
Hari ini Arman sangat sibuk dikantor dan ada sedikit masalah dimana salah satu karyawannya melakukan penggelapan uang perusahaan. Namun semua bisa Arman atasi , walaupun Arman harus memecat dan memasukkan karyanya itu ke penjara.
Setelah sibuk berkutat dengan pekerjaan dan setumpuk berkas yang harus dia tanda tangani akhirnya dia dapat beristirahat sejenak sekedar melepaskan penat.
Arman membaringkan tubuhnya yang lelah pada sebuah sofa yang ada di ruang kerjanya. Sudah setengah jam Arman tertidur pulas mungkin karena kelelahan.
Risa datang kekantor dan membawakan makan siang kesukaan Arman yang dibuat oleh sang mama untuk sang menantu kesayangan. Dengan paksaan dari Airin akhirnya Risa mau mengantarnya walaupun dengan kesal.
Risa sampai didepan ruangan Arman dengan diantar oleh salah satu karyawan Arman bagian office boy.
Sekretaris Arman yang biasa duduk didepan ruangan Arman mempersilahkan Risa untuk masuk , sekretaris Arman itu sudah tahu kalau Risa adalah istri Arman. Karena Arman sudah mewanti-wanti jika Risa datang langsung mempersilahkan Risa masuk ruangannya dengan bermodal foto yang diberikan Arman.
Ya Arman berharap suatu hari Risa mau main ke kantor Arman walaupun kemungkinan itu sangat tidak mungkin terjadi.
Namun hari ini Risa benar-benar hadir di kantor Brata Wijaya Grup yang sekarang dipimpin oleh Arman.
Risa masuk dan melihat Arman yang terlelap dan Risa enggan untuk membangunkan Arman yang terlihat sangat kelelahan.
Risa hanya duduk dengan memandangi wajah tampan sang suami.
" Habis ngapain sih anak ini, sampai bisa tertidur di sofa. Tapi kalau dilihat-lihat dia gagah dan tampan. Tidak...tidak... tidak...yang gagah dan tampan tetap Dandi " gumam Risa dan menggelengkan kepalanya cepat untuk menyadarkan dirinya dari rasa kagum pada sosok Arman.
Sudah dua jam berlalu Arman tak kunjung bangun akhir Risa mendekat ke Arman dan membangunkan Arman dan menggoyangkan pundak Arman. " Bagun ... Bagun... Kamu belum makan ini sudah jam berapa ".
Arman langsung membuka matanya perlahan betapa terkejutnya dia melihat sosok wanita yang sangat dia cintai ada di depannya. Cepat-cepat Arman bangkit dari posisi tidur ke posisi duduk.
" Risa... Kamu? Ini beneran kamu " Arman seolah tidak percaya.
" Ya iyalah masa setan?" Jawab Risa ketus.
" Tumben ? Maksud aku kok bisa?"
Risa memutar bola matanya " Aku juga tidak akan ke sini kalau tidak mama yang maksa. Jadi anda jangan terlalu percaya diri."
" Aku tidak perduli atas dasar apa kamu kesini yang penting kamu sudah ada disini" Arman tersenyum.
Senyum Arman kembali membuat Risa malas dan segera bangkit dari duduknya. " Ini makanan dari mama kata mama kamu harus habisin dan kamu harus makan ".
" Mama Airin tahu saja apa yang aku mau " kata Arman dalam hati dan tersenyum.
" Kamu kenapa senyum-senyum "
" Ya senyum lah makan siang ditemani sama istri. Siapa coba yang tidak senang "
" Ya sudah makan "
Arman berdoa sebelum menikmati berkat makanan itu ke dalam mulutnya.
Risa hanya melihat Arman yang begitu lahap memakan makanan yang dimasak mamanya itu. Arman yang merasa dilihatin melihat ke arah Risa " Kamu tidak makan? ".
__ADS_1
Risa hanya menggeleng tanda menolak, namun tanpa diduga perut Risa berbunyi "kriuk... kriuk... kriuk".
Betapa malunya Risa dengan suara perutnya yang tidak bersahabat dan Arman tersenyum mendengar suara perut Risa.
Arman bangkit dari duduknya dan mendekat menuju Risa dan Arman menyendok makanan dan mengarahkan tangannya ke depan mulut Risa.
" Buka mulutnya "
" Tidak aku tidak mau "
" Risa kamu jangan terlalu percaya diri aku bukan mau kasih kamu makan tapi aku mau kasih anak aku makan , sayang saja saat ini anak aku itu makan harus melalui mulut kamu" kata-kata Arman begitu monohok.
Risa yang mendengar kalimat yang menohok dari Arman sangat saki hati dan kesal. Tapi dia bisa apa karena dari dia tahu bahwa dia mengandung, Risa selalu mengatakan kalau anak yang sekarang sedang dikandung oleh dirinya adalah anak Arman seorang.
" Ayo buka mulutnya " kata Arman lagi sambil terus mengarahkan sendok ke depan mulut Risa.
Risa pun membuka mulutnya entah mengapa Risa merasa nyaman dengan perlakuan Arman. Tidak Risa sadari kini bibir Risa melengkung menciptakan sebuah senyuman.
Arman yang melihat istrinya tersenyum pun ikut tersenyum.
Risa makan juga lahap hingga makanan yang dibawanya tadi ludes dan berpindah ke lambung mereka berdua. Arman tersenyum bahagia akhirnya mereka bisa romantis walau dengan keadaan terpaksa.
" Kamu sudah kenyang?"
Risa menggunakan kepalanya untuk memberi jawaban.
Arman lagi- lagi tersenyum " Terimakasih Risa karena kamu mau membawakan aku makanan , besok lagi ya!".
" Apa pun alasannya aku tetap berterimakasih kalau besok kamu tidak membawa nya lagi juga tidak apa-apa".
" Ya sudah aku pulang dulu "
" Kamu pulang naik mobil aku saja, biar diantar supir "
" Tidak perlu repot-repot aku bisa pulang sendiri "
" Terserah kamu Risa , tapi kamu harus hati-hati dijalan. Ingat di kandungannya kamu ada anak aku ". Arman sengaja berkata seperti itu agar Risa tidak kasar pada dirinya.
" Iya aku tahu tuan Arman Brata Wijaya, aku tahu di dalam kandungan aku ini ada penerus Brata Wijaya. Puas!!!." Jawab Risa dengan nada tinggi karena Risa merasa seperti mesin pembuat anak.
Arman biasa saja menanggapi pertanyaan Risa itu.
Arman mengantarkan Risa sampai ke parkiran dan Arman membuka pintu mobil Risa. Setelah Risa pergi meninggalkan parkiran kantor Arman baru Arman kembali masuk lagi ke kantor.
" Maaf Risa jika aku kasar , aku hanya ingin kau sadar kalau aku sangat mencintaimu "
Dalam perjalanan menuju rumah Risa senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana cara Arman memperlakukan nya.
Aneh memang entah mengapa kalau dekat dengan Arman ,Risa selalu saja ingin bertengkar dengan Arman namun kalau sudah berjauhan ingin bertemu.
__ADS_1
Sementara di kantor Arman menelepon sang mama mertua
Tut...Tut...Tut...
Tidak lama Airin mengangkat panggilan Arman, setelah tersambung Arman langsung berkata
" Ma terimakasih ya atas kerjasamanya".
" Iya nak , mama akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian "
" Ya sudah ya ma Arman kerja lagi "
" Iya nak "
Panggilan pun berakhir.
Tidak lama setelah mama Airin bertelepon dengan Arman Risa sampai di halaman rumah Risa.
Risa langsung masuk ke rumah" Ma...Mama Risa pulang ma".
" Iya sayang bagaimana habis tidak makanannya?"
" Habis ma , ya sudah ya ma Risa mau istirahat dulu capek soalnya"
Sebelum Risa benar-benar masuk kamar Airin mengentikan langkah kakinya Risa " Ada apa lagi Ma? "
" Itu mama sudah potongkan mangga muda dari Mama Rachmi. Kamu dari kemarin ingin mangga muda".
" Serius ma? "
" Iya itu di atas meja makan" Airin mengarahkan pandangannya ke atas meja makan.
" Kamu beruntung Risa punya ibu mertua seperti ibu Rachmi yang perduli dengan kamu. Tidak seperti Mama yang harus berjuang mendapatkan hati nenek kamu"
Risa terdiam mendengar perkataan Rachmi " Iya ma Risa tahu tapi Risa bisa apa? Risa sudah terlanjur cinta pada Dandi ".
" Risa coba kamu belajar menerima Arman dan mencoba bersahabat dengan takdir. Bahwa jodoh yang Tuhan kirim untuk mu bukan Dandi tapi Arman. Ya ... Walaupun cara Arman menjadi suami mu dengan cara yang salah. Tapi .... Semua dapat diperbaiki dan kamu tidak boleh egois ingat anak kamu "
Risa hanya diam dan melanjutkan memakan irisan mangga muda itu sampai habis tidak bersisa, karena Risa memang ngidam mangga muda.
" Ingat Risa perkembangan anak akan lebih baik jika dibesarkan dengan kasih sayang kedua orang tua yang utuh" tambah Airin yang belum puas menasehati anaknya.
" Iya ma Risa tahu tapi mau bagaimana lagi? Risa tidak mungkin mengingkari janji Risa pada Dandi. Kalau tidak karena anak ini Risa sudah berada di Canada sekarang bersama Dandi pria yang Risa cintai " Risa mencoba menerangkan kepada mamanya.
" Iya itu memang benar tapi sekarang berbeda seharusnya kamu harus berdamai dengan takdir kamu. Mungkin Dandi bukan jodoh kamu. Mungkin Arman lah yang dikirim Tuhan sebagai jodoh kamu. Mungkin sudah untuk berapa kali Mama mengatakan ini pada kamu sayang "
" Iya ma...tapi Risa tetap dengan pendirian Risa dan ini juga sudah untuk berapa kali Risa katakan ke Mama"
" Dasar anak keras kepala "
__ADS_1
Risa hanya tersenyum penuh arti pada Airin sang Mama.