Crazy Cousin

Crazy Cousin
Morgan Kembali


__ADS_3

Pagi menyapa. Matahari telah terbit menyinari bumi dengan awan hitam yang berkabut lebar menghalanginya.


Cuaca mendung membuat siapa saja malas beraktivitas, begitupun dengan Reyna.


Sejak tadi Reyna tetap bergulung dengan selimutnya tanpa mau beranjak mandi dan pergi bekerja. Rasanya malas dan sungguh sepertinya dia akan meminta libur walau hanya untuk sekedar satu hari pada Gavin. Dirinya benar-benar malas bangun pagi ini.


Saat si putri cantik sibuk kembali ke alam mimpinya, di bawah sana seluruh keluarga telah berkumpul untuk sarapan pagi.


Di sana ada Oma Lyandra, Opa Alex, Marchel, Bella, Nayara, bahkan David dan Aaron pun ada.


Melirik kursi Reyna yang masih kosong, pandangan Alex lantas tertuju pada menantunya, Bella.


" Mantu, mungkinkah cucu cantikku belum bangun? "


Bella menatap Opa Alex sebentar. Tatapannya beralih ke atas tangga menatap kamar putrinya yang masih tertutup tapat.


" Sepertinya begitu, Dad. " Balas Bella.


" Di beri cuaca mendung memang malas bangun. Biarkan saja! Mungkin Angel akan mengambil cuti hari ini, " Kata Oma Lyandra.


" Tidak profesional jika begitu. Aaron, bangunkan Kakak! " Titah Marchel.


Aaron terdiam dengan mata menatap sana-sini dengan lucunya. Ingin menolak namun tidak berani, menurutipun tidak mau karena tidak ingin meninggalkan makanannya.


" Kenapa? " Marchel menatap putranya heran.


Aaron menunduk.


David yang terduduk di samping adik kecilnya lantas mengerti jika Aaron tidak mau. Dia menepuk-nepuk kepala Aaron membuat Aaron mendongak menatapnya.


" Di sini saja. Biar Kakak yang bangunkan Kak Angel, "


Aaron dengan binar senangnya mengangguk antusias.


" David ke atas, " Izinnya berlalu menuju kamar Reyna.


Marchel menatap putra bungsunya kesal.


" Daddy potong uang jajan kamu! " Ancamnya.


" Dad! " Tegur Bella.


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Di atas sana, David membuka pintu kamar Reyna yang tidak di kunci dan melangkah masuk ke dalamnya. Bukannya tidak sopan, tapi David sudah berkali-kali mengetuk namun tidak ada jawaban dari dalam.


" Angel? " Panggil David.


Pandangan David jatuh pada selimut yang menggumpal. Helaan nafas terdengar lirih dari mulutnya. Lantas David mendekat dan menepuk pelan pipi Reyna yang masih memejamkan mata dengan damai.


" Angel.. Hey, Angel bangun siang! Angel, "


" Eung.. " Reyna mengeliat. Dia menatap kanan kiri sampai tatapannya jatuh kepada David.


" Bangun, kerja. Nanti terlambat, "


Reyna menghela nafas rakus dan menghembuskannya perlahan sembari merenggangkan otot-otot lengannya. Dia beralih mendudukkan diri dengan tangan sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Mandi! Turun ke bawah, "


Tanpa menjawab Reyna mengangguk. Wajahnya berpaling arah masih enggan menatap David membuat David menunduk mengerti.


" Kakak ke luar, cepatlah! "


" Hem, "


Reyna memperhatikan kepergian David dalam diam. Kembali menarik nafas dalam dan beranjak menuju kamar mandi.


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


" Jadi? "


" Jadi apanya? " Tanya balik Reyna sibuk pada sendok dan garpu dipegangannya.


Oma Lyandra menghela nafas sabar menghadapi tingkah cucu perempuannya dari Marchel ini. Lihatlah pakaian Reyna sekarang! Kaos hitam over size dipadukan dengan celana pendek. Rambut di cepol asal dengan wajah polos tanpa makeup.


Dan yang lebih membuatnya heran, di saat seluruh keluarga sarapan berupa roti dan segelas susu, Reyna justru malah makan. Jelas tahu bukan perbedaan sarapan dan makan?


" Kenapa memakai pakaian itu, Angel? Kamu tidak bekerja? " Tanya Bella.


" Tidak, "


" Kenapa? "


" Malas, " Balas Reyna sambil mengunyah.


Opa Alex menatap kesal pada cucunya.

__ADS_1


" Malu pada Gavin, Angel. Satu bulan kemarin saja kamu sudah ambil cuti lama sekali. Dan sekarang lagi? "


" Ah.. Opa Angel capek tahu. Di suruh kumpulin berkas-berkas, membacanya satu-persatu, pulang pergi meminta persetujuan CEO ini itu, setelah ituβ€” "


" Resiko menjadi sekretaris, " Potong Marchel.


" Jika tidak ingin capek dan bekerja sesuka hati harusnya kamu masuk saja di perusahaan Daddy. Tapi ini? Salah sendiri sok-sokan tidak mau di kenal, "


Reyna mengerucutkan bibirnya mendengar cibiran Marchel.


" Gak suka Angel, "


" Sama. Daddy juga gak suka putri Daddy tidak bertanggung jawab! "


" Memang Angel hamilin siapa? " Tanya Reyna polos.


" Angel! " Tegur Bella.


Angel mencibik, memilih melanjutkan makannya dengan tenang tanpa menghiraukan keluarganya yang terus berbicara.


Sementara Nayara hanya menyimak saja. Sesekali dia dibuat terkekeh saat Reyna dipojokkan.


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Sekitar pukul 11 pagi, seorang pria yang telah lama menghilang kembali menginjakkan kakinya di tanah air.


Morgan dengan kaca mata hitam yang tertengger manis di hidungnya turun dari atas pesawat bersama Arzan yang menyusul dari belakang.


" Bawa koper gue! Gue tunggu di mobil, " Titah Morgan.


" Oke. Gue cabut, "


" Hem, "


Morgan dan Arzan berpisah di tempat. Keduanya mengambil jalan yang berbeda dengan tujuan yang berbeda juga.


Sesampainya di dalam mobil jemputannya, Morgan mengambil ponsel yang sopir sodorkan dan mulai menghidupkannya.


Senyuman terbit di ujung bibirnya saat melihat banyaknya pesan dan panggilan masuk dari Reyna.


" Khawatir juga loe sama gue, Na. " Kekeh Morgan.


" Reyna di mana? " Tanyanya pada sopir.


" Setahu Saya Nona masih di rumah, Tuan. Beliau bangun kesiangan, " Balas sopir itu sopan.


" Mungkin agak siangan, "


Morgan mengangguk. Dia kembali memainkan ponselnya sekedar membuka banyaknya pesan yang Reyna kirimkan selama dia pergi.


" Mor, " Arzan datang.


" Udah? "


" Di bagasi, "


Morgan mengangguk. Dia mematikan ponsel dan menyimpannya di dalam saku.


" Jalan Pak! "


Sopir mengangguk patuh. Mobil mewah berisikan tiga orang itu pun melesat meninggalkan area bandara.


Si sepanjang perjalanan Morgan tidak henti-hentinya melebarkan senyuman. Bukannya ikut bahagia akan kesenangan yang temannya dapat, Arzan justru merasa ngeri melihat senyuman Morgan.


" Saraf loe? "


Morgan melirik, " Sembarangan! "


" Kenapa sih loe Mor? Sejak pulang dari psikiater senyum mulu perasaan. Loe juga sering nangis-nangis gak jelas. Khawatir loh gue Mor, " Cerocos Arzan.


Morgan mengedikkan bahunya tidak peduli.


" Sudah selesaikan tugas yang Saya minta kemarin? " Tanya Morgan pada sopirnya.


" Sudah, Tuan. Saya memasang GPS di mobil Nona, "


Morgan mengangguk puas, " Bagus! "


Arzan menatap Morgan dan sopir itu bergantian.


" Morgan? Gila ya loe?! "


" Ck, berisik loe! "


Arzan menggeleng tidak percaya, " Makin gila aja loe, "


" Bodo, "

__ADS_1


" Di mana posisinya? " Tanya Morgan lagi pada sopir.


Sopir itu mengutak-atik sesuatu sebelum menjawab.


" Sangat dekat dengan posisi kita, Tuan. Sepertinya Nona dalam perjalanan menuju kantor, "


Lagi-lagi Morgan mengangguk.


" Oh iya Saya lupa. Apa warna mobil Angel? "


" Merah. Nona selalu memakai mobil pribadinya dan menolak jemputan kantor, "


" Merah ya? Oke, "


Cekik..


Hampir saja kepala Arzan dan Morgan terpentok karena mobil yang berhenti mendadak.


" Kau gila?! " Bentak Morgan marah.


" Maaf, Tuan. Jalanan macet. Sepertinya ada kecelakaan di depan, "


" Kecelakaan? "


Morgan membuka kaca mobil menatap kerumunan orang di depan. Decakan sebal terdengar dari mulutnya.


" Ck, menyebalkan! Menghambat perjalananku saja, "


Arzan membuka jendela di sampingnya mengabaikan gerutuan Morgan.


" Permisi Pak, ada apa ya? " Tanya Arzan pada salah satu pengendara bermotor yang juga berhenti di samping mobilnya.


" Kurang tahu, Pak. Jika tidak salah kecelakaan pengguna mobil besar, dan pemilik mobil kecil sangat parah kondisinya. "


Morgan menoleh kasar, " Mobil kecil?! "


" Benar Pak. Sangat parah jika Saya dengar. Apalagi pengendaranya seorang perempuan, mana cantik lagi. Sangat disayangkan musibah ini, "


Jantung Morgan berdebar kencang.


" T-tadi kau bilang Reyna berada di mana? "


" De-dekat sini, Tuan. "


Perasaan buruk hinggap di kepala Morgan. Bukan hanya Morgan, sopir itu bahkan Arzan pun merasakan hal yang sama.


" M-mor loeβ€” "


Morgan langsung keluar dari dalam mobil tanpa mendengar perkataan Arzan.


Morgan berlari secepat mungkin. Dia menatap sana sini dan menerobos pada banyaknya orang-orang yang berkerumun di jalanan.


" Ada apa? Ada apa ini? "


" Kecelakaan, Pak. Sayang sekali nyawanya hilang ditempat, "


" Kecelakaan? "


" Iya. Kasihan sekali wanita itu, "


" Wa-wanita? A-apa warna pakainya? "


" Mobilnya merah jika tidak salah. Dan wanita itu seperti wanita kantoran, pakaiannya kurang lebih seperti seorang sekretaris Pak. "


Jantung Morgan semakin berdetak tidak karuan. Fikiran negatif semakin menghampiri kepalanya dengan raut cemas yang tidak bisa Morgan sembunyikan dari wajahnya.


" Enggak, Reyna! " Teriak Morgan membuat semua mata tertuju kepadanya.


Puk.


" Udah balik loe, sepupu? "


Deg.


Morgan membalik tubuhnya, matanya melotot saat melihat Reyna yang menatapnya dengan tatapan bingung.


Antara percaya dan tidak percaya, namun perasaannya kini sangatlah lega mengusir kerisauan dalam hatinya dengan kehadiran Reyna.


Bruk.


" Mor, loe? " Reyna kebingungan dalam pelukan erat Morgan. Apalagi melihat ekspresi frustasi pria itu yang membuatnya semakin kebingungan.


" Gue takut Na, gue takut itu elo. Gue takut loe celaka lagi, gue bener-bener takut. "


_-_


TBC!

__ADS_1


__ADS_2