Crazy Cousin

Crazy Cousin
Gavin Haydar


__ADS_3

Selamat membaca🌸


_________


Di dinginnya keheningan malam dengan ditemani kegelapan serta terbatasnya cahaya sang rembulan, Nayara mengeratkan lilitan mantel pada tubuhnya. Menatap sang kekasih yang sibuk memasangkan sabuk pengaman untuknya.


David menjauhkan diri dari Nayara. Dia mengelus penuh kasih kepala sang kekasih dan mengecup kepalanya singkat.


" Maaf. Aku tidak tahu malam akan sedingin ini. Jika saja bisa ku prediksi, aku tidak akan mengajakmu pergi. " Ucap David menatap Nayara dengan pandangan teduh.


Nayara terkesima mendengar ucapan David. Sangat tulus dan jarang sekali lelaki itu melontarkan perkataan panjang.


" Naya? "


" Ah, iya? "


" Kau kedinginan? " Tanya David seraya menempelkan sebelah telapak tangannya pada pipi Nayara.


Nayara menahan nafas, matanya membola dengan detak jantung tidak teratur.


" Jantungku sakit. Dia berdetak terlalu cepat, " Gumam Nayara tanpa sadar.


" Sakit?! Mana yang sakit? "


" Ti-tidak. Ma-maksudku aku tidak apa-apa, ha ha.. Ya, aku baik-baik saja. Kak David, " Ralat Nayara tertawa kecil.


David menghembuskan nafasnya perlahan. Dia tersenyum kecil dan menaruh sebelah tangannya pada kepala Nayara, memberikan tepukan-tepukan ringan di sana.


" Syukurlah jika kau baik-baik saja. Sebentar lagi pernikahan kita, akan sangat tidak lucu jika pengantin wanitanya berdiri di altar dalam keadaan tidak sehat. " Ujar David terkekeh pelan.


Lagi-lagi Nayara dibuat melongo melihat tawa David. Meskipun kecil dan singkat, dia dibuat terpana oleh wajah tampannya. Sungguh, Nayara lebih suka David yang tertawa tampan seperti ini ketimbang David yang selalu menampilkan wajah datarnya.


" Kau tampan, "


" Aku tahu, "


" Eh, " Nayara gelagapan. Dia bergerak gelisah dengan semburan merah yang tercipta di pipinya.


" Hah, kau lucu. "


" A-ayo jalankan mobilnya! Ke-keluargamu pasti me-menunggu kita, "


David berdecis. Sekali lagi dia melayangkan senyuman tipisnya pada Nayara sebelum akhirnya menuruti perintah sang pemilik hati.

__ADS_1


Nayara membuang wajahnya ke samping, menggigit pipi dalam dengan senyuman kecil terbit di bibirnya.


" Dia manis, "


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Reyna membuka kasar plastik yang berisikan bakso dengan mulut mendumel tidak jelas, dan pastinya itu berisi segala makian untuk Morgan.


Tok.. Tok..


" Apa?! "


" Slowly, " Morgan masuk tanpa perlu Reyna bukakan pintu.


" Cih, tidak tahu malu. "


Morgan terkekeh, dia mengambil kursi dan menempatkannya di samping Reyna. Sekali lagi tanpa Reyna suruh, Morgan sudah terduduk santai di sana.


" Siapa pacarmu? " Tanya Morgan langsung pada inti mengapa dia berada di sini, di kamar Reyna.


Mulut Reyna yang sedang menggigit bakso mendadak kembali tertutup. Dia menatap Morgan dengan ekspresi datar.


" Bualan apa itu? "


" Aku serius, Reyna. Siapa pacarmu? Apakah benar dia lebih tampan dariku? Setampan apa dia? Hah, aku tidak percaya dia bisa melebihi ketampananku yang jauh di atas rata-rata. "


" Reyna! "


" Bicara apa sih, loe? Gak jelas banget. Pacar? Gue? Gue single asal loe tahu, Morgan. Dapat bualan dari mana loe? "


" Gue?! "


" A-aku maksudnya. Ck, gak enak banget bicara aku-kamu kalo sama loe. Gelik, jijik, alay. "


" Heh! "


" Becanda, " Cengir Reyna mengangkat dua jari.


" Anak-anak bilang begitu. Kata Aaron, seorang pria mendatanginya dan mengaku sebagai pacarmu. Dan lagi, mustahilnya dia lebih tampan dariku katanya. " Ucap Morgan setelah beberapa lama hening melanda keduanya.


" Masa? "


" Hem, " Reyna mengangguk.

__ADS_1


" Jadi? "


" Apa? "


" Kamu.. Punya pacar? Atau.. "


" Tidak! " Potong Reyna cepat.


Morgan sedikit memiringkan kepalanya dengan alis terangkat satu seakan menanyakan kebenaran yang sesungguhnya. Maka dari itu buru-buru Reyna mengangguk tegas.


" Serius, asli, gue jomblo. Ya loe pikirlah, sepupu! Gue aja, eh aku aja baru di sini. Ya kali langsung laku. Maybe.. Pria itu salahsatu penggemarku, followers di sosial media. " Jelas Reyna tenang. Gadis itu kembali menikmati baksonya.


" Benar? " Rasanya Morgan kurang percaya.


" Terserah loe mau percaya atau enggak! Memang itu kenyataannya kok, "


" Reyna! "


" Iya iya.. Aku maksud gue, eh. "


Morgan mendengus kesal. Serasa pertanyaan yang mengganggu pikirannya telah dijawab oleh Reyna, dia pun berdiri dengan mengambil sisa bakso yang masih banyak dalam keresek hitam dekat Reyna.


" Kamu satu, sisanya Saya beri pada yang lain. "


" Hem, " Balas Reyna dengan mulut dipenuhi bakso.


" Eh tunggu, sisain dua taru di kulkas! "


" Hem, "


Melihat Morgan yang hilang dibalik pintu, Reyna kembali menikmati baksonya dengan nikmat. Tiba-tiba keningnya berkerut menyadari kejanggalan dari percakapannya dengan Morgan barusan.


" Tunggu. Gue punya pacar juga apa urusannya sama dia? Aneh, makin gak waras aja si Morgan. " Reyna menggeleng, memilih kembali menikmati makanannya tanpa mau memikirkan hal tidak penting yang malah membuat kepalanya pusing.


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Di seberang kota, terlihat seorang pria tengah mematikan rokok yang sejak tadi disesapnya. Dia menghembuskan nafas kasar, mendongak menatap gelapnya langit malam dengan fikiran yang terfokus pada satu orang, Angelnya.


Pria itu menahan nafas, kemudian menghembuskannya perlahan dengan senyuman yang terpancar tanpa bisa ditahan.


" Enam tahun lebih, Angel. " Gumamnya dengan mata perlahan tertutup.


Gavin Haydar, itu namanya.

__ADS_1


_-_


TBC!


__ADS_2