Crazy Cousin

Crazy Cousin
Obsesi David


__ADS_3

Nayara terduduk tidak nyaman di depan David. Dia agak kaku jika berhadapan dengan Kakak temannya ini. Bukan karena apa, setelah berakhirnya hubungan mereka di masa lalu David tidak pernah menampakkan dirinya lagi.


Saat Mikhayla, Mommynya Morgan. Bella, Ibu Reyna. Della, kembaran Ibu Reyna yang berada di luar kota dan Elly Ibunya mengadakan acara reuni, David selalu tidak hadir. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun.


Nayara melipat bibirnya ke dalam, sungguh ingin pergi rasanya dia. Jika saja David tidak menyuruhnya duduk dan menunggu Reyna, Nayara sudah pasti pergi sejak tadi.


" Kamu belum menjawab pertanyaanku, Naya. " Perkataan dingin yang keluar dari mulut David begitu tidak mengenakan bagi Nayara.


" Hah? Ma-maksudku.. Apa? "


" Apa kabar? "


Nayara tersenyum kaku, " Ba-baik. Kamu sendiri, Kak David? " Tanya balik Nayara sekedar berbasa-basi.


" Tidak baik, "


Nayara kembali tersenyum kaku. Entahlah, perasaan sejak tadi dia salah tingkah terus dan sekarangpun harusnya Nayara kembali bertanya tapi dia urungkan karena bingung harus bertanya apa.


" Tidak ingin bertanya kenapa? "


Nayara mendongak, " Hah? Eh, kenapa? "


David menatap bola mata Nayara dengan sorot tajamnya, " Karenamu, "


" Aku? " Nayara menunjuk pada dirinya sendiri, " Kenapa aku? " Tanyanya heran.


" Perpisahan kita meninggalkan trauma. Kau tidak sadar? "


Nayara bungkam untuk beberapa saat.


" Ah.. I-itu sudah lama berlalu, Kak David. Lupakan. Lagian, waktu itu ki-kita masih remaja yang labil. Tidak mengerti arti cinta yang sesungguhnya. A-anggap saja itu sebuah permainan, yang membumbui masa remaja kita. He he.. "


Nayara menundukkan pandangannya saat mendapat sorot tidak suka dari mata David.


" Apa aku salah ya? Ah.. Angel, Kakakmu menyeramkan. " Batin Nayara meremas rok unyu yang dikenakannya.


Hening. Untuk beberapa saat, keheningan melanda mereka. Sampai akhirnya David kembali berkata membuat suasana mendadak tegang.


" Ingin kembali padaku? "


Deg.


Nayara menatap David dengan wajah melongo.


" Jawab, Naya. Apa kau ingin kembali padaku, dengan sukarela? Atau.. Secara paksa? "


Nayara semakin dibuat terheran-heran mendengar perkataan David yang menurutnya tidak jelas.


" Apa dia salah minum obat? " Batin Nayara.


" K-kak David, sepertinya kauβ€” "


" Malam ini aku akan melamarmu. Kita akan menikah dengan, atau tanpa izin darimu. "


Deg.


Nayara tertohok, dia terbatuk-batuk dan tangannya refleks menepuk-nepuk dadanya yang mendadak sakit.


" Kak Da-david, sepertinya ini hanya sebuah lelucon. Maaf saja, meskipun benar aku tidak ingin menikah di usia muda. Apalagi kita tidak terlalu dekat dan saling mengenal sekarang. Aku rasa.. Aku tidak bisa menikah denganmu, " Jelas Nayara.


Sorot mata David berubah menyeramkan. Dengan langkah lebar dia mendatangi Nayara dan mengurungnya menggunkan kedua tangan yang di simpan di kedua sisi kepala Nayara dengan wajah condong ke depan.


" Aku tidak main-main, baby. Terserah kau siap atau tidak, karena kau harus siap-siap saja jikapun aku mengajakmu menikah dua minggu lagi. "


Nayara memundurkan kepalanya. Sial, sandaran kursi membuatnya tidak bisa mundur lagi.


Melihat tatapan David sekarang, Naya sadar jika pria itu tidak sedang main-main. Sorot mata David menyeramkan, mendadak Nayara takut pada David.


" Ti-tidak begini, Kak David. A-aku takut, " Cicit Nayara di akhir kalimat.


" Ya, atau ya? "


Nayara tetap menunduk. Demi apapun dia benar-benar takut dengan David. David gila!


" Sekali lagi aku tanya, ya atau ya? "


" Jangan menguji kesabaranku, Naya. " Geram David melihat Nayara yang masih bungkam.


" A-akuβ€” "

__ADS_1


Cup.


Secepat kilat David mengangkat dagu Nayara dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Mata Nayara membola, dia menatap David yang memejam dengan bibir yang mulai bermain di bibirnya.


Entah dorongan dari mana, mata Nayara mendadak sayu dan berakhir menutup. Nayara diam, tidak membalas ataupun menolak mulut David yang semakin merajalela di bibirnya.


Seketika tubuh Nayara lemas, bahkan dia mau saja saat David merebahkannya di sofa. Posisi mereka saat ini sangat berbahaya, Nayara yang di bawah dengan David di atas dan bibir mereka yang semakin liar saja.


Sebelah tangan David menahan kepala Nayara sedangkan sebelahnya lagi meremass pinggangnya menyalurkan rasa rindu dan nikmat pada kegiatan yang tengah mereka lakukan.


Saat tangan itu perlahan naik menuju salah satu anggota terpenting dalam tubuhnya, mode bahaya aktif. Mata Nayara terbuka lebar dan dengan sekali dorongan dia melepas tautan bibir mereka.


Nayara menjauh dari David yang kini menatapnya dengan nafas memburu. Tubuh Nayara sedikit gemetar dengan kepala menunduk tidak berani menatap David.


David mengusap wajahnya kasar. Sial, nafsunya datang di saat yang tidak tepat. Segera dia bangkit dan menjauh dari Nayara.


" Pulanglah! Akan ada orang yang mengantarmu pulang di bawah, " Usir David tanpa menatap Nayara.


Tanpa berfikir dua kali, buru-buru Nayara mengambil tasnya dan pergi meninggalkan David.


Naya tidak ingin berdekatan lagi dengan David. David yang sekarang sangat berbahaya!


Di sana, David menghadap depan dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.


" Manis, " Gumamnya mengusap ujung bibir.


Tidak berselang lama, mendadak tubuhnya memanas hanya karena membayangkan kegiatan panasnya bersama Nayara barusan.


" Sial. Aku harus segera mendapatkannya, " Batin David tersenyum misterius.


David merogok ponselnya dan menekan satu nomor.


" Hallo? " Suara Marchel terdengar di sebrang sana.


" Sekarang waktunya, Dad. David mau dia sekarang, "


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Reyna mengikuti langkah Morgan dengan bosan. Sejak tadi dirinya di ajak berkeliling di lokasi pembangunan dengan Morgan yang terus berhenti di setiap langkahnya guna menanyakan hal-hal yang sama sekali tidak Reyna mengerti pada ketua pembangunan di sana.


Saat Morgan kembali melangkah, buru-buru Reyna menyusul dan melayangkan protesannya.


" Lalu? " Balas Morgan acuh.


" Ya ajak makanlah, bodoh. " Tanpa sadar Reyna memaki Morgan saking kesalnya.


Morgan berhenti melangkah dan menatap Reyna.


" Apa tadi? "


" Apa? " Tanya Reyna pura-pura.


" Coba ulangi perkataanmu yang tadi, " Pinta Morgan.


" Aku lapar, " Ucap Reyna mengelus perut rapatnya.


Morgan mengikuti arah pandang Reyna. Sial, pikiran kotor memenuhi kepalanya saat melihat bentuk tubuh Reyna yang sangat menggoda.


Morgan berdehem, berusaha menormalkan dirinya.


" Di sekitar sini ada kantin. Ingin ke sana? " Tawar Morgan.


Dengan antusias Reyna mengangguk.


" Ayo! "


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Morgan menatap Reyna yang sedang menyantap makanan dengan lahapnya. Dalam hati dia terheran-heran, kenapa anak dari Bibinya ini tidak memiliki rasa malu sedikitpun? Lihatlah cara makan Reyna, sangat berantakan.


" Kayak bocah, " Gumam Morgan terkekeh.


" Hem? " Reyna mengangkat wajahnya menatap Morgan.


Morgan menggeleng. Reyna mengangkat kedua bahunya dan kembali menyantap makanan tanpa memperdulikan apapun lagi.


Diam-diam Morgan tersenyum tipis. Entah kenapa pandangannya tidak bisa lepas dari wajah Reyna. Seurakan apapun Reyna, semenjijikan apapun cara makan Reyna, di mata Morgan Reyna tetap cantik dan sayang jika tidak di pandang.


" Eh-eh, itu bukannya selebgram ya? "

__ADS_1


" Mana mana? "


" Itu.. Yang lagi makan, "


" Oh iya, dia Angel! "


" Aaa Kak Angel!! "


Reyna tersedak makanannya saat mendengar teriakan dan banyaknya orang yang mengerumuni meja tempatnya makan.


" Kak Angel, cantik banget sih.. "


" Ih.. Gemesss... "


" Cantik aslinya ya daripada di kayar? "


" Aaa makin ngefans deh aku, "


Reyna tersenyum kaku, dia meraih tissue dan mengusap bibirnya yang pasti belepotan. Meskipun begini Reyna sadar diri, dia memang tidak bisa jaga image jika menyangkut makanan.


" Hello, guys. Mau foto? " Tawar Reyna ramah.


" Mau mau mau!! " Sorak mereka heboh.


Tidak hanya remaja perempuan saja, bahkan di sana banyak fanboy nya Reyna.


" Eum.. Gini-gini. Karena terlalu banyak, Kakak gak bisa foto sama satu-satu. Gimana kalo kelompok aja? Cewek cowok? "


" Mau mau!! "


" Oke. Sepupu, fotoin gue! " Dengan lancangnya Reyna menyodorkan ponsel pada Morgan yang melongo di tempat.


" Hah? "


" Ck, cepat ih potoin kita! " Desak Reyna. " Ayo girls bergaya! "


Morgan dengan gerakan kaku mulai mengangkat ponsel Reyna dan memotret mereka.


" Satu lagi satu lagi. Sekarang giliran cowoknya. Sini! "


Hampir sepuluh kelaki berkumpul di sisi kanan dan kirinya Reyna.


Ketika mereka sudah bergaya, Morgan malah mencengkram ponsel Reyna dan menatap tidak suka pada para pria remaja itu.


" Sepupu, ayo dong! "


Morgan kembali mengangkat ponsel Reyna dan memotretnya. Setelah itu mengembalikan pada pemiliknya.


" Wah.. Bagus-bagus, " Komentar Reyna saat melihat hasil jepretan Morgan.


" Guys, kalo di kirim satu-satu nantinya ribet. Gue update-in aja di medsos, ya? Kalian tinggal ambil fotonya di sana, " Ucap Reyna.


" Baik Kak. Makasih Kak Angel! " Seru mereka bersama.


" Sama-sama. Gue pamit ya, bye! " Reyna menggusur Morgan dan pergi dari sana.


Setelah berada di dalam mobil Morgan, Reyna bernafas lega.


" Siapa tadi? " Tanya Morgan penasaran.


" Fans aku, " Jawab Reyna.


" Fans? " Beo Morgan.


" Ck, gini-gini aku selebgram tahu, sepupu. Terkenal nih gue, " Ucap Reyna bermonolog di akhir kalimat.


" Kamu.. Suka goyang-goyang? " Tebak Morgan sedikit ngeri.


" Goyang-goβ€”Enggaklah! Gue bukan selegram itu, aku itu kayak model-model tapi gak terikat sama perusahaan apapun gitu. Itulah pokoknya itu! " Seru Reyna tidak mengerti harus menjelaskan seperti apa.


" Hem, " Morgan berdehem.


" Kalo bisa berhenti aja, " Ucap Morgan tiba-tiba.


" Kenapa? "


" Saya gak suka, "


_-_

__ADS_1


TBC!


__ADS_2