
Seperti Bunglon
Tanpa sadar aku memonyongkan bibir ini dan sudah beradu dengan abram, maksudnya memberikan permen ini kembali pada abram, tapi kan aku punya tangan, kemana pergi nya tangan ku. Ternyata dipegang sama abram. Haduh kenapa jadi gini sih.
Aku, aku sebenarnya menolak, namun hati kecilku berkata abram tulus menciumku kali ini, agrh gila gila, aku segera menjauhkan diri dari abram dan menunduk.
"pergilah, janjiku sudah aku penuhi".
"hey bella, kenapa nunduk, tatap aku". Dia mengangkat dagu ku, "makasih ya bella, ciuman ini sangat berkesan".
Apaan menggombal dengan adik iparnya sendiri, aku menjatuhkan diri kekasur, sangat lelah hari ini, begitu banyak kejadian, dari melihat ibu hanum minum racun sampai meninggal.
Ketemu andre dan bertengkar hebat, barusan di kiss sama ipar sendiri, apalagi besok yang akan terjadi pada diriku. Aku tidak mau memikirkan nya dulu, mending tidur. Besok saja aku susun kembali kehidupan ku.
Pagi menjelang, aku sudah berjanji sama mama menemani kepasar, kebetulan hari ini minggu, jadi semua anggota keluarga dirumah, dan mbak ingrid juga sudah pulang dari dinas luar kotanya.
"mau kemana mama". Sapa abram dari arah kebun luar.
"ini mau kepasar sama ingrid, nanti ada teman arisan mama kerumah".
"saya temani boleh ma".
"kaki kamu bukan nya masih sakit".
"cuma tinggal sakit sedikit kok ma, masa pemulihan kata dokter sering dibawa jalan, gitu ma".
Uek, bohong banget kamu, sakit aja gak, aku doain kamu beneran patah tu kaki, amin. Apaan sih pake ikut kepasar segala, merusak mood pagi aku aja dia.
"jadi gimana ma, boleh gak saya ikut".
"hm gimana ya, bukan nya mama melarang, tapi kan ingrid baru pulang, mending kamu dirumah saja ya abram".
Yeyeye gak boleh sama mama kamu ikut, aku senang sekali, aku meledek dia dan terlihat wajahnya abram kesal.
"kalau gitu saya antarkan kepasar saja ma pakai mobil".
"jangan mas, nanti mobil mevvah mas abram kotor roda nya, pasar tradisional kan becek mas".
"gak apa bella, mas juga mau sekalian keluar, yuk ma saya antar".
__ADS_1
"yaudah kalau gak bikin repot".
"maaa kita naik angkot aja ma. Lebih seru anginnya sepoi sepoi, ya ma". Bujuk ku pada mama agar tidak jadi diantarkan abram.
"hus sudah gak baik nolak ajakan abram, sudah ikut saja".
"jadi bella mau mobil yang ada banyak angin sepoi nya, tunggu sekejap". Abram menelpon seseorang, tentu menelpon alex donk, siapa lagi sudah jelas itu.
Beberapa menit kemudian, telolet telolet bunyi klakson mobil odong odong. Lah kenapa ada mobil itu, haduh memang benar si abram gak ada habis akalnya, dasar orang aneh sejagad raya.
"yuk bell naik, ini dijamin angin nya sepoooi syekali, bisa dijamin kamu gak bakal kekurangan angin".
Aku tepok jidat dan mama tertawa terbahak, papa yang baru pulang sepedaan sama ivano ikut tertawa melihat ada mobil odong odong didepan rumah.
"ayoo ibuk.- ibuk, anak - anak bapak -bapak siapa saja boleh ikut, gratisss tis tis". Sorak abram membuat banyak orang sekitaran rumah jadi antusias dan naik mobil odong odong abram. Dia jadi kenek nya, alex yang ngendarai odong tersebut.
Haha teringat masa kecil dulu, nostalgia naik mobil odong odong bahagia banget rasanya, habis itu dibeliin gulali sama papa karena kepanasan dan rewel, ah masa kecil ku andai bisa terulang kembali, pasti bahagia.
"kiri kiri, pasar pasar turun sini". Teriak abram, sudah persis seperi kenek, aku tertawa karena si manusia aneh ini lucu juga dan bisa menghibur siapa saja, sampai ibuk - ibuk dan anak - anak yang naik mobil odong - odong tertawa terbahak karena ulahnya.
"terima kasih sudah naik odong abram, dan sudah sampai ditujuan, selamat tinggal".
"hehe abram abram, ada ada aja kamu, makasih ya mantu mama".
"iss apaan sih, aku udah gede, gak bakal ilang". Aku memukul pangkal lengang abram.
"eh siapa tau kan, ada om-om yang naksir kamu, trus kamu diculik, dibawanya kerumah".
"sudah sudah jangan bertengkar lagi, yuk bella nanti kesiangan kita pulang nya".
***
Seharian aku sibuk didapur bantuin mama dan aku juga minta bantuan bunga hanifah, bestie ku dia jago masak juga.
"bunfa istirahat dulu, gue capek".
"nanggung ni bebel, bentar lagi mille crepes gue jadi".
"gue harus jadi orang pertama yang nyobain"
"apa !! ada mille crepes, rasa apa bunga, milo apa greentea, atau mokacino". Abram menyerobot aja pembicaraan kita.
__ADS_1
"hmm cuma ada rasa milo mas abram, hehe tapi rasanya gak kalah deh pasti yang dijual ditoko toko".
"waah, jadi ngiler ni bunga, saya juga mau nyobain ya bunga, makasih bunga cantik".
"nanti cemilan buat teman mama habis donk, gak kebagian semua".
"yaelah pelit amat, secuil aja nyobain gak boleh".
"tenang tenang, bunga hanifah bikin banyak. Untuk tester nya juga ada, ini dia, silahkan dicoba, tadi ditaruh dilemari es dulu biar ngeset".
"waaah, cantik banget. Jepret dulu, minggir donk bram, aku mau foto ni".
"lah gak usah foto segala bella, tinggal dimakan aja masuk perut hilang cantiknya".
"isss diam, gak usah bacot".
"jutek amat kamu bella, dia ipar kamu loh, nanti kualat". Bisik bunfa ditelinga ku, aku pura gak dengar aja, aku sibuk memotret mille crepes hasil karya bunfa. Sayang banget kalau dimakan, cantik soal nya.
"udah selesai belum foto fotonya adik ipar?". Tanya abram sewot.
"udah udah, makan gih, selamat makan, hmmm enak banget sumpah, iya kan bram".
Abram pun mengambil mille crepes yang sudah dipotong tersebut, menyuap kedalam mulut dan. .
"hmm iya enak banget bunga, cocok ni kamu buka toko kue, berbakat".
"hehe makasih loh mas abram, pengen sih buka toko kue, tapi gak punya modal, minjem ke bank, takut gak bisa balikin, jadi ya bakatnya dipendam aja".
"gimana kalau saya modalin kamu, bagi untung saja nanti, saya yang akan carikan toko nya, kamu tinggal isi aja toko itu dengan kue buatan kamu, bagaimana bunga".
"hah, seriusan mas abram, kalau sama sultan beda ya, mengeluarkan uang semudah membalikkan telapak tangan nya".
"saya jauh dari kata sultan bunga, selama saya bisa membantu sesama kenapa tidak, betul gak bella".
"betul betul betul, eh hahah".
"ada apa ini seru banget kelihatan nya".
"hey sayang sudah bangun, capek banget ya dinas luar kota, muah". Abram mencium kening mbak ingrid mesra.
Aku tersenyum saja, pintar sekali abram berakting, seolah mereka memang sepasang suami istri yang saling mencinta, apa abram seperti bunglon kali ya, bisa merubah sikap dan wataknya sekaligus. Heran.
__ADS_1
Bersambung