
Risa sedang dikamar selesai memasak dia menghabiskan waktu sambil membaca novel namun karena kelelahan ternyata dia menjadi mengantuk dan tertidur pulas hingga sore.
Arman pulang dari kantor dan langsung menuju lantai atas untuk memastikan keberadaan istrinya.
Saat Arman masuk ke dalam kamar, Risa tidak menyadari bahwa Arman sudah ada di dalam kamar. Arman membawakan buket bunga mawar merah disertai sebuah kartu yang bertuliskan "Maaf sudah membuat kamu menangis tadi pagi dari orang yang mungkin selalu menyakiti kamu. Sekali lagi maafkan aku mama Arsa istri ku" . Kalimat itu yang ditulis oleh seorang Arman untuk meluluhkan hati wanita yang sangat ia cintai itu.
Setelah meletakkan bunga mawar itu ke atas meja Arman keluar dari kamar meninggalkan Risa yang tertidur.
Tidak lama Risa tersadar dari alam mimpinya dan membuka matanya dan dia masih sangat kantuk , namun karena saat ini dia sedang berada di PMI alias pondok mertua indah mau tidak mau dia harus bisa menghargai si pemilik rumah dan mengambil hati sang mertua dengan bersikap sebaik mungkin agar sang mertua tidak merasa jengah dengan tingkah manjanya. Risa tidak mau hubungan dengan sang mertua menjadi tidak harmonis seperti kebanyakan mertua dan menantu. Padahal Rachmi sang ibu mertua tidak merasa risih dengan sikap manja sang menantu karena dia sadar dia tidak bisa menyamakan dirinya dengan diri Risa karena mereka berbeda generasi.
Ketika Risa mengangkat tangannya ke udara dan meregangkan otot-ototnya tidak sengaja tangan Risa menyenggol buket bunga mawar merah dan dia mengambilnya dan membaca tulisan yang ada di buket bunga mawar itu.
Namun dia tidak merasa senang karena nya, dia malah cuek dan langsung bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dan sudah rapih Risa kembali ke dapur untuk membantu asisten rumah menyiapkan makan malam.
Arman yang melihat kejadian itu sangat bahagia dengan sifat Risa yang keibuan, dari ruangan keluarga Arman menatap Risa tanpa berkedip.
Namun yang ditatap tetap cuek dan terus fokus merapikan dan menata meja. Sang mertua yang melihat kejadian itu lagi dan lagi tersenyum.
Di meja makan sang mertua menyerahkan sebuah amplop kepada sang menantu " Dari pada kalian kayak gini terus lebih baik kalian mama kirim ke Bali". Kata Rachmi dengan senyum yang tulus.
"Maksudnya?" Risa dan Arman menjawab secara bersamaan karena merasa bingung dengan kalimat sang Mama sekaligus mertua Risa itu. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Iya kalian selama menikah kan belum pernah bulan madu, jadi papa dan mama ngasih hadiah untuk kalian berdua" kata pak Brata.
"Ahh... tidak usah ma...pa .. Risa juga tidak bisa ke sana, karena kerjaan Risa masih banyak" kata Risa menolak secara halus.
"Aku ...mau ma pa , aku akan bawa Risa bulan madu" kata Arman dengan rasa gembira yang luar biasa , karena dia sendiri tidak terpikir untuk melakukan hal itu "Mama dan papa memang paling tahu apa yang aku mau" kata Arman dalam hati.
Sementara Risa memutar mata malasnya, seolah tidak menghendaki apa yang diinginkan oleh Arman.
"Risa...kamu tidak boleh menolak ini perintah , mama berharap setelah ini kalian bisa saling mencintai. Atau paling tidak bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk pernikahan dan rumah tangga kalian. Biar Arsa mama yang jaga" titah Rachmi sang mertua dan juga mama Arman.
"Baiklah ma..." jawab Risa dengan nada terpaksa.
"Ayolah sayang semangat sedikit jangan seperti itu " bujuk Rachmi.
"Iya ma..." kata Risa dengan tersenyum.
"Sayang nanti kalau papa dan mama pergi kamu jangan nakal ya! Papa dan mama hanya sebentar tidak lama" kata Arman kepada Arsa sang anak.
__ADS_1
"Iya papa...kata Nenek nanti papa dan mama akan kasih Dede bayi ke Arman pulang dari sana. Ooh ya pa bulan madu itu apa sih? Apa dibilang banyak madunya?" kata Arsa dengan nada gembira.
Risa yang mendengar perkataan Arsa anaknya itu terbatuk-batuk karena kalimat anak lelakinya itu..
Semua orang yang ada di meja makan hanya tersenyum melihat tingkah laku Arsa, Brata sambil mengunyah makanan pun ikut tersedak. Karena Brata tahu bagaimana keadaan rumah tangga dan hubungan anak nya dengan sang menantu seperti Tom and Jerry.
" Anak kecil bahas bulan madu sudah makan yang banyak biar cepat besar, biar bisa jadi Abang" jawab Arman santai sambil melirik ke arah Risa dan yang dilirik memutar bola mata malasnya.
Dikamar Arman dan Risa.
Selesai makan malam didalam kamar Risa sedang membereskan barang yang akan dibawa untuk bulan madu. "Aku tidak tahu apa saja barang yang akan kamu butuhkan, jadi tolong kamu taruh semua barang kamu di atas tempat tidur biar aku susun kedalam koper" kata Risa dengan nada datar.
"Baik, tapi..." kata Arman sambil mengambil semua barang yang akan dibutuhkan keatas ranjang.
" Tapi ... Apa? " Risa bertanya lagi.
" Kita pergi masih tiga hari lagi kenapa harus malam ini kita packing-packing barang? " Tanya Arman lagi.
"Karena untuk bepergian itu butuh banyak yang harus dipersiapkan. Hanya ini barang-barang kamu? Kamu yakin tidak ada yang terlupakan?" tanya Risa memastikan.
" Tidak ada, semua sudah ada disitu , kalau pun nanti ada yang tertinggal kita bisa membelinya di sana" jawab Arman sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memperhatikan Risa yang sibuk dengan barang yang akan di masukkan ke dalam koper.
"Hemm..." jawab Risa seadanya.
"Apakah kamu tidak keberatan untuk malam ini kita tidur satu ranjang hanya berdua" kata Arman karena selama ini mereka tidur seranjang jika Arsa tidur bersama kalau tidak Arman biasanya tidur di sofa.
"Untuk apa?" jawab Risa dengan nada tinggi.
"Hitung-hitung latihan untuk besok di Bali " goda Arman.
"Sudah tidurlah tapi jangan macam-macam awas kamu sampai macam-macam. Sekarang tidur besok kamu harus bangun pagi karena kita berangkat kekantor untuk membereskan pekerjaan kamu selama satu minggu kedepannya" kata Risa sambil merebahkan tubuhnya di samping Arman.
"Terimakasih aku tidak akan macam-macam" kata Arman dan mencium kening istrinya "Cup... selamat tidur mama Arsa"
Apa yang dilakukan Arman hanya membuat Risa kaget namun dia malas berdebat karena Risa lelah.
Karena Risa tidak marah Arman memberikan dia sebuah ciuman selamat tidur diri memeluk pinggang Risa, namun Risa menepis tangan suaminya " Aku bilang jangan macam-macam, paham kan? Aku sudah ngantuk" tegasnya akhirnya Arman kembali memperbaiki posisinya dan mulai memejamkan matanya.
" Hemm ...mulai lagi , aku kira sudah jinak, ternyata ..." Gumam Arman dan Risa tersenyum dibalik punggung Arman mendengar gumaman sang suami.
__ADS_1
Tok tok tok
" Pa ... Ma Arsa mau tidur sama mama papa kan Arsa akan ditinggal satu minggu" sambil membuka knop pintu kamar langsung berlari ke tengah-tengah papa dan mamanya.
" Arsa anak mama , ayo tidur jangan sampai besok telat bagun. Kita kan mau lari pagi" kata Risa.
" Papa dan Mama boleh tidak Arsa minta cium? Mama pipi kiri dan papa pipi kanan" pinta Arsa.
" Boleh dong sayang " jawab keduanya dan mencium pipi sang anak.
" Bukan gitu ma...pa... maksud Arsa tunggu aba-aba dari Arsa dong" protes Arsa.
" Ya sudah sekarang Arsa hitung biar mama dan papa cium " kata Arman.
" Ok Arsa mulai ya satu...dua...tiga..." Kepala Arsa mundur dan malah Arman dan Risa saling mencium.
" Yes...yes...papa dan mama " Arsa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Arsa .... Kamu jahil banget sih sayang " kata Risa sambil menggelitik perut kecilnya hingga dia tertawa cekikikan.
" Terimakasih Arsa , Arsa paling tahu apa yang yang papa mau.
Arsa hanya tersenyum mendengar kalimat Risa dan pada Arman mereka bertos ria.
" Kenapa kalian bertos , ayo kenapa? Jawab mama Arsa?".
" Mama tidak boleh tahu karena ini urusan kaum lelaki. Iya kan pa?".
Arman tersenyum sambil mengangguk-angguk mengiyakan apa yang dikatakan Arsa.
Risa melipat kedua tangannya di dada " Ok kalau begitu mama mau tidur di sofa saja kalau Arsa tidak mau bilang". Risa turun dari ranjang dan ingin berjalan ke arah sofa.
Namun Arsa langsung memegang tangan Risa " Ma jangan tidur di sofa ma... Arsa mau tidur sama Mama. Arsa sayang sekali sama Mama" Arsa meratap pada Risa.
" Tidak sayang Mama akan tidur disamping Arsa" Risa memeluk buah hatinya dan menidurkan Arsa disampingnya sambil mengelus lembut punggung Arsa hingga tertidur.
Setelah Arsa tertidur Arman membuka suara " Arsa memang anak yang selalu peka dengan apa yang terjadi disekitarnya, dia hanya ingin kita bersama dan saling menyayangi layaknya sepasang suami istri dan menjadi orang tua yang utuh untuk dia".
Risa hanya diam dan terus memandangi wajah tampan Arsa.
__ADS_1