Crazy Cousin

Crazy Cousin
Memilih Menerima


__ADS_3

Marchel menghela nafas, dia menatap Bram yang sedang memijit pelipisnya pusing oleh keadaan yang nyata.


" Sebenarnya apa rencana putramu, Ecel? " Tanya Bram dengan ekspresi wajah lelah.


Bram sangat lelah. Di satu sisi ada Marchel yang tidak gugur tidak angin meminta imbalan atas perbuatannya di masa lalu, dan menginginkan Nayara untuk itu.


Namun di sisi lain, ada Nayara putrinya. Bram tahu Nayara dan David pernah memiliki hubungan di masa lalu. Tapi, ayolah! Itu masa lalu, masa di mana mereka masih remaja dan labil. Beda halnya dengan sekarang yang sudah sama-sama dewasa. Tentu Nayara menolak, apalagi katanya dia tidak mengenal David yang sekarang.


Posisi Bram saat itu serba sulit. Maju kena mundur pun kena. Jika menolak, Marchel akan siap menjadikannya gelandangan. Namun jika menerima, kasihan putrinya yang harus jadi korban.


Katakanlah Bram egois, tapi baginya kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga ada pada harta. Karena jika tanpa harta, akan banyak konflik yang bermunculan. Maka dari itu, Bram tidak gegah dengan langsung menolak permintaan Marchel, melainkan berbicara baik-baik terlebih dahulu. Semoga saja dia bisa menyelamatkan perusahaan juga kehidupan putrinya.


" Putraku mencintai putrimu, Bram. Dia sungguh-sungguh menginginkannya, " Balas Marchel.


For Your Informations, hanya ada mereka berdua di sini. Elly, Bella dan lainnya turut meninggalkan ruang keluarga beberapa saat yang lalu.


" Tapi.. Bagaimana dengan putriku? Kau tidak memperdulikan perasaannya? Bagaimana jika dia mencintai yang lain? Dan bagaimana jika rumah tangga mereka gagal nanti? Kau akan membiarkan putriku menjadi janda di usia mudanya? Apa kau menjamin kebahagiaannya setelah menikah? " Tanya Bram menuntut.


" Mereka saling mencintai, Bram. Bedanya, David menyadarinya sedangkan Nayara tidak. "


" Wah, ha ha.. " Bram tertawa hambar mendengar jawaban yang Marchel berikan.


" Itu dulu, men. Come on! Kau tahu kan jika mereka memang pernah berpacaran? Tapi itu dulu, Ecel. Dulu. Hati mudah berpindah, dan bagaimana kau bisa seyakin itu jika putriku masih menyimpan rasa pada putramu? "


" Apa kau tidak tahu perasaan putrimu sendiri? " Tanya balik Marchel.


" Tentu akuβ€” "


" Apa kau memperhatikan kepribadian putrimu setelah berpisah dengan putraku dulu? "


" Ituβ€” "


" Dan apakah setelah berpisah dengan putraku, putrimu membawa atau bahkan mengenalkan pria lain sebagai pacarnya selama ini? "


Bram dibuat bungkam.


" Tidak, bukan? " Marchel terkekeh sinis. " Jangan remehkan aku, Bram. Kau tahu aku bukan orang yang asal mengambil keputusan jika merugikan sebelah pihak. Kau tahu mata-mataku tersebar di mana-mana, " Kata Marchel.


" Tapi jika kau tidak juga mengerti dan menyambut baik rencana baikku makaβ€” "


" Bagaimana jika putriku tak bahagia? " Tanya Bram memotong perkataan Marchel.


" Bagaimana jikapun memang putriku masih menyimpan rasa pada putramu, tapi setelah menikah dia maupun putramu sadar jika itu bukanlah rasa cinta yang sesungguhnya, melainkan rasa biasa yang mereka salah artikan dan berakhir dengan hancurnya pernikahan. Bagaimana? "


Marchel mengangkat sebelah alisnya, " Kau meragukan perasaan putraku? "


" Tidak tidak. Aku tahu David sungguh-sungguh mencintai putriku, hanya saja caranya yang tidak benar. Yang aku bicarakan adalah putriku, Ecel. Nasib Nayara selanjutnya, " Tekan Bram.


" Nasib. Tulisan takdir sudah di atur oleh Tuhan, Bram. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikutinya saja, begitupun dengan mereka. Jika memang Nayara tidak lagi mencintai David, maka biarkan David yang berusaha mendapatkan hatinya lagi. Saranku, terima saja pernikahan ini. Jika sampai David berani menyakiti Nayara karena orang ke tiga, aku sendiri yang akan memisahkan mereka. Aku berjanji, " Ucap Marchel mantap.


Bram menatap Marchel dengan mata memicin, dia menghela nafas dan mengangguk singkat.


Sudut bibir Marchel terangkat tipis. Teringat akan sesuatu, Marchel kembali berkata:


" Rey. Kirim putramu ke luar Negri selama Nayara belum mengandung anak David, ".


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Hari berikutnya..


Setelah perbincangan Marchel dan Bram semalam, keduanya sepakat untuk melanjutkan perjodohan. Sempat ada cekcok antara Bella dan Marchel, juga Bram dan Elly karena kedua Ibu itu tidak setuju jika putra-putrinya menikah tanpa cinta.


Namun dengan kekuatan seorang suami, baik Elly maupun Bella akhirnya tunduk akan keputusan mereka. Bedanya, Elly mulai menerima dengan lapang dada dan berulangkali menasihati Nayara sedangkan Bella malah menjadi cuek pada David maupun Marchel. Karena menurutnya langkah yang kedua pria itu ambil adalah salah. Ya itu memang benar, mereka memang salah dengan memaksa Nayara menikah.


Pagi ini, seluruh keluarga sedang terduduk di ruang makan siap untuk menyantap sarapan. Di sana hanya ada keluarga besar Alexander, karena Bram dan keluarga kecilnya sudah pulang malam itu juga.


" Mom! " Reyna menuruni anak tangga.


" Mom, Angel mau main ya? " Izinnya memeluk pinggang Bella yang sibuk menyajikan makanan dari belakang.


" Main ke mana kamu? Bukannya kerja? " Marchel bertanya.


" Males, " Jawab Reyna singkat.


" Pekerjaan dan urusan pribadi harus kamu pisahkan, Angel. Jika ingin sukses, kau harus bersikap profesional. " Ujar Opa Alex angkat suara.


David memilih diam.


" Benar apa kata Opamu, Angel. Duduk dan sarapanlah! Setelah itu pergi ke kantor bersama David, " Lanjut Oma Lyandra.


Reyna melepaskan pelukannya dari Bella, " Maaf, Opa, Oma. Bukannya Angel tidak profesional, tapi Angel memang tidak ingin bekerja di perusahaan Daddy. Angel akan melamar di perusahaan lain saja. Karena jika di perusahaan Daddy, Angel akan di anak emaskan. " Ucapnya menjelaskan.

__ADS_1


" Lalu kamu akan bekerja di mana? " Tanya Bella.


" Gak tahu, "


Bella menepuk jidat. Dia menyentil kening putrinya kesal.


" Aw, sakit. "


" Rain, bagaimana jika kamu bekerja di perusahaan suami tante aja? " Tawar Mikhayla.


" Om Mikhael? " Tanya Reyna melirik Morgan yang tersenyum aneh ke arahnya. Mendadak Reyna merinding.


" Iya. Perusahaannya gak kalah gede loh, Rain. Gajinya juga besar. Yah.. Walaupun pasti para penghuninya tahu kalau kamu anaknya Bella, "


" Gak beda sama perusahaan Daddy dong kalo gitu. Angel males ah! Mending Angel lamar di perusahaan lain aja, " Tolak Reyna.


" Kenapa enggak? Kamu takut gak becus kerja ya? " Tanya Morgan mengompori.


" Maaf, bukannya tidak becus tapi memang Saya tidak berminat. "


Morgan mengangkat bahunya acuh.


" Eum.. Angel gak lapar ah! Angel mau keliling Jakarta aja, kemarin juga seru. Bye all, mwah! " Pamit Reyna pergi setelah mencium pipi Aaron.


" Kakak Kakak! " Teriak Aaron mengejar Reyna dengan kaki kecilnya.


Reyna menunduk, " Apa Boy? "


" Ikut, " Pintanya gemas.


" Kan Aaron sekolah, " Kata Reyna.


" Sekarang jamkos, Aunty. Gak akan belajar, tapi senang-senang. " Kia yang berada di samping Morgan menjawab.


" Bahasa apa itu, jamkos? " Tanya Morgan berbisik.


" Bahasa gaul! " Balas Kia membuat mereka tertawa.


" Bar-barnya mirip loe, Key. " Ucap Bella tertawa.


" Kan anak gue dodol! " Balas Mikhayla.


Dengan antusias Aaron mengangguk sambil meloncat-loncat, " Iya iya! "


" Ya udah ayo! " Seru Reyna. " Eh, izin dulu sama Mommy! "


Aaron berlari menuju Bella dan mencium pipinya setelah Bella memasangkan tas kecil di punggung kecilnya. Kemudian mencium tangan David dan yang lain di akhiri dengan kecupan Marchel di pipinya.


" Anak Daddy jangan nakal-nakal ya di sana, "


" Siap! Aaron belangkat, papay! " Pamitnya melambai tangan.


Morgan menatap ngeri pada cara adiknya makan yang bagaikan kesetanan.


" Kia, pelan-pelan! " Tegur Morgan.


" Harus cepat, Abang. Kia mau sama Aaron sama Aunty Nana juga. "


" Jangan panggil Nana! " Tegas Morgan. " Karena itu nama panggilan khusus dari gue, " Batinnya.


" Bodolah! Aunty Nana tungguin Kia!! " Teriak bocah itu mengejar Reyna dan Aaron yang telah pergi.


" Ck anak itu, jangan panggil Nana!! " Teriak Morgan menatap kepergian adiknya kesal.


" Cemburu kok sama bocah, " Kekeh Mikhael.


" Daddy diem! "


Mikhael mengangkat bahunya acuh.


" Bang, anterin sana! Rain pasti udah berangkat, kamu anterin Kiannya. Nangis bombai adik kamu pasti, " Ucap Mikhaeyla.


" Tapi Abang punya jadwal meeting hari ini, Mom. Sama Zaidan aja, " Alibi Morgan.


" Bisa Daddy ganti, "


" Zaidan juga sibuk, ada pertandingan basket. " Tolak anak kedua Mikhayla yang asik makan dengan tenang tanpa menghiraukan keadaan sekitar.


Morgan mencibir tanpa suara.


" Apalagi alasannya? Udah sana! Sekalian pendekatan sama Rain, " Usir Mikhayla.

__ADS_1


" Ck, iya iya. Morgan pamit, " Ucapnya melangkah pergi dari sana.


" David, ajak Nayara memilih gaun pengantinnya hari ini! Karena pernikahannya di pajukan menjadi tiga hari lagi, " Pinta Marchel membuat mereka tersedak.


" Gak sekalian aja besok. Atau enggak sekarang aja, " Sinis Bella tanpa menatap putra maupun suaminya.


Mikhayla dan yang lain hanya diam tanpa memiliki niat untuk ikut campur. Karena mereka sadar jika keadaan ini sedikit sensitif. Mereka takut salah berkata dan malah membuat suasana menjadi keruh saja.


Marchel menghela nafas, dia menatap David.


" Boy, "


" Iya, Dad. Setelah ini David jemput Naya, " Ucap David patuh.


Bella mengepalkan tangannya. Dia tidak suka pada cara Marchel yang membela bahkan memenuhi keinginan gila putranya untuk menjerat seorang gadis.


Di hadapkan dengan situasi seperti ini membuatnya terkenang masa-masa di mana Marchel memaksanya menikah dulu. Bahkan dulu Bella sampai ketakutan pada Marchel. Dan sekarang, sepertinya nasib Bella akan terulang pada Nayara.


Harapan Bella hanya satu, jika memang tidak bisa di hentikan, semoga saja pernikahan itu berjalan mulus. Dan hubungan David dengan Nayara pun dapat sebaik dirinya dan Marchel.


Jangan sampai Nayara tersakiti.


πŸƒπŸƒπŸ‚πŸƒπŸƒ


...Di kediaman Bramasta...


" Naya, David datang sayang! " Teriak Elly dari lantai bawah.


Nayara menghela nafas, dia mengepalkan tangannya dan berusaha bersikap tenang. Setelah di rasa dirinya tenang, Nayara pun menenteng tas kecilnya dan turun menghampiri David.


" Ayo, " Ajak Nayara.


" Jalan sekarang ya? Nak David gak mau minum dulu? " Tawar Elly.


" Tidak usah, Tante. Makasih. Putrinya Saya ambil dulu, " Izin David sopan.


" Iya. Kalo mau sekalian jalan-jalan juga gak papa kok, asal jangan kemaleman aja pulangnya. "


David mengangguk sambil tersenyum tipis.


" Ayo, " Ulang Nayara.


" Mom, Naya pamit. "


" Hati-hati kalian! "


Nayara duduk di samping David yang mengemudi. Dirinya telah meyakinkan hati dan akan menerima semua ini. Masalah nasib pernikahan ini kedepannya, Naya tidak mau ambil pusing.


Jika memang jodoh, mereka akan langgeng. Tapi jika tidak, maka perpisahan tidak bisa dihindari.


" Jangan memikirkan perpisahan. Karena sampai matipun aku tidak akan melepasmu, "


Suara David mengagetkan Nayara. Kepalanya menunduk, memilin jemari dengan gaunnya.


" Iya, maaf. "


David diam. Menyadari jika mereka belum terikat hubungan pasti dan dia tidak bisa bersikap seenaknya pada Nayara.


" Setelah menikah, aku ingin kau tinggal bersamaku. Di rumah baru yang telah aku siapkan, " Ucap David tegas, tanda jika dia tidak menerima penolakan.


Nayara terkejut, dia hanya bisa mengangguk kecil dengan jantung berdegup kencang.


" Se-setelah menikah, a-aku ingin Kakak memberikuβ€” "


" Itu sudah kewajibanmu melayaniku. Pernikahan kita tiga hari lagi, dan selama itu kau harus mempersiapkan diri. Karena malamnya, meskipun tidak mau aku akan tetap memilikimu. "


Nayara ingin menangis rasanya. David tidak bisa di ajak kompromi.


" Belum juga apa-apa sudah gemetar, bagaimana jika saat aku melakukannya. " Kekeh David sinis.


Nayara semakin menundukkan kepalanya, " Aku akan habis, " Batinnya menjerit dengan mata terpejam kuat.


David melirik Nayara, dia tersenyum tipis. Fikirannya melayang pada kesenangan setelah mereka menikah, di mana dia di bangunkan oleh Nayara yang sexy dengan rambut basahnya.


Ah.. Memikirkannya saja sudah membuat David tegang.


" Aku akan memiliki ragamu dulu, setelah itu hatimu. Karena aku yakin, jika cinta terdapat pada lelaki semuanya akan berjalan lancar. Meskipun di awali pemaksaan, " Batin David tersenyum menanti hari yang akan segera datang.


_-_


TBC!

__ADS_1


__ADS_2