
Di pinggir jalan dengan sinar matahari yang sedang panas-panasnya, Arzan menggerutu kesal menatap layar ponselnya yang baru dia matikan.
" Morgan syalan! " Maki Arzan menggelegar.
Kesal sekali Arzan. Dengan santainya Morgan menyuruh dia dan sopir menunggu di tepi jalan dengan alasan ingin bersama Reyna sebentar. Barusan, dengan tidak merasa bersalahnya Morgan kembali mengabarinya menyuruh mereka pulang.
Jika memang pada akhirnya tidak akan kembali juga, kenapa Morgan menyuruh mereka menunggu lama di sini? Tidakkah pria itu tahu bahwa mereka kepanasan menunggu hampir dua jam lamanya di pinggir jalan?
Arzan masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu. Nafasnya memburu saking kesalnya dia kepada Morgan.
" Jangan muncul di depan gue loe Morgan, kalo gak mau gue cabik-cabik ginjal loe, " Geram Arzan.
Menyeka keringat di dahinya, Arzan mengkode sopir untuk mulai menjalankan mobil menuju perusahaan.
Sedangkan di sisi lain, Morgan mengendarai mobil Reyna dengan sebelah tangan menggenggam tangan Reyna.
Setelah menghabiskan waktu lumayan lama di taman kota, Morgan memutuskan mengajak Reyna ke apartement lamanya untuk menuntaskan segala kerinduan yang ada.
Apartement? Morgan pun baru ingat dia mempunyai apartement. Jika di hitung-hitung apartement itu tidak lagi berpenghuni setelah dia kehilangan ingatan.
Dan sekarang mereka akan pergi ke sana, tentu kondisi apartement akan tidak seindah dulu.
Suara cekikikan Morgan membuat Reyna mengalihkan pandangan ke arahnya.
" Kenapa loe? "
" Sampai di sana loe jadi babu dulu ya, Na? "
Kening Reyna berkerut, " Maksud loe? "
" Apartement gue gak ada yang tahu pinnya. Selama hilang ingatan jelas gak ada yang masuk. Jadi.. Loe tahu kan maksud gue? " Tanya Morgan menaik-turunkan alisnya jahil.
" Cih, ogah! "
" Ayolah Na.. Masa kita mau peluk-pelukan di atas debu? "
" Pokoknya gue gak mau. Lagian siapa juga yang mau pelukan sama loe, " Balas Reyna membuang pandang dari Morgan.
" Eum...Tadi aja siapa yang gue peluk bales peluk? "
" Diem deh, "
" Ah.. Malu-malu banget sih loe Na, kayak perawan aja, " Ucap Morgan mencolek dagu Reyna.
" Diem ish! Emang perawan gue, "
" Gak percaya gue. Buktiin yo! Di mana? Hotel apa apartement? "
Reyna menatap Morgan sinis, " Buktiin matamu dasar otak seelangkangan! "
Mendengar perkataan Reyna membuat senyuman Morgan pudar seketika. Reyna yang jelas melihatnya kembali menatap Morgan bingung.
" Kenapa loe? "
" Gue udah gak perjaaka, "
" Ya terus? "
" Gue gak suci lagi Na, " Lirih Morgan.
Reyna berdecak, " Ck, baru nyadar loe? Loe kan memang baajingan kecil pemain wanita. Gak akan ada yang percaya kalo loe bilang loe perjaaka, "
" Tapi kan anak baik selalu pakai pengaman, "
__ADS_1
" Jijik, "
" Na, " Panggil Morgan pelan.
" Hem, "
" Sorry, "
Reyna menoleh, " Buat? "
" Karena nanti loe bukan yang pertama, "
" Gue juga gak mau kali sama loe, sepupu. "
" Hah, sepupu. Lama-lama kata itu bikin gue muak tahu gak?! "
Reyna terkekeh melihat perubahan mood Morgan dalam sekejap.
" Sensian loe kayak anak perawaan, " Ucap Reyna mengcopy ucapan Morgan.
Cup.
Morgan mencium punggung tangan Reyna yang masih digenggamnya lama.
" Kangen, "
" Perasaan dari tadi loe kangen mulu, "
" Satu bulan gue di luar negri loh, Na. Gak kangen loe sama gue? "
" Enggak, "
" Cih, dusta. "
" Serius gue, "
" Na, "
" Loe kok gak jujur, "
" Tentang apa? "
" Hubungan kita saat gue hilang ingatan, " Ucap Morgan.
Reyna menghembuskan nafas pelan sebelum menjawab:
" Kata Mommy, loe bisa dalam masalah besar kalo berusaha mengingat. Loe bisa aja mati Morgan. Maka dari itu gue pilih jalan aman, yaitu diam. "
" Tapi gue gak mati sekarang, Na. Walaupun memaksa mengingat, " Ungkap Morgan menatap Reyna dan jalanan bergantian.
" Gak tahu juga gue. Tapi Morgan, maksud loe ke luar negri itu buat sembuhin ingatan, gitu? Satu bulan ini loe pakai untuk mengembalikan ingatan yang hilang? Di mana loe mendapatkannya? " Tanya Reyna penasaran.
" Terapi, " Jawab Morgan singkat.
" Na, "
" Hem, "
" Gue cinta sama loe. Dari dulu gue suka sama loe dan loe tahu itu. Jadi please kali ini, kali ini.. Aja. Loe jangan membawa status kita sebagai penghalang bersatunya kita, "
" Taβ "
" Reyna, " Potong Morgan.
__ADS_1
Morgan menepi dan menghentikan mobilnya. Kini pandangannya terfokus hanya pada Reyna.
" Please. Loe mau jadi pacar gue, jadi milik gue dan jadi ibu dari anak-anak gue setelah kita menikah nanti. "
Reyna diam. Mulutnya terbuka hendak bersuara namun suara itu seakan menyangkut di tenggorokan. Dia tidak bisa, Reyna tidak bisa menolak ataupun menerima.
" Diam berarti iya, Reyna. Kali ini gue gak terima penolakan, "
" Morβ
Morgan menarik tengkuk Reyna dengan dirinya yang mendekat. Posisi mereka sekarang sangatlah dekat, bahkan Reyna bisa merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya.
" Mari lupakan status kita sejenak, lupakan juga tanggapan keluarga tentang hubungan kita. Ayo berbahagia, Reyna. Berbahagia selagi bisa, "
Cup.
Mata Reyna membola untuk saat. Hingga perlahan mata itu tertutup membiarkan Morgan menempelkan bibir mereka untuk sepersekian detik.
" Kali ini gue gak peduli, Na. Sumpah gue gak peduli jikapun seluruh keluarga menentang ataupun loe yang tidak juga menerima. Gue tahu loe cinta, maka dari itu kemunduran pantang bagi gue sekarang. Loe milik gue Na, loe milik Morgan. " Batin Morgan mulai memainkan bibirnya dengan mata tertutup.
Reyna mencengkram rok spannya di bawah sana. Dia hanya diam dengan perasaan tidak menentu.
" Ini salah. Tapi gue suka. Morgan, loe buat gue tersiksa. " Batin Reyna semakin memejamkan mata.
π π π π π
Seorang pria menginjakkan kakinya kembali di tanah air setelah sekian lama diasingkan keluarga.
Iris hitam miliknya menatap sekeliling dibalik kaca mata hitam yang dipakainya.
" Di mana adikku? " Tanyanya pada seorang pria lain yang setia disampingnya.
" Kediaman Alexander, "
Deg.
Mendadak perasaannya tidak menentu. Jantungnya berdetak cepat dengan tangan yang mengepal erat tanpa sadar.
" Kira-kira sedang apa adik kecilku yang nakal itu di kediaman Alexander? Bertemu sahabatnya? Atau.. Menemui Kakak dari sahabatnya ? "
Erza, nama tangan kanannya. Dia menghembuskan nafas pelan dan tanpa sungkan menepuk-nepuk pundak Rey, sahabat sekaligus atasannya.
" Come on dude! Jangan nething mulu loe sama David. Cerita mereka sudah lama elah.. Loe masih cemburuan aja. Lagian, Nayara itu adik loe. Adik kandung. Jangan gilalah bro! "
Rey menghembuskan nafasnya berat dengan pandangan yang belum terlepas mengamati sekitar.
" Gue gak peduli, " Ucapnya pergi mendahului Erza yang terdiam di tempat.
Erza menatap cengo kepergian Rey. Lagi-lagi dia menghela nafas dan beranjak menyusul langkah Rey dengan kepala menggeleng.
" Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Semoga Tuhan memberi loe kewarasan meskipun sejenak, Rey Bramasta. " Gumam Erza.
Tanpa keduanya ketahui seseorang mengamati mereka dari balik layar. Bram namanya.
Tangan Bram sedikit gemetar melihat kepulangan putra sulungnya yang tanpa kabar. Rasa takut menyelimuti benaknya akan reaksi Rey jika tahu Nayara dia paksa menikahi David.
Tanpa di terka pun Bram tahu bahwa putranya itu pasti akan menyalahkan dirinya yang tidak becus sebagai seorang ayah serta membawa Nayara jauh dari mereka. Itu pun jika bisa melewati David dulu.
Dengan tangan yang masih gemetar Bram meraih gagang telpon dan menghubungkannya pada kediaman Alexander.
" Halo? "
" Nayara, Kakakmu pulang. "
__ADS_1
_-_
TBC!