
Reyna terduduk di samping pria yang sedang menundukkan pandangannya. Menyodorkan sebotol air mineral membuat Morgan mendongak menatap wajahnya.
" Minum dulu, " Ujar Reyna.
Morgan lantas menurunkan tatapannya pada minuman yang Reyna bawa. Menerima dan meminumnya hingga tersisa setengah.
Untuk beberapa saat keheningan melanda keduanya. Morgan dengan trauma yang baru dia sadari akan keberadaannya setelah lama hilang ingatan dan Reyna dengan pikiran campur aduknya atas tingkah Morgan yang tidak seperti Morgan dewasa yang dia kenal.
" Na, " Morgan angkat suara.
Reyna menatap Morgan sekilas, " Hem, "
" Loe janji sama gue, "
" Apa? "
" Jangan tinggalin gue lagi. Loe harus janji, "
Reyna membalikkan seluruh tubuhnya menjadi menghadap Morgan.
" Ingatan loe udah balik ya? " Tanya Reyna tanpa menjawab perkataan Morgan.
" Iya, " Angguk Morgan.
" Pantesan. Syukur kalo gitu, gue ikut seneng. "
Morgan tersenyum tipis, " Makasih, "
" Hem, "
" Loe belum janji, "
" Janji apa? Gue gak bisa janji apa-apa, Morgan. Gue manusia biasa, gue bukan Tuhan. Di sini gue hidup mengikuti alur takdir. Pergi, menetap, bersama, berpisah, semua bukan atas kemauan gue. Tapi atas jalannya takdir, " Jelas Reyna yang tahu kemana arah perkataan Morgan.
Morgan menatap Reyna dalam, sangat dalam. Tatapannya menyiratkan ketakutan dan kebenciannya pada diri sendiri karena merasa gagal dalam menjaga Reyna.
" Gue takut, "
Reyna terkekeh, " Apa sih yang loe takutin? Sampe-sampe teriak gak jelas kayak barusan. Malu banget gue tahu gak? "
" Gue takut loe pergi, Na. Pergi ke tempat di mana gue gak bisa menemui loe lagi. Loe jauh dari gue, gue gak bakalan bisa naik kendaraan apapun buat ketemu loe. Kecuali kalo gue ikut ma— " Jari telunjuk Reyna menempel di bibir Morgan.
" Takdir, "
" Tapi gue gak suka kalo loe pergi! " Bentak Morgan menghempas kasar telunjuk Reyna dari mulutnya.
" Gue gak suka. Gue gak suka kalo loe ninggalin gue sendiri. Gue sama siapa Na? Gue sepi tanpa loe. Sumpah gue gak ridho. Gue gak mau loe ninggalin gue, lebih baik gue aja yang ninggalin loe duluan. "
" Dasar gila, " Decis Reyna.
" Omongan loe kayak tahu gue bakal mati deket-deket tahu gak? "
__ADS_1
" Jangan! "
" Ya makannya jaga tu bacootan! " Semprot Reyna kesal.
" Maaf, "
" Morgan, "
Morgan kembali menatap Reyna.
" Gue serius dengan ucapan gue barusan. Gue ikut seneng ingatan loe kembali, seneng banget. Untuk kejadian di masa lampau, biarlah itu berlalu dan jangan kita tengok ke belakang. Perlu gue ulangi itu memang takdir, itu bagian skenario yang memang terdapat dalam garisan takdir gue. "
" Jadi loe jangan menyalahkan diri apalagi menyesalinya. Justru di sini gue yang harusnya kesal. Loe dengan bodohnya ikut terjun bukannya cari bantuan buat gue, "
" Nanti loe kesepian. Makannya gue temenin, " Celetuk Morgan dengan wajah tanpa dosa.
" Cih, sinting! "
" Serius, " Angguk Morgan.
" Terlepas dari apapun itu gue gak peduli. Yang jelas gue bener-bener kecewa sama tindakan loe. Sebelum loe mempertaruhkan nyawa loe, ingat ada orangtua dan adik-adik loe yang masih membutuhkan kehadiran loe. Jangan bodoh dengan mengorbankan hidup loe demi gue, gue gak bakalan seneng lihatnya. " Ucap Reyna benar-benar.
" Loe mau tahu yang ada di pikiran gue waktu itu? "
" Apa? "
" Tiga hal. Reyna, Reyna, dan Reyna. Hanya loe yang ada dipikiran gue. Makannya tanpa berfikir panjang gue lompat nyusul loe ke bawah sana, "
Reyna tertegun mendengar penuntunan Morgan. Seberarti itukah dia untuk Morgan? Sepenting itukah dirinya bagi si sepupu meesum ini? Benarkah? Rasanya sungguh sulit dipercaya.
" Hem. Loe memang beruntung bisa dapetin gue, "
" Hah? " Beo Reyna.
Morgan menatap Reyna santai, " Istri gue nanti kan elo, " Tunjuknya tepat di depan wajah Reyna.
Reyna mendelik. Tanpa ragu dia menggigit jari yang menunjuknya sampai Morgan memekik kesakitan.
" Aaaa.. Nana!! "
" Rasain! "
Morgan mengibas-ngibaskan tangannya yang salah satu jari digigit Reyna hingga meninggalkan jejak.
" Tega loe Na. Jari legend gue main loe gigit aja. Kanibal dasar! "
" Bodo! "
" Masih belum hilang juga kebiasaan gigit orang. Aws, " Cibir Morgan diakhiri ringisan.
" Salah loe tunjuk-tunjuk gue. Gue kan emang gitu, " Balas Reyna menggerutu.
__ADS_1
Morgan tertawa singkat. Tanpa aba-aba dia menarik Reyna dan memeluknya erat, sangat erat sampai membuat Reyna kesuliatan bernafas.
" Kangen banget gue sama loe... Nana, " Ucap Morgan geregetan.
" Uhuk uhuk, Mor lepas! Lepas ih sesek tahu, "
" Gak mau. Gue kangen Nananya Morgan... " Balas Morgan menggoyangkan tubuh mereka pelan.
" Mor, malu dilihatin orang ih! " Ucap Reyna menatap sekitar yang memang banyak orang yang memperhatikan mereka.
" Gak mau, " Kata Morgan kekeh. Malahan dia menelusupkan kepalanya di leher jenjang Reyna.
" Kangen banget gue sama loe Na. Kangen banget sumpah, " Ucapnya lirih.
Reyna yang sempat berontakpun mendadak terdiam. Hingga perlahan tangannya terangkat membalas pelukan Morgan dengan dagu Reyna simpan di kepala Morgan.
" Gue juga, " Balas Reyna jujur.
Morgan tersemyum. Dia semakin mengeratkan pelukan mereka dan menghirup rakus aroma tubuh Reyna.
Begitupun dengan Reyna yang mulai memejamkan matanya dengan tangan menepuk-nepuk punggung Morgan pelan.
" Na, "
" Hem, "
" Gimana kalo kita pacaran aja? "
" Gak mau! " Jawab Reyna tanpa berfikir panjang.
" Ish, " Morgan merajuk.
" Kita sepupu, Morgan. Darah yang sama mengalir dalam tubuh kita, " Ingat Reyna.
Morgan semakin membenamkan kepalanya pada leher Reyna.
" Kita mungkin memang sepupu. Tapi loe punya gue, " Ucap Morgan mutlak.
Plak!
Reyna menampar punggung Morgan keras.
" Kebanyakan scroll sosmed loe! "
" Gue serius, " Kata Morgan tanpa mengubah posisi mereka yang masih berpelukan.
" I'm mine. Not you, or somebody peoples. "
Tanpa ragu Morgan membalas:
" Maybe you're not mine. But only I can have you, only me. "
__ADS_1
_-_
TBC!