisahan yang tadi Arman ucapkan berputar- putar dibenak Risa dan itu kembali membuat dia menangis. Entah mengapa dia seperti itu perasaan Risa begitu terpukul. Rasanya begitu sakit lebih sakit dari waktu dia kehilangan mahkota berharganya.
" Apakah aku sudah jatuh cinta? Tuhan kenapa saat aku mulai mencintai suamiku ... Kami harus berpisah? " Risa merasakan sakit seperti diiris sembilu.
Setelah lelah menangis akhirnya Risa terlelap juga dengan sisa air mata di pipinya.
Pagi hari yang cerah namun wajah Risa muram seperti langit yang diliputi gelap.
Airin dan Kusuma sedang berada di ruang makan. Risa yang sudah rapih dan mata yang sembab karena semalaman menangisi nasib rumah tangga dirinya dengan Arman.
" Kamu habis menangis Risa " sapa Airin lembut kepada sang putri.
" Iya ma ... Sepertinya aku akan berpisah dengan Arman. Karena Arman salah paham pada ku. Maaf ma ... Pa ... Aku mengecewakan kalian " Risa menjelaskan dengan rasa prihatin.
__ADS_1
" Kalian jangan gegabah dalam mengambil keputusan , kalian harus pikirkan nasib Arsa " Kusuma menjawab kalimat Risa.
" Iya Pa ... Risa ngerti tapi mau bagaimana lagi kalau Arman sudah tidak mau di ajak bicara lagi dan sudah mengambil keputusan itu " jawab Risa pasrah.
" Kamu coba bicara lagi dengan nya. Papa tidak mau Arsa cucu papa kembali lagi tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya" tegas Kusuma.
Sementara Risa hanya diam dan Airin pun tidak bisa berbuat apa-apa karena yang menjalankan adalah Risa dan Arman walaupun disitu ada Arsa yang menderita.
*****
Dua bulan setelah perpisahan itu Risa tetap tinggal di rumah yang dulu dibeli Arman untuk rumah keluarga kecilnya. Namun, rumah itu hanya hitungan hari mereka tinggali. Arman memilih keluar dan kembali tinggal di rumah keluarga Brata.
Jika Risa ingin bertemu dengan Arsa, Risa hanya menelepon Rachmi sanga ibu mertua. Jika tidak dia yang pergi kerumah mertua nya, Arsa lah yang datang bersama Rachmi kerumah atau ke butik Risa untuk bertemu.
Saat ini Risa dan Arsa menikmati hari bersama. Hari ini Rachmi hanya mengantarkan Arsa ke rumah Risa. Karena Rachmi ingin pergi arisan dengan teman-temannya.
Arsa datang karena Risa memintanya karena Risa sedang sakit. Disinilah Arsa menemui sang mama yang terkulai lemah di ranjang tempat tidur yang notabene merupakan ranjang orang tua nya.
" Ma ... Mama kenapa pucat sekali? Apa mama tidak mau ke dokter?" Arsa menaruh punggung tangannya di dahi sang mama.
" Tidak sayang ... Mama hanya butuh istirahat " jawab Risa sambil tersenyum kepada si kecil Arsa.
" Tapi ... Mama pucat ma ...atau Arsa telepon Papa biar Mama di antar Papa kerumah sakit ya ma " desak Arsa.
Arsa sadar saat ini ke dua orangtuanya sedang tidak baik-baik saja.
Arsa mencoba untuk menghubungi nomor Arman dengan panggilan video call. Setelah berulang kali barulah panggilan itu akhirnya panggilan itu dijawab oleh Arman.
" Arsa? Ada apa nak? Kamu dimana?" Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh sang ayah.
" Pa ... Tolong mama Pa ... Mama pingsan Pa hiks...hiks...hiks... " Teriak Arsa panik tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari sang Papa.
" Iya Papa akan kesitu nak sabar ya dan papa akan hubungin ambulance. Kamu yang tenang ya sayang "
Arsa hanya mengangguk tanda setuju dengan perintah sang Papa.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian ambulans dan Arman sama sama sampai di rumah Risa. Arman melihat sang anak ketakutan membuat Arman menjadi panik. Tanpa dia sadari dia menangisi sang istri.
Terkadang itulah manusia sering melakukan tindakan yang bodoh jelas masih cinta tapi memilih untuk berpisah. Itu semua karena keegoisan.
Seperti yang dirasakan Arman saat ini jauh di lubuk hati terdalam Arman sebenarnya masih sangat mencintai istrinya.
Arman menggendong tubuh istrinya dengan rasa panik dan air mata yang berderai.
__ADS_1
Risa pun dibawa ke rumah sakit dan langsung di bawah keruangan UGD Lama Arman dan Arsa menunggu Risa diperiksa. Mama Rachmi dan mama Airin juga sudah tiba di rumah sakit.
" Arman apa yang terjadi?" Tanya mama Rachmi.
" Arman juga tidak tahu ma, Arman sampai Risa sudah tidak sadarkan diri"
" Makanya Arman belajar lah berdamai dengan ego mu agar semuanya bisa tetap dalam keadaan baik-baik saja" tambah Mama Airin sang mertua.
" Iya betul itu Arman coba turunkan ego kamu " tambah Mama Rachmi.
" Arman hanya ingin Risa bahagia dengan cintanya ma, Arman tidak boleh egois Risa harus bahagia. Karena melihat orang yang kita cintai bahagia itulah arti mencintai sesungguhnya.
Ditengah perdebatan antara Arman Mama Rachmi dan mertuanya, akhirnya dokter keluar dari ruangan UGD.
Arman tidak sabar dan langsung menghampirinya dokter yang tadi telah memeriksa Risa.
" Bagaimana keadaan istri saya dokter? Apakah ada hal yang serius?" Cerca Arman pada sang dokter.
Dokter hanya tersenyum " Selamat tuan tidak ada yang perlu dikawatirkan pada nyonya Risa , karena nyonya Risa baik-baik saja".
Arman yang mendengar perkataan sang dokter hanya bisa membelalakkan matanya tidak percaya " Mana mungkin orang tidak kenapa-kenapa tapi sampai pingsan begitu".
" Iya pak istri bapak hanya kelelahan dan banyak pikiran, sehingga dia menjadi lemas. Itu semua karena ibu Risa saat ini dalam keadaan mengandung dan kandungan nya sekarang berusia delapan minggu. Jadi , tolong jangan buat istri anda berpikir berat-berat dan berikan dia kebahagiaan. Karena usia kandungannya masih sangat rentan " jelas dokter.
" Apa hamil?"
" Iya pak"
" Terimakasih Dokter"
" Sama-sama pak , saya permisi dulu. Kami sudah memindahkan ibu ke ruang rawat dan anda sudah bisa menjenguknya" kata dokter Desman sambil berlalu meninggalkan Arman.
Arman merasa terpaku dan tidak menyangka kalau istrinya sedang hamil.
" Arman kamu pikirkan lagi perihal kamu ingin berpisah dengan Risa, mama tidak mau Risa menderita paling tidak sampai anak dalam perutnya itu lahir " Tegas Mama Airin.
Arman hanya tertunduk dan diam seribu bahasa tanpa berani menatap Mama Airin dan Mama Rachmi.
******
Arman , Mama Rachmi dan Airin masuk keruangan dimana Risa dirawat. Wajah pucat dan terkulai kemah di ranjang rumah sakit.
Setelah lama menunggu dan Risa belum sadar juga , akhirnya Mama Airin membuka suara " Arman ... Kamu jaga istri kamu Mama dan Mama Rachmi pulang dulu ".
__ADS_1
" Iya Ma hati-hati dijalan ya ma " Arman mencium punggung tangan kedua wanita paruh baya itu.