
Menghabiskan waktu berdua
'i love you bella'. Bisik abram ditelinga ku, membuat bulu kuduk ku berdiri. Aku merasakan kehangatan didalam pelukan abram, aku ingin berlama seperti ini, namun rasa laper mengalahkan segalanya.
"udah sana, aku mau makan, kamu gak makan?".
"iya suapin ya bella". Katanya manja padaku.
"suap sendiri lah, punya tangan".
"kan tadi saya sudah bantuin kamu, suapinlah sebagai balas jasa saya, haha".
"oke, mulai sekarang kita perthitungan ya abram".
"hehe jangan dianggap serius adik ipar, mama udah dikabarin belom?".
"udah donk".
"bagus, bella kamu kalau mau berpergian harus bersama saya, mengerti".
"iya pak bos, kalau dikantor pak bos galak bener, jadi ngeri dah".
"bukan galak, tapi tegas namanya bella, sudah habiskan makan nya, segera tidur gih, besok kita akan ke bali".
"ha?, kemana, ke bali".
"iya bella, saya ada janji temu dengan klien disana".
"tapi kenapa aku harus ikut".
"mau kamu di sekap lagi, trus nanti dikasih ke orang afrika, itu yang kamu mau?".
"tidaaak, aku tidak mau".
"maka nya ikutin perintah mas bos ipar mu ini".
"ah siap".
Aku tidak mau tertidur, bermain ponselpun sudah bosan, aku iseng kedapur sekedar mencari minum, tenggorokan kering banget rasanya. Aku melihat salah satu ruangan terbuka dan lampu nya menyala, abram masih bekerja jam setengah dua belas malam.
Aku buatkan saja abram kopi dan mengambil beberapa buah didalam lemari es yang tertata rapi, abram ternyata orang yang perfectionist, dan memang terbukti dari tata letak barang abram diapartemen nya. Jadi minder, aku yang orang nya amburadul, letakin barang sembarang tempat. Ntar kalau butuh tu barang, sibuk mencari nya kesana kesini.
Setelahnya, aku mengantarkan kopi keruangan kerja abram. Ternyata dia tertidur diatas kursinya sambil nyender. Sampai mulut terbuka dan kepalanya terjatuh kekiri kekanan. Lucu aja liat abram seperti itu.
Sebenarnya tidak tega membangungkan abram, namun kasihan harus tidur diatas kursi.
"bram, abram bangun".
"hmm apaa bella, saya ngantuk sekali ini".
"pindah tidurnya kekamar ayok".
"hmm oke".
Abram aku bantuin menuju kamarnya, entah dia sengaja atau gak, tapi aku sempoyongan sampai kekasur nya dan kita berdua ambruk. Dia mengunci tubuhku dan aku tidak bisa bergerak sama sekali.
Ah sial, abram melanggar janjinya untuk tidak menyentuh ku, aku mencoba mengangkat tangan dan kaki abram namun berat sekali bagi badan ku yang mungil ini. Dikiranya bantal guling kali aku ini.
***
Aku terbangun dan mencium aroma masakan nasi goreng yang menggoda perutku, ah persis seperti bau masakan mama, tapi aku sedang tidak dirumah, ini apartemen abram. Aku berjalan menuju dapur dan melihat abram sedang memasak.
"good morning my darling, sudah bangun ternyata, yuk sarapan".
"dadar guling kali ah, kamu bisa masak ya, pinter juga".
"iyalah, jadi manusia tu harus serba bisa, taraa ini dia nasi goreng spesial ala chef abram dengan resep mama mertuaku tercinta".
"hmm resep mama ternyata, pantesan persis sama, aku coba ya".
"eits, mandi dulu sana, bauk jigong, ieuh".
"kemaren kamu langgar janji, bayar denda".
"what langgar janji apa sih my darling".
"jangan sok lupa deh".
"owh semalam tidur sekasur itu, bukannya juga dirumah sakit kita pernah sekasur, jadi apa salahnya bella".
"issss nyebelin".
"hahaha ngambek ni ye".
Aku terus kalah kalau berdebat dengan abram, tapi ya cuma abram yang bisa melindungi ku sekarang. Selesai sarapan, abram membawa dua buah koper ikut masuk kedalam mobil alex.
"kok ada koper?".
"kan kita mau ke Bali".
"ha ?, sekarang, tapi aku gak ada ngemas pakaian".
__ADS_1
"udah tenang, udah aku siapin semua, dari baju hingga baju dalaman mu semua sudah beres".
Aku geram dengan sikap abram yang lancang memeriksa barang pribadi milikku, aku memukul pangkal lengan nya dan tidak kena dia menghindar, alex malah ketawa melihatnya.
"mas alex kenapa ketawa, lucu iya, ish".
"maaf mbak bella, ayok pak mari kita berangkat".
"lets go".
"bram".
"apa bella". Dengan wajah konyolnya menyapaku.
"resleting celana mu terbuka".
Aku berlari masuk kedalam mobil, abram memeriksa bagian celananya, dan tidak ada yang terbuka, aku memang sengaja berbohong dan itu membuat abram terlihat kesal.
Selama perjalanan menuju bandara abram terus saja berkutat didepan laptopnya, sedangkan aku mendengarkan musik saja dari pada bosan, alex tetap fokus mengendarai mobil.
Alex menurunkan koper kita.
"mas alex gak ikut?".
"tidak mbak bella, saya jaga gawang saja".
"haha sama kayak kiper lah ya".
"nikmati perjalanan nya mbak bella dan pak abram".
"iya terima kasih mas alex".
"lex kabarin saya terus tentang mereka".
"baik pak".
Wusss pesawat sudah mendarat di bandara internasional gusti ngurahrai bali. Selanjutnya abram dijemput sopir dan menuju sebuah villa yang berada didekat pantai.
Aku takjub dengan pemandangan yang disuguhkan, buka jendela bisa langsung lihat pantai, dan juga bisa melihat para bule berjemur. Aku asyik berfoto dan mengedit nya sedikit sebelum sampai dipostingan ku. Aku senyum sendiri membaca balasan dari teman-teman ketika aku SMA, mereka bilang pada iri dan minta dibawakan oleh - oleh juga.
Aku tidak melihat abram, dimana tu orang, tumben banget gak ngerecokin aku, aku periksa setiap ruangan dan dia sedang terlihat menelfon seseorang.
"bella, haaa bella, saya lagi happy".
Dia memeluk tubuhku dan mengangkat nya hingga aku berada digendongan dia sekarang.
"tuan lihang membatalkan proyek nya dengan rendy dan melanjutkan dengan perusahaan kita, yeess im so happy bella, kita shopping yuk".
"iya tapi turunin aku dulu bram".
"apaan yes or no yes or no, turunin".
"yes or no bella".
"yes yes udah cepetan turuuunin".
"karena kamu sudah menjawab yes, hari ini kamu menjadi milik ku bella seutuhnya".
Pletak, aku menjitak kening nya abram, dia malah memutar dengan kecepatan penuh dan membuat kami berdua terjatuh. Aku menindih tubuh abram yang kekar, dia malah mengalungkan tangan nya dileherku dan membuat jarak wajah kita hanya sejengkal.
"kamu tetap cantik seperti biasanya bella, sayang kamu susah sekali saya takluk kan, coba kalau kamu nurut aja, pasti . . ".
Cup muah aku membungkam mulut abram dengan sebuah ciuman, aku yang duluan membuat gairah abram bangkit, bagaimana ini, ciuman kami saling menuntut dan abram tidak mau melepaskan ku.
Abram meraba seluruh bagian tubuh belakangku dan berhenti dibagian dua bongkahan itu, meremasnya sedikit keras dan membuat ku mendesah. Kami kemudian saling duduk dan kembali berciuman, tak pernah terbayangkan oleh ku berciuman panas seperti ini bersama abram.
Sebelum terjadi hal yang diinginkan aku menjauhkan tubuh abram mendekat dan aku berdiri. Tapi abram menahan tangan ku.
"kenapa bella?, apa kamu marah?".
"tidak abram, aku hanya tidak ingin kita melakukan lebih dari ini".
"kenapa?, kenapa kamu menahan nya bella, kamu juga cinta kan sama saya".
"salah abram, kamu masih iparku. Bagaimana nanti kalau mama dan papa tau tentang hubungan kita, mereka pasti akan sangat marah".
"kita bisa menyembunyikan nya bella, hemm".
"gak abram, aku tidak ingin mereka kecewa sama aku, lebih baik kita. . ".
"kita apa bella, berjauhan, saya yang tidak akan sanggup bella".
"sudahlah bram, kita tidak seharusnya seperti ini, maaf".
Aku berlari masuk kedalam kamar dan abram lebih dulu menangkap ku.
"oke, saya minta maaf dan akan mengalah, kita kesini buat menghabiskan waktu berdua. Bersenang bukan bertengkar seperti ini, ya bella".
"hmmm".
"tadi resleting celana saya tidak terbuka kok, masih tertutup rapat, kamu berbohong kan bella, ayo ngaku".
"iss iya, lepasin, aku mau dandan dulu, biar kaya bule bule diluaran sana".
__ADS_1
"oh no bella, jangan pakai bikini, tubuh mu bukan konsumsi publik bella, biarlah hanya aku nanti yang akan menikmatinya".
Bella merasa sedikit tersanjung atas omongan abram barusan, biarlah abram yang suka bertindak seenaknya dan masih menghargai aku, dari pada andre yang sok alim namun tidak mengakui kesalahan nya sendiri.
Sudah lama aku tidak tau kabar tentang andre dan kanaya, apa mereka sudah menikah mungkin, ah gak aku fikirkan sekarang, biarlah nanti Tuhan yang atur semuanya, yang penting sekarang aku liburan dulu di Bali.
Kita memilih menyewa motor untuk edisi jalan jalan di Bali kali ini, pertama ketempat makan khas Bali, mengisi perut dulu, selanjutnya pergi ke toko souvenir khas Bali juga, aku membelikan buat keluarga dan juga bunga besti ku.
Selanjutnya abram mengajak ku masuk ke studio foto mini yang ada dipinggir jalan, berpose ala kadarnya karena ruangannya sempit dan pose terakhir abram mencium pipiku.
Hasil fotonya sudah keluar, lucu juga ternyata, abram hanya memberiku satu foto dan selebihnya dia simpan didalam dompetnya. Suka suka kamu lah abram.
Kita beli cemilan lagi, ketoko baju, sepatu, tas dan semua barang yang disuka abram dibelinya, sampai beli satu koper besar buat menyimpan barang tersebut. Karena abram juga membelikan oleh-oleh buat orang kantor.
Bos yang pengertian sekali dia, menjelang sore kita makan dulu, dan kata abram pesawat kembali jakarta pukul sembilan malam. Harus pulang hari ini juga, padahal belum cukup satu hari aku di Bali.
Sampai di villa kita beberes dan abram tak lupa membuka laptop dulu, mengerjakan apa aku juga gak tau, karena aku terlalu sibuk mengurus belanjaan yang dibeli tadi dan memisahkan buat oleh-oleh juga.
"bella, sini bentar deh".
"apa, gaun mana yang menurut kamu bagus".
"gaun pernikahan buat aku, aku gak mau nikah sama kamu".
"ya pede banget, bukan buat kamu sayang. Tapi buat helena, bagusan mana?".
"hehe, jadi buk helena belum nikah?".
"belum, dia terlalu fokus sama kerjaan nya jadilah nikah umur 40, kamu jangan gitu juga sayang".
"iss, yang ini aja lebih elegan".
"oke".
Sekali klik saja gaun berharga puluhan juta itu sudah dipesan abram, bener bener gak nawar sedikitpun, aku hanya geleng kepala melihat kelakuan abram ini.
"bella, boleh nanya".
"apa?".
"calon idaman suami kamu seperti apa?".
"hmm yang tajir melintir seperti keluarga petir, haha".
"trus... .".
"ah udah ah gak usah dibahas".
"kalau seperti saya ini bisa jadi suami idaman kamu tidak bella".
"hmm aku tanya google dulu ya".
"kok tanya google sih".
"biar seru aja bram".
"bella. . ".
Abram menggelitik perut ku hinga aku kegelian, minta ampun pun tidak didengarkan oleh abram dan terjadi lagi adegan ketika siang tadi, namun kali ini abram yang menindihku. Dia menatap mataku dalam, seolah abram ingin menciumku lagi, aku cabut saja bulu ketek nya karena abram memang lagi pakai baju tanpa lengan.
Dan akhirnya aku bisa lolos dari tindihan abram, aku tertawa terkekeh melihat dia masih memegang keteknya tersebut. Tidak lama berselang abram mendapatkan telfon dari driver taksi online yang dipesan nya.
Ternyata drivernya seorang ibu. Dia banyak bercerita tentang kisah hidupnya, setelah suaminya meninggal, kehidupan dia terbalik 180 derajat, dari yang cuma bisa minta uang sama suami, jadi harus mencari uang sendiri demi masa depan anak-anak nya.
Aku ikut bersedih mendengar perjuangan hidup driver ibu tersebut. Abram ikut merasakan sedih juga, jadilah dia minta nomor rekening ibu itu dan mengirimkan sejumlah uang yang nominalnya lumayan banyak.
Abram abram, ternyata kamu masih peduli juga dengan kehidupan orang lain. Salut pake banget aku sama abram, ibu itu berterimakasih pada abram dan kita sudah sampai bandara. Abram memesan tempat duduk class economy saja, karena ya alasan nya biar bersahaja sama orang lain.
Disebelah ku duduk sepasang bule, awalnya bule itu biasa aja, saling pegang tangan, paha dan bercengkrama, setelah pesawat terbang. Mereka berciuman, astaga sampai menimbulkan bunyi cap cip cup. Aku yang duduk tepat disebelah mereka menjadi risih sendiri.
Abram memasangkan earphone ketelinga ku dan menyenderkan kepala nya kepundak ku. Abram mungkin tau aku risih karena ulah bule tersebut. Haduh bram, karena perhatian kamu yang sekecil ini bisa membuat aku meleleh, argh ipar yang meresahkan kamu bram.
Kalaupun abram tidak menjadi iparku, belum tau juga dia akan berbuat seperti ini terhadap ku. Entahlah aku juga tidak tau dengan kehendak Tuhan yang mempertemukan aku dengan abram dengan jalan seperti ini.
Sudah sampai jakarta, dengan setia alex menunggu dibandara dan mengantarkan kita menuju apartemen abram, tak lupa aku memberikan alex oleh-oleh yang aku berikan tadi. Dia senang dan mengucapkan terimakasih.
Sampai diapartemen, ada nindy yang sedang menunggu didepan pintu apartemen abram dengan wajah lebam dan penampilannya acak kadul.
"abram, tolongin gue".
"kamu kenapa nindy". Sapa ku dan memeluknya.
"bram tolongin gue, hiks, tadi gue habis. . ".
"sudah nanti bahasnya didalam saja, masuk dulu".
Nindy menceritakan dia dijebak oleh rendy, setelah memakan pizza pemberian rendy dia tidak sadarkan diri, kemudian setelah sedikit sadar, ternyata dia dikerjai oleh tuan lihang, abram tidak percaya begitu saja dengan cerita nindy.
"gue gak bohong bram, gue berani sumpah mati, rendy jahat banget sama gue, sampai tega ngerjain gue sama si orang cina brengsek itu, bram gue tau rencana rendy selanjut nya apa".
"astaga bella, kasihan banget kamu, aku juga hampir dikerjain sama dia, tapi abram nolongin nin".
"kamu beruntung banget bella ada abram selalu berada disisimu".
__ADS_1
Bersambung.