Crazy Cousin

Crazy Cousin
Bersama Calon


__ADS_3

Morgan menghembuskan nafasnya berat. Melirik pada jam yang menunjukkan pukul 3 siang, Morgan bangkit dari duduknya setelah mematikan laptop.


Beginilah keseharian orang yang gila kerja. Fokus pada pekerjaan tanpa peduli waktu yang telah menunjukkan pukul berapa.


Setelah bangun dari koma dengan ingatan yang menghilang beberapa tahun lalu, Morgan menjadi pria yang tidak mempercayai siapapun. Bahkan keluarganya sendiri.


Dia berfikir bahwa mungkin saja mereka menipunya dengan memaanfaatkan ingatannya yang hilang. Namun setelah tinggal dan hidup lama bersama mereka yang mengakui keluarga, Morgan dapat merasakan kehangatan dan kenyamanan bersama mereka.


Apalagi wanita paruh baya dengan parad yang masih cantik, Mikhayla, ibunya. Dari sana Morgan yakin jika mereka memanglah keluarganya. Apalagi dengan dukungan Kartu keluarga serta catatan sipil lainnya.


Di hari dia membuka mata, Morgan sempat merasakan kekosongan dengan pandangan yang terus menatap pintu masuk seakan menunggu kedatangan seseorang. Padahal waktu itu semua keluarganya sudah berkumpul di ruang inapnya.


Saat kedatangan Reyna, gadis cantik yang mampu membuat jantungnya berdebar di detik pertama mata mereka bertubrukan membuat Morgan memiliki pemikiran jika dialah orang yang selama ini di carinya.


Tapi dengan status Reyna yang adalah sepupunya, tidak mungkin dulu mereka memiliki hubungan lebih, bukan?


Untuk masalah hati, Morgan tidak pernah mengalami jatuh cinta selama hidupnya. Untuk masa sekarang, tidak tahu jika dulu.


Pemain wanita? Entah kenapa ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya. Mendapat tatapan kecewa Reyna membuat Morgan ingin mengubah waktu dan menjadikannya pribadi lebih baik agar bisa dia banggakan pada Reyna supaya gadis itu tidak lagi memandangnya jijik.


Melepas kaca mata dan menyimpannya di tempat seharusnya, Morgan membuka jas dan berjalan santai menuju kamar pribadinya.


Ruangan terbuka, senyuman tipis terukir di bibir Morgan saat melihat tubuh kecil Reyna yang hilang di balik selimut.


Sungguh imut gadis itu. Membuat hatinya berdetak tak karuan saja.


Untuk beberapa saat Morgan terkekeh melihat kelakuan Reyna. Di hari yang panas ini menggunakan selimut? Oh ayolah! Tidak mungkin gadis itu kedinginan bukan?


Lebih mementingkan kondisi tubuhnya yang terasa lelah, Morgan membuka sepatu dan naik ke atas ranjang. Tanpa ragu dia berbaring di samping Reyna bahkan dengan berani memeluk tubuh gadis itu erat.


" Eung, " Reyna melenguh, dia menggesek-gesek kepalanya pada bantal sebentar dan kembali terlelap dalam tidurnya.


Morgan yang sempat tegang takut Reyna bangun dan menendangnya dari ranjang lantas menghembuskan nafas lega. Pria itu kembali berbaring dan menelusupkan kepalanya pada leher Reyna.


Morgan menghirup rakus aroma tubuh Reyna dengan tangan yang semakin mengeratkan pelukan tidak peduli jika gadis itu bangun dan menendangnya.


Tanpa memerlukan waktu lama, Morgan pun turut terlelap menyusul Reyna ke alam mimpi.


Setelah malam itu, pelepasan akan lelahnya bukan lagi rokok maupun alkohol. Melainkan aroma tubuh sepupunya, Reyna. Lebih berbahaya dari candunya sebelumnya.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


David menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Nayara. Matanya menoleh menatap gadisnya yang terlelap dengan kondisi kepala yang terlihat tidak nyaman.


Tangannya refleks terulur dan membenarkan posisi kepala Nayara. Niat ingin membuat nyaman, namun nyatanya apa yang David lakukan justru malah membuat sang empu terbangun.


Mata indah milik Nayara terbuka perlahan. Dia sedikit menjauh saat melihat wajah David yang sangat dekat dengannya dan beralih dengan terduduk tegap.


" Ma-maaf. A-aku ketiduran, "


David berdehem pelan.


Nayara melirik kanan-kiri, " Oh, sudah sampai. "


David menatap depan dan sesekali melirik Nayara yang kini sedang membuka sabuk pengaman dan turut keluar saat gadisnya telah keluar dari mobil.


David mengitari mobil dan mengambil banyak papper bag kemudian diberikan pada Nayara.


Nayara menerima papper bag itu dengan wajah ceria. Rasa takutnya pada David berusaha dia singkirkan walaupun sedikit sulit.


Bayangkan saja, menikah dadakan dengan mantan sewaktu SMA dengan dirinya yang telah dewasa? Bukan main. Apalagi David yang sekarang sangat berbeda dengan David yang dia cintai dulu.

__ADS_1


" Terima kasih, Kak David. "


David tersenyum tipis.


Saat Nayara hendak berbalik menuju rumahnya, dia dikejutkan dengan David yang mengecup keningnya secepat kilat. Nayara mematung, matanya mengerjap lucu menatap David yang tersenyum kecil dengan tangan menepuk kepala Nayara pelan.


" Maaf, " Ucap David.


" Hah? " Beo Nayara dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.


David menggeleng, " Sana! "


" I-iya, " Nayara mengiyakan tapi tubuhnya masih diam di tempat.


" Iya apa? Sana pulang! Nanti malam aku jemput, "


" Hah? Ke mana? "


" Tidak ingin menghabiskan waktu untuk lebih mengenalku? "


Gluk.


Nayara menelan ludahnya susah payah. Perkataan dingin dengan tatapan menusuk David selalu membuatnya tidak bisa berkutik.


" Ti-tidak, "


" Apa?! "


" Tidak, eh, iya. Iya, maksudku iya. Nan-nanti Kakak kabari Nayara lagi aja. Eh, itu.. Nan-nanti, nanti Naya izin ke— "


" Biar aku saja, " David memotong perkataan Nayara yang berbelit-belit.


" Masuk! Jangan dandan cantik-cantik, nanti. "


" Masuk, Naya. "


Nayara mengangguk cepat dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan David. Di tengah jalan Nayara berhenti dan menoleh pada David yang masih berdiri di samping mobilnya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.


" Apa? "


Nayara menggeleng. Dengan langkah cepat dia masuk ke dalam rumah meninggalkan David yang tersenyum tipis melihat tingkahnya.


" Lucu, " Ucap David sebelum ikut pergi dengan mobil mewahnya.


🍃 🍃 🍂 🍃 🍃


Sesampainya di dalam rumah, Nayara disambut dengan Elly yang sedang bersantai bersama Mikhayla. Di sana juga ada Kia dan Aaron yang tengah bermain lesehan di lantai. Entah kapan mereka datang, mungkin saat Nayara masih bersama David.


" Mommy! "


" Naya, udah pulang? Sini gabung! " Panggil Elly.


Nayara mengangguk, " Tante, " Sapanya menyalami Mikhayla dan terduduk di samping Elly yang berhadapan dengan Mikhayla.


" Gimana jalan-jalan sama calonnya? Asik gak? David nakal gak? " Goda Mikhayla membuat Nayara tersenyum malu.


" Apasih tan, "


Jika ditanya tanggapan Mikhayla mengenai tindakan tidak waras yang diambil Kakak dan keponakannya, tentu dia marah dan tidak setuju!


Apa-apaan Marchel ini, memaksa gadis yang tidak mencintai putranya untuk menikah. Apalagi pernikahannya pun turut tidak waras, tidak mengundang banyak kerabat dan hanya keluarga inti saja.

__ADS_1


Alasannya? Tentu karena tidak ingin tercium awak media yang berakhir dengan Rey tahu.


Rey Bramasta, masih ingat pria itu? Pria, yang sampai sekarang pun tidak memiliki rasa sayang layaknya saudara pada Nayara, melainkan rasa sayang layaknya wanita dan pria dewasa yang saling mencintai.


David? Ah... Mikhayla pun heran sendiri dengan keponakannya itu. Jika memang cinta, apa salahnya berjuang dengan cara baik-baik? Bukan mau instan saja. Memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ayahnya pun mendapatkan sahabatnya dulu dengan cara instan, ancam-mengancam.


Masalah perniakhan, bukan hanya Marchel dan David, tapi seluruh keluarga setuju jika pernikahan ini dilaksanakan secara sederhana. Di saat Nayara mengandung nanti, baru mereka akan merayakan besar-besaran karena walaupun Rey tahu pria itu tidak bisa berkutik mengetahui Nayara yang mengandung anak David.


Sungguh, rencana dua iblis itu patut Mikhayla acungi jempol!


Mengenai masalah ketidaksukaannya dan rasa ingin menyelamatkan Nayara dari jeratan David, Mikhayla masih sayang anak. Dia bisa saja bertindak, tapi kasihan nanti Morgan yang akan kena imbasnya.


Kenapa Morgan? Ayolah! Mikhayla ibu yang pengertian. Melihat cara putra sulungnya yang selalu mencuri-curi tatap pada Reyna, Mikhayla tahu jika Morgan menyukai Reyna.


Dan yang membuatnya salut adalah perasaan putranya yang tidak berubah sejak dulu. Mikhayla ingat betapa kekehnya Morgan menyakinkan dirinya bahwa pernikahan antar sepupu itu dihalalkan agama. Secara tidak langsung Morgan memberi kode jika dia menginginkan Reyna.


Tapi sayang, hanya karena tragedi itu Morgan kehilangan ingatannya. Dan Mikhayla pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Morgan mengingat semua, terutama Reyna. Namun takdir mempunyai jalannya sendiri. Tanpa dia berusaha Morgan sudah jatuh hati pada Reyna. Kembali jatuh hati lebih tepatnya.


" Kebiasaan kamu Kakak ipar, kepo mulu jadi orang. " Semprot Elly yang hanya dibalas cengiran dari Mikhayla.


Untuk kalian yang lupa, Elly adalah adik dari Mikhael suami Mikhayla. Meskipun dahulu mereka, Mikhayla, Elly, Della dan Bella adalah empat sekawan yang selalu saling memanggil layaknya anak remaja pakai bahasa loe-gue, tapi setelah Mikhayla menikahi Kakaknya Mikhael, Elly dilarang memakai kata Loe-gue lagi saat berbicara pada Mikhayla. Sebagai gantinya? Jelas Kakak ipar!


" Gak kepo gak asik. Gue mah emak-emak gaul, memangnya elo! " Balas Mikhayla membuat Elly mendelik.


" Najis, "


Nayara terkekeh melihat pertengkaran mereka. Mungkin jika sudah dewasa nanti dia dan Reyna akan seperti Elly dan Mikhayla. Dewasa dalam artian telah menjadi Ibu rumah tangga dan memiliki anak tentunya.


" Eh, Nayara. Kamu lihat Rain gak? " Tanya Mikhayla tiba-tiba.


" Angel? "


" Iya, kamu lihat gak? " Ulang Mikhayla. " Soalnya tadi tante ke rumahnya gak ada, di kantor David pun gak ada katanya. "


" Eum.. Naya gak tahu tante. Seharian ini gak ketemu Angel, " Jawab Nayara seadanya.


" Iyalah gak ketemu, orang sibuk terus sama calonnya. " Ceplos Elly.


" Mommy... " Rengek Nayara yang terus di goda.


Mikhayla dan Elly tertawa.


" Mom mom! " Kia dengan tubuh montoknya berlari ke arah mereka.


" Yes princes? " Mikhayla memangku putri bungsunya.


" Kenapa? "


" Kalian bicarain aunty Nana ya? " Tanya Kia menunjuk Mikhayla dengan tangan yang menggenggam mainan dinosaurus.


" Heem. Anak Mommy tahu gak? "


" Aalon Aalon! Aalon tahu! " Teriak Aaron ikut datang dan duduk di pangkuan Nayara.


Aaron memang sering berkunjung kemari, dia juga dekat dengan Nayara. Jadi tidak aneh jika bocah tampan itu akrab bahkan menempeli Nayara.


" Di mana, Aaron? " Tanya Nayara sambil mengusap bibir Aaron yang belepotan oleh coklat.


" Sama Om Molgan, "


" Apa?! " Pekik ketiganya terkejut.

__ADS_1


_-_


TBC!


__ADS_2