
Selesai memasak, Talita menata masakan diatas meja makan. Disana sudah terlihat sang Ayah duduk dikursinya dan bersiap akan sarapan bersama. Adik Talita sengaja tidak ikut karena dia masuk kerja malam sehingga pagi ini dia masih tertidur. Jadi hanya Talita dan kedua orang tuanya saja yang sarapan bersama.
Ketiganya menikmati sarapan dalam diam dan hanya sesekali diselingi dengan obrolan biasa. Begitu makanan sudah hampir habis, sang Ibu sengaja melirik ke suaminya yang saat itu ternyata juga sedang meliriknya. Seakan mereka berbicara dari pandangan mata, bahwa ini saatnya berbicara dari hati ke hati dengan Talita. Dan itu semua tanpa sepengetahuan Talita, karena Talita masih asyik menikmati makanannya.
"Talita." panggil sang Ayah yang saat itu menatap Talita.
Talita menoleh karena mendengar panggilan dari Ayahnya.
"Semalam Bagus datang dan ingin menjemput kamu pulang tapi kata Ibu kamu sudah tidur waktu Ibu masuk ke kamar kamu." lanjut sang Ayah.
Seketika Talita menghentikan kunyahannya. Jujur dia merasa kaget ternyata Bagus memang menyusulnya dan mengajaknya pulang. Dia pikir Bagus akan membiarkannya begitu saja.
"Nanti malam pulang kerja dia akan datang lagi, sebaiknya kalian bicarakan baik-baik jangan mengambil keputusan dengan emosi. Ingat sudah ada Kelvano diantara kalian berdua." lanjut sang Ayah ketika melihat Talita hanya terdiam saja.
Talita hanya meresponnya dengan mengganggukkan kepala. Beberapa saat kemudian sang Ayah berpamitan akan berangkat bekerja. Dan Talita pun kembali membantu Ibunya untuk mencuci piring kotor bekas mereka sarapan bersama.
...----------------...
__ADS_1
Sedangkan dirumah orang tua Bagus, terlihat Ibu Bagus yang sedang memasak. Masakan yang sangat sederhana karena memang beliau sudah tua dan tidak sanggup jika harus melakukan banyak hal. Sedangkan Bagus terlihat membantu dengan membersihkan rumah. Menyapu, mengepel dan bahkan mencuci baju. Bagus tidak merasa malu ataupun gengsi meskipun dia seorang laki-laki.
Di kamar terlihat Kelvano yang baru saja membuka mata dan mencari keberadaan Ibunya. Kelvano menangis mencari Mamanya.
"Huuaaaaa.... Mammmaaaa...!!" tangis Kelvano.
Karena bagaimanapun Kelvano masih membutuhkan seorang Ibu, terlepas dari apapun permasalahan kedua orang tuanya.
Bagus yang saat itu sedang menjemur pakaian mendengar tangisan anaknya segera meninggalkan jemuran dan berlari menuju kamarnya untuk menenangkan anaknya.
"Sssttt... Kenapa Nak? Nyari Mama ya? Diam ya, kan ada Papa." ucap Bagus mencoba menenangkan Kelvano.
Kelvano pun saat ini ada didekapan Bagus, dia merasa tenang dan sedikit memejamkan mata kembali karena baru saja bangun tidur. Sedangkan Bagus menatapnya penuh rasa haru. Memang benar apa yang dikatakan banyak orang, jika kedua orang tuanya berselisih maka yang akan menjadi korban.
Sang Ibu sudah selesai memasak, beliau mencari keberadaan Bagus yang saat itu tidak ada disekitar rumah. Kemudian beliau mencari ke kamarnya karena tadi sempat mendengar Kelvano menangis.
Dan benar saja beliau melihat Bagus yang sedang mendekap Kelvano. Kemudian sang Ibu menyentuh bahu Bagus perlahan supaya Bagus tidak kaget. Bagus pun menoleh.
__ADS_1
"Kamu mandi aja biar Kelvano sama Ibu." ucap sang Ibu dengan meminta Kelvano dari gendongan Bagus.
"Tapi kerjaan Bagus belum selesai Bu." jawab Bagus karena memang dia belum selesai menjemur dikarenakan dia mendengar Kelvano yang tiba-tiba saja menangis.
"Uda nanti biar Ibu yang selesaikan. Jangan sampai kamu terlambat lagi dan mendapat teguran lagi." ucap sang Ibu.
"Iya Bu." Bagus pun menyerahkan Kelvano kepada Ibunya, kemudian dia melakukan apa yang disuruh oleh Ibunya dan bersiap akan berangkat kerja.
Ya, semenjak pindah ke kontrakan jarak kontrakan dengan tempat kerja Bagus cukup jauh beda dengan jika dari rumah Ibunya. Sehingga membuat Bagus harus berangkat lebih pagi agar bisa sampai ditempat kerja dengan tepat waktu.
Tetapi kita tidak pernah tahu keadaan dijalanan seperti apa, meskipun sudah berusaha berangkat pagi Bagus masih terkena macet sehingga dia sering datang mepet waktu atau bahkan terlambat dan itu membuat Bagus mendapat teguran beberapa kali.
Dan hal itu tidak pernah Bagus ceritakan kepada Talita, karena tidak mau Talita akan berpikir bahwa itu semua gara-gara Talita. Bagus cukup cerita dengan Ibunya saja karena dia tahu bagaimana sifat Talita yang tidak mau disalahkan sama sekali. Bahkan sampai saat ini pun Talita tidak tahu akan hal itu.
...****************...
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏
Selamat hari vote 🥰