Crazy Cousin

Crazy Cousin
Pacar Reyna


__ADS_3

Apa kabar? Lama ya?


Maaf. Menghilang karena ada alasan.


Selamat membaca🌸


_____


Sebuah mobil hitam mewah terparkir di pinggir jalan, tepatnya di kedai bakso yang terdapat dipertigaan jalan menuju Mansion Alexander.


Reyna keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa memasuki kedai. Dia tidak menghiraukan Morgan yang kelabakan menyusul langkahnya takut Reyna hilang.


Sesampainya di kedai tersebut, langkah Reyna terhenti lantaran yang berada didalamnya kebanyakan adalah seorang pria. Seketika nyalinya menciut, apalagi melihat tato menyeramkan yang terdapat di otot lengan pria-pria itu.


" Sudah tahu tempatnya seperti ini, masih saja ngeyel tinggalin Saya. Sini! " Morgan menggenggam lembut tangan Reyna dan membawanya ke salah satu meja yang terletak jauh dari kerumunan para pria tadi.


" Nyeremin ih. Perasaan dulu gue sering kesini gak pernah tuh ngeliat mereka. Ih, asli nyeremin. " Ucap Reyna bergidik.


Morgan yang terduduk tepat di depan Reyna tersenyum kecil, " Mungkin waktu itu mereka belum ada di daerah sini. Kamu lihat tato itu? " Tunjuk Morgan yang diangguki Reyna.


" Itu adalah lambang perkumpulan mereka. Bisa disebut perkumpulan semacam geng motor bayaran, " Ucap Morgan.


Reyna mengangguk kecil, " Pantesan aja, " Gumamnya.


" Eh tunggu, loe tahu dari mana? Jangan-jangan loe salah satu dari mereka ya? " Tuding Reyna dengan mata memicin.


Morgan berdecak, " Saya sudah lama tinggal di kawasan ini, tentu lebih tahu ketimbang kamu yang masih penduduk baru. "


Kini giliran Reyna yang berdecak, " Alasan, " Ucapnya.


" Pesan apa Neng? "


Morgan yang hendak membuka mulutnya seketika kembali menutupnya karena kedatangan sang pemilik kedai. Dia berdehem dan memperbaiki posisi duduknya.


" Eum.. Mbok, kalo bakso ekstra pedasnya masih ada? " Tanya Reyna. " Yang ada urat-uratnya gitu di luar. Terus kalo di gigit daging sama sambalnya muncrat. Masih ada gak? " Celoteh Reyna.


Pemilik kedai yang adalah wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya. Seingatnya, hanya dua orang yang mengetahui menu special yang Reyna sebutkan tadi. Sudah bertahun-tahun juga menu itu dia siapkan tanpa ada yang memesan. Yah.. Karena itu adalah permintaan seseorang, memintanya membuatkan menu yang tidak tertulis di daftar menu. Katanya, menu itu khusus untuk seorang pecinta bakso yang dia cintai.


" Neng.. Angel? Kamu Neng Angel?! " Pekik si pemilik setelah mengamati wajah Reyna secara detail.


Reyna berdecak, " Jadi lupa ya? Kirain masih ingat. Pantesan aku ke sini si Mbok malah cuek-cuek aja, biasanya juga langsung nyamperin. Ih, kesel. " Dumel Reyna pura-pura marah.


Si Mbok tertawa dengan tangan refleks memukul pelan lengan Reyna.


" Maklum atuh Neng, udah lama si Mbok gak ketemu sama Neng cantik. Mana makin cantik lagi sekarang, pangling atuh Neng. " Ucap si mbok dengan logat sundanya.


" He he.. Iya deh Mbok, dimaklum. Asal gratisannya aja, " Jawab Reyna mengengir.


" Kamu, orang kaya masih demen aja gratisan. Heran deh si mbok, "


Reyna tertawa pelan menanggapinya. Dulu sewaktu SMA dia memang sering mengunjungi tempat ini bersama seseorang ketika malam. Ah.. Orang itu, apa kabar dia sekarang ya?


" Eh, ini siapa Neng? Den Gavin? Ya Allah den.. Meni pangling pisan kamu teh, " Heboh si mbok menutup mulut menggunakan tangannya sambil menatap Morgan.


" Eh, i-itu bukan Gavin, mbok. "


" Bukan? Alah, siapa atuh? Suganteh den Gavin tadimah. Biasanya Neng kalo ke sini suka sama den Gavin, maaf maaf. "


Reyna tersemtum kikuk, " Di-dia sepupu aku, mbok. Morgan, Morgan Eduardo. " Ucap Reyna.


Pemilik kedai itu kembali menatap Morgan dan meminta maaf dengan Morgan yang hanya menampilkan senyuman tipisnya. Setelah mengatakan pesenannya dengan Morgan yang tidak memesan apapun, Reyna memainkan ponsel tanpa tahu aura mencengkram di sekitarnya setelah kepergian si pemilik kedai tadi.


" Ck, cantik banget gue. Eh, ada yang mau endorse rupanya. " Gumam Reyna setia pada gedgetnya.


" Eum.. Bajunya cantik-cantik. Ini, gue pilih yang ini aja deh. " Ucapnya menandai gaun yang akan dipesannya dengan senyuman yang mengembang.


" Siapa Gavin? "


Reyna mengalihkan tatapannya, dia menatap Morgan dengan wajah cengo.


" Yah? "


" Gavin. Siapa dia? " Ulang Morgan dengan raut wajah dingin.


Kening Reyna berkerut, " Manusia. Loe kenapa tanya-tanya dia? Kepo? Mau kenalan? " Canda Reyna.


" Saya bertanya, Reyna. " Tekan Morgan dengan rahang yang mengeras.


Reyna berdehem berusaha bersikap tenang walaupun di bawah sana tangannya mencengkram ponsel dengan kuat. Meskipun dalam kondisi hilang ingatan Morgan masih sensitif dengan nama itu rupanya, apalagi orangnya.


" Ga-gavin.. Dia.. "


" Siapa? " Tanya Morgan tidak sabaran.


" Mantan, ya. Gak, sahabat maksudnya. Eh, gini-gini. Kak Gavin itu sahabat rasa pacar, kami pisah lama karena sebuah alasan dan sampai sekarang gue sama dia lost contact. He he.. " Jelas Reyna melayangkan cengiran canggung pada Morgan.

__ADS_1


Mata Morgan memicin, " Mantan? "


" Ck, sahabat kata gue ih. TTM-an gitu, "


" Apa itu TTM? "


Reyna melongo, " Lahir zaman apa loe? " Ledeknya.


" Saya bertanya, Angel. "


" Ck, iya-iya. TTM itu singkatan dari Teman Tapi Mesra. Kayak sahabat rasa pacar kata gue juga, " Reyna menjelaskan dengan perasaan jengkel.


" Pulang! " Ucap Morgan berdiri tiba-tiba.


" Loh, kok pulang? " Panik Reyna ikut berdiri.


" Saya hilang selera. Apalagi setelah di panggil Gaven dan tahu ini tempat langganan kamu sama dia. Jangan-jangan kamu juga nganggap Saya Gaven, ada Saya serasa sama Gaven. "


" Gavin, " Ralat Reyna.


" Jangan sebut namanya! "


" Loh, kok? Sepupu, dia itu cuman— " Perkataan Reyna terpotong oleh Morgan yang pergi begitu saja menghampiri si pemilik kedai.


" Buk, pesanan Saya dibungkus saja. Saya beli semua yang ada, " Ucap Morgan.


" Yang punya Neng Angel ya? Siap den Morgan! Walah.. Rezeki nomplok, " Girang si mbok melayani dengan semangat.


Ditempatnya Reyna dibuat melongo, apalagi melihat Morgan yang datang dengan keresek hitam besar ditangannya dan menarik tangan Reyna pergi begitu saja dari sana.


Sesampainya di depan Mobil, Morgan membuka pintu dan mendorong Reyna masuk dengan disusul dirinya yang mengelilingi mobil dan terduduk di tempat kemudi.


" Morgan! Gue mau makan di sini! Loe— "


Brum..


Tanpa mendengarkan Reyna yang pastinya akan mengamuk, Morgan menancap gas dan melesat membelah kota dengan laju kecepatan tinggi.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Di kediaman Alexander, terlihat si tua Alex tengah menyesap teh buatan menantunya dengan khidmat. Bersama Lyandra yang setia menemani sang suami dengan sebuah majalah di tangannya.


Sementara di sofa lain, Mikhael tengah bermanja pada istrinya Mikhayla tanpa memperdulikan ada Aaron dan Kia yang sedang bermain di karpet bulu depan sana.


" Kia, ingat tidak tadi Kakak ganteng yang nyampelin Aalon? " Tanya Aaron dengan mobil-mobilan ditangannya.


" Iya. Kenapa gitu? " Tanya Kia yang sama sibuknya dengan boneka barbie yang sedang disisirnya.


" Itu pacarnya Kakak Nana tahu! " Seru Aaron dengan wajah pamer.


" Pacar? Oh.. Bagus. Kia kira aunty Nana jomblo, " Balas Kia santai.


" Iya. Tampan kan? Malah lebih tampan dari Kakak kamu yang nyeremin itu, " Ceplos Aaron.


" Ih.. Bang Morgan itu ganteng tahu! " Sewot Kia menatap Aaron tidak suka.


" Enggak. Gantengan Kakak pacarnya Kak Nana! "


" Abang Kia juga ganteng! " Seru Kia tidak terima.


" Gantengan pacar Kak Nana! "


" Ih.. Gantengan Abangnya Kia pokoknya! "


" Abang kamu gantengnya palsu, pake bedak kayak Mommynya Aalon. Kalo Kakak tadi gantengnya asli, kayak-kayak hot daddy lagi. " Ceplos Aaron tanpa menatap Kia, sibuk memaju-mundurkan mobil-mobilannya.


Entah dari mana bocah itu mengenal kata hot Daddy. Mungkin dari beberapa aunty-aunty nakal yang selalu menggoda Daddynya dikala Marchel mengantar Aaron ke sekolah.


" Abang Morgan gak suka pake bedak yah! " Teriak Kia berdiri dengan kasar.


" Masa? Perasaan Abang kamu putih banget, kayak pake bedak. Eh, dia emang pake bedak kan ya? " Ucap Aaron mendongak dengan wajah menyebalkan menurut Kia.


" Enggak! "


" Iya kok. Tahu Aalon juga, "


" Aaronn!! "


" Apa? "


" Hey hey, kok pada ribut? Ada apa? " Bella datang bersama Marchel yang sudah mengenakan pakaian santai.


" Mommy! " Aaron dengan kaki kecilnya berlari menghampiri Bella.


" Apa tampan? " Bella berjongkok menyamakan tingginya dengan sang putra.

__ADS_1


" Kia— "


" Mommy! " Kia berteriak memotong perkataan Aaron.


" Sini! " Mikhayla memangku Kia dan mendudukannya di antara dirinya dan Mikhael.


" Kenapa? " Tanya Mikhael mengelus pipi gembul putri tunggalnya itu.


" Masa ya, bang Morgan kalah sama pacarnya aunty Nana. Mommy, abang Kia tampan kan? Bahkan tampan banget, " Oceh Kia memandang Mikhayla dengan mata bulatnya.


" Pacar? " Ulang Mikhayla dengan kening berkerut.


" Sejak kapan aunty kamu punya pacar? Bukannya aunty kamu jomblo? " Celetuk Mikhael kelewatan datar.


" Sembarangan! " Aaron membentak tak terima. " Kak Nana gak jomblo tahu, dia udah punya pacar. Pacarnya ganteng, bahkan lebih ganteng dari abangnya Kia! "


" Oh ya? Sama Daddy lebih tampan siapa? " Tanya Marchel sedikit membungkuk guna membawa Aaron kedalam gendongannya.


" Gantengan dialah! " Ceplos Aaron polos membuat Bella hampir menyemburkan tawanya.


Marchel memandang istrinya tak suka, " Awas kamu! " Ancamnya. Lalu pandangannya kembali pada sang putra, " Aaron pernah ketemu gitu? "


" Heem, " Jawab Aaron mengangguk.


" Kapan? "


" Di sekolah, "


" Masa gantengnya lewatin Daddy. Menentang hukum alam itu, " Canda Marchel.


" Kakak itu memang tampan Daddy. Dia— "


" Enggak! Pokoknya abang Morgan paling ganteng! " Teriak Kia memotong.


" Gak ngaca. Heh Kia, pacarnya Kak Nana itu jauhh lebih ganteng dari Kakak kamu! Kakak kamu jelek! "


" Heh, gak sopan kamu. "


Sontak Aaron menutup mulut menggunakan tangan kecilnya dengan mata membulat lucu saat melihat kedatangan Morgan bersama Kakaknya Reyna.


"Abang.. Aaron jahat! " Kia mengadu sembari menghampiri Kakaknya.


Di sisi lain Aaron menenggelamkan kepala kecilnya pada leher sang Daddy seraya bergumam pelan:


" Aduh, habis aku. "


Marchel terkekeh dengan kelakuan absurd putranya. Tingkah menggemaskan Aaron mengingatkannya pada sifat David sewaktu dulu, aktif dan jahil. Namun sayang, semakin dewasa anak sulungnya itu malah semakin mirip dengannya dulu, dingin.


" Makan dulu, Angel! " Titah Bella saat Reyna melewati mereka begitu saja.


" Angel beli bakso, " Ketus Reyna.


" Bicara kamu! " Bentak Marchel tidak suka.


" Maaf. Nanny, ambilkan mangkuk sekalian sama garpuh dan sendoknya juga segelas air putih ke kamarku! " Teriak Reyna berlalu menaiki tangga.


Untuk sesaat suasana hening karena bentakan Marchel. Sedetik kemudian tatapan mereka beralih pada Morgan seakan meminta penjelasan.


Morgan tersenyum tipis, " Biarkan saja. Dia marah karena tidak aku turuti keinginannya, " Ucap Morgan yang diangguki mengerti oleh semua.


" Memang Rain mau apa, bang? " Tanya Mikhayla ketika Morgan terduduk di sampingnya.


" Makan bakso di tempatnya, "


" Kenapa tidak kamu turuti? " Giliraan Mikhael yang bertanya.


" Banyak lelaki, risih. " Balas Morgan singkat.


Mikhael mendelik, " Dasar bucin, "


" David? " Tanya Morgan saat matanya tidak bisa menangkap keberadaan temannya itu.


" Baru saja pergi menjemput Naya, " Bella menjawab.


Morgan mengangguk. Lalu tatapan Morgan tertuju pada Aaron dan Kia yang lagi-lagi sibuk adu mulut mempermasalahkan masalah yang belum terselesaikan tadi.


" Pacar Nana? " Morgan menyela, menatap kedua bocah itu penasaran.


Kia mendekat, memegang lutut Morgan dan memberi isarat untuk Kakaknya menunduk agar dia bisa berbisik.


" Aunty Nana udah punya pacar, abang. Abang kurang gerak cepat, "


_-_


TBC!

__ADS_1


__ADS_2