
Keesokan harinya, Bagus bersiap-siap akan berangkat bekerja tetapi entah kenapa Talita juga ikut bersiap-siap bahkan dia membawa tas yang berisi beberapa pakaiannya dan juga pakaian Kelvano.
"Kamu mau kemana Dek?" tanya Bagus bingung sambil terus menatap Talita yang terlihat sibuk mengemasi pakaiannya.
Talita hanya melirik saja tanpa mau menjawab pertanyaan Bagus. Akhirnya keduanya pun selesai bersiap-siap dan saat ini mereka sedang duduk dimeja makan bersama dengan Kelvano.
"Ma, kita jadi ke rumah Nenek?" tanya Kelvano ditengah-tengah kegiatan makan mereka.
"Iya." jawab Talita singkat.
Bagus hanya diam saja memperhatikan interaksi anak dan istrinya itu.
Ketiganya pun bersiap akan berangkat bersama, tentu saja Talita ikut dengan Bagus untuk berangkat bersama karena Bagus memang tidak mengijinkan Talita untuk memakai motor sendiri mengingat kakinya yang sudah luka akibat kecelakaan sebelum menikah dulu.
Selama perjalanan mereka hanya saling diam, dan begitu hampir sampai dirumah orang tua Talita, Talita meminta kepada Bagus untuk menurunkannya.
"Aku turun dirumah Ibuku aja Mas." ucap Talita.
Tetapi Bagus tidak menghiraukannya dia terus melajukan motornya hingga menuju ke rumah Ibunya sendiri. Melihat itu Talita jadi semakin kesal kepada Bagus. Dan begitu sampai didepan rumah Ibunya, Talita sengaja tidak mau turun.
__ADS_1
"Ayo turun Dek." ucap Bagus dengan lembut.
"Aku mau pulang ke rumah Ibuku Mas, bukan disini." kesal Talita.
"Turun dulu." tegas Bagus.
Akhirnya dengan terpaksa Talita pun turun dan masuk ke dalam rumah dengan muka masam kemudian duduk di ruang tamu tanpa mau menyapa mertuanya dahulu. Kelvano pun juga ikut turun dan langsung mencari keberadaan Neneknya yang saat itu sedang ada dibelakang.
"Nenek...!" seru Kelvano begitu melihat Neneknya.
Karena memang Kelvano begitu dekat dengan Ibunya Bagus karena bagaimanapun Kelvano sering bertemu dengan Ibunya Bagus beda dengan kedua orang tua Talita, Kelvano hampir tidak pernah bertemu meskipun jarak rumah mereka cukup dekat.
"Halo cucu Nenek! Aduh Nenek kangen." seru Nenek sambil memeluk Kelvano. Karena memang sang Nenek begitu menyayangi Kelvano terlepas bagaimana sikap Talita kepadanya.
Bagus pun ikut duduk disamping Talita karena sebelum berangkat bekerja dia ingin menyelesaikan masalahnya dulu dengan Talita agar tidak berlarut-larut semakin lama.
"Kamu boleh Dek kerumah Ibu, tapi nanti sore tunggu Mas pulang kerja ya? Mas juga pengen ikut ke rumah. Kalau kamu mau nginep juga boleh kan kamu sudah bawa baju ganti." ucap Bagus dengan lembut mencoba memberi pengertian kepada Talita.
Tetapi memang dasar Talita keras kepala, dia tidak mau menerima perkataan meskipun dengan nada lembut sekalipun.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Mas kalau aku pulang sendiri? Apa yang Mas takutin? Omongan tetangga? Aku gak peduli Mas!" seru Talita dengan kesal.
"Bukan begitu Dek..." jawab Bagus.
"Trus apa? Ow Mas mau bilang kalau aku beneran pulang kerumah orang tuaku sendiri jangan bawa Kelvano? Oke gak masalah aku juga mau taruh Kelvano disini aja!" seru Talita.
"Astagfirullah! Istighfar Talita!" seru Bagus tidak kalah tegas.
"Pokoknya Mas gak mau tahu, sekali kamu keluar dari rumah ini tanpa Mas jangan harap kamu bisa kembali lagi ke rumah ini!" tegas Bagus kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar untuk segera berangkat bekerja karena memang sudah waktunya dia berangkat.
Setelah kepergian Bagus, Talita menghela nafas pelan. Jujur saja dia merasa kesal dengan keputusan Bagus yang terus-terusan secara sepihak tanpa memikirkan perasaannya.
Ternyata dari balik ruang tamu, sang mertua mendengar dengan jelas pertengkaran anak dan menantunya dipagi hari itu.
"Jadi maksudnya Talita mau pulang kerumah orang tuanya tanpa bawa Kelvano?" batin Ibunya Bagus.
...****************...
Tetap semangat kak 💪
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan hadiah jangan lupa 🙏