
Nayara menatap kamar apartement David dengan binar bahagia. Dia senang melihat setiap sudut ruangan itu yang elegan dan tidak terkesan lakik banget.
Nayara pikir kamar David akan gelap dan menyeramkan sebagaimana kamar laki-laki pada umumnya. Tapi ini berbeda. Mungkin sudah David rubah menyadari akan ada dirinya dalam kehidupan David sekarang.
" Suka? "
Suara serak-serak berat mengagetkannya. Nayara menoleh menatap David yang sedang mengusap kasar rambut basahnya menggunakan handuk kecil. David memang habis mandi, dan untungnya pria itu memakai pakaian lengkap.
" Hem, " Angguk Nayara. " Kamarnya bagus, "
" Setelah dua hari di rumahku dan rumahmu, di sini tempat tinggal kita. "
Nayara yang sempat akan membongkar isi kopernya mendadak menatap David.
" Di, sini? "
" Ya, "
" Tapiโ "
" Memangnya apa yang kau harapkan? Tinggal bersama orangtuamu? " Potong David melotot.
" Bukan begitu, " Cicit Nayara menunduk.
David mendekat, memegang kedua bahu Nayara membuat gadis itu mendongak menatap matanya.
" Dengar, Nayara. Kita sudah menikah, kita adalah keluarga, dan aku kepala keluarganya di sini. Dan kamu sebagai istri harus menuruti setiap perkataanku. Kemana aku pergi, kamu harus mengikuti. Jadi, di sini kita akan tinggal. Hem? "
" I-iya, "
" Mungkin untuk sementara. Saat kau hamil nanti, aku akan membeli rumah yang letaknya pertengahan antara rumah keluargamu dan keluargaku. Supanya saat aku bekerja dan kau bosan di rumah, kamu bisa mengunjungi keluarga kita. " Ucap David seraya menjauh menyimpan handuk tadi pada tempatnya.
" Nayara? "
" Iya, "
" Bagus. Sekarang mandi sana, " Titah David mengusap pelan kepala istrinya.
Lagi-lagi Nayara patuh. Dengan tubuh yang masih di balut gaun pernikahan, Nayara melangkah menuju kamar mandi tanpa membawa baju ganti.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka membuat fokus David yang tengah terduduk di sofa dengan i-pad di tangannya teralihkan.
Kepala Nayara terlihat di antara pintu yang terbuka.
" Kak David, " Cicitnya.
David menaikkan sebelah alisnya.
" Bi-bisa tolong ambilkan koperku? Aku lupa membawa baju, " Pinta Nayara di akhiri cicitan.
Tubuh David menegang. Senyuman aneh dia tampilkan, menyimpan i-pad pada sofa dan beralih mendekati Nayara tanpa membawa apa yang istrinya minta.
" Keluar, "
" Ta-tapi akuโ "
" Keluar, Nayara. "
Nayara menunduk, memainkan kuku-kuku jarinya dengan kaki yang perlahan melangkah menghampiri David.
Gluk.
David menelan salivanya sendiri melihat tubuh Nayara yang hanya di balut handuk. Menutupi aset bagian atas dan bawahnya saja dengan leher dan paha yang terpapang jelas.
" Kamu tahu, aku lelah. " Curhat David menarik Nayara ke dalam pelukannya.
" Meminta Daddy menjodohkan kita, meyakinkan keluarga, persiapan pernikahan, dan.. Menahan Rey agar tetap di sana, " Tanpa aba-aba David menggendong Nayara membuat gadis itu memekik tertahan.
" Karena terlalu sibuk pada pernikahan, perusahaanku terbengkalai. " Kata David membaringkan Nayara perlahan di atas ranjang dengan dirinya yang meenindih di atas.
__ADS_1
" Banyak kontrak penting yang aku tunda-tunda, belum selesai sampai sekarang. "
Nayara menahan nafas saat kepala David jatuh di lehernya.
Dada mereka bersentuhan dengan bagian paha yang makin terekspos saja mengingat Nayara hanya memakai handuk apalagi dengan posisinya berbaring seperti ini.
" Karena kita sudah resmi menikah, sebagai seorang istri yang baik seharusnya kamu dapat meringankan beban fikiran suamimu ini. "
" K-kak David, " Cicit Nayara saat tangan David merambat membuka handuk yang dipakainya.
David mengangkat kepalanya, menatap Nayara dengan pandangan diselimuti gaairah.
" Apa hukumnya menolak suami? "
Gluk.
Nayara menatap David dengan perasaan takut. Rasanya dia ingin menangis saja sekarang. Apakah David tidak bisa menunda malam pertama mereka hanya untuk semalam saja? Apakah mereka akan langsung berada pada tahapan suami istri sungguhan? Benarkah?
Bersamaan dengan ucapan David selanjutnya, tangan Nayara mereemas kedua sisi seprai tempat tidur.
" Aku menginginkan hakku sekarang, Nayara. "
๐ ๐ ๐ ๐ ๐
Reyna terdiam dengan Morgan memeluknya dari belakang. Posisi mereka saat ini adalah sama-sama berada di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuh keduanya sebatas pinggang.
Permintaan, tidak, lebih tepatnya pernyataan Morgan yang mengatakan tidur dengannya lagi-lagi tidak bisa ditolak Reyna. Tanpa kata pria itu langsung menarik tangannya dan sampailah mereka pada posisi seperti ini.
" Morgan, ini tidak benar. "
" Hem, " Gumam Morgan semakin mengeratkan pelukannya dengan mata terpejam.
" Jangan kayak gini ih, " Kata Reyna berontak agar pelukannya sedikit longgar.
Namun bukannya melonggar, Morgan justru semakin merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada jarak antara keduanya.
" Mor, "
Morgan sedikit mengurai pelukannya, namun tidak dengan melepasnya.
Reyna diam. Matanya menatap asal sudut di sana dengan fikiran yang berkelana mewanti-wanti jika-jika nanti ada yang datang dan melihat posisi mereka yang memang tidak patut dilakukan meskipun pada sepupu sendiri.
" Pintunya di kunci, " Ucap Morgan yang sadar akan kekhawatiran Reyna.
" Tapi gak seharusnya loe kayak gini, Morgan. Gue juga capek, mau tidur. Dan loe dengan seenak jidat malahโ "
" Saya membawamu untuk tidur, Reyna. Bukan mengajakmu berkeringat. "
Deg.
" Omongan loe, Morgan. "
Morgan diam.
" Mor ih, "
" Hem? "
" Lepas, " Beontak Reyna.
" Morgan! " Pekik Reyna saat merasakan benda lembab dilehernya.
Morgan mencium lehernya!
" Morgan loe gila?! Lepas gak? "
" Dengan si Gevan kamu panggil apa? " Suara berat Morgan membuat Reyna merinding.
" Reyna, "
__ADS_1
" K-kak Gavin, "
" Denganku? "
" M-morgan, " Jawab Reyna polos.
" Tidak sopan. Saya dan kamu itu lebih tua Saya, "
" I-iya. Tahu kok, "
" Kenapa hanya Morgan? "
" Kan memang begitu dari dulu, " Bela Reyna.
" Dulu? "
" Iya, โ Ahkk! " Pekik Reyna saat Morgan menarik tubuhnya tiba-tiba.
Reyna gugup, sungguh dia sangat gugup dihadapkan dengan posisi sekarang. Di mana dia dan Morgan saling berhadapan dengan tangan Morgan yang bertengger manis di pinggangnya.
" Saya gak suka kamu sama dia, " Ucap Morgan tanpa bertele-tele.
" Si-apa? "
" Kamu tahu maksud Saya, "
Reyna menggigit pipi dalamnya.
" Na, "
" Ta-tapi kan emang harus deket, " Morgan melotot.
" Ma-maksudnya kami memang harus deket. Gue kerja di perusahaannya, dan dia CEO di sana. Apalagi dengan gue yang adalah calon sekretarisnya. Gimana gak deket coba? "
Tatapan Morgan semakin menajam.
" Sejak awal Saya katakan kamu kerja di perusahaan Saya saja. Tapi ini apa? Malah memilih bekerja bersamanya. Saya tidak mau tahu, kamu pindah atauโ "
" Ah bodo! " Teriak Reyna bersamaan dengan dirinya yang terduduk kasar.
" Sepupu, loe daritadi aneh tahu gak? Tanya-tanya hubungan gue sama Kak Gavin, larang ini-itu, sekarang malah seenaknya memerintah. Loe siapa? " Sentak Reyna melotot tanpa rasa takut.
" Siapa? " Morgan melipat kedua tangannya dijadikan bantal.
" Calon suamimu, mungkin. "
" Gila, " Decis Reyna.
" Mau tidur atau.. Aku tiduri? "
Saat itu juga nyali Reyna menciut. Dia lupa jika kini yang berada dihadapannya adalah pemain wanita. Segera Reyna merebahkan tubuhnya dengan menarik selimut sampai leher.
Morgan tersenyum tipis. Dia ikut membenamkan tubuhnya dibalik selimut dan kembali memeluk Reyna erat.
" Na, "
" Hem? "
" Saya... Gak suka sewa wanita lagi, "
Reyna berdehem, " Ya bagus, "
" Sebagai gantinya.. "
Reyna menunggu perkataan lanjutan Morgan.
" Aroma tubuhmu membuat Saya candu, " Aku Morgan membenamkan kepalanya di leher belakang Reyna. Menyesap dengan rakus.
Gila. Morgan gila!!
__ADS_1
_-_
TBC!