Crazy Cousin

Crazy Cousin
Goodbye


__ADS_3

Kembali lagi kok, sabar yaa:)


_____-_________


Tepat sebelum jam menunjukkan pukul 11 malam, Reyna beserta keluarga besarnya minus Opa Alex dan Oma Lyandra mengantar kepergian keluarga Gavin ke bandara.


Setelah memberitahu fakta mengejutkan mengenai Gavin yang memutuskan pembatalan pertunangan, Reyna kekeh ingin mengantar Gavin ke bandara kepada Marchel kan tentunya Marchel beserta keluarga tidak bisa menolak.


Mereka mengerti, sedikit besarnya Reyna menghabiskan banyak waktu dan tergantung kepada Gavin selama ini. Dan merekapun mengerti, tidak semudah itu melepaskan seseorang yang selalu ada untuk kita meskipun tanpa adanya perasaan spesial.


" Angel, " Panggil Bella menarik putrinya yang sejak tadi tidak melepaskan tubuh tegap Gavin.


" Gak mau, hiks.. Angel gak mau ditinggal, " Rengek Reyna teredam di dada Gavin.


Bella menatap suaminya, dia khawatir jika sikap Reyna terus begini kepergian Gavin akan tertunda.


" Angel! " Tegur Marchel namun tak menggerakkan Reyna sedikitpun.


" Rain, " Ucap Mikhayla lembut. " Lepas, ya? Kasihan Gavinnya mau pergi, "


" Gak mau, huaaa.. "


Semuanya menghela nafas lelah. Melihat situasi yang sulit seperti ini terpaksa Gavin melepaskan pelukan Reyna dan mengangkat wajah sembab mantan tunangannya itu.


" Angel, "


" Hem? " Jawab Reyna sesegukan.


" Kita sudah setuju, kan? Kamu juga mengerti apa yang aku sampaikan tadi, kan? "


Reyna mengangguk, " T-tapi tidak— "


" Hey, aku tidak pergi untuk selamanya. Selama kita masih di dunia yang sama, kita pasti bisa bertemu lagi. Meskipun dibelahan yang berbeda, "


" Kak.. " Ucap Reyna menatap Gavin dengan berlinang air mata. " A-aku,— "


Gavin kembali merengkuh Reyna dengan pelukan erat. Diperlakukan seperti itu membuat tangisan Reyna yang sempat reda kembali tumpah.


" Aku gak mau ditinggal, gak mau ditinggal. Hiks.. "


" Stt.. Sudah waktunya, Angel. Sudah waktunya kita berpisah. Tolong, tolong jangan membuatku semakin berat meninggalkanmu. "


" Gak, jangan. Udah jangan pergi aja, hiks.. Di sini, kita nikah aja sekalian biar kamu gak pergi. "


" Cih, " Morgan yang sedaritadi diam mulai muak menyaksikan drama ini. Tatapannya seolah ingin muntah melihat calon istrinya yang terus menempel seperti lintah kepada Gavin. Jika bukan karena pelototan Mikhael, sudah dia tarik Reyna sejak tadi.


Pengumuman jadwal penerbangan selanjutnya mulai terdengar, membuat atensi para keluarga menyedihkan itu teralihkan.


" Angel, sudah sayang. Ayo, kasihan Tante Olivenya. " Ujar Bella.


Reyna melepaskan pelukannya, dia berjalan menuju Olive dan langsung menubruk tubuh paruh baya cantik itu.


" Hiks.. hiks.. "


Olive maupun Reyna tidak bisa berkata selain terisak. Keduanya saling merengkuh erat dengan tangan lembut Olive yang mengelus surai Reyna penuh sayang.


" Meskipun hubungan kamu dan Gavin berakhir, bukan berarti hubungan kita juga ikut berakhir, ya sayang? " Ucap Olive mengelus pipi Reyna.


" Iya, hiks... Pasti, tidak akan. "


" Kakak ipar, hiks.. "


Reyna beralih memeluk adik Gavin dan kembali sama-sama mengangis.


" Ki-kita, hiks.. Jangan lupa mampir ke kotaku ya, Kak Angel? Hiks.. Di sana ada Mall viral, kita coba shopping-shopping nanti. Hiks.. Uangnya ambil blackcard Kak Gavin aja, hiks.. Kita habisin sekalian! " Racaunya.


Reyna terkekeh disertai anggukan tegas, " Pasti, hiks.. Kita bobol rekening Abang kamu, "


Gavin menggigit kepalan tangannya dengan membuang wajah ke samping. Rasa sesak semakin memenuhi dada melihat perpisahan wanita yang masih dicintainya dengan keluarganya.


Meskipun enggan, Gavin sadar perpisahan ini diharuskan.


" Angel, " Panggil Marchel lagi memperingati putrinya.


Namun yang namanya Reyna Angelica sudah pasti berbuat sesukanya. Dirinya malah kembali memeluk Gavin tanpa memperdulikan waktu yang terus berjalan, bahkan wajah kesal seluruh keluarganya.

__ADS_1


" Aalon ngantuk, " Celetuk si bungsu yang memang terpaksa Bella ajak karena mendesak.


" Udah dibilang jangan ikut, ngeyel! Makan tuh nagantuk, "


" Kia! "


Kia menyengir, " Sorry, Mommy. Aaronnya sih, nakal. "


Aaron hanya memutar bola matanya, malas meladeni sepupunya itu.


" Mom aayoo, " Rengeknya pada Bella.


" Sabar sayang, " Ucap Bella seraya menggendong anaknya dan menepuk paantat Aaron supaya tertidur.


Melihat Reyna yang tidak mau juga melepaskan Gavin, terpaksa Marchel mengkode Morgan untuk memisahkan mereka.


Morgan kembali berdecis, dengan langkah lebar dia menghampiri Reyna dan dalam satu kali tarikan pelukan mereka terlepas dengan kasar.


" Morgan! " Teriak Gavin tidak terima.


" Pulang, " Ucap Morgan tegas pada Reyna.


" Gak mau gak mau! Mau sama Kak Gavin, Kak Gavin!! " Teriak Reyna tersiksa dengan tangan digusur Morgan meninggalkan bandara.


" A-angel, " Lirih Gavin hanya bisa menyaksikan kepergian kekasih hatinya.


Tatapan Gavin teralihkan saat Marchel menghadap.


" Terima kasih. Meskipun tahu akhirnya akan seperti apa, kau tetap memilih bersama putriku selama ini. "


" Bersama Angel adalah mimpiku sejak dulu. Dengan akhir menyedihkanpun aku tetap bahagia, karena telah menghabiskan separuh hidupku bersamanya. "


Marchel tersenyum, dia menepuk pundak Gavin lalu memeluknya sekilas.


Gavin mengikhlaskan bukan berarti Gavin tidak mau egois. Dia sempat egois karena menginginkan Reyna, menginginkan cintanya tanpa peduli hati Reyna untuk siapa.


Namun, menyaksikan penderitaan Morgan dan kegilaannya membuat Opa Alex meminta dengan sangat untuk Gavin meninggalkan Reyna.


Ya, ini memang karena titah tua bangka Alexander itu.


Alex yang berulangkali menitah Mikhael untuk memanggil Gavin ke rumah rupanya untuk membahas ini, membahas hubungan Gavin dan Reyna yang harus dihentikan sesegera mungkin.


Bukan Opa Alex meragukan cinta Gavin, dia hanya ingin Gavin sadar saja hati Reyna untuk siapa. Dan jelas Gavin pun sadar jika cinta Reyna bukan miliknya.


Maka dari itu mereka membuat kesepakatan, dimana inilah saatnya Gavin melepaskan belahan jiwanya.


" Jaga dirimu, kau hebat. "


" Om juga, "


" Olive, maaf. "


" Tidak apa, Bella. Kita tetap berteman bukan? "


" Tentu saja! Kau adalah mantan calon besan terbaikku, " Celetuk Bella membuat Olive tersenyum tipis.


Akhirnya, perpisahan terpaksa itupun diakhiri dengan mengudaranya pesawat yang membawa Gavin beserta keluarganya.


Di dalam pesawat, Gavin menatap jendela samping dengan senyuman tipis disertai air mata yang perlahan meluncur membasahi kedua pipinya.


" Sampai jumpa lagi, Reyna Angelica. Aku akan berusaha tidak mencintaimu, tapi bukan melupakanmu. "


____-___


David menatap malas adiknya yang menangis dalam pelukan sang istri. Helaan nafas terdengar jelas dari mulutnya saat melihat kesantaian Morgan diatas sofa mahal miliknya.


" Di mana otakmu, Morgan? Apa kau tahu jam berapa ini? " Tanya David menggeram tertahan.


Kesal sekali David. Bagaimana tidak? Di jam yang hampir menunjukkan tengah malam dengan tidak mengotaknya Morgan membawa Reyna ke kediamannya hanya untuk menangis dalam pelukan sang istri. Tidak tahukah mereka bahwa tadi hampir saja David menjenguk anaknya jika saja dua badeebah sialan itu tidak mengganggu.


Jika bukan karena mereka adik dan sahabat, sudah David tendang karena mengganggu ritual malamnya bersama Nayara. Mana sudah tegang lagi, eh.


" Aku tidak tahu. Jamku hancur saat menyeret adikmu tadi. Tahukah kau, Nana jadi liar. " Jawab Morgan menyeleneh.


David berdecak, memilih menghampiri istri dan adiknya daripada meladeni Morgan yang kelihatan sedang tidak waras. Begitulah Morgan, otak meesumnya kambuh jika sedang bahagia. Aneh memang.

__ADS_1


" Angel, "


" Hua.. Kak David, "


David memeluk adiknya erat. Meskipun marah, dia sayang pada Reyna dan mengerti jika kepergian Gavin pastinya berpengaruh besar bagi Reyna. Semua orang tahu kebersamaan mereka bukanlah untuk waktu yang sebentar.


" G-gavin, di-dia ninggalin Angel. Hiks... Gavin jahat! Di-dia— "


" Stt.. Tidur, ya? Angel tidur, capek. Udah, jangan nangis. "


" Tapi— "


" Ayo, Kakak antar ke kamar. " Sela David mengangkat tubuh Reyna dan mulai melangkah.


" Eh, calon istri. " Tanpa diminta Morgan membuntuti mereka.


Nayara menghela nafas. Merasa aneh dengan pemikiran Morgan. Di saat semua orang bersedih, mengapa pria itu malah kelihatan bahagia?


" Sabar ya, Angel? Pria yang sekarang kamu hadapi bukan lagi sebaik Kak Gavin, " Gumam Nayara menghela nafas. Merasa lelah hanya dengan memikirkan tingkah Morgan kedepannya.


___-___


Nayara memasuki kamar yang didalamnya terdapat Angel, Morgan beserta suaminya. Pening langsung melanda melihat Reyna yang menangis jengkel dengan kedua pria itu yang terus adu mulut tanpa sadar kondisi.


" Hentikan! " Teriak Nayara.


David dan Morgan cengo, dengan wajah polos mereka menatap Nayara.


" Sayang, Morgan tuh! "


" Sayang sayang, jijik. "


" Sirik loe? "


" David, " Tekan Nayara.


Oh, istrinya memanggil namanya. Berarti si ayang sedang kesal sekarang.


Davidpun diam.


" Apa? " Tanya Morgan songong saat Nayara menatapnya kesal.


" Kalian berdua keluar! Aku yang akan tidur dengan Angel malam ini, "


" Sayang, yang tadi gimana? " Protes David masih memikirkan ritualnya yang belum terlaksana.


" Gak ada gimana-gimana, keluar kalian! "


" Tapi— "


" Keluar gak? "


" Ck, fine. " Dengan agak terpaksa David dan Morgan angkat kaki dari kamar itu.


Blam!


Pintu ditutup kasar oleh Nayara membuat keduanya terperanjak.


" Istri loe sangar juga, Vid. "


" Gara-gara loe sih, "


" Kok gue? "


" Kok kita loe — gue lagi? "


" Ya mana Saya tahu, " Balas Morgan cuek, memilih berlalu pergi meninggalkan David.


" Anyying, "


" David Alexanderr!! "


" Sial. Kelepasan sayang!! " Teriak David menyahuti Nayara.


" Morgan syalan, "

__ADS_1


_-_


TBC!


__ADS_2