Cintai aku Izabella

Cintai aku Izabella
03. Kebetulan Yang Indah


__ADS_3


Kebetulan yang Indah


Pov Abram Bramasta.


"hallo pak abram, selamat siang".


"ya siang pak broto, ada apa ya?".


"apakah bapak punya waktu luang besok datang ke kampus memberikan motivasi pada para wisuda pak". Tanya pak broto.


"akan saya usahakan ya pak broto, udah itu saja?".


"iya pak abram, terimakasih dan sampai jumpa".


Hah harus kekampus lagi, eh tapi apa dia sudah lulus ya, saya cek saja namanya. Saya kirim email kebagian kemahasiswaan dikampus, saya minta semua data wisuda periode ini, saya cuma ingat namanya bella, bella siapa gitu saya lupa.


Setelah balasan email saya terima, saya mulai mencari nama bella, banyak banget nama mahasiswi bella, saya mencari per jurusan nya, argh ini gila, mata saya pusing melihat layar laptop lama lama.


Saya merebahkan diri sejenak keatas kasur. Mengingat moment ketika saya menyelamatkan dia, tidak ada niatan apapun kecuali memang saya harus menolong dia saat itu juga. Ketika ada pertemuan rapat petinggi kampus dengan para dosen.


Membahas kinerja dan cara mengembangkan kampus supaya lebih mengedepankan teknologi dan memperbaiki sistem yang sudah ada, saya yang disuruh kakek untuk menggantikan dia mengerjakan itu semua.


Kakek adalah salah satu pendiri universitas terbuka swasta bramasta ini. Beliau bersaudara dan bersama rekan lain mendirikan kampus guna memajukan dunia pendidikan agar lebih bagus kedepannya, saya sebagai cucu pertama dan anak tunggal harus mengemban amanah ini.


Karena kakek sudah usia lanjut, sedangkan papi saya, abimana p. bramasta tidak mau menggantikan kakek, dia memilih menjadi seorang pengusaha batu bara dan bidang pertambangan. Papi anak tunggal, saya juga anak tunggal tidak ada pewaris kakek lagi, jatuhlah itu semua ke tangan saya, abram bramasta.


Saya perhatikan tingkah laku seorang dosen bernama dedy sungguh mencurigakan, dia tidak memperhatikan materi rapat malah asyik berbalas pesan, saya pun menegurnya dan dia kesal malah meninggalkan ruangan.


Setelah rapat selesai, saya ikuti dedy menuju salah satu kamar hotel, dari luar saya mendengar ada suara minta tolong dari seorang wanita, langsung saja saya gedor pintu nya dan pintu terbuka.


Saya melihat tiga pria sedang mempermainkan seorang wanita diatas kasur dia diselimuti dan saya tau itu adalah seorang mahasiswi bimbingan dia, karena saya mendengarnya tadi. Dan dia juga mengancam tidak akan meloloskan mahasiswi tersebut.


Saya pun mempraktekkan karate yang saya pelajari kepada mereka semua. Satu persatu mereka berhasil saya lumpuhkan, dan saya beri peringatan pada dedy, dia akan saya keluarkan dan saya pecat sebagai tenaga pengajar dikampus.


Supaya dia tau akibat dari perbuatan nya sendiri, merusak orang lain dan juga karirnya. Kemudian saya menggendong tubuh wanita yang diselimuti itu keluar kamar dan menuju lift.


Dia beronta dan minta diturunkan. Dia melepaskan selimut itu dan saya melihatnya dengan jelas, wajahnya begitu cantik dan mempesona.


"kamu siapa?". Tanya dia pada saya.


"saya, saya adalah satria baja hitam, siap membantu siapa saja, ha ha ha". Ucap saya bercanda karena saya memakai masker.


"issh gak lucu". Dia terlihat kesal tapi terlihat mengemaskan dimata saya.


Pintu lift terbuka dan datanglah teman dia langsung memeluk nya, dan menatap sinis pada saya, saya malah cuek dan segera turun dengan lift. Saya mendengar namanya adalah bella. Saya akan mencari dimanapun keberadaan kamu bella, dan kita akan pasti bertemu lagi.


***


Tiba saatnya saya maju kepodium, saya memberikan sedikit motivasi dan diakhir kata saya membahas tentang rasa malu.


'kalau pun kalian terjatuh di depan khalayak banyak, tetap berdiri kembali dan stay cool, seperti contoh nya wisudawati tadi, dia tetap berjalan kedepan dan tidak mundur, berikan tepuk tangan kepadanya'.


Saya melihat kearah bella, dia tetap tersenyum dan melirik kekiri kekanan, saya tertawa melihat tingkahnya itu, kemudian saya turun panggung dan duduk kembali.


Saya tidak berniat membuat bella malu, tapi saya ingin bella mengingat saya, saya ingin mendekati bella, gak tau kenapa, saya semakin penasaran dengan bella. Acara lempar toga, saya sengaja berjalan mendekati kursi bella dan dari belakang saya menangkap toganya.


Dia mencari toga nya tersebut, saya sengaja menubruk kan tubuh ke bella.


"eh sorrry sorry gak sengaja". Ucap bella pada saya.


"gak apa, ini toga kamu". Saya tersenyum sambil menyodorkan toga itu.


"wah makasih banyak. .". Bella terlihat kesal dan dia balik badan, aku menarik tangannya dan jarak kami sekarang begitu dekat.


"eh apaan sih, lepas gak". Teriak nya.


"galak amat, cuma ingin kenalan, boleh". Saya berkata lembut padanya.


"gak boleh, lepasin". Dia berteriak dan berlari keluar ruangan auditorium, saya hanya melihat punggung nya saja sekarang, tidak apa, saya sudah senang bisa ngobrol dengan dia.


Malam hari saya sedang memeriksa laporan dari sekretaris saya. Mumet banget tiap hari kerjaan mulu. Saya mendapat pesan dari mami.


[bram, kejakarta ya nak, mami ada kejutan buat kamu].


[kejutan apa mi].

__ADS_1


[ada anak teman mami, dia pengen kenalan dengan kamu, kamu mau kan bram?].


[sorry mi, lagi sibuk, kerjaan numpuk].


[kamu tu ya, kerjaan mulu, punya kekasih kek biar fikirannya fresh].


[punya kekasih malah nambah mumet mami, minta jemput lah, minta shopping lah, ini itu, aagrh bikin kesal aja].


[susah ngomong sama sikepala batu].


[yaudah mi, bye].


Pesan berakhir, selalu saja mami menjodohkan saya dengan anak kenalan nya, saya bahagia sendiri sekarang, mami harus tau itu dan jangan memaksa saya mi.


Saya kembali berkutat didepan laptop, saya mendapat notif dari orang kepercayaan saya bernama alexander. Saya mangut mangut membaca notif itu dan tersenyum sendiri.


Saya sudah merencanakan sesuatu hal dikepala saya dan saya yakin itu akan berhasil, dan akan menjadi sesuatu hal yang tak terlupakan.


Baru memejamkan mata, ponsel saya berdering, siapa lagi yang menganggu, ah ternyata kakek. Dengan rasa yang sangat mengantuk saya menjawab panggilan tersebut.


"ada pa kek?".


"kamu masih dibandung".


"iya kek, kenapa?".


"anak kolega kakek menikah besok pagi dijakarta, kakek mengharapkan kamu datang ke pernikahan itu menggantikan kakek, bisa".


"tapi kek, saya masih ada kerjaan disini".


"tiket kereta api dan penginapan kamu akan kakek siapkan".


"ha?, naik kereta api kek, kenapa gak pesawat aja sih".


"semua kursi pesawat penerbangan pagi sudah penuh semuanya. Kamu sudah harus sampai pukul 8 dijakarta, mengerti, naik kereta api apa salahnya".


"iya baiklah kakek, saya mengerti".


Agrh menyebalkan sekali, saya tidak bisa menolak permintaan kakek, saya berhutang budi terhadap kebaikan kakek begitu banyak, tanpa kakek mungkin saya tidak akan bisa seperti ini sekarang. Dulu kakek yang merawat dan menjaga saya ketika koma dirumah sakit selama sebulan.


Papi dan mami disuruh kakek keluar negeri mengurus kerjasama mereka dengan kolega kakek. Kakek orang yang cukup berpengaruh dikalangan pengusaha. Kakek bramasta sungguh pria yang disegani, kelak saya ingin seperi kakek, tapi berjaya dengan usaha saya sendiri.


***


Saya melihat nomor gerbong dan mencari dimana tempat duduk saya, saya sedikit merasa kesal, karena naik gerbong class eco, akh sudahlah, saya tidak bisa apa apa sekarang, selain pasrah saja.


"permisi, permisi, argh padat sekali, karena hari senin kali ya, ah itu dia sudah ketemu tempat duduknya".


Sudah ada penumpang lain, saya melihat itu bella, benar bella, perempuan itu adalah bella, saya sumringah dan segera duduk disamping bella yang kursinya kosong. Kebetulan yang sudah diatur Tuhan ini, sungguh kebetulan yang indah.


Ternyata bella tertidur, dan saya memposisikan badan agak tegak, agar nanti bella bisa nyender dipundak saya. Teman teman bella berbisik bisik, sepertinya sedang menggosipkan saya, saya berdeham dan mereka diam.


Kemudian saya membuka topi, kacamata dan masker, mereka berbisik lagi, dan saya mengajak mereka ngobrol. Ternyata mereka asyik diajak ngobrol, nyambung, tidak seperti bella yang selalu jutek kepada saya. Kami berkenalan, nama mereka bunga dan kanaya. Kami membicarakan seputar kampus dan hal lainnya.


Mereka lucu tak terkira, suara tawa kita saja yang terdengar didalam kereta, bella sampai terbangun karena nya, dia baru sadar saya yang berada disampingnya, dan telah rela meminjamkan pundak saya untuk dia nyenderkan kepala.


Bella kaget karena kepala nya berada dipundak saya. Dia pun menggeser duduk nya dan saya menyapa, saya menjabat tangan nya untuk pertama kali, ada rasa yang aneh ketika saya menyentuh tangan nya, mungkin kah ini getaran cinta yang saya rasakan.


Dia tidak memberikan sandwich nya kepada saya, karena cuma cukup untuk tiga orang saja, saya mencoba minta kepada bella, ternyata dia mau bagi dua bersama saya. Sudah berhenti distasiun, alex sudah menunggu disana.


"ayok naik, saya antarkan sampai hotel, tenang aja gak bakal saya culik kalian kok, haha".


"kita naik aja, bisa hemat uang, yuk lah geng". Bisik bunga dan mereka pergi bersama naik mobil.


"makasi ya mas abram atas tumpangannya, dan semoga selamat sampai tujuan". Kata kanaya.


"iya sama sama, bella tersenyum donk, jangan manyun aja, saya pamit ya".


Saya melihat bella sedikit tersenyum dan mobil sudah meninggalkan mereka. Kemudian alex bertanya pada saya.


"pak, bukan kah itu. . .?".


"iyaa, saya kebetulan bertemu dengan dia diatas kereta lex, astaga saya lupa putar balik kehotel lagi lex".


"baik pak".


Saya harus menemui bella lagi, karena saya ingin mengatakan sesuatu, sampai dilobi hotel saya tidak menemukan mereka lagi, ah saya bodoh sekali, saya menanyakan pada resepsionis hotel kamar no berapa mereka pasti tidak akan diberitahu.

__ADS_1


Untung nomor telpon bunga tadi saya minta, jadilah sekarang saya menghubungi nomor bunga. Oke saya sudah mendapatkan no kamar hotel mereka, saya langsung kesana.


Mengetuk pintu dan bunga yang membukakan, dia bertanya ada apa dan memanggilkan bella.


"kenapa panggil saya mas abram?".


"saya boleh minta tolong sama kamu?".


"tolong apa ya".


"tolong temanin saya ke acara nikahan teman saya, saya malas kalau pergi sendirian".


"ha?, apa kok aku sih, si bunga aja tuh dia jomblo".


"apa hubungannya sama jomblo bella, emang kamu sudah punya pacar?".


"iya sudah".


"hm gitu, saya kecewa, ya udah gak apa deh, biar saya pergi sendiri aja". Saya memasang muka memelas dan berharap bella kasihan.


"hm oke aku temanin, tapi aku gak ada bawa gaun pesta".


Saya sumringah, tanpa berkata lagi saya menarik tangan bella dan segera pergi, bella melepaskan tangan saya.


"duh main tarik aja, mau kemana".


"ke butiklah, buat beli gaun kamu dan juga kesalon, masih keburu ini".


"emang acaranya jam berapa sih?".


"pukul 10 ini bella, makanya kita harus buru buru".


"ya tapi kan, aku harus pamitan sama teman teman dulu, nanti mereka nyariin".


"he sorry, yaudah buruan".


Bella masuk kedalam kamar lagi dan sudah membawa tasnya, mengangguk tanda sudah siap pergi. Turun keparkiran hotel dan naik mobil.


Saya membukakan pintu bagian belakang mobil dan bella masuk kedalam, saya duduk didepan dan menyuruh alex ke butik yang ada salon sekalian disana.


Setelah beberapa menit mencari dan sudah ketemu butiknya, saya turun dan menggadeng tangan bella, namun dia menolak, dan memilh jalan sendiri masuk butik.


Saya perhatikan bella dari belakang, sungguh beda dengan cewek cewek yang sudah pernah abram kenal, kebanyakan mereka akan bermanja dilengan abram kalau sedang berjalan, namun bella tidak.


"akan saya dapatkan kamu bella, walaupun kamu bilang sudah punya pacar, tidak masalah, saya suka tantangan".


Saya memberi motivasi pada diri sendiri, itu wajib hukumnya, saya abram bramasta tidak akan menyerah pada suatu hal yang belum saya dapatkan, saya akan berjuang matian akan hal itu.


Saya tidak melihat bella didalam butik, kemana dia, rupanya dia sudah duduk didepan sebuah cermin, dan mbak salon menata rambut bella yang panjang terurai. Saya mendekati dan bilang pada mbak salon.


"bikin tambah cantik pacar saya ya mbak, biar semua orang iri pada saya, haha".


"iss apaan sih, gak lucu". Bella sambil meninju perut saya. Si mbak salon terkekeh dan perut saya kesakitan.


"hehe siap mas, akan saya buat semua orang terpana dengan pacar mas".


"gak usah lebay". Bella manyun lagi, duh gemas nya, pengen saya nikahin aja si bella.


Perut saya keroncongan, ternyata belum sempat sarapan, saya pesan makanan online dan menanyakan bella mau makan apa. Dia bilang mie goreng pake telor ceplok dan sama itu kesukaan saya juga, saya memesankan empat.


Kenapa empat, untuk saya, bella, alex dan mbak salon, pas semua kebagian, saya memang orang baik dan suka berbagi. Sudah pukul setengah sepuluh, bella sudah selesai, mendekati saya yang sedang duduk dan memegang laptop, karena masih ada kerjaan saya yang tertunda.


Saya terpana, saya kagum melihat penampilan bella kali ini, hampir saja laptop ditangan saya terjatuh saking terpana nya.


"kamu cantik banget bella, saya jadi pangling".


"udah gak usah lebay gitu, tapi kata nya buru buru, ayok".


"eh iya ya, ayok, nanti dipesta mau ya saya gandeng, jangan nolak, nanti saya malu sendiri".


"hmm iya".


"makasih cantik".


Kita meninggalkan butik dan saya juga sudah memakai stelan jas lengkap dengan sepatu mengkilap. Naik mobil dan menuju lokasi pesta pernikahan anak teman kolega nya kakek.


Sampai disana, saya menggandeng bella dan dia tidak menolak sama sekali, saya melemparkan senyum termanis kepadanya dan dia tersipu malu, saya suka melihat bella malu seperti ini. Sampai bella tersandung untung tidak jatuh.

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2