Crazy Cousin

Crazy Cousin
Insiden Pagi Hari


__ADS_3

Nayara mengayun-ayunkan kakinya. Saat ini dirinya sedang berada di taman, tepatnya taman rumah barunya. Yah... Dia memang telah meninggalkan panti dan menetap di sini, rumahnya.


David menatap wajah polos nan manis milik kekasihnya dengan tatapan bahagia.


Posisi duduk menghadap Nayara dari ayunan yang saling bersampingan membuatnya dapat melihat wajah ayu sang kekasih yang menatap depan dari samping.


" Kakak, tahu gak? " Tanya Nayara sambil menjilat ice cream coklat pemberian David.


" Apa? "


" Aku bahagia loh, sama Kakak. " Aku Nayara membuat David tersenyum.


" Me too, " Lirih David.


" Aku bahagia banget, bisa dapetin pria kayak Kakak. Udah tampan, mapan lagi. Paket komplit tuh, ".


Pletak!.


" Awh, sakit.. "


" Belajar dari mana loe? Matre haram! "


" Kata Freya juga wanita perlu matre dan logis, " Bela Nayara. " Haram apanya, " Lanjutnya bergumam.


" Jangan dengerin. Aliran sesat itu, ".


" Cih, durhaka. "


David tertawa.


" Kakak, "


" Apa? "


" Aku mimpi, akhir-akhir ini. "


" Mimpi apa? "


" Kakak ninggalin aku, "


Deg.


" Ninggalin? Bwa ha ha ha.. "


Itulah David! Seserius apapun situasisnya, tetap sikap humoris yang terkadang menyebalkan membuat Nayara menjadi kesal.


" Kakak ih!! "


" Iya iya, maaf. " David menghentikan tawanya. " Yah elu sih. Bicaranya ngaco gitu. Mana mungkin gue ninggalin loe? Secara, gue kan tampan. Setia lagi. Beh.. Pacar siapa sih? Beruntung banget dapetin gue, "


" Ya pacar akulah! "


" Ha ha.. Iya dong. Ara, mine. " Ucap David menunjuk Nayara dan dirinya.


Nayara tersenyum lebar.


" Kak, nanti-nanti kita ke wahana yuk! "


" Siap! Kapan? Kapan aja gue bisa kok, "


" Eum.. Nanti aja, malam minggu. Biar kayak orang-orang gitu, malam mingguan. "


David menggeleng, " Loe ini, "


" Ih.. Aku tuh normal yah! Pengen kayak orang lain, yang ngedate bareng pacarnya. Kan seru tuh, "


" Romantis, babe. Bukan seru, "


" Ya seru, naik roller coaster kita. "


" Dih, bege. "


" Gak suka! "


" Iya iya.. Gak kasar lagi, " David mengalah.


Tiba-tiba Nayara termenung, seperti memikirkan sesuatu yang jelas tidak baik. Membuat David menatapnya khawatir.


" Kenapa, Ay? "


" Aku keinget mimpi itu terus. Kayaknya kita bukan jodoh deh, "


David sedikit tersentak.


" Jangan bilang gitu! Jodoh enggaknya, ya di tangan Tuhan! Kalo kita gak jodoh, aku mati duluan deh! "


" Kamu ngomong apa sih? Ngaco banget. Gak suka yah, Kakak— ".


" Ngadep Tuhan. Mohon kita di takdirkan, "


Pipi Nayara memanas. Antara tersipu dan marah.


" Jangan ngomong gitu! " Bentaknya. " Percuma Kakak minta di takdirin sama aku kalau Kakaknya aja udah jadi tulang duluan! ".


David terdiam. Wajah serius dan perasa Nayara membuatnya berhenti bercanda.

__ADS_1


" Mimpinya gimana gitu, Ay? " Tanya David setelah beberapa saat hening.


" Aku sama pria lain, dan gendong anak. Kayak di terminal gitu kita ketemu. Tapi gak saling kenal. Kakak gak tatap aku, akupun sama. Kita gak saling sapa. Kakak sendiri, tapi aku sama anak kecil. Kita kayak udah dewasa gitu. Pakaian Kakak pun wow banget. Tapi anehnya.. Pakaian aku terbuka. Tubuh aku juga profesional banget. Kayak model gitu. Pertanda apa coba? Hampir tiap tidur loh mimpinya. Tempat sama scene-nya aja yang kadang berbeda, " Curhatnya.


" Aku gak mau yah, kalau nanti Kakak lupa diri sama aku. Yah.. Meskipun tidak menutup kemungkinan sih. Kakak kan calon penerus Om Marchel, CEO sekaligus Presdir yang anak perusahaannya di mana-mana. Jadi...— "


" Gak usah ngacol! " Potong David.


" Jujur gue gak pernah jatuh cinta. Cuma sama loe aja gue buka hati. Loe cinta pertama gue, Ara. Meskipun gue gak bisa jamin kita ke depannya kayak gimana, tapi gue bisa janji satu hal. Cinta pertama sulit tuk di lupa. Dan elo juga mustahil gue gak cinta. Berjuang dan berdo'a. Meskipun gue jauh dari kata cowok baik, gue maunya jalan kita mulus. Sampai pelaminan dan terpisah oleh ajal, "


Nayara termenung.


" Aku juga maunya gitu. Tapi jika takdir berkata lain? Gimana? "


" Kalau hilang, ya ikhlaskan. Jika pergi, maka dia bukan yang terbaik. Meskipun begitu, gue yakin loe yang terbaik. Buat gue, buat calon anak gue. "


Mata Nayara berkaca-kaca. Dia terharu oleh ucapan yang di dalamnya terdapat ketulusan. Tanpa menunggu lama, dia bengkit dari ayunan dan berhambur memeluk David.


" Love you, Kak. Kakak juga yang terbaik! " Ucap Nayara dengan berderai air mata.


" Love you too, Ay. More, " Bisik David mengusap punggung Nayara.


" Udah ah! Kok kita jadi mellow gini? Senyum dong, biar cantiknya kelihatan. " Goda David.


Nayara tidak mengindahkan perkataan David. Dia semakin menenggelamkan wajahnya di leher belakang sang kekasih.


" Kakak jangan tinggalin aku... Apapun alasannya. Aku juga gak akan tinggalin Kakak kok, ".


" Janji? " Nayara mengacungkan jari telunjuknya.


" Janji, " Jawab David menyambut jari mungil pujaan hatinya.


Nayara tersenyum lebar. Senyuman yang membuat David terpesona, di tambah background yang tak kalah indah dari objeknya.


Angin berhembus kencang membuat rambut Nayara sedikit berantakan. Hal itu membuat pemandangan di depannya sungguh lebih indah dari apapun.


" Loe dunia gue, Ay. Gue berani bersumpah, hanya loe yang gue mau. " Batin David senantiasa menatap wajah cerah Nayara di hadapannya.


_-_______


...Hari Berikutnya..........


Morgan membuka pintu apartement. Mempersilahkan Sang Tuan Puteri masuk.


Reyna dengan koper besarnya melangkahkan kaki dengan mata yang mengedar mengagumi interior apartement sepupu gilanya itu.


Apartement ini tidak terlalu luas. Namun cukup mewah dan layak di huni. Hanya ada dua kamar di dalamnya. Cukup juga sih, kan hanya mereka berdua yang tinggal.


Keputusan Alex tidaklah main-main. Lihatlah! Tanpa niat pun Reyna tetap melangkahkan kaki ke dalam neraka barunya.


Eum... Mungkin akan menjadi surga nantinya. Mungkin.


" Beli sendiri! " Semprot Morgan dari samping.


" Dih, sewot. "


" Siapa yang sewot? "


" Ya elu, "


" Gue?! Hah, maaf-maaf. "


" Iya, gue maafin. "


" Bukan gitu to— "


" Dih, kok nyolot? " Potong Reyna membuat Morgan darting.


" Kamar lu yang bawah, " Tunjuk Morgan.


" Tapi kayaknya yang di atas kamar juga, " Ucap Reyna menunjuk pintunya.


" Itu kamar gue, "


" Tapi maunya di situ. Gimana dong? " Tanyaya dengan wajah polos.


Morgan menggigit bibir bawah bagian dalamnya.


" Kucing liar gue lucu banget kalo kayak gini. Gak rela gue, loe sampe nikah sama si Gayung, Na. " Batin Morgan.


" Tapi barang gue udah di sana semua, "


" Yah.. " Reyna kecewa. " Gimana kalo sekamar aja? " Lanjutnya menggoda Morgan.


" Ayo! ".


" Gila loe! " Semprot Reyna langsung.


Lupa dia, jika Morgan itu mesum.


" Yah kan elo yang minta, bege. "


" Bodolah! Gue ke kamar dulu. Capek, mau istirahat. Apalagi nanti malam ada acara. Pasti lelah hayati, " Curhat Reyna mulai kembali melangkah dengan menggusur koper besarnya.


" Karena ini tempat senggama gue, jadi gue punya aturan yang mesti loe taati. "

__ADS_1


Reyna menghentikan langkahnya dan membalik badannya ke kiri menatap Morgan.


" Apa itu? "


" Loe harus urus gue. Mulai dari pakaian, makanan, kebersihan rumah, bahan-bahan, dan yang lainnya termasuk izin dari gue kalo mau kelayapan. "


" What?! " Mata Reyna membulat. " Are you seriously? " Tanyanya tak habis pikir.


Dengan kalemnya Morgan mengangguk.


" Gila ya loe. Thinking dong, masa iya gue lakuin semua itu. Istri bukan, pacar bukan, ngapain juga mesti ngurus loe? Dih, ogah banget. " Ucap Reyna sambil bergidik.


" Ya.. Itung-itung latihan jadi istri yang baik. Kita kan bentar lagi nikah, "


" Halu! "


" Loe yang mau kan? "


" Kapan gue ngajak loe nikah, Morgan Eduardo? " Ucap Reyna mulai kesal.


" Kemarin. Waktu di apartementnya si Gayung. Kan elu yang kekeh milih nikah, " Jawab Morgan dengan tidak tahu malunya.


" Gavin! Bukan Gayung. Seenak jidat aja loe ganti nama orang. Udah cakep juga, "


" Apa? "


" Banyak meluruskan yah, anaknya Mr. Smith. Gue ini ngajak nikah sama Kak Gavin, bukan sama loe! Jangan kegeeran deh jadi cowok, gini nih jadinya. " Sungut Reyna.


" Ngajak nikah? Hah, emang loe siapa? Selebgram? " Sinisnya membuat Morgan mendelik.


" Jadi kalo gue Seleb loe mau ajak nikah? Oke! Gue upload satu foto, dalam semalam gue jamin 100k yang follow. Gimana? Mantap gak tuh? Selebgram kan jadinya? "


" Terbang... Terbang... Sana terbang yang tinggi! " Semprot Reyna beranjak pergi tanpa berminat meladeni orang gila seperti Morgan.


Morgan melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum.


" Crazy Cousin. Love you make me crazy, Reyna. Very Crazy, " Gumam Morgan.


____-_____


...Pagi Berikutnya......


Jam sudah menunjukkan pukul 07:15 WIB. Yang artinya dalam 45 menit lagi bel sekolah akan berbunyi.


Morgan dengan stelan putih hitam serta almamater Osisnya sudah siap di meja makan. Namun dia hanya diam memainkan ponsel, ya itu karena kokinya belum masak!.


Di dalam kamar, si koki masih asik bergulat dengan mimpinya. Tangannya terkadang menyeka air mancur yang keluar dari lorong hitamnya.


Sepertinya Reyna lupa memasang alarm, sampai jam segini belum bangun. Dan Morgan pun tak berani membangunkannya. Itu karena dia harus masuk ke dalam jika ingin membangunkan.


Pikiran liar Morgan sempat berkelana. Saat dia masuk ke dalam kamar hendak membangunkan Reyna, dia disuguhkan pemandangan tersembunyi yang pastinya sulit dia lewatkan. Membayangkannya saja sudah membuat Morgan bergidik.


Dan jadilah dua puluh menit berlalu dengan si koki yang tak kunjung bangun!


Morgan tidak sabar lagi menunggu. Dia harus bertindak untuk membangunkan Reyna. Jika tidak, kapan dia sampai sekolah?


Apalagi.. Hari ini harinya. Semua orang tidak akan memulai acara tanpa dirinya. Yah, hari ini adalah hari pencoblosan atau pemilihan Ketua Osis baru.


Tidak terasa bukan? Dalam beberapa bulan lagi Morgan keluar setelah Ujian?.


Morgan beranjak mengambil panci dan cungkir dari dapur kemudian berdiri di depan pintu kamar Reyna yang tertutup.


Dengan kasar dia satukan kedua alat perang itu hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Preng.. Prenng.. Preng...


" Berisik! "


Preng.. Preng.. Preng..


" David berisik bang*e!! " Teriak Reyna membuang bantalnya dari dalam.


Preng.. Preng.. Preng...


" Arghkk! "


Ceklek.


" Gue bilang beri— sik, "


Mata Reyna membulat, begitu juga Morgan. Dengan perlahan pandangan Morgan turun menuju sesuatu yang terlihat terbentuk jelas dari balik piama tipis yang Reyna pakai.


Reyna ikut melihat tujuan mata Morgan. Dia menahan nafas dengan mata melotot.


" Morgan!! ".


Brughk!


Pintu yang semula terbuka kembali Reyna tutup dengan dirinya yang bersandar di balik pintu.


" Mo-morgan lihat? Di-dia lihat? Ahhhh aset gue!!! " Pekik Reyna berlari menuju ranjang.


Di balik pintu, Morgan mematung. Matanya mengerjap-ngerjap. Senyuman aneh terbit di bibirnya saat sesuatu yang baru saja dia lihat terbayang dalam otak sampahnya.


" He he.. Besar juga calon mainan gue. He he.. "

__ADS_1


_-_


TBC!


__ADS_2