Crazy Cousin

Crazy Cousin
Gavin Vs Morgan 1


__ADS_3

Reyna keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Matanya menatap Morgan yang sedang duduk santai dengan menyesap segelas teh di tangannya.


" Sudah? "


Reyna mengangguk, " Hem, "


" Ikut denganku, " Titah Morgan bangkit dari duduknya dan meninggalkan Reyna begitu saja.


" Eh, ke mana? Sepupu, gue ada janji hari ini. Morgan! " Teriak Reyna mengejar Morgan.


Untung saja Reyna cantik alami. Meskipun tanpa make up wajahnya begitu-begitu saja. Namun tetap dia tidak percaya diri, gara-gara Morgan Reyna harus keluar dari kamar hotel dengan wajah polos.


" Mor— Kak Gavin, "


Gavin berdiri dengan sebuah paper bag yang Reyna yakini berisi pakian di tangannya. Dia menatap Morgan dan Reyna yang baru keluar dari kamar secara bergantian.


" Kalian.. "


" Ah.. Enggak-enggak. Kak Gavin jangan mikir macem-macem ya? Ini gak seperti yang Kak Gavin fikir kok. Malem tadi Morgan— "


" Kita saling peluk, Saya peluk dia dari belakang dan dia munggungi Saya. Saya juga cium dia semalam. Kenapa? Ada masalah? " Potong Morgan dengan tampang tak berdosa.


Mata Reyna melotot.


" Morgan! Loe apa-apaan sih?! Kak Gavin, jangan dengerin dia. Si Morgan sesat. Beneran, kami beneran gak ngelakuin apa yang ada dalam fikirin kamu. Kita— "


" Apasih? Ngapain di jelasin segala? Toh, itu urusan kita. Nana, orang luar tidak perlu tahu. " Lagi-lagi Morgan memotong ucapan Reyna sambil menatap sinis pada Gavin.


" Loe diem deh! " Sentak Reyna.


" Kak Gavin, aku— "


" Aku bawa baju kamu, Angel. Baju yang kamu pakai bekas kemarin kan? Gih, ganti dulu! Nanti di lanjut ngobrolnya, " Ujar Gavin menyodorkan paper bag yang dibawanya.


" Tapi itu, kami— "


" Iya, nanti bisa kamu jelasin. Sana ganti! "


Reyna menerima sodoran paper bag itu dengan memandang Gavin cemas.


" Iya deh. Tapi nanti aku jelasin ya? Beneran. Jangan mikir macem-macem oke? "


" Hem. Udah sana! " Balas Gavin mendorong Reyna masuk pada kamarnya sendiri.


Reyna memasukkan beberapa pin guna membuka kamar hotel yang disewanya. Pintu itu terbuka, Reyna masuk setelah menatap Gavin khawatir berbeda tatapannya yang penuh permusuhan pada Morgan.


Tersisalah kedua pria yang saling diam dengan mata menatap satu sama lain.


" Hilang ingatan tidak membuatmu melupakannya ya? " Ujar Gavin terkekeh sinis.


Kening Morgan berkerut, melupakannya? Apa itu artinya dulu pun dia pernah menaruh hati pada Reyna? Apakah Gavin tahu mengenai masa lalunya bersama Reyna? Sepertinya Morgan harus sedikit berakting untuk memancing Gavin mengungkap semuanya tanpa perlu dia minta.


" Tentu saja. Siapa yang akan menganggapnya hanya sebagai sepupu jika visualnya semenarik itu? " Balas Morgan ikut tersenyum sinis.


Tangan Gavin mengepal, " Jauhi Angel! "


" Kau siapa? "


" Aku calon pacarnya, " Ucap Gavin lantang.


" Calon pacar? " Morgan menatap Gavin dari atas hingga bawah. Senyuman sinis kembali dia tampilkan.


" Oh, begitu. Perkenalkan, Saya calon suaminya, "


Semakin geram saja Gavin pada Morgan. Rahangnya mengeras dengan mata sedikit memerah.


" Tidakkah kamu mengerti? Tuhan marah saat kalian bermain api. Terbukti dengan Dia memisahkanmu dan Angel dengan perantara Freya. Seharusnya sampai sana kalian sadar, dan baiknya saat ini pun kalian tidak perlu bertemu saja. Karena itu bahaya, Tuhan akan kembali marah melihatmu melakukan hal terlarang. " Ungkap Gavin.


" Freya? Siapa Freya? " Batin Morgan.


" Dan.. Apa menurutmu Angel akan menerima pria hina sepertimu? " Lanjut Gavin memandang Morgan jijik.


" Apa kau lebih suci dariku? " Ejek balik Morgan.


" Ayolah, hidup tidak sesederhana itu. Jangan karena aku buruk, kau yang merasa baik bisa menghina. Kita tidak tahu, seberapa baiknya dirimu. Mungkin saja justru di sini kau yang paling bejat, "


" Jaga ucapanmu! "

__ADS_1


" Jika Reyna memang di takdirkan untukku yang hancur ini, orang baik sepertimu bisa apa? "


" Diam! " Bentak Gavin emosi.


Morgan tertawa kecil dengan seringaian mengejek. Dia mendekat dan menepuk pundak Gavin beberapa kali.


" Berusahalah, kawan! Dapatkan Reyna jika kau bisa menentang takdir Tuhan, " Ucapnya.


Setelah mengatakan itu, Morgan menatap depan dan melangkah meninggalkan Gavin yang mematung di tempat dengan hati dipenuhi amarah.


" Kau yang seharusnya berusaha, Morgan. Angel milikku, aku yang ditakdirkan bersamanya. "


" Aku selesai, Kak Gavin. "


Lamuan Gavin buyar saat Reyna keluar dari kamar.


" Sudah? "


" Hem. Bagaimana? " Tanya Reyna memutar tubuhnya.


" Cantik, " Puji Gavin tersenyum.


Gavin tidak berbohong, Reyna memang terlihat sangat cantik dengan gaun pemberiannya. Gaun selutut lengan pendek berwarna merah dengan flat shoes berwarna senada juga anting dan liontin sebagai pelengkap.


" Benarkah? " Gavin mengangguk.


" Syukurlah, aku senang. Oh, kita jadi ke perusahaanmu bukan? Ayo, aku sungguh tidak sabar. " Ucap Reyna dengan mata berbinar, melupakan masalah yang sempat menimpanya barusan.


" Hem, tentu. Sampai malam bukan masalah bukan? "


" Iya. Nanti aku izin pada Mommy, "


" Ayo! "


Reyna mengangguk. Dengan riang dia berjalan mengikuti Gavin.


Sesampainya di dalam mobil, Gavin memasang sabuk pengaman begitupula dengan Reyna.


" Angel, bagaimana jika kita mampir ke restaurant dulu? Kamu pasti belum makan bukan? " Ucap Gavin.


" Eh tapi, aku tidak mau ke restaurant. Bagaimana jika kita mampir di kedai nasi goreng saja? " Usul Reyna menatap Gavin.


Gavin ikut tersenyum, " Seleramu tidak berubah rupanya, " Ucap Gavin mengacak rambut Reyna gemas.


" Ih, berantakan. "


" Sejak dulu kamu suka makanan pinggir jalan, Angel. Padahal kamu orang berada, "


" Ya.. Kan kaya bukan berarti gak suka makanan murah. Angel gak mandang harga kok, tapi rasa. Apalagi nasi goreng lebih banyak isinya daripada makanan yang biasa Angel makan. Udah mahal, sedikit lagi, gak kenyang. Enakan yang murah kan jadinya? He he he.. "


" Dasar kamu. Padahal pesan banyak yang mahal pun tidak akan membuatmu bangkrut, "


" Hemat, Kak Gavin. Angel harus punya tabungan ketimbang boros-borosan, "


" Kamu gak suka makanan mewah? " Tanya Gavin.


" Ya gak gitu juga dong. Aku suka, suka banget malahan. Tapi ketimbang nasi goreng sama bakso langganan Angel, lebih pilih yang itu. Ha ha.. "


" Dih, percaya aku. Orang kamu makan bakso juga gak cukup satu, " Sindir Gavin dibalas cengiran andalan Reyna.


" Ayo ah! Angel lapar nih, "


" Siap Tuan Putri, "


Mobil mewah berwarna biru gelap yang dikendarai oleh Gavin pun melesat menuju tempat tujuan.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Di perusahaannya, Morgan membuka-tutup pematik di tangannya. Keningnya berkerut dengan pandangan menatap asal sudut ruangan. Sepertinya pria itu tengah memikirkan sesuatu, atau mungkin merencana?


Tok.. Tok..


" Permisi, Pak. "


" Masuk! "


Sekretaris muda berwajah cantik masuk ke dalam ruangan Morgan dengan I-pad ditangannya.

__ADS_1


" Hari ini ada jadwal meeting bersama klient dari Amerika. Karena beberapa alasan, pihak mereka tidak dapat hadir dan menganjurkan melakukan rapat darurat saja. Secara daring, "


Morgan mengangguk, " Atur waktunya sebaik mungkin. Tidak menyusahkanku, juga mereka. Perbedaan waktu mungkin akan menjadi kendala. Tanyakan kapan siapnya, dan pastikan tidak mengganggu jam istirahatku. "


" Baik, "


" Kau bisa pergi, " Usir Morgan menggerakkan tangan.


Sekretaris itu mengangguk. Dia menunduk hormat sebelum pergi dari hadapan Morgan.


" Mor, "


Baru saja Morgan menghela nafas, suara Arzan membuat fokusnya teralihkan. Arzan, sahabat juga tangan kanan Morgan yang bersikap formal hanya pada jam kerja saja. Kebetulan saat ini mereka sedang istirahat.


" Apa? "


" Ada apa dengan wajahmu? Kau butuh service? Aku punya rekomendasi yang bagus, " Goda Arzan.


Begitulah Arzan. Si dingin yang bisa mendadak tengil jika dihadapkan sahabatnya. Ayolah! Morgan mungkin hilang ingatan, tapi dia tidak. Arzan masih ingat betul bagaimana pertemanan mereka dulu. Dia, Morgan, David, Rey dan Erza, teman yang sekarang jadi tangan kanannya Rey adalah sahabat yang tidak bisa di pisahkan dulu. Namun kerenggangan hadir antara Rey dan David karena satu wanita. Hal itu tentu tidak mempengaruhi pertemanan member yang lain bukan?


" Cih, menjijikan. "


" Apanya yang jijik? Itu sudah rutinitasmu setiap bosan asal kau lupa, "


" Lupakan! "


" Atau jangan-jangan.. " Arzan menatap Morgan serius.


" Punyamu tidak bangun lagi? "


Saat itu juga sebuah pulpen melayang pada wajah Arzan.


" Aku sudah tidak butuh mereka. Jangan mengingatkanku pada kebodohan yang berulang, " Ucap Morgan tegas.


" Insyap maksudnya? Ayolah, sayang sekali. Padahal kau sudah pro players, "


" Kau bisa meneruskannya, "


" Tidak terima kasih. Aku terlalu suci untuk masuk ke dalam lubang penuh dosa, " Balas Arzan langsung.


Morgan menundukkan kepalanya, " Kenapa dulu kau tidak mengingatkanku? Sampai-sampai aku menjadi manusia semenjijikan ini, "


" Apa? Kau bicara apa? "


" Aku akan berhenti. Jangan menawariku hal yang tidak penting, "


" Wow, kau serius akan berhenti? " Tanya Arzan terkejut.


Morgan mengangguk, " Ya, "


" Stt.. Sepertinya ada yang tidak beres, " Ucap Arzan menatap Morgan dengan tangan mengetuk dagu.


" Kau akan menghentikan kegiatan mingguanmu yang tidak pernah terlewat? Karena apa? Hanya karena takut dosa? Aku tidak percaya jika itu alasannya, terlalu konyol untuk orang sepertimu! "


" Terserah, "


" Pasti ada alasan lain bukan? Siapa? Kenapa? Karena apa? "


Morgan menatap Arzan lekat, " Reyna, "


Arzan terjungkal dari duduknya. Dia membenarkan posisi duduknya sembari berdehem dan menatap Morgan setengah tidak percaya.


" Ja-jangan membual. Kenapa Angel? Dia hanya sepupu, "


" Jika dulu mungkin masuk akal, karena kau mencintainya. Tapi sekarang? Bahkan kau melupakan setiap moment yang kalian lalui dulu, Morgan. " Lanjut Arzan membatin.


Morgan menarik nafas dalam.


" Sejak dulu aku memang tidak peduli pada siapapun. Aku tidak peduli pada pandangan masyarakat, bahkan keluargaku. Tapi kini berbeda. Aku ingin memantaskan diri untuk Nana. Aku ingin dipandang baik oleh Reyna. Aku sungguh ingin merasa pantas untuknya, " Ungkap Morgan tulus.


Arzan tertegun mendengar pengakuan Morgan. Sebegitu pentingnya Reyna bagi Morgan? Sampai-sampai pria itu tidak memerdulikan naafsu setannya lagi hanya demi Reyna?


" Tidak hanya dulu, sekarang pun pengaruh Angel pada dirimi sama kuatnya, Morgan. " Batin Arzan meraba dada.


_-_


TBC!

__ADS_1


__ADS_2