
Di dalam perjalan Arman dan Risa hanya diam. Risa hanya memandang keluar jendela entah apa yang dipikirkan Risa. Hingga akhirnya Arman memulai percakapan. " Risa apa kamu baik-baik saja?"
Risa hanya mengangguk dan tetap melihat kearah jendela tanpa melihat wajah Arman.
" Risa kenapa kamu tidak mau melihat dan hanya melihat kearah jendela seperti itu? Apakah pemandangan di luar jendela itu lebih menarik perhatian kamu?"
" Tidak aku hanya ingin memastikan jika orang yang selama ini mengaku sangat menyukai dan mencintai aku ternyata hanya seorang pendusta dan buaya darat."
" Maksud kamu apa berkata seperti itu?"
" Ya karena yang aku tahu orang yang akan mencintai seseorang dengan tulus tidak akan berhianat dan menjalin hubungan dengan orang lain."
Cit.... Arman menginjak rem hingga mobil itu berhenti mendadak, nasib baik tidak ada mobil dibelakang mobil mereka, sebab kalau tidak entah apa yang terjadi. Arman langsung memegang bahu Risa dan menatap manik mata Risa dan menarik nafas dalam-dalam.
" Kamu cemburu?"
" Ti...dak. aku tidak cemburu lagian untuk apa aku harus cemburu?"
" Kamu cemburu Risa, kamu cemburu melihat aku berjalan dengan Bela. Terimakasih Tuhan paling tidak saat ini Risa sudah bisa merasakan cemburu terhadap aku". Arman merasa bahagia sekali dengan itu dan dia seperti orang yang baru mendapatkan lotre.
" Aku sudah bilang aku tidak cemburu." Bentak Risa dengan suara tinggi, karena saat ini dia tidak cemburu tapi dia tidak suka melihat suaminya itu pergi dengan wanita lain. Dia sendiri juga heran kenapa dia bisa tidak suka dengan itu..
" Dari kalimat kamu aku tahu kalau kamu cemburu Risa." Kata Arman santai seraya tersenyum penuh kemenangan.
" Dasar gila. Sudah aku bilang aku tidak cemburu."
" Terserah kamu mau bilang kamu tidak cemburu paling tidak kamu tidak suka karena aku pergi dengan wanita lain ". Setelah Arman berkata seperti itu dia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit yang biasa Risa datangi untuk memeriksa kehamilan Risa.
Tidak terasa mereka akhirnya sampai di rumah sakit dan karena mereka sudah mendaftar. Mereka sekarang duduk di Poly kandungan , mereka hanya tinggal menunggu panggilan dari perawat.
Saat perawat datang dan mempersilahkan Risa dan Arman langsung masuk keruangan dokter kandungan.
Saat itu sang dokter sedang menunduk karena lagi menulis resep pasien sebelumnya yang diperiksa. Karena mendengar suara ada orang masuk sebagai seorang dokter yang ramah dokter pun langsung menyapa pasien itu.
" Selamat pag...Hey kamu Arman kan sahabat Bela istri saya?"
" Kok dokter? Emangnya dokter Bagus kemana?" Tanya Risa dengan jutek karena dokter yang didepannya ini malah mengajak Arman ngobrol bukan langsung memeriksa dirinya.
" Dokter Bagus lagi ada seminar di luar kota , jadi Dokter kandungan dirumah sakit ini saya yang nangani untuk sementara, sampai dokter Bagus pulang" kata dokter Anggoro.
Arman mengangguk dan mencoba mengingat siapa sosok yang sekarang ada dihadapannya dan dia baru ingat dan saat ini Risa hanya diam dan hanya diam mendengar percakapan Arman dan dokter itu " Bukannya kamu Anggoro suami Bela?"
" Ya kamu benar aku suami Bela. Bela sudah cerita kemarin banyak tentang pertemuan kamu dengannya di Medan. Ooh ya ini siapa?" Tanya Anggoro dan melihat kearah Risa.
" Perkenalkan ini Risa istri aku, kami ke sini mau periksa kandungan karena anak yang ada dalam kandungan Risa harus sehat " Kata Arman dengan suara baritonnya.
Risa dan Anggoro saling berjabat tangan.
__ADS_1
"Anggoro"
" Risa "
Anggoro memperhatikan wajah Risa " Cantik".
" Jangan terlalu lama berjabat tangan istriku , ingat Anggoro Risa itu istri aku." Tegur Arman sambil melepaskan jabatan tangan Risa dan Anggoro.
" Hem...benar kata Bela kamu itu sangat posesif. Padahal dulu kata Bela kamu batu."
Arman hanya tersenyum sedang Risa merasa malu karena apa yang dirinya tuduhkan kepada Arman tidak benar.
" Oh ya sudah ibu Risa em... maksud saya nyonya Arman Brata Wijaya. Kita periksa kandungan ibu dulu ya. Ibu silahkan berbaring di atas."
Setelah perawat mengolesi perut Risa dengan jel kebagian perut Risa Dokter Anggoro mulai memeriksa kandungan Risa dengan mengarahkan alat sensor yang berselancar di perut Risa.
" Kondisi bayi baik nyonya , tapi...."
" Tapi apa Anggoro? Kamu jangan buat aku panik, cepat katakan?."
" Apa si Dede tidak pernah dijenguk oleh Papanya?" Anggoro bertanya penuh selidik.
Risa dan Arman hanya diam karena tahu betul apa yang dikatakan dan maksud sang Dokter.
" Sebaiknya sesekali di jenguk dong Ar, itu baik untuk perkembangan bayi. Apalagi nanti kalau untuk lahiran harus sering dijenguk , karena itu proses alami untuk membuka jalan lahir." jelas Anggoro.
" Nyonya Risa melahirkan secara normal maupun Cesar itu sebenarnya sama saja karena semua sama-sama mempunyai resiko. Tapi...itu kembali pada ibu saja, tapi melahirkan secara normal itu lebih cepat sehat dan kalau mau punya anak lagi tidak perlu menunggu , lepas pantang bisa gas lagi " dokter Anggoro tersenyum karena sebenarnya alasannya mengatakan itu karena Bela sudah bercerita tentang keadaan pernikahan Arman sahabatnya itu. Jadi maksud dokter Anggoro mengatakan itu agar Arman dan Risa bisa tambah dekat. Anggoro ingin agar pernikahan Arman dan Risa bisa diselamatkan.
Arman tersenyum mendengar ucapan Anggoro karena dia tahu Bela dan suaminya itu sama koplaknya.
" Saya tuliskan resepnya ya nyonya" Anggoro menulis resep vitamin dan penguat kandungan untuk Risa.
Risa hanya diam dan tidak perduli dengan apa yang sedang dikatakan dokter Anggoro itu.
" Ini resepnya bisa diambil di apotik rumah sakit ini " dokter Anggoro menyerahkan resep obat yang akan dikonsumsi oleh Risa.
Risa mengambil resep itu dan langsung bergegas keluar, namun Arman tidak langsung menyusul Risa. Arman malah ngobrol lagi sama dokter Anggoro. Risa berjalan menuju apotik dengan perasaan dongkol.
* Kamu sama saja dengan istrimu selalu punya cara agar orang merasa galau dan bersalah dengan tindakannya. Tapi aku rasa cara itu tidak berhasil Anggoro. "Arman terlihat sedih saat mengatakan hal itu pada dokter yang sekaligus suami dari sahabatnya itu.
" Yang terpenting aku sudah berusaha untuk membantu membuka jalan sekarang tinggal kamu sendiri bagaimana cara agar dia jatuh cinta pada mu. Lagi pula sebenarnya kamu punya banyak peluang, gunakan anakmu sebagai senjata agar kamu bisa dekat dengan Risa" Anggoro menepuk pundak Arman agar semangat untuk meraih cinta Risa.
" Sudah susul sana Risa nanti dia ngambek lagi" Anggoro kembali mengingatkan Arman.
Arman hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti dan menyusul Risa..
Risa pergi berjalan menuju apotek rumah sakit namun sebelum sampai Arman sudah sampai disana dan langsung menyusul istrinya. " Kamu kenapa tidak menunggu aku? ".
__ADS_1
" Ngapain aku menunggu orang yang sedang bergosip " jawab Risa kesal.
" Ya sudah sini resep nya , kamu duduk disini biar aku yang ngantri kamu pasti capek " Arman membantu Risa untuk duduk di kursi para pasien mengantri mengambil obat.
Arman pun langsung ke loket pembayaran obat , Arman tersenyum saat melihat Risa yang mengusap perutnya yang mulai buncit.
" Aku tahu Risa tidak seorang ibu pun di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya. Aku tahu saat kau mengatakan kau tidak perduli dengan anak yang kamu kandung pasti hati mu sakit. Aku juga tahu kau sedang memikirkan apa yang tadi dikatakan Anggoro" batin Arman.
Setelah Arman mendapatkan obat yang Risa butuhkan mereka pun pulang dan ketika didalam mobil Risa melihat tempat orang yang berjualan ketoprak. Tempatnya ramai dan juga bersih , tempat itu adalah tempat yang sering dia kunjungi ketika dia bersama Dandi waktu mereka pacaran. Arman yang melihat istrinya melihat ke arah warung ketoprak itu pun langsung memarkirkan mobilnya di depan warung itu.
" Kenapa berhenti disini ?" Kata Risa bingung.
" Aku tahu kamu pengen makan ketoprak itu , ya kan?" Kata Arman dengan senyum.
Risa hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Arman.
" Risa jika kamu ingin makan ketoprak atau apa pun kamu bilang ya? Aku akan mengabulkan apa pun itu, selagi aku mampu. " kata Arman sambil melepaskan safety belt Risa. Wajah Arman sangat dekat dengan wajah Risa hanya berjarak beberapa centi.. Hingga Risa mencium aroma maskulin Arman.
Rasa nyaman dan aman tercipta di hati Risa. Risa memeluk tubuh Arman " Sebentar saja inzinkan aku memelukmu dan mencium aroma parfum mu. Ku mohon."
Arman yang mendengar itu tertegun dan berkata " Peluk aku sepuas mu Risa aku tidak akan menolak.".
Setelah dirasa cukup Risa melepaskan pelukannya " Terimakasih Arman".
" Tidak usah berterimakasih Risa, karena membahagiakan mu adalah tugas ku. Sekarang kita turun ya, kamu mau makan ketoprak kan?"
Lagi-lagi Risa hanya mengangguk tanda mengiyakan apa yang dikatakan oleh Arman.
Mereka berdua turun dari mobil dan ternyata pedagang ketoprak itu adalah orang yang sangat Arman kenal.
" Mang Soleh?" Sapa Arman.
" Mas Arman, wah lama tidak bertemu akhirnya ketemu juga. Malah sekarang sama cewek lagi, siapa mas?" Tanya pak Soleh si penjual ketoprak.
" Istri saya mang " jawab Arman sambil berbisik dan bisikan itu tentu saja terdengar oleh Risa.
" Tapi tunggu sepertinya saya kenal? Emm...non ini bukannya pacarnya mas Dandi kan ya?" Kata mang Soleh to the point.
Deg...
Arman terdiam ternyata tempat ini adalah tempat kencan sang istri dan tunangannya itu. Namun Arman tetap tenang walaupun rasa cemburu memenuhi hatinya.
Risa hanya tersenyum kecut dan Arman langsung mengalihkan pembicaraan mang Soleh dengan Risa.
" Ini istri saya mang bukan pacar orang. Lagian kita mau makan bukan mau di tanya-tanya." Jelas Arman.
" Oh iya sampai lupa sebentar ya, saya siap kan dulu, silahkan duduk " kata mang Soleh yang langsung bergegas menyiapkan ketoprak.
__ADS_1
Namun mang Soleh mencuri pandang melihat Risa yang dia yakini adalah pacar Dandi. Namun pak Soleh sadar itu bukan urusannya sehingga dia masa bodoh saja yang penting jualannya laris.