Cintai aku Izabella

Cintai aku Izabella
01. Pemindahan Jambul


__ADS_3


Pemindahan Jambul


"kepada seluruh wisudawan dan wisudawati dipersilahkan berdiri". Terdengar pengumuman dari arah MC, acara pemindahan jambul atau wisuda akan segera dilaksanakan.


Rektor dan wakil rektor sudah berada didepan panggung dan satu persatu nama wisudawan dan wisudawati dipanggil untuk maju kedepan, menyerahkan ijazah dan proses pemindahan jambul dari kiri ke kanan.


Menandakan perjuangan mereka selama kuliah telah usai dan selamat meninggal kampus menuju dunia pekerjaan. Kalau pun berhasil mendapatkan pekerjaan, bahkan banyak pula yang sudah wisuda jadi pengangguran. Sedikit intermezo.


"eh eh bell, itu kan cowok yang lu kacangin bukan sih yang lagi maju kedepan, anak teknik elektro itu loh". Kata sahabatku si paling cerewet bunga hanifah. Biasa aku panggil bunfa.


"eh benar loh, dia lulus dengan predikat memuaskan saja, haha, udah sih bell gak penting juga tu cowok, bahkan nanti dia akan jadi pengangguran". Ditimpal oleh sahabat kedua ku yang bernama kanaya putri si kepo.


Besti ku sedari awal masuk kuliah, kami berteman karena satu frekuensi dan masing masing kamu punya kelebihan dan kekurangan kami itu yang membuat kami saling melengkapi satu dan lainnya.


"hush udah sih kalian ribut aja, nikmatin aja kali acara wisuda ini, hari terakhir kita dikampus ini loh, moment bersejarah dalam hidup ini". Senyum ku mengembang dan memperlihatkan deretan gigi ku yang rapi dan putih.


Hey semua pembaca, kenalin nama ku izabella anindya, lulusan ilmu komunikasi di salah satu kampus ternama di Bandung, akrab disapa bela sih sama teman ku, sebentar lagi akan bertambah embel embel dibelakang nama ku, menjadi Izabella Anindya, S.Ikom, wuh keyen.


Sudah empat tahun lamanya aku menantikan moment ini, kini tiba saat nya aku maju kedepan panggung, nama ku sudah dipanggil dengan lantang oleh MC, aku lulus dengan predikat sangat memuaskan, aku terus berdoa dalam hati jangan tersandung, jangan tersandung, itu karena sendal heels yang aku pakai terlalu tinggi.


Aku jadi susah menyeimbangkan langkah kaki ku, benar saja, ketika naik tangga menuju panggung, aku tersandung dan terjatuh kedepan, brruk, toga ku terjatuh, maluuu sekali, wajah ku memerah sudah seperti kepeting rebus.


Aku nyegir kuda dan kembali memasang toga diatas kepala, rambut ku berantakan lagi, padahal sudah sedari pagi buta disalon sambil ngantuk pula, rambut oh rambut bersahabat lah walaupun hanya sebentar, biar cantik pas difoto pemindahan jambul.


Banyak pula yang memvideokan aku terjatuh tadi, "agghh sial pasti diposting disosmed kampus, viral kemana mana, ah sudahlah". Aku membatin. Aku sudah berdiri didepan rektor, menyalami beliau, pemindahan jambul, senyum biar cantik difoto, beliau memberikan ijazah dan selesai.


Aku harus membangkitkan rasa percaya diri lagi, aku berjalan bak model di catwalk, biarpun sering terpelekok, aku tetap santuy menuju ujung panggung, kok jauh banget rasanya, sial lah, tetap santuy. Bodo amat.


Aku sudah sampai kembali ketempat duduk, sudah jelas besti ku tertawa terbahak, tidak terelakkan lagi.


"kampret ya kalian, diam gak, gue kasih sambel cobek mulut kalian nantik".


"lu lucu banget bell, bell, kan udah gue ingatin, tu sepatu tinggi zeyeng, lu sih ngeyel pengen beli juga, jadi artis viral lah lu sekarang, haha". Ujar bunfa padaku, sial benar dah punya teman ngejek mulu.


"lu ikutan komen kanput ha?". Ucap ku sinis, kanaya putri senyum terpaksa sambil menggeleng geleng.


"kamu perlu pakai topeng gak bell?, aku beliin sini, bagi duitnya, hehe". Ketawa jahat itu aku hafal siapa, pasti si revandino edwar. Si cowok usil dan paling jahil, tapi dia care peduli banget sama aku.


"apa sih, gak usah bekicot deh vani". Aku memanggil nya demikian.


"eh eh nama saya revandino, u know bella".


Plak kena telak tas bella dikening revandino. Dia mengusap kening nya dan menyipitkan mata kearah bella, "awas ya kamu bella, aku sedot bolong punggung kamu, jadi kuntilanak, hihihi".


"acara selanjutnya pidato singkat dari salah seorang alumni kita, yang sudah sukses mendirikan banyak perusahaan dan juga seorang CEO, dia adalah abram bramasta, berikan tepuk tangan yang meriah". Ucap MC.


Prok prok prok semua orang tepuk tangan dan abram pun sudah berdiri didepan podium, aku melihat sosok abram, wow sempurna sekali, sudah ganteng, kaya, seorang ceo perusahaan dan alumni sini juga, ruar biasah. Dari penampilan nya berkelas dan gaya bicara nya seperti orang terpelajar.


Diam diam aku mengagumi si abram. Ditengah pidato singkatnya dia membahas tentang rasa malu, dia bilang 'kalau pun kalian terjatuh di depan khalayak banyak, tetap berdiri kembali dan stay cool, seperti contoh nya wisudawati tadi, dia tetap berjalan kedepan dan tidak mundur, berikan tepuk tangan kepadanya'.


Apaaa !!, itu kan aku, kenapa dia membahas soal itu sih, jadilah semua mata melihat kearah tempat aku duduk, ingin rasanya aku menghilang dari sini sekarang juga, namun mustahil, dan dengan senyuman seadanya aku melirik kekiri dan kekanan.


Besti ku sudah tidak tahan untuk tertawa, aku jitak aja kepala mereka berdua, malah nambah cekikikan mereka, sudahlah ya, hari ini double malu nya, sudah lah ya.


Si abram itu sudah selesai memberikan sepatah dua patah kata motivasinya, aku berjanji dalam diri, tidak akan pernah mau ketemu sama tu orang, dia sungguh sangat menyebalkan, dia orang yang pertama buat aku malu sekampus raya, akan aku ingat wajahnya selalu.


"harap semua tenang, selanjutnya kita akan mendengarkan persembahan lagu perpisahan dari fakultas teknik alat berat, dipersilahkan". Ucap MC.

__ADS_1


"haha alat musik mereka dari serpihan dumptruk kali ya bell, atau dari besi kontainer". Si kanput ngelawak aja, aku tidak bisa menahan tawa sampai mulut aku disumpal roti oleh si bunfa.


Kami bertiga tidak terlalu suka dengan penampilan dari anak fakultas teknik alat berat itu, mending kami live di toktok, bisa dapat cuan bos, banyak yang nonton live kita karena aku sudah viral.


Viral karena menanggung malu, ah sudahlah aku memilih pindah tempat duduk disamping vani, bukan vani tapi revandino edwar, dia paling sebel kalau aku panggil vani.


"ciah, si bella viral sekarang pindah kesebelah aku, asyiik, minta foto nya donk mbak?". Ledek si revan.


"apaan sih gak lucu deh, geser sanaan, sempit".


"hihi, iya iya, oh ya bella, abis ini rencana kalian mau kemana sih?". Teriak revan ditelinga ku.


"eh busyet, budeg ni gue, kenapa teriak teriak ditelinga gue sih vani". Balas ku tidak kalah keras ditelinganya.


"nama aku revan bella sayang, revan bukan vani".


"haa apaan gak dengar". Kata ku.


"revan sayang bellaaaa".


Uppss pas sekali pertunjukan sudah selesai, revan nampak gelisah, takut ucapannya terdengar oleh ku, revan pura pura mainkan ponsel saja. Aku tau revan menaruh perasaan sama aku, dia tau juga aku sudah punya pacar. Tapi revan tetap berusaha mendekati ku, sebagai teman, nanti kalau ada kesempatan mungkin dia akan masuk kedalam hatiiku, asyik.


Melihat wajah revan, tiba tiba saja ingatan masa lalu ku muncul, ketika aku sedang menyusun skripsi dengan dosen pembimbing ku, dia bernama Dedy Dirgantara. Bagaimana tidak moment itu sangat membekas di ingatan ku, ketika itu aku ingin melakukan bimbingan dengan dia dikampus, malah dia menyuruhku pergi kesalah satu hotel karena dia ada pertemuan disana.


Dia memberikan aku card kamar hotelnya dan aku disuruh menunggu disana, karena aku mahasiswi baik dan cantik, aku menurut saja. Tak lama berselang dia pun datang, pak dedy datang dengan dua orang teman pria nya.


Oh Tuhan kenapa ini, bisik ku dalam hati, apa yang akan mereka lakukan terhadapku, mereka bertiga lelaki dan aku cuma sendirian, aku berdiri dari duduk ku diatas kasur dan berlarian menuju pintu luar.


Tapi aku dicegat, pintu dikunci dan aku disekap, aku memberonta dan minta tolong, mulut ku ditutup dengan tangan nya, aku kesulitan bernafas, Tuhan tolong aku, tolong selamatkan aku Tuhan, aku terus berdoa dalam hati.


Aku melihat si dedy malah tertawa sambil menghisap rokok ditangannya. Dasar manusia keji, manusia tidak punya hati nurani, umpat ku dalam hati, air mataku menetes, mereka semua malah tertawa terbahak.


Minta tolong akan percuma rasa nya, apakah ada yang menolong nanti, aku teringat ada sesuatu didalam tas ku, yaitu ponsel, aku menelpon andre tidak diangkat, ponsel posisinya masih didalam tas, mereka masih mengobrol, ini kesempatan aku lagi menelpon seseorang.


Benar, revan saja, dia akan segera datang. Aku sudah mengirimi dia pesan dan lokasi ku, aku berharap revan mengerti dan akan segera datang. Dan ada yang mengetuk pintu, mereka menutupi ku dengan selimut dan menyuruh diam kalau ingin selamat.


Aku mendengar seperti orang yang sedang berkelahi, aku tidak berani mengintip, aku ketakutan dibawah selimut ini, tiba saja tubuh ku digendong seorang dengan masih didalam selimut menuju luar kamar.


Baru aku berani mengintip dan aku melihat si dedy cs sudah babak belur dilantai, siapa dia, siapa yang sedang menggendong ku dan sudah menyelamatkan aku ini, aku beronta dan minta diturunkan. Dia seorang pria bermasker, dia yang telah menyelamatkan aku.


"kamu siapa?". Tanya ku pada pria bermasker.


"aku, aku adalah satria baja hitam, siap membantu siapa saja, ha ha ha".


"issh gak lucu".


Pintu lift terbuka dan datanglah revan dia langsung memelukku, dan menatap sinis pada pria bertopeng, eh bukan pria bermasker, pria bermasker malah cuek dan segera turun dengan lift.


Aakhh momen wisuda ini malah ingat pengalaman buruk itu, sejak saat itu aku tidak pernah lihat dedy lagi dikampus, mungkin sudah dikeluarkan, aku juga tidak tahu.


"Sekarang semua peserta wisuda berdiri dan bersiap dalam hitungan ketiga lempar toganya keatas, siap semuanya".


"siiiaapp". Teriak kami semua.


"satu. . .dua. . tiga. . ". Uuuu yaa semua toga sudah melayang ke udara dan terjatuh, lah toga aku kemana hilangnya.


***


Aku sibuk mencari togaku, mungkin saja sudah diambil sama yang lain, ah sudahlah aku pun mencari toga yang tak bertuan. Mata ku sibuk kesana kemari dan aku menubruk tubuh seseorang.

__ADS_1


"eh sorrry sorry gak sengaja". Ucap ku pada lelaki itu.


"gak apa, ini toga kamu". Kata dia dan sambil menyodorkan toga itu.


"wah makasih banyak. .". Aku melihat kearah wajah nya, lah si abram ternyata. Si alumni yang berpengaruh dikampus. Aku langsung balik badan namun dia menarik tangan ku hingga aku cuma sejengkal jaraknya dari dia.


"eh apaan sih, lepas gak". Teriak ku.


"galak amat, cuma ingin kenalan, boleh".


"gak boleh, lepasin". Setelah lepas dari dia aku berlari keluar ruangan auditorium dan mencari keluarga ku yang sudah menunggu diluar. Bodo amat dengan abram


Mereka terlihat menunggu disebelah tribun barat, aku bergegas kesana dengan berlarian, tentunya sendal heels ku sudah aku copot.


"ma . .papa". Aku memeluk kedua orang yang telah berjasa dalam hidup ku itu.


"selamat ya anak mama sayang telah diwisuda".


"iyaa papa bangga sama kamu".


"makasih ya mama papa, aku sayang kalian ini juga berkat doa mama papa, eh mbak ingrid sama ino mana ma?". Tanya ku karena kedua saudara ku itu tidak ada disini, padahal tadi janji nya mau datang.


"itu mereka beli bunga buat kamu, cuma mama gak lihat andre, dia gak jadi datang ya bell?".


"hmm andre gak bisa datang ma, dia bilang ada tim audit datang kekantor, jadi lah dia sibuk sekarang". Bukan andre taulany ya, tapi ini andre pacar aku, andre dwi andriko namanya.


"cie yang baru diwisuda, ini bunga buat kak bella". Ivano adik lelaki ku menyerahkan bucket bunga ada teddy bear ditengahnya.


"makacih adik kak bella yang ganteng, makasih juga ya neysa udah datang, gak bunga bank kasih kakak sekalian". Ledek ku, dia malah ketawa cengengesan, sedangkan mbak ku, si ingrid sibuuukk aja main hape.


Neysa ningrum namanya, pacar si ivano, dari SMP mereka pacaran dan sudah dekat dengan keluarga kita, sering nginap juga dirumah. Tidurnya dikamar aku, nanti mama papa bisa marah kalau neysa tidur bareng ivano, bisa brabe urusannya nanti bilang papa.


Aku bertiga bersaudara. Mbak ku bernama Ingrid Anatasya, cuma beda dua tahun. Kita gak terlalu akrab, karena sering berselisih faham, dia sudah kerja disalah satu bank swasta, sudah level manejer dia. Kemudian adik lelaki ku Ivano Arkana, baru kelas dua SMA, kita dekat banget, ampe dikira dia brondong aku, hihi.


"mau kemana kita sekarang". Tanya papaku yang seorang karyawan BUMN, tapi beliau juga seorang pengusaha rumah makan dan punya toko bangunan serta kami ada minimarket juga.


"ke studio foto sebentar ya pa, aku sudah booking kok pa, tinggal pergi kesana aja buat foto". Kata ku dengan senyuman sumringah.


"lets go".


Kami sekeluarga sudah berada didepan studio foto, bertemu lagi dengan kedua bestie ku, sengaja memang kita samaan studio fotonya, biar asyik aja gitu, kedua bestiku sudah bersama keluarga mereka masing masing.


Lagi nunggu antrian ambil sembako, eh bukan antrian buat foto, andre kekasih ku menelpon, dengan malas aku angkat.


"ya halo, ada apa".


"dimana sayang, aku udah kelar ni kerjanya, aku susul kesana ya".


"hm iya aku distudio foto".


"share loc ya sayang".


Tut tut, aku tekan keras tombol berwarna merah di ponsel, masih kesal aja sama si andre, walaupun kesal aku tetap kirim lokasi ke dia. Aku dan andre sudah sejak SMA pacaran, dia kakak kelas ku. Umur kami beda setahun doank. Dia sudah bekerja sebagai PNS di Dinas Perhubungan.


Sudah jalan 7 tahun pacaran, sudah tau lah karakter dan sifat masing masing, dari susahnya nyelesain skripsi sampai dia melamar jadi PNS aku sedikit banyak nya terlibat dalam membatu dia. Aku sangat mencintai andre begitupun dia.


Tapi akhir akhir ini dia sering sibuk tak menentu, susah buat ketemu juga, apa hubungan kami sudah masuk masa jenuh kali ya, atau aku yang terlalu berfikiran over negatif pada dia, tapi memang dia tu berubah sekarang.


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2