
Matahari terbit di ufuk timur. Cahayanya yang masuk melalui celah jendela dan cermin besar yang terdapat diujung ruangan mampu mengganggu sepasang suami istri yang tengah terlelap dengan tubuh saling mengalirkan kehangatan satu sama lain.
Perlahan mata tajam Morgan terbuka diiringi senyuman yang mengembang lebar. Melihat pemandangan pagi yang disuguhi wajah cantik bercampur guratan lelah milik sang istri mampu membuatnya bahagia dan bersemangat melalui hari-hari yang pastinya selalu diawali dengan pemandangan yang sama.
Dengan sebelah tangannya Morgan menyingkirkan helaian demi helaian rambut yang menghalangi wajah ayu sang istri. Meskipun sebelah lengannya terasa kebas akibat dijadikan bantal untuk si istri tercinta Morgan tidak masalah. Apalagi dengan kenikmatan yang semalam Reyna berikan. Hal itu tentunya tidak ada apanya.
Mengingat pergulatan panas mereka malam tadi membuat senyuman Morgan semakin lebar. Rasanya dia adalah pria paling beruntung yang mendapatkan pasangan sesempurna Reyna. Ya, sempurna. Bagi Morgan Reyna adalah pasangan paling sempurna untuknya. Reyna tidak punya kekurangan, dan meskipun itu ada Morgan tidak peduli. Baginya Reyna adalah sempurna. Istrinya sempurna.
" Eung.. "
" Morning, honey." sapa Morgan tak kala melihat manik indah istrinya perlahan terbuka.
Reyna mengerjap mengumpulkan nyawanya, mantan peerawan itu tersenyum malu menyembunyikan wajah merahnya pada dada bidang Morgan yang tidak terhalang apapun.
" Ciee.. Malu nih, mantan perawan?" goda Morgan mencolek pipi Reyna.
" Diem,"
" Gimana? Enak? Mau lagi gak? Semalem kurang, honey. Kamu tidur duluan,"
" Aku pingsan yah, bukan tidur." ralat Reyna melotot pada Morgan saat mengingat peristiwa semalam. " Semalam kamu kayak kerasukan tahu gak? Aku jadi gak kenal sama kamu,'
" Ya gimana gak grasak-grusuk, orang nahannya aja sampai bertahun-tahun. Wajarlah, kalo semalam aku salurin. Cinta itu," bela Morgan tak mau disalahkan.
" Halah, alasan."
" Iya,"
" Ck, terserah."
" Kalo terserah, mau lagi dong?" Reyna menatap suaminya tidak percaya.
" Gila ya kamu?!"
" Enak, aku suka bad-" Morgan menghentikan ucapannya saat melihat pelototan garang Reyna.
" Apa?!"
" Nggak jadi. Nanti aja malem,"
" Apanya?"
" Yang semalem," bisik Morgan meniup telinga istrinya sensual.
__ADS_1
Seketika hal itu membuat Reyna merinding, " Ish. Serem banget,"
Morgan terkekeh sembari menghujani seluruh wajah Reyna dengan kecupan dalam.
" Eummm udahhh,"
Cup.
Diakhir kecupan Morgan mencium dalam dan lama bibir Reyna. Hot suami itu tersenyum tampan dengan binar mata yang tak henti menunjukkan betapa memujanya dia pada sosok Reyna.
" Honey,"
" Apa?"
" Cantik banget. Jadi takut,"
Kening Reyna berkerut, " Takut, kenapa?"
" Kamu ninggalin aku,"
Reyna mengulum senyumannya. Dia mengangkat kepalanya dari lengan Morgan dan menangkup wajah tampan dengan rahang tegas suaminya.
" Gak akan.. Yang ada kamu yang ninggalin aku. Kamu kan bastard,"
" Bodoh aku jika ninggalin kamu. Rugi banget,"
Morgan mengelus rambut panjang Reyna sesekali mengecup bahu telanjang istrinya.
" Sayang banget,"
" Aku juga," balas Reyna dengan suara teredam dalam leher Morgan.
" Honey,"
" Ya?"
" Masih gak nyangka kita akan berakhir bersama. Mengingat kamu yang sudah hampir dimiliki pria lain dan aku yang brengsek ini dengan tidak tahu dirinya menginginkan perempuan sesempurna kamu bahkan merebut kamu dari pasanganmu yang jelas pria baik-baik," ucap Morgan dengan mata menerawang jauh.
Reyna mengangkat kepalanya menatap Morgan dari atas, " Semuanya karena takdir. Seburuk apapun kita, jika Tuhan menciptakan manusia baik sebagai pendamping kita apa yang bisa mereka lakukan selain bersama atas nama takdir?"
" Aku memang pria paling beruntung di dunia ini, dengan memiliki kamu."
" Aku juga. Aku juga beruntung mendapatkan lelaki hebat sepertimu. Dengan keadaanku yang tidak se— "
__ADS_1
" Kamu sempurna," potong Morgan segera.
" Sayang, tapi aku gak bisa ham— "
" Bisa. Kamu bisa. Akan ku buktikan pada seluruh dunia bahkan Reynaku, Angelku, Istriku adalah wanita sempurna. Paling sempurna,"
Reyna tersenyum haru mendengarnya, " Terima kasih, " ucapnya tulus.
" Aku yang harusnya bilang makasih. Terima kasih karena memilih hidup bersamaku, Reyna Angelica. Dan terima kasih karena mau menerimaku dengan segala hal buruk yang melekat padaku. Terima kasih,"
Reyna memejamkan matanya menerima kecupan hangat di keningnya. Mereka saling menatap penuh cinta dengan senyuman yang mengembang.
Teringat sesuatu, kening Reyna berkerut yang jelas disadari Morgan.
" Kenapa?" tanya Morgan mengusap kerutan di kening Reyna.
" Sayang, kamu merasa aneh gak sih di acara kemarin?"
" Acara pernikahan kita?" Reyna mengangguk. " Memang kenapa? Bukankah kemarin berjalan lancar?"
" Lancar katamu? Hah yang benar saja. Acara kita dibubarkan sebelum waktunya, kamu lupa? Bahkan kita diusir secara lembut dengan alasan honeymoon. Bukankah rencana awal honeymoon akan dilaksanakan sebulan setelah pernikahan?" tanya Reyna penuh terheran-heran.
Morgan ikut heran, namun ahh benar juga. Bukankah Reyna tidak tahu akan konflik besar yang menghadang mereka beberapa tahun yang lalu?
" Sayang?"
Morgan tersenyum, " Jangan terlalu difikirkan, honey. Mungkin mereka ingin secepatnya mempunyai cucu dan cicit, maka dari itu kita disuruh honeymoon lebih awal. " ujar Morgan. " Sekarang kamu tahu bukan, alasan kita dibuang ke sini?"
" Membuat bayi?"
" Nah, itu. Jadi mari kita buat setiap waktu!" seru Morgan membalik posisi menjadi dia yang di atas.
" Tunggu dulu, aku belum selesai bicara." ucap Reyna panik menahan dada Morgan yang hendak mendekat.
" Apa peduliku? Aku tidak tahan, sayang."
" Tapi kan malam sudah,"
" Siang beda lagi sensasinya,"
" Astag, kamu— " ucapan Reyna terhenti karena Morgan yang benar-benar tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya. Dan siang itupun mereka habiskan dengan bersama di atas ranjang.
Dasar pengantin baru.
__ADS_1
_-_
EksChap 1