Crazy Cousin

Crazy Cousin
Pak CEO


__ADS_3

Morgan tampak fokus mengemudi dengan Reyna yang diam memperhatikan jalanan yang mereka lewati.


Sedikit tidak menyangka, namun ini Morgan. Pria itu selalu saja ada akal untuk membuatnya kesal. Dan yang paling membuatnya kesal adalah kasus kebohongan Morgan dua hari lalu.


Untuk apa pria itu berbohong dengan mengatakan Bella menyuruh menjemput Reyna? Membuat mereka pulang bertiga pada akhirnya. Padahal sebelum pulang Reyna dan Gavin berinisiatif untuk mampir ke tempat tongkrongan mereka dulu. Namun hal itu sirna dihancurkan Morgan. Rasa tidak enak pada Gavin masih Reyna rasakan sampai sekarang.


Memang aneh si Morgan itu.


" Loe kenapa sih anterin gue? " Pada akhirnya Reyna angkat suara.


" Mau bilang aunty Key yang maksa, gitu? " Tanyanya mendahului Morgan yang tampak ingin bersuara.


" Gak bakalan percaya gue. Loe itu banyak bohongnya, Morgan. "


" Kapan? "


" Dih, kapan. Lupa ya loe? Saking banyaknya kebohongan loe sampai lupa loe bohong karena apa? " Semprot Reyna. " Atau jangan-jangan bukan gue aja yang loe bohongin? Dasar tukang dusta! "


Morgan diam, enggan menimpali.


" Sekali lagi gue tanya. Apa maksudnya loe nyuruh sopir kantor buat pulang lagi? Loe gila atau gimana sih? Gak ada kerjaan ya loe sampai mau nganterin gue? "


Begitulah faktanya. Baru beberapa menit Reyna berada di dalam mobil Morgan, Gavin mengiriminya pesan yang berisi pertanyaan mengapa dia menolak jemputan dari kantor. Tidak perlu di tanya siapa pelakunya, jelas Morganlah pelakunya!


" Ck, cerewet! "


" Morgan! "


" Masih pagi, Na. Jangan marah-marah, "


" Loe yang buat gue marah ya! "


" Stt.. Diem sayang, Saya lagi nyetir. "


Reyna mendelik. Dia melipat kedua tangan di dada dan menatap depan dengan mulut mencibik.


" Padahal ini hari baru menuju kesuksesan yang luar biasa. Gue kira bakalan berjalan lancar, eh.. Malah kesumbat elo, "


" Kamunya saja, ribet. "


" Apanya yang ribet? Elo resek! "


" Terima aja apa susahnya sih? Saya juga nganter kamu, gak nyulik kamu. Kalo Saya culik kamu baru kamu bilang Saya penghambat, "


Reyna dibuat diam.


" Iya, makasih. " Ucapnya setengah tidak rela.


" Nah, gitu. "


Ting.


Notifikasi yang berasal dari ponselnya membuat fokus Reyna teralihkan.


...Pak CEO...


...Online...


Di mana?


Kamu jadinya sama siapa?


^^^Sama Morgan^^^


^^^Kak Gavin jangan cemas^^^


^^^Palingan bentar lagi juga nyampe^^^


Hem. Hati-hati!


^^^Iya^^^


Reyna menghembuskan nafasnya pelan.


" Sepupu, cepetan gih jalannya! Gue ini sekretaris kesayangan loh, gak enak kalo sampai telat. "


Tanpa berkata Morgan menambah kecepatan mobilnya sampai hanya butuh waktu sebentar mereka sudah sampai di halaman gedung perusahaan Gavin.


" Makasih. Gue keluar bye! "


Hap.


Morgan menangkap lengan Reyna membuat gadis itu menatapnya kesal.


" Apa?! "


Morgan menunjukkan punggung tangannya.

__ADS_1


" Apa? " Heran Reyna menatap punggung tangan Morgan sekilas.


" Salim, " Kata Morgan singkat.


" Hah? " Beo Reyna.


Morgan semakin menyodorkan punggung tangannya.


" Ayo cepet, salim sama Saya! "


" Loe?— Ck, ribet. " Decak Reyna namun tak urung menuruti perintah Morgan.


Setelah menempelkan punggung tangan Morgan pada pipinya, Reyna kembali hendak keluar dari mobil namun lagi-lagi Morgan menahan lengannya.


" Apalagi? " Geram Reyna.


" Ada yang ketinggalan, " Ucap Morgan.


" Apa? "


Cup.


" Ini, "


Deg.


Reyna mematung. Dia menatap Morgan yang tersenyum tipis tanpa rasa bersalah.


" Loe cium pipi gue?! " Pekik Reyna tidak terima.


" Iya. Kenapa? "


" Loe? "


" Sana! Semoga harimu menyengkan, walau tanpa hadirnya Saya. "


" Dih, crazy. " Maki Reyna sebelum keluar dari dalam mobil Morgan.


Morgan terkekeh, senyuman mengembang di bibirnya dengan tangan mulai sibuk pada kemudi, meninggalkan halaman perusahaan Gavin dan menuju perusahaannya sendiri.


Reyna masih memperhatikan kepergian Morgan dalam diam.


" Aneh banget tu cowok, bikin gue ngeri aja. " Reyna bergidik, memilih memasuki perusahaan daripada memikirkan sepupu gilanya itu.


Sesampainya di dalam perusahaan yang kini tempatnya bekerja, Reyna disambut baik oleh resepsionis dan para karyawan lain. Bahkan dia sempat bertanya ruangan CEO pada seorang OB karena Reyna lupa dan dengan baik hatinya OB itu mengantar sampai depan pintu ruangan Gavin.


" Sama-sama Kak Sekretaris, " Balasnya ramah sebelum pergi dari sana.


Reyna menatap ruangan Gavin. Mengetuk dua kali dan masuk saat mendapat sahutan dari dalam.


" Selamat pagi, Pak. " Canda Reyna membungkukkan badan sekilas.


" Pagi, " Balas Gavin terkikk gelik dengan panggilan Reyna untuknya.


" Jadi pekerjaan Saya apa, Pak CEO? "


" Kamu duduk saja di sini, jangan melakukan apapun. "


" Makan gaji buta dong Saya, "


" Siapa yang bilang akan menggajimu? "


" Jahat banget si Bapak-nya, "


" Ha ha.. Sudah Angel sudah, " Tawa Gavin yang diikuti Reyna.


" Sini kamu, " Reyna mendekat ke arah Gavin yang terduduk di kursi besarnya.


" Meja kerja kamu di sana, tepat di pojok depan ruangan ini. Karena mantan sekretaris aku sakit, jadi kamu bisa melihat berkas-berkas yang dia tinggalkan di tempat kerjanya. Jangan lupa konfirmasi padaku dulu jika ingin mengerjakan atau membuang sesuatu, faham? "


Reyna mengangguk.


" Kalo soal jadwal-jadwal meeting Kakak gimana? Bukannya itu di urus sekretaris ya? "


" Untuk itu nanti akan asisten aku jelaskan. Hari ini kamu cukup membenahi meja kerja dan membuang dokumen-dokumen yang sekiranya tidak penting dengan menunjukkanya kepadaku terlebih dahulu tentunya, "


Lagi-lagi Reyna mengangguk, " Oke, "


" Maka dari itu Nona Reyna. Selamat bergabung dan selamat bekerja. Saya harap kinerjamu memuaskan serta dapat diandalkan, " Ucap Gavin menyodorkan tangan.


Reyna menyambar tangan Gavin dengan segera.


" Mohon bimbingannya, Pak CEO. "


Gavin tersenyum, dia mengangguk.


" Aku ke sana dulu ya? "

__ADS_1


" Iya, "


Reyna berjalan menuju meja kerjanya dengan semangat. Dia menyimpan tas dan mulai membenahi ruangan barunya yang sedikit berantakan.


Sementara Gavin yang melihat dari balik kaca yang menghubungkan ruangan mereka tersenyum kecil.


" Ah.. Sepertinya aku akan lebih nyaman berada di kantor, " Gumamnya.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Di tempat lain seorang wanita terlihat sedang memberikan materi pada anak didiknya dengan raut wajah tegas. Dia berkata begitu lancar walaupun menggunakan bahasa asing membuat yang mendengar memilih merekam ucapannya ketimbang menyalin pada buku catatan.


" Comprendre? "


( Mengerti? )


" Oui, "


( Ya )


" Terjemahkan kisah yang Saya ceritakan ke dalam bahasa Indonesia dan English. Saya tunggu di pertemuan yang akan datang, " Ucapnya mengakhiri kelas, melangkah pergi dari sana.


" Ah.. " Desah mereka frustasi membayangkan akan sememusingkan apa saat mengerjakannya.


" Itu banyak coy! Pening nih pala, "


" Miss Frey kalo kasih tugas gak tanggung-tanggung. Satu bahasa dijadiin dua, sial. "


" Hah.. Resiko jurusan bahasa, "


" Kalo tahu gurunya killer gini udah gue skip bahasa Prancis, "


Begitulah sekiranya luapan kekesalan para Mahasiswa jurusan Sastra dan Bahasa.


Mereka kesal pada dosen baru bahasa Prancis yang baru-baru ini mengajar menggantikan dosen sebelumya yang keluar karena menikah. Selain sikapnya yang datar dan selalu profesional tanpa bisa diajak bercanda apalagi negoisasi, beliau juga sangat killer dan tidak tanggung-tanggung dalam memberikan tugas seperti barusan.


Di pojok tempat duduk tampak Zaidan menghela nafas berat. Selalu saja di setiap pertemuan ada tugas untuk pertemuan selanjutnya. Mana tugasnya tidak sedikit lagi. Rasanya ingin Zaidan menghubungi Opa nya dan menyuruh untuk pecat saja dosen baru itu. Sungguh meresahkan.


" Zaidan, kerjainnya sama aku aja gimana? " Tawar seorang gadis cantik berpipi Chubby.


Zaidan menatapnya datar, tanpa menjawab dia menggendong tasnya dan pergi dari sana.


Pantang menyerah, gadis imut itu lantas mengikuti Zaidan dengan sedikit berlari menyamai langkahnya.


" Aku yang bahasa Indonesia kamu Inggrisnya. Aku gak bisa bahasa Inggris, ya Zaidan ya? " Bujuk gadis itu.


Zaidan tetap diam dengan wajah datarnya.


" Iii.. Zaidan.. Ya? Zaidan ya? Ya ya ya? "


Langkah Zaidan berhenti, yang secara otomatis membuat gadis itu berhenti dengan wajah mendongak menatap Zaidan yang menjulang tinggi didepannya.


" Berani kasih apa loe? " Tanya Zaidan dingin.


" Ih.. Kan kita sama-sama untung, kenapa mesti ada imbalannya sih? "


" Gak ada? Ya udah, "


" Eh eh tunggu, tunggu dong. " Ucapnya menarik ujung jaket Zaidan.


" Eum.. Aku turutin satu permintaan Zaidan aja gimana? Aku mau kok di suruh-suruh, asal kamu kerjain aja yang bahasa inggrisnya. He he.. " Tawar gadis itu menyengir.


Kening Zaidan berkerut, " Empat? "


" Dua! "


Zaidan menambahkan satu jari pada lipatan tangan gadis itu.


" Tiga, "


" Oke deal! "


" Nanti gue jemput loe, " Tanpa mendengar jawaban dari gadis itu Zaidan berbalik meninggalkannya.


" Ish, selalu aja susah ngomong. Sariawannya kelamaan kamu Zaidan! " Kesal gadis itu dengan kaki dihentak-hentakan pada lantai.


Tanpa gadis itu ketahui Zaidan tersenyum kecil saat pendengaran tajamnya dapat mendengar gerutuan gadis imutnya itu. Tidak, lebih tepatnya menyeringai.


" Dan, jadi gak? " Tanya pria yang tiba-tiba datang merangkulnya.


" Hem, "


" Yes! "


_-_


TBC

__ADS_1


__ADS_2