Cintai aku Izabella

Cintai aku Izabella
14. VVIP


__ADS_3


VVIP


Dirumah kediaman orangtua bella. Mereka sudah bersiap untuk pergi kerumah sakit, melihat kondisi abram, bella enggan untuk ikut, namun dipaksa mama dan bilang bella harus bantuin mbak ingrid disana.


Apa boleh buat, bella tidak bisa membantah sama sekali kalau sudah mama yang merintah. Sudah sampai rumah sakit, tak lupa bawa buah tangan berupa buahan dan kue kaleng.


Terlihat alex berdiri didepan pintu kamar ruangan vvip, dan mempersilahkan keluarga bella masuk kedalam. Nampak ingrid sedang menyuapi abram makan buah.


"mama, papa, sudah datang". Sapa abram ramah.


"bagaimana kondisi kamu sekarang abram". Tanya papa sambil mendekat kekasur.


"saya sudah mendingan dari pada tadi siang pa, cuma kaki dan kepala masih terasa sakit".


"oh gitu, yasudah semoga kamu cepat sembuh dan bisa beraktivitas normal lagi".


"amin, terima kasih pa dan mama sudah repot datang kesini, saya minta tolong boleh pa?".


"apa itu".


"tolong bella temanin mbak nya ingrid disini, ingrid bilang dia takut dirumah sakit sendirian tanpa teman".


"iya tadi ingrid juga sudah ngomong masalah itu, iya boleh, bella akan menemani ingrid disini".


"terimakasih sekali lagi ya mama dan papa atas pengertiannya".


"iya nak abram, sekarang kita kan sudah menjadi keluarga"


Bella dengan berat hati harus menemani mbak ingrid dan juga merawat abram dirumah sakit. Tapi tiba tiba.


"bel, bella bangun".


"ada apa sih mbak". Kata bella setengah sadar, bella tertidur tadi dibangku luar ruangan vvip.


"mbak keluar sebentar ya bella, urusan kantor, besok pagi mbak ada audit, dah masuk kedalam gih".


"gak mau ah mbak didalam, aku tungguin disini aja, lagian ada alex juga kok yang jagain si abram".

__ADS_1


"alex udah pulang duluan bella, ada keperluan katanya, udah sih bella masuk aja kedalam apa salahnya"..


"kok malah pergi semuanya sih, kebetulan banget barengan, mau ngerjain aku ya mbak, sengaja ya ninggalin aku berdua sama si abram, cowo mesum itu".


"abramkan lagi cidera bella, bagaimana bisa dia berbuat mesum sama kamu, aneh aja sih, udah mbak buru buru".


"tapi mbak. . mbak ingrid".


Is sial mbak ingrid tidak mendengarkan panggilanku. Dia malah berlalu begitu saja. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau berduan sama abram dikamar itu, dia kan iparku sekarang, ah bodoh amat aku tunggu disini saja, diluar lebih aman.


Sementara itu didalam ruangan kamar inap vvip, abram masih menanti kedatangan bella, lama sekali bella tidak mau masuk juga, terpaksa abram melancarkan plan b nya, karena plan a sudah gagal.


Abram menjatuhkan diri dari atas kasur, bruak terdengar seperti durian jatuh dari atas pohonnya. Lama setelah itu ada yang masuk kedalam ruangan, senyum abram merekah bella datang dengan membawa dua orang perawat lelaki.


"mas tolongin ya bantuin, itu ipar aku jatuh dan tidak bisa bangkit lagi dia, tolong ya mas, makasih".


"oh baik baik, mas tidak apa apa". Sapa mereka pada abram.


"ini. . . ini tangan saya sakit dan sebelah sini juga sakit". Abram menunjuk bagian dadanya. Dada abram sakit sekarang karena dicuekin oleh bella, abram pandangannya tidak beralih dari menatap bella.


Bella terlihat cuek saja dan memainkan ponselnya, melihat postingan dari kanaya dan andre, tidak ada postingan mereka yang mencurigakan, hm bella jadi kecewa karena tidak ada bahan untuk menangkap basah andre lagi.


Hubungan bella dan andre sekarang terasa hambar, seperti pizza tanpa keju, kurang asin dan nikmat, andre malah makin intens menjalin perselingkuhan dengan kanaya, dia tidak mau melepaskan salah satu, malah makin mau keduanya bella dan juga kanaya, terlalu serakah itu namanya.


"mbak mbak ini kenapa mas nya, bantuin sini".


"lah mana aku paham mana dia yang sakit, situ kan perawat, lebih ahli dari aku donk".


"eh iya ya, hehe saya lupa mbak, maaf, abisnya saya kaget masnya menjerit kesakitan gitu, apa nya yang sakit mas". Tanya perawat lelaki sedikit kemayu itu.


Abram menunjuk dada nya, dengan perlahan perawat kemayu itu mengusap dada kekar abram dengan pelan dan sampai menuju bagian tengah abram, abram menepis tangan perawat tersebut.


"iss apaan sih, jangan pegang bagian itu, saya geli, kalau dipegang sama cewek sih mending, ini sama kamu, ihh atut, udah sana pergi saya sudah tidak apa apa".


"hihi maaf loh mas, saya kebablasan, habisnya gak nahan lihat begituan, maunya dicomot aja, hihi".


Abram geleng geleng lihat kelakuan perawat itu. Mereka sudah pergi dan tinggal lah abram dan bella didalam ruangan sekarang. Bella memilih berbaring diatas sofa dan membelakangi abram.


"bel, bella bantuin saya".

__ADS_1


"hm bantuin apa sih, aku ngantuk".


"ini ambilin saya minum, saya haus, saya tidak bisa menjangkaunya, please".


"manja banget sih".


"gak apalah kan manja sama adik ipar sendiri yang cantik".


"apaan sih gak lucu, aku pulang nih tinggal lah kamu sendiri".


"jangan donk dek ipar cantik, tambah gemesin aja lagi manyun gitu".


"ni minum nya, udah ya, aku mau tidur".


Belum sempat bella pergi, tangan nya sudah ditarik abram dan kepala bella sekarang berada didada abram. Abram mendekap bella erat.


"bella coba kamu dengarkan detak jantung saya, berdegup sangat kencang bukan, itu tandanya jantung saya hanya ada nama kamu".


"iss apaan sih, lepasin gak, mana ada pula dijantung nama seseorang, ngaco aja, mending ikut audisi pelawak deh, pasti menang dah, udah lepasin gak".


"hahaha iya ya, besok deh saya lihat link nya apa ada audisi pelawak online, gak bakal saya lepas kamu. Kamu sudah berada didalam dekapan saya".


Bella tidak hilang akal, dia menggigit dada bidang abram dan membuat abram menjerit, aw aw, sehingga itu membuat bella terlepas dan bella segera berlarian menuju sofa lagi.


Abram tidak kalah gesit, dia mengejar bella dengan sekali tangkap hap, bella dapat. Abram memeluk bella erat dari belakang.


"eh kamu sudah sembuh, atau kamu pura pura sakit ha". Bentak bella.


"saya memang tidak sakit, lebih sakit kalau kamu cuekin saya bella, kamu tidak akan saya lepaskan".


"apaan sih, lepasin gak, dasar tukang bohong, akan aku kaduin kamu ke mama papa".


"aduin saja, saya tidak takut, bagaimana kalau kita sama memberikan aduan kepada mereka".


"maksud kamu apa, jangan macam macam ya".


"saya punya bukti kamu dan andre sudah melakukan itu".


"melakukan apa maksud kamu ha abram. Jangan bertele tele ya".

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2