
Rey menatap adiknya yang sedang menunduk tepat di depannya.
" Ada apa? " Tanya Rey to the point. Pasalnya Nayara tiba-tiba datang ke kamarnya dengan gerakan ragu-ragu.
" Ada apa, Nayara? " Ulang Rey menekankan.
" Aku.. "
" Ya? "
" Aku ingin mengatakan seuatu pada Kak Rey, " Ucap Nayara pelan.
" Apa? "
Nayara mengangkat kepalanya berusaha menatap Rey serius walaupun tubuhnya kini tengah berkeringat dingin.
" Tapi Kak Rey janji dulu! "
" Janji? " Ulang Rey.
" Janji gak akan marah. Hem? Gak akan marah, Kak Rey gak boleh marah sama Naya okay? " Pinta Nayara menatap Rey dengan wajah polosnya.
Rey hampir saja memuntahkan tawanya melihat raut wajah polos dan takut-takut itu. Ingin sekaki dia melahap adik manisnya bulat-bulat.
" Kak Rey.. " Rengek Nayara melihat Kakaknya yang tidak merespond.
" Tergantung, " Balas Rey. " Tergantung apa yang kau bicarakan membuatku kesal atau tidak, " Lanjutnya berkata.
Kepala Nayara kembali menunduk, jari-jemarinya saling membelit dengan gigi menggigit pipi bagian dalamnya.
" Sebenarnya kau berbuat apa sampai takut pada Kakakmu ini, Nayara? "
" Hah? E-enggak kok, enggak. Nayara gak nakal, Nayara buat kesalahan kok. " Geleng Nayara cepat.
" Benar? " Tanya Rey menatap Nayara curiga.
" Iya, " Balasnya mengangguk.
" Lalu apa yang ingin kamu bicarakan sehingga menatap Kakak saja seperti tidak bisa? "
" Bu-bukan begitu, "
" Langsung katakan! "
Nayara semakin dilanda kegugupan.
" Bagaimana ini? Kak Rey masih belum bisa diajak berbicara tentang ini kelihatannya. Tapi jika tidak sekarang, kapan lagi waktunya? Satu hari lagi. Iya, waktu yang Kak David beri masih satu hari lagi. Aku akan mengatakannya di hari berikutnya saja, " Batin Nayara tanpa sadar mengangguk-anggukan kepalanya.
" Nayara! "
" Aku ingin ke mall! " Nayara membentak tanpa sadar. Dia kaget dengan teriakan Rey barusan.
" Mall? " Beo Rey.
__ADS_1
" Naya pengen belanja, Kak Rey. Daddy akhir-akhir ini pelit, dia bahkan sering potong uang bulanan Naya. Butik Mommy juga penghasilannya lagi turun. Karena Kak Rey punya perusahaan sendiri yang pastinya punya uang banyak, yuk traktir Naya! " Girang Nayara memperhatikan binar palsunya.
Rey menatap adiknya heran, namun sedetik kemudian dia memalingkan wajah dengan tawa kecil yang terdengar.
" Lucu sekali kau ini, "
" Kak Rey, ayo! " Rengek Nayara menarik-narik tangan Rey.
" Tidak, "
" Ih.. Kakak!! "
" Ck, iya iya. Awas kalo belanjanya banyak! "
" Gak kok, sedikit. Mau ya? "
" Hem, "
" Yey! " Girang Nayara.
Nayara menarik tangan Rey membuat Kakaknya itu bangun dari duduknya. Mereka melangkah bersama menuju lantai bawah dengan Nayara yang menggandeng lengan Rey. Celotehan Nayara disetiap langkah mereka membuat Rey tanpa sadar menyunggingkan senyuman bahagia dengan kedekatan mereka.
Keduanya asik menghabiskan waktu bersama tanpa sadar jika sejak tadi kebersamaan mereka dipantau lewat benda kecil dengan sinar mereh di pojok ruangan.
Brak!
David menggebrak meja. Dia menatap kebersamaan istrinya dan Kakak ipar yang jelas-jelas masih mencintai Istrinya itu dengan tatapan marah.
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Ketika sang Kakak tengah dilanda marah karena menyalanya api cemburu yang membara, maka sang adik adalah kebalikannya.
Reyna berjalan setengah berjigkrak dengan berteelanjang kaki di tepi pantai bersama Morgan yang menggenggam tangannya dari samping.
Ini adalah hari kedua setelah mereka memutuskan untuk berhubungan secara sembunyi-sembunyi dari si tua Alex. Ya, Reyna dan Morgan sekarang adalah satu. Bukan pancaran, bukan tunangan, bukan juga menikah. Namun mereka tetap milik satu sama lain.
Sungguh hubungan yang rumit bukan?
" Mor, kok gue pengen kelapa muda ya? " Ucap Reyna tiba-tiba membuat langkah mereka terhenti.
" Kelapa muda? " Ulang Morgan. " Ngidam anak siapa loe? Perasaan belum gue jeblos, "
" Anak Taeyong, " Balas Reyna asal.
" Na! "
" Hamil online gue Mor. Gak tahu ya loe? "
Morgan memutar bola matanya malas.
" Eh, di situ ada tuh! " Tunjuk Reyna.
" Ya sudah ayo beli! " Ajak Morgan memggenggam tangan Reyna dan berjalan menuju penjual kelapa muda yang tempatnya tidak jauh dari tempat mereka saat ini.
__ADS_1
Dengan senang hati Reyna mengikuti Morgan.
Setelah membeli satu buah kelapa muda untuk Reyna, keduanya duduk di atas batu yang letaknya lumayan jauh dari daerah pantai namun masih dapat melihat ke sana.
Hari semakin sore namun tampaknya Reyna maupun Morgan masih asik dengan quality time mereka. Dan yang lebih parahnya lagi selama dua hari ini pun Reyna lupa tugasnya sebagai seorang sekretatis.
Untung saja sepupu tercintanya yang baik hati ini berkata sudah meminta izin tidak masuk kerja pada atasannya yang tidak lain adalah Gavin.
Reyna tampak asik menyedot air kepala muda dari kepalanya langsung yang dia pegang sedangkan Morgan sibuk pada ponselnya dengan sebelah tangan merangkul pundak Reyna.
" Na, " Panggil Morgan membuat Reyna menoleh.
" Hem? "
" Panggil gue ayang coba! " Titah Morgan menyimpan ponselnya dan memfokuskan tatapannya pada Reyna.
" Ogah! " Tolak Reyna langsung.
" Na ih! "
" Loe kok jadi alay sih Mor? Sejak kapan loe mau dipanggil Ayang? Dapat bahasa dari mana loe? " Cerocos Reyna.
" Gue tadi baca aplikasi Novel online. Terus di sana pemeran wanitanya panggil ayang sama pasangan. Gue juga mau lah Na, masa kalah sama dunia khayalan. " Dengus Morgan.
" Gue gak mau! "
" Na! "
" Ogah Morgan. Alay tahu gak? "
" Nana ih! "
Reyna menyimpan kelapa muda ditangannya dan kembali menatap Morgan.
" Kenapa loe mau dipanggil gitu sih, Ayang? " Ucap Reyna menatap Morgan dengan senyuman geliknya.
Morgan melongo, sedetik kemudian dia tertawa dan menghadiahi banyak kecupan di permukaan wajah Reyna.
" Gemesin banget sih loe? Loe milik siapa sih? Oh iya milik gue, " Ucap Morgan sambil memeluk Reyna.
Reyna memukul dada bidang Morgan pelan, " Siting loe! "
" Biarin, "
Reyna tersenyum dan balik melingkarkan kedua tangannya di punggung Morgan. Mereka bersama-sama menikmati matahari tenggelam dengan ditemani satu buah kelapa muda disamping Reyna.
_-_
TBC!
Dikit? Telat?
Maaf. Hari ini berat banget rasanya, jadi baru bisa up malam, sedikit, itupun dengan mood yang kurang baik.
__ADS_1