
Balik lagi🤣
_____
Reyna termenung mendengar penjelasan dari keluarganya. Antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Terasa mustahil memang, dan tidak pernah sekalipun Reyna membayangkan situasi seperti ini terjadi.
Bukan hanya Reyna, Morgan pun sama terkejutnya. Dalam fikirannya, kenapa jika memang kedua paruh baya ini Nenek dan Kakek aslinya mereka tidak datang sedaridulu saja?
" Merasa dipermainkan aja gue. Tahu gini bisa sat-set-sat-set gue sama si Nana, " Gumamnya melantur.
" Jadi... Ibu Aunty bukan Oma? Melainkan Grandma yang ini? " Tanya Reyna hati-hati.
" Ya, Rain. Itu benar, " Balas Mikhayla tersenyum kecil.
" Itu artinya Reyna dan Morgan... "
" Hem. Kalian bukan sepupu sedarah, " Ucap Bella melanjutkan kalimat putrinya yang menggantung.
Reyna memundurkan punggungnya perlahan, masih tidak percaya dengan semua kenyataan yang ada. Sedikit menyesal rasanya dia yang sudah mengenal Morgan sejak lama bahkan jatuh hati malah memperumit semua karena status mereka yang adalah sepupu, padahal nyatanya tidak. Jika tahu sejak dulu bukankah sekarang mereka sudah menikah bahkan punya anak?
" Sial, " Maki Reyna pelan.
" Kita bukan sepupu, Na. Kita bisa nikah! " Pekikan Morgan membuat Reyna sedikit terperanjak dari duduknya.
Reyna berdecak, " Maunya, " Gumam gadis itu malas yang disusul dengan gelengan kepala dari yang lain.
" Stop muna loe, loe juga mau kan, nikah sama gue yang ganteng ini? "
" Loe kok ngeselin sih? Pede banget lagi, najis. "
" An— "
" Heh! Bahasa kalian yah! " Sentak Mikhayla.
Fokus Reyna teralihkan pada Lyora dan Jake, Ibu dan Ayah tiri Mikhayla yang katanya selama ini tinggal diluar negri.
" Maaf sebelumnya. Tapi.. Kenapa Angel baru tahu sekarang? Kenapa juga kalian tidak memberitahu Angel sebelumnya? Ini bukan masalah satu — dua tahun loh, tapi puluhan tahun. " Ucap Reyna meredam pekikannya diakhir kalimat.
" Tahu gini kita nikah muda aja. Ya gak Na? " Celetuk Morgan
" Matamu, "
" Dih, "
" Sudah-sudah. Jadi Angel, Morgan, kalian sudah faham kan sekarang? Dengan kedatangan Grandma dan Grandpa kesini, kami bertujuan untuk ikut merayakan pernikahan kalian. Tapi sebelum itu, kapan tanggal pastinya kalian menikah? " Tanya Oma Lyora setengah menggoda pasangan itu.
" Secepatnya, Grandma. " Jawab Morgan santai.
" Gak-gak. Jangan cepat-cepat, Angel mau santai aja. Yang penting pestanya Wah, " Sahut Reyna cepat.
" Minggu depan aja kalo gitu, Na. Seru pasti. Udah gak kuat juga gue, "
" Gak kuat apa nih? " Goda Mikhael.
" Nana-ninulah! "
" Gila ya loe?! "
" Rain, " Ingat Mikhayla.
" Ih, Morgannya tuh. Ngeselin banget! "
" Iya, gemesin lagi. "
" Gak, loe pahit! "
" Ganteng gini, "
" Masih gantengan Kak Gavin kali, "
" Diem deh Na, "
Reyna terkekeh melihat wajah kesal Morgan.
" Baperan! "
Alex menggelengkan kepala melihat calon pengantin itu. Dia menatap Lyora dan Jake seraya berkata:
" Lyora, Jake. Sebaiknya kalian istirahat dulu. Perjalanan kesini tidaklah sebentar, kalian pasti letih. " Ucapnya pengertian.
" Dia benar. Ayo, aku antar. " Sambung Oma Lyandra yang diangguki keduanya.
" Baiklah, jika begitu kami pamit istirahat dulu. " Ucap Oma Lyora. " Angel, Morgan, kita lanjut mengobrol saat makan malam nanti ya? "
" Iya, Grandma. " Jawab keduanya serempak.
Sepeninggalan Jake, Lyora dan Lyandra, Reyna berdiri dari duduknya dan beralih kesamping Mikhayla.
" Aunty, jadi aunty adik angkatnya Daddy? "
" Kamu belum ngerti, Rain? "
" Tapi aunty, jika tahu begitu kenapa dulu kalian tidak menikah saja? " Celetuk Reyna. " Kalian kan bukan saudara kandung, sama-sama mempesona lagi. Masa iya gak saling suka, "
" Bicaramu, Rain! " Tegur Mikhayla menjitak kepala Reyna pelan. " Daddymu itu sudah dibutakan oleh Bella sejak dulu. Lagian aunty juga punya selera sendiri dalam memilih pasangan. Ya kali suka sama Kakak sendiri, " Jawabnya tenang.
" Tapikan bukan Kakak kandung, "
" Dulu mana tahu aunty kalo Kak Ecel bukan Kakak asli. Tahu-tahu setelah aunty nikah saja, "
" Wah, beneran? Jahat banget mereka ya? "
" Siapa yang kamu panggil jahat, Angel? " Suara bariton milik Opa Alex terdengar.
" Ya Opalah! Sama Oma juga. Udah tahu bukan anak kandung, kenapa— "
" Kamu gak akan ada, bodoh! " Geram sendiri Marchel pada putrinya.
Reyna tersentak, " Mommy.. Daddy panggil aku stupid. " Rengeknya pada Bella.
" Kamu juga secara tidak langsung ingin menyingkirkan Mommy, "
" Lah? "
Mikhael tertawa ngakak melihat wajah cengo Reyna.
" Sudahi, Angel! Mereka itu baperan, " Sahutnya disela tawa yang tentu membuat Bella dan Marchel mendelik.
" Hah.. Masih gak percaya Angel. Pada hibernasi di mana tuh mereka, sampai baru menampakkan diri setelah sekian tahun? "
" Korea, "
" Apa?! " Reyna memekik sambil berdiri dengan kasarnya, membuat sumua orang terkejut akan tingkahnya itu.
" Ko-korea? Serius? "
__ADS_1
Mikhayla mengerjap, " Iya, mereka tinggal di Seoul. "
" Huaaa aunty kenapa gak bilang dari duluu.. Angel kan bisa susul mereka, pindah aja sekalian ke sana. "
" Maksudnya? "
" Di sana ada masa depan Saya tante, " Balas Reyna dengan suara dibuat-buat.
" Jauh-jauh ke sana, orang masa depan loe ada di depan mata. " Sahut Morgan.
" Mana? "
" Pakek tanya lagi. Ya ini! " Tunjuk Morgan pada dirinya.
Reyna melongo beberapa saat, " Suram! "
_____-_____
Nayara menyantap makanan yang suami tercintanya sajikan dengan khidmat. Sesekali matanya mendongak menatap David dan melemparkan senyuman manis ke arahnya.
" Gimana, enak? "
" Iya, enak banget. Makasih ya, " Jawab Nayara antusias.
" Hem. Buatan Morgan itu, "
Nayara hampir tersedak, dia menatap David agak kecewa.
" Yah, aku kira buatan Kakak. "
" Sayang, buatan Morgan masih ada. Enak juga kan rasanya, " Balas David.
" Iya deh, "
" Eum.. Kak. Hari ini Kak Rey pu— "
" Gak boleh! " Potong David tegas.
" Kak, aku kan cuman— "
" Dengar kata Saya, Nayara. " Ucap David mendecis.
Nayara menunduk takut. Ini adalah satu keadaan yang sangat Nayara tidak sukai jika bersama David. Laki-laki itu akan sangat sensitif jika menyangkut pria lain, apalagi Rey. Padahalkan Rey saudara kandung Nayara, apa yang harus dicemburui? Yah.. Meskipun memang pernah ada cerita di antara mereka. Tapi kan itu dulu, sebelum keduanya saling tahu jika mereka saudara kandung.
" Iya, Kakak jangan marah. Nyeremin tahu, " Cicitnya.
" Masih mau ketemu? " Tanya David menguji.
" Mau! " Pekik Nayara mendapat pelototan dari David.
" K-kan, Kakak yang tanya. " Bela Nayara ketika mata itu semakin menajam.
" Oke, "
" Beneran? "
" Tapi sama aku, "
" Ah.. Sayang Kak David!! " Seru Nayara memeluk perut suaminya. Posisi David memang berdiri disamping istrinya yang sedang duduk menghadap meja makan.
David balas memeluk Nayara dan mencium kening istrinya penuh sayang.
" Cinta kamu juga, "
_____-_____
" Kangen Kak Gavin, "
Morgan menoleh kasar.
" Bilang sekali lagi, Na. "
Reyna menatap Morgan yang juga ikut rebahan disampingnya sembari terkekeh pelan.
" Sensian loe, "
" Kamu, "
" Iya, kamu sensian. " Ulang Reyna.
" Tapi Morgan. Apa yang aku bilang tadi bener loh. Kangen Kak Gavin, " Gumam Reyna menatap langit-langit kamar.
Morgan terdiam. Sebenarnya dia marah, tapi dia juga mengerti perasaan Reyna. Jadi mau tidak mau sebaiknya Morgan mengalah untuk kali ini. Hanya untuk kali ini, ingat.
" Mau Vc? Sekalian kasihtahu dia tentang pernikahan kita, "
Reyna menoleh, " Boleh? " Morgan mengangguk.
" Serius boleh? " Ulang Reyna lebih bersemangat.
" Iya. Mau gak? Sebelum aku berubah fikiran, "
" Mau-mau! "
Reyna bangun dari duduknya dan menyambar ponsel genggam miliknya. Jari-jemarinya dengan lincah bekerja diatas layar sebelum akhirnya segera Reyna menjauhkan ponsel dari wajahnya ketika panggilan vidio mulai tersambung pada Gavin disebrang sana.
" Angel, "
" Kak Gavin!! " Pekik Reyna heboh ketika layar ponselnya dipenuhi wajah lelah Gavin yang tetap saja terlihat tampan.
" Ih.. Ganteng banget. Mana pake kacamata gitu lagi, ahh meresahkan hati aku tahu gak? " Ocehnya.
Gavin terkekeh, " Bisa aja. Lagi apa kamu? Tumben duluan nelpon, "
" Ck, to the point aja Na! Gerah gue lama-lama, " Sewot Morgan dari kejauhan namun masih bisa didengar Gavin.
" Ck, apasih. Ganggu aja. Oh iya Kak Gavin, "
" Hem? "
" Gimana Kakak di sana? Baik-baik aja Kan? Bunda Olive juga gimana kabarnya? " Tanya Reyna berbasa-basi.
" Baik. Semuanya baik. Kenapa, mau main kamu? Ke sini aja! Pintu rumah selalu terbuka buat kamu, "
" Cih, apaan. " Dengus Morgan.
" Kayaknya bukan aku yang harus ke sana deh Kak, " Ucap Reyna.
" Terus? "
" Kakak aja yang ke sini! Kan minggu depan aku nikah, " Seru Reyna ceria.
Gavin terdiam. Tidak bisa dipungkiri hatinya tetap sakit meskipun tahu jika pada akhirnya mereka akan bersatu. Ingin berjuangpun rasanya percuma. Reyna dan Morgan saling mencintai. Jika hanya Reyna yang mencintai pria gila itu, mungkin Gavin tidak akan pernah menyerah mendapatkan Reyna. Namun di sini situasinya berbeda, Gavin tahu jalan satu-satunya hanyalah mundur. Dia tidak gila dengan memaksa Reyna, karena sesuatu yang dipaksakan tidak akan berjalan benar.
Laki-laki memang sudah sepatutnya mengejar wanita yang diinginkan, itupun jika wanita itu tidak mencintai pria lain bahkan dirinya. Namun jika wanita itu mencintai pria lain, dan si pria mempunyai rasa yang sama besarnya, disitulah langkah mundur menjadi jalan terbaik demi kebahagiaan bersama.
__ADS_1
Namun ketika hubungan mereka ketahuan toxic, bisa dia rebut bahkan secara paksa bukan?
" Kak Gavin! " Seruan Reyna menyadarkan Gavin dari lamunannya.
" Ah, ya? "
" Jadi gimana? Datang gak? Ya datanglah, masa di hari spesial aku Kakak gak dateng. Kan pernah jadi orang spesial juga, " Ucap Reyna disertai senyuman manisnya yang mana membuat Gavin ikut tersenyum.
" Hem. Kakak usahain, "
" Beneran ya? Awas aja kalo enggak! "
" Iya, "
" Yeah! Kalo gitu— "
" Halah kelamaan! " Morgan merebut ponsel Reyna. " Hai, mantan rival. Udah dulu ya, gue mau mulai ritual. Bye!! "
" Eh, kamu. Ritual apa? Jangan macem-macem ya! Awas— "
" Ah bacot, " Sela Morgan menekan tombol merah.
Reyna menatap Morgan datar.
" Apa? "
" Gak sopan tahu gak? Orang lagi ngobrol juga, main matiin aja. "
" Ya habisnya loe kelamaan ngobrolnya, "
" Kamu! "
" Iya, kamu. "
Reyna memajukan bibirnya, membuat Morgan menggigit pipi dalamnya gemas.
" Apa manyun-manyun gitu? Minta diciipok? "
" Bicaranya! " Kesal Reyna memukul bahu Morgan kasar.
" Aw, sakit Na. Belum kawin udah KDRT aja kamu, "
" KDRT dengkulmu, "
" Ck, sini ah! " Morgan menarik pelan tangan Reyna dan memposisikan tubuh Reyna membelakanginya dengan dia yang memeluk dari belakang.
" Gak pernah sekalipun aku berkhayal, akan fakta yang baru saja kita ketahui, Na. " Ucap Morgan. " Kamu bukan sepupu aku, dan kita juga tidak memiliki hubungan darah. "
" Iya. Tahu gitu aku gak perlu berulangkali menyangkal perasaan aku ke kamu, ya? Dengan alasan hubungan darah, "
" Hem. Tapi aku bersyukur, "
" Karena? "
" Fakta bahwa kita bukan sepupu, "
Reyna sedikit memiringkan kepalanya guna menatap Morgan yang menyandarkan dagu dipundaknya.
" Dengan begitu sedikit ketakutanku akan anak kita yang mungkin bisa memiliki kelainan atau keberlangsungan rumah tangga kita yang tidak berjalan mulus akibat pernikahan sedarah sirna dengan adanya fakta ini, " Lanjut Morgan.
Reyna memegang kedua tangan Morgan yang melingkar diperutnya.
" Aku juga sama bersyukurnya. Sekarang yang menjadi kendala hanyalah mengenai kandunganku saja, "
Mendengarnya Morgan lantas mengangkat kepala.
" Hey, look at me! " Pintanya membalik tubuh Reyna seraya menyentuh lembut wajah Reyna.
" Everything Will be okay if you stay positive thinking, " Ucap Morgan. " Selalu ingat bahwa kamu sempurna dan kamu pastas buat aku, hem? "
" Tapi Morgan— "
" Bukan kamu yang tak layak, Reyna. Tapi aku. Kamu tahu aku beejad, kamu tahu aku bukan orang baik. Kamu juga tahu aku yang tidak pantas untuk kamu di sini. Aku juga sadar akan hal itu. Tapi untuk meninggalkan bahkan melepaskan kamu, maaf aku akan egois. Aku gak bisa lepasin kamu lagi, " Potong Morgan.
" Enggak. Aku tahu kamu, kamu gak seburuk yang orang kira. Kamu hanya, tidak bisa mengendalikan diri. " Cicit Reyna diakhir kalimat.
" Jadi sayang, bukankah kita harus berhenti saling merendahkan diri dan fokus pada masa depan kita nanti? " Tanya Morgan.
" Ayo, Na. Ayo kita saling melengkapi kekurangan masing-masing! Kamu nerima aku dengan segala keburukanku, dan aku menerima kamu dengan segala kekuranganmu. Bunuh aku jika suatu saat lupa diri dengan menyakiti kamu yang mati-matian aku dapatkan, "
" Hiks.. Morgan.. " Tangisan Reyna pecah mendengar ucapan Morgan. Hatinya bahagia bercampur haru kala kalimat sendu penuh rasa sayang dengan tatapan teduh yang setia tersorot tepat di bola matanya yang Morgan berikan.
Tanpa bisa ditahan tubuhnya menubruk tubuh tegap Morgan. Yang tentu langsung dibalas dengan pelukan tak kalah erat disertai hujanan kecupan dikening dan pucuk kepalanya.
" Don't cry, baby. I don't like it, "
" Hiks.. You make me cry, stupid! "
Morgan terkekeh. Semakin direngkuhnya tubuh langsing itu dengan hidung menghirup dalam-dalam aroma yang selama ini menjadi candu untuknya.
" Lupakan segalanya, Na. Lupakan. Kamu hanya boleh fokus padaku, pada masa depan kita, dan pada kebersamaan kita. Bahagia kita berdua, ".
_-_
TBC!
___________
...QNA...
🗣️ Author ke mana saja?
^^^Ada di rumah^^^
🗣️Lama banget sih Upnya
^^^Sorry, akhir-akhir ini duniaku sedang berantakan^^^
🗣️Profesional dong!
^^^Mau sekeras apapun berusaha, jika diri tidak baik-baik saja bukankah lebih baik tidak dipaksakan?^^^
🗣️Jadi lupakan, sama alurnya. Kelamaan sih
^^^Ya jika mau baca dari awal saja^^^
🗣️Awas aja ngilang lagi!
^^^Dukungannya saja. Tidak bisa janji karena ini mau akhir semester. Yang pelajar dan pernah belajar ngertilah ya^^^
🗣️Gak niat banget bikin certa
^^^Niat kok. Cuman ya.. gitu aja. Tapi semalas-malasnya menulis cerita ini pasti akan aku selesaikan deh, serius. Jika masih diberi Waktu.^^^
...Thanks and see you in next chapters!...
__ADS_1