
Morgan menyalakan pematik ditangannya. Mengambil sebungkus rokok dan di tarik satu di antaranya, Morgan menyimpan di bibir dan menyalakannya lewat pematik yang telah menyala.
Hembusan asap nampak memenuhi ruangan. Jika saja pintu balkon tidak terbuka, mungkin asap itu akan kembali terhisap oleh si pembuang.
Morgan menikmati malam yang semakin gelap dengan sebungkus rokok dan sekaleng soda. Dia nampak memejamkan mata dengan asap keluar dari hidung sekaligus mulutnya.
Dredd..
Getaran yang berasal dari ponselnya membuat adrenalin yang baru dirasakan Morgan sirna tergantikan rasa penasaran.
Pria itu beranjak dari duduknya dan langsung mengambil ponsel yang terletak di atas ranjang. Menempelkan di telinganya setelah menekan tombol hijau, Morgan membuka percakapan:
" Halo? "
" Hiks.. M-morgan, "
Tut.
Tanpa kata Morgan melempar ponselnya ke sembarang arah dan berjalan cepat setelah menyambar jaket dan kunci mobil.
๐ ๐ ๐ ๐ ๐
Reyna menangis sersedu-sedu dalam pelukan Morgan. Setelah Reyna menelpon Morgan beberapa saat yang lalu, pria itu langsung datang dan membawanya kabur dari rumah lewat pintu belakang.
Dan di sinilah mereka sekarang. Di dalam mobil Morgan yang berhenti di pinggir jalanan sepi.
" Hiks.. Hiks.. T-tadi, hiks.. A-ada, hiks.. "
" Stt.. Tenang dulu, " Ucap Morgan mengelus punggung Reyna lembut. " Nangis dulu aja, ntar loe cerita sama gue setelah tenang. Hem? "
Reyna mengangguk cepat. Dia terus menangis membuat jaket hitam tebal milik Morgan basah dibuatnya.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Reyna menyambar tisu dan mengelap sisa air mata dan ingus di wajahnya. Dia membenahi duduknya dan dengan gerakan pelan mulai menatap Morgan untuk bercerita.
" Udah tenang? "
Reyna mengangguk.
" Ayo sekarang cerita! " Titah Morgan mengusap pelan kepala atas Reyna.
" T-tadi a-ada Kak Gavin ke rumah, " Kata Reyna dengan gagap karena terlalu banyak menangis.
" Gavin ke rumah? " Tanya Morgan diangguki Reyna. " Ngapain? Terus? "
" Di-dia rupanya dipanggil Opa. Ternyata yang mau dijodohin sama aku itu Kak Gavin, hua.. " Pecah lagi tangisan Reyna. Morgan yang mendengarnya jelas emosi namun dia berusaha menahan emosinya saat melihat Reyna kembali menangis.
" Stt.. Udah-udah jangan nangis lagi, " Ucap Morgan kembali membawa Reyna kedalam dekapan hangatnya.
" Udah Na, udah. Gue gak mau nanti loe sakit, "
Reyna mengusap kasar pipinya dan melepaskan pelukannya dari Morgan.
Morgan menghembuskan nafas kasar. Dia membawa tangan kanan Reyna dan menciumnya dalam.
" Loe maukan dengerin gue, Na? "
Reyna mengangguk.
" Mulai sekarang jauhi Gavin! Tolak dia meskipun dengan cara halus. Buat dia sadar kalo loe, sukanya sama gue bukan sama dia. Okay? Tolak sebisa mungkin, " Pinta Morgan menatap Reyna serius.
" T-tapi Kak Gavinโ "
" Dengerin gue Na! " Bentak Morgan tanpa sadar. " Listen, gue suka sama loe. Gue gak mau kehilangan loe, hem? " Lanjutnya menangkup wajah Reyna.
__ADS_1
" Reyna, "
" I-iya, "
" Janji dulu sama gue! "
" Iya. A-ayang jangan marah, gue takut. " Cicit Reyna menundukkan pandangannya.
" Gue gak bisa, " Kata Morgan membenamkan wajah Reyna ke dalam dadanya. " Gue gak bisa marah sama loe lama-lama, " Lanjutnya.
Reyna semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang Morgan.
" Makasih. Sayang ayang, "
Morgan terkekeh mendengarnya, " Mana nih Nana gue yang jutek? Kok jadi gemesin gini sih sekarang? "
" Ih.. Jadi maunya gue jutek lagi gitu? "
" Iya, "
" Awas ah! Mau jutek lagi nih, " Reyna berontak berusaha melepas pelukan mereka.
" Ha ha... Enggak-enggak bercanda, " Ucap Morgan memeluk Reyna seraya menggoyang-goyangkan pelukan mereka pelan dengan senyuman mengembang.
" Na, "
" Apa? "
" Sama gue terus ya? "
_-_
__ADS_1
TBC!
Dikit ajaa.. Sumpah gak mood kalo mau menuju konflik๐ฐ