
Setelah acara makan malam bersama selesai, tibalah waktunya untuk beristirahat. Brata, Rachmi dan Arsa sangat senang dengan acara tidur malam kali ini. Tapi semua itu tidak berlaku untuk Arman dan Risa, tidur malam ini adalah neraka untuk mereka berdua. Terlebih untuk seorang Risa yang tidak sangat senang dengan keadaan ini.
Risa mulai membuka suara " Kamu jangan berharap atau menghayal lebih jauh, ini hanya tidur biasa. Kamu di sofa dan aku di ranjang" kata Risa ketus dan memberikan Arman bantal dan selimut.
"Ya aku tahu tapi kalau aku melakukan hal yang lebih juga kan tidak mengapa toh aku suami kamu. Atau nanti...kamu yang menggoda aku lagi" goda Arman pada Risa untuk menghilangkan rasa canggung.
"Awas saja kamu kalau berani dan jangan berharap aku menggoda kamu, MIMPI saja sana yang tinggi" kata Risa yang tidak terima Arman mengatakan kalau dirinya akan menggoda Arman.
Malam itu hujan dan petir kencang dan hal ini jugalah yang merupakan kelemahan Risa sebagai wanita super cuek dan pemarah itu, biasanya dia akan meminta asisten rumah tangga untuk menemani Risa tidur karena takut. Namun malam ini bagaimana mungkin, tapi dia mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri agar tidak takut.
"Tar...tar..." Suara petir kencang terdengar didampingi kilat yang menyala-nyala membuat Risa berteriak dan menangis sejadi-jadinya, petir itu juga membangunkan Arman dari tidurnya.
Arman melihat Risa yang menangis karena ketakutan , dengan spontan Arman memeluk Risa dan tanpa sadar Risa pun memeluk Arman. Arman menenangkan istrinya dengan mengelus lembut pundak sang istri.
Risa pun merasa tenang dan nyaman di pelukan Arman "Terimakasih" kata itu terucap dengan tulus dari bibir dan hati Risa.
"Jangan berterimakasih kepada ku , karena menjaga kamu adalah kewajiban aku sebagai seorang laki-laki dan sebagai seorang suami" kata Arman dengan suara baritonnya.
Risa hanya tertunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami karena masih malu. Malu karena orang yang selalu dia benci sekarang dia pula yang menolongnya dari ketakutannya.
"Kenapa apa kamu masih takut?" kata Arman sambil mengelus lembut punggung istrinya.
Risa hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan sang suami yang masih betah membenamkan kepalanya didada Arman.
"Sini biar kamu bisa tidur aku akan jagain kamu" kata Arman yang membaringkan tubuh Risa di atas ranjang.
__ADS_1
"Tunggu kamu jangan macam-macam, awas kalau kamu sampai macam-macam" ancam Risa pada Arman yang masih waspada walaupun dalam ketakutan.
"Aduh Risa saat begini saja kamu masih bisa berpikir seperti itu pada aku, kamu tenang saja aku tidak akan pernah mau berbuat kurang ajar kepada kamu" kata Arman dengan menggeleng karena tidak habis pikir dengan pikiran Risa.
Akhirnya Risa tertidur pulas namun Arman tidak bisa tertidur karena dipeluk oleh Risa yang ketakutan. Saat Risa tertidur pulas Risa mengigau "Maaf...maaf...Dandi...aku... tidak bisa...aku tidak bisa .. tolong mengerti".
Arman yang mendengar perkataan yang diucapkan oleh Risa sungguh membuat hatinya sakit. Risa wanita yang sangat dia cintai dan sekarang sudah menjadi istrinya , masih saja mengingat sosok Dandi. Entah apa sebenarnya mimpi Risa hingga Risa menyebutkan nama lelaki yang paling di benci oleh Arman.
"Sebegitu bencinya dirimu Risa kepada ku , sampai tak secuil pun hatimu bisa menerima aku!" Gumam seorang Arman Brata Wijaya seakan berpikir hanya Dandi lah lelaki satu-satunya yang ada dipikiran dan hati Risa.
Arman tidak kuasa untuk menahan air matanya yang sedari tadi dia tahan "Arman kamu tidak boleh cengeng kamu laki-laki kamu punya harga diri" kata Arman pada dirinya sendiri.
Arman dan Risa akhirnya tidur bersama dalam satu ranjang dan mereka tertidur dengan saling berpelukan.
Kicau burung bernyanyi dan sinar mentari pagi memasuki cela-cela jendela dan sinar mentari menyapu wajah mereka dan membuat mereka terjaga. Risa yang menyadari jika dirinya sedari semalam tidur di dada bidang Arman merasa tidak enak hati. Risa memandangi wajah Arman " Kamu baik juga tampan , sebenarnya aku mencintaimu namun aku malu mengakui nya. Karena kelakuan dan kata-kata kasar aku kepada kamu." batin Risa tanpa sadar Risa mencium bibir tebal Arman yang membuat si empunya terjaga.
"Kenapa kamu menatap ku begitu?" cerca Risa yang tidak suka dengan tatapan mata Arman.
"Risa aku mau kita bicara dari hati ke hati, aku tidak mau kau terbelenggu dengan pernikahan yang di dalamnya kamu sendiri tidak nyaman" kata Arman sambil membenarkan posisi duduknya.
"Apa maksud kamu" ketus Risa yang tidak terima dengan kalimat Arman.
"Tadi malam kamu bermimpi dan masih memanggil nama Dandi pria yang sangat kamu cintai. Sedangkan aku membelenggu kamu didalam sebuah pernikahan yang kamu sendiri tidak mencintai aku. Alangkah egois nya aku , aku sadar mencintai bukan harus memiliki. Aku akan melepas kamu karena memang ini yang terbaik, aku tidak ingin kamu mempertahankan pernikahan kita hanya karena alasan Arsa. Sementara kamu sangat tersiksa dan yang tersiksa disini bukan kamu saja tapi aku juga ada didalamnya"kata Arman dengan nada lembut.
"Apakah kamu sedang cemburu?" balas Risa.
__ADS_1
"Aku akui ya...aku cemburu tidak ada satu laki-laki pun di dunia ini yang rela wanita yang dicintainya apa lagi istrinya menyebut nama lelaki lain apa lagi sampai masuk ke dalam mimpi" jawab Arman tegas.
"Apa kau benar-benar cemburu Arman?" tanya Risa masih tidak yakin.
"Iya aku cemburu seperti yang aku katakan, bukan kali ini saja , tapi sejak dulu. Apalagi ketika aku melihat tangan kamu dipegang oleh Dandi....di mall beberapa tahun lalu" kata Arman menyakinkan Risa.
"Sekarang aku yang bertanya ke kamu. Jika aku mau, kamu menjawab pertanyaan aku, kenapa kamu cemburu mendengar aku mengigau nama Dandi? Padahal kamu tidak tahu apa yang aku mimpikan? Apa kamu yakin aku menyebut namanya karena di mimpi itu aku masih mencintainya?" kata Risa dengan nada datar.
"Jadi kalau tidak karena kau mencintainya mengapa kau sebut namanya?" Arman tidak mau kalah.
"Sekarang aku tanya kata apa yang kamu dengar dari racauan ku itu? Katakanlah biar aku bisa menjelaskannya agar tidak ada lagi salah paham diantara kita" pinta Risa pada Arman.
"Kamu bilang....maaf...maaf...Dandi...aku... tidak bisa...aku tidak bisa .. tolong mengerti" jawab Arman.
"Ooh biar aku jelaskan, sebenarnya itu adalah karena aku juga merasa bersalah kepada nya. Kamu ingat lima tahun lalu ketika Arsa di vonis sakit tipus? Waktu kamu nyusul aku ke mall dan kamu melihat aku dan Dandi waktu itu, dan setelah itu aku meminta waktu sebulan untuk menjawab permintaan nya?" Kata Risa sambil bercerita.
"Waktu itu Dandi menunggu aku ditempat , jam dan tanggal yang sama di mall itu untuk menjawab pertanyaan Dandi dan mendengar sendiri jawaban dari mulut aku . Dengan begitu bahagia dia menunggu aku , menunggu jawaban aku untuk bisa bersama dengannya pergi ke Canada dan memulai hidup baru bersama aku" Risa menjelaskan dan Arman hanya menjadi pendengar yang baik.
Dan Risa melanjutkan lagi kalimatnya "Namun yang dia dapatkan bukan yang dia harapkan, dia marah, dia kecewa dan dia sangat membenci mu Arman. Karena menurut dia kamulah orang yang merusak semua rencana dan masa depan nya bersama aku. Kata maaf yang kamu dengar itu mungkin karena aku sedang meminta maaf kepadanya karena aku mengecewakan dirinya. Kata tidak bisa ikut bersamanya itu terucap karena aku tidak bisa meninggalkan kalian, waktu itu aku sudah sadar dengan semua kekeliruan aku. Dan kata tolong mengerti disitu aku mengatakan kepadanya aku sudah jatuh cinta kepada......." kalimat Risa terhenti dan Arman tidak sabar mendengarkan kelanjutan kalimat dari Risa.
"Kepada siapa Risa, kepada siapa lagi kamu jatuh cinta? Katakan saja biar aku tahu apa yang harus aku lakukan" cerca Arman sambil menggoyang pundak Risa.
Risa yang seperti sedang di intimidasi akhirnya melanjutkan kalimatnya dengan nada tinggi " Kepada mu Arman kepada mu, puas tapi setelah kejadian dirumah sakit malam itu aku sangat kecewa. Karena sebelumnya kau patah kan pucuk pengharapan ku" Risa pergi meninggalkan Arman dan masuk ke dalam kamar mandi dan disitu dia menangis sejadi-jadinya. Risa merasa jika Arman tidak sungguh-sungguh mencintai dirinya dan dia hanya berniat agar Risa selalu merasa bersalah.
Dari dalam kamar mandi dia berkata " Kamu pikir selama ini aku benar-benar tidak mau tinggal bersama dengan kamu waktu malam dirumah sakit itu. Dengan teganya kau tabuh genderang perang , padahal aku hanya bercanda serta ku pura-pura untuk melihat kesungguhan hati mu. Tapi ternyata kau marah dan curiga kalau aku akan pergi bersama Dandi"
__ADS_1
Namun Arman berbanding terbalik dengan Risa yang mendengar perkataan Risa itu , Arman begitu bahagia. Karena saat ini Arman benar-benar sadar jika cinta Arman terbalas sudah dan tidak bertepuk sebelah tangan.
" Risa maaf... maafkan aku yang tidak bisa mengerti maksud dari candaan mu" kata Arman.