
Shelly Anggraeni, seorang gadis dengan perawakan tinggi berkulit kuning langsat. Paras rupawan dan tubuh yang ideal membuat siapa saja yang melihatnya langsung terpesona.
Tak terkecuali David.
David pernah menyukai Shelly, saat mereka menginjak kelas 10 Senior High School. Namun rasa itu sirnah saat mengetahui kepribadian asli Shelly yang bisa disebut.. Gila.
Ya, Shelly memiliki kelainan jiwa yang membuatnya harus mendapatkan apa yang dia inginkan. Jika itu tidak tercapai, maka dia akan menggila dan melakukan apapun untuk mendapatkan yang menjadi keinginannya.
Shelly menyukai David. Sama seperti pria itu yang menyukainya sejak kelas 10, Shelly pun menyukai David sejak pertemuan pertama mereka. Tepatnya saat Masa Orientasi Siswa atau MOS.
Sikap ramah David, ketampanannya, dan sikap cueknya pada gadis-gadis centil membuat hati Shelly bergetar.
Dia seorang psycho, yang akan melakukan segalanya demi kepuasannya. Pernah sekali dia berpaling pada cowok lain, namun pria itu tidak menyukainya dan malah memilih gadis culun.
Dia langsung menindasnya dan membuat kehidupan si culun bagaikan di neraka. Mulai dari bullyan, gangguan mental, dan surat ancaman Shelly lontarkan membuat gadis itu tidak nyaman dan memilih pindah dari kota ini.
David mengetahuinya. Sejak itulah dia berhenti mencintai Shelly dan beralih pada gadis lain yang waktu itu satu kelas dengannya.
David terus bergonta-ganti pacar. Biasa, masa muda dia habiskan dengan bermain dan pacaran. Shelly juga tidak mengganggu, dia dengan segala kegilaannya mulai mengusik satu sekolahan yang membuat gelar Psycho melekat padanya.
Namun saat Nayara hadir dalam kehidupan David, Shelly tidak terima. Hal itu mengingatkannya pada si culun, yang menjadi cinta laki-laki yang dicintainya.
Sebenarnya perasaan Shelly pada David biasa saja. Namun rasa tidak mau kalah membuatnya mulai mengganggu Nayara dengan tujuan agar menjauh dari David.
David juga mengetahuinya. Maka dari itu dia mendekati Vika, mantan Rey yang notabennya adalah sahabat baik Shelly.
Dia berpura-pura membuat taruhan dengan menggunakan nama Nayara demi Shelly, tujuannya untuk menjebak Shelly namun malah dia sendiri yang terjebak dengan Nayara yang mendengar pembicaraan mereka.
David tahu ini salahnya. Seharusnya dia bicara dengan Nayara dan menjelaskan semuanya sejak awal. Nasi sudah menjadi bubur. Rencananya berantakan, dan hubungannya pun diancam keretakan.
_____-______
Morgan terduduk di atas sofa, dengan mata menatap tubuh Reyna yang kesana-kemari bagaikan setrikaan.
Hal ini sudah sejak tadi terjadi. Tepatnya saat mereka menyadari perbuatan David yang ternyata untuk kebaikan Nayara sendiri.
" Kalau gue ngomong langsung sama Naya, yang ada dikira belain si David. Tapi kalo gue gak ngomomg, masalah ini bakalan makin kacau. Harus gimana dong gue? " Gumam Reyna terus mondar-mandir.
" Apa jadinya kalau gue gak bicara? Akankah mereka terus salah faham dengan Naya yang membenci? Bicara sama si David. Yah, mungkin itu langkah awal yang mesti gue ambil. " Lanjutnya menjentikkan jari.
" Sama Kakak sendiri panggil si David. Kelewatan biadabb loe Na, " Celetuk Morgan.
Reyna hanya melirik Morgan sekilas. Dia kepalang sibuk dengan ponselnya.
" Hallo? " Terdengar suara parau David di sebrang sana.
" Jangan ceramah sekarang, Angel! Gue lagi gak mood, "
" Gak mood pala loe! " Sentak Reyna.
" Gue cuma mau bilang, datang ke apartement si Morgan sini! "
" Durhaka loe sama gue, " Protes Morgan.
" Diem! "
" Hallo? Gimana? Bisa kan loe Kak? Bisa gak bisa pokoknya harus bisa! Gue gak mau tahu, datang sekarang! "
Reyna memutuskam panggilannya sebelah pihak. Dia berkacak pinggang sambil menghembuskan nafas kasar.
" Yang mau putus mereka, kenapa gue yang ikutan tegang ya? " Gumamnya saat menyadari sesuatu.
" Lah anjiir, kesambet apaan gue? " Maki Reyna pada diri sendiri.
" Itu artinya loe mulai peduli sama urusan orang, Na! Bagus. Tingkatkan! " Ucap Morgan mengangkat jempol.
" Ck, serah! "
Reyna melangkahkan kaki menuju kamarnya.
" Kalau si David dateng, panggil gue! "
Morgan hanya mengangguk di tempat dengan mata menatap punggung Reyna yang perlahan hilang ditelan pintu.
" Loe makin dewasa, Na. Gue suka, " Ucap Morgan tersenyum tipis.
____-_____
...Gavin Haydar🌻...
...Online...
__ADS_1
Hai, Angel
^^^Ya?^^^
Mau bilang, besok aku ke Surabaya
^^^Loh, kok?^^^
^^^Mendadak banget Kak^^^
Di suruh Papi
^^^Oh^^^
Bisa temenin aku gak?
^^^Ke mana?^^^
Sore ini
Eum.. Ngedate mungkin
^^^Cih, gayanya^^^
Haha..
Jadi gimana, bisa?
^^^Gak tahu^^^
^^^Harus izin Morgan dulu^^^
^^^Kamu kan tahu sekarang aku tinggal sama dia^^^
^^^Kalo gak izin, ya diomelin Opa^^^
Oh, gitu
^^^Maaf ya^^^
^^^Tapi ntar aku coba deh, moga diizinin^^^
Iya
^^^Besok, berangkatnya^^^
Iya. Papa aku sakit
^^^Aduh.. Moga cepat sembuh^^^
Iya, makasih
^^^Kak, kayaknya bisa deh^^^
Serius😀
^^^Iya^^^
Jam empat ya?
Pulangnya agak maleman
Gak papa?
^^^Siap! Bisa di atur itu^^^
Makasih, Angel. Makasih banget
^^^Apa sih^^^
^^^Kayak sama siapa aja^^^
Ya.. Seneng aja gitu
Aku di sana lama, kalo ketemu dulu kan
gak kangen-kangen amat. He he..
^^^Cih, gombalnya^^^
Serius sayang
__ADS_1
^^^Cih, buaya^^^
Angel, love you❤️
^^^Hah?^^^
^^^Eh, jam empat ya?^^^
^^^Nanti ketemuannya di cafe biasa aja^^^
^^^Gak usah jemput^^^
^^^Sampai jumpa di sana, Kak Gavin👋^^^
Ha ha.. Iya
Lucu banget sih kamu
____-_____
Reyna mematikan ponselnya. Dia berguling terlentang di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar.
" Kak Gavin, "
Senyuman terbit di bibir mungilnya. Reyna menarik bantal dan menaruhnya di atas wajah.
" Ahh.. Kok gue seneng ya?!! " Pekiknya dengan kaki menendang-nendang udara.
____-_____
David menatap frustasi pada adiknya. Sedangkan Reyna menatap Kakaknya dengan mata nyalang.
" Begoo lu, toolol. Niat jebak malah elo yang kejebak. Gimana sih? Kakak gue bukan sih? Najis ih, " Maki Reyna dengan wajah kesalnya.
" Ah.. Gue juga gak tahu bakalan kayak gini, Gel! Gue- gue gak tahu Ara bakalan denger. Tadi dia masih di lapang, dan gue izin ke Wc. Eh ternyata dia.. "
" Udahlah, Vid! Lepasin Nayara, deketin Shelly. Loe pernah cinta kan? "
" Najis. Diem lu kamprett! " Sentak David melempar bantal ke wajah Morgan.
Morgan malah tertawa, menertawakan nasib sial sahabatnya.
" Terus gue harus gimana, Gel? Ara marah, dia gak mau ketemu sama gue. " David mendesah frustasi.
" Ck, gak tahu gue. Tapi kayaknya biarin aja dulu deh, sampai tenang. Besok atau lusa kan sekolah masuk, nah loe jelasin semua sama dia! Kalo masih gak percaya, bawa temen-temen Osis loe sekalian! " Ujar Reyna.
" Kenapa bawa-bawa Osis? " Tanya Morgan bingung.
" Mereka gue ikut sertain, " Jawab David.
David kembali fokus pada Reyna, " Jadi saksi maksudnya? " Tanyanya.
" Lah iya. Bukannya mereka tahu loe cuma pura-pura? !
David mengangguk-angguk, " Iya juga si, "
Reyna menatap Morgan yang langsung diberi kedipan olehnya. Morgan tergelak tanpa suara melihatnya.
___-_______
Nayara termenung dalam kamarnya. Dia duduk di tengah-tengah ranjang dengan menekuk kedua kaki dan memeluk lutut.
Kepalanya berdiri tegak, namun wajah berantakan serta mata sembabnya membuat Nayara tidak terlihat baik-baik saja. Dia terlihat sangat menyedihkan.
Taruhan. Taruhan. Taruhan.
Harus berapa kali dia dijadikan bahan taruhan? Apa karena penampilannya yang sederhana membuat dia pantas dijadikan taruhan?.
Teganya mereka.
Tidak cukup Rey saja yang menjadikannya barang taruhan, tapi David juga.
David? Astaga.. Menyebut namanya saja air mata Nayara langsung meluncur.
Pria yang senantiasa bersikap baik dan romantis, serta bucin parah kepadanya bisa melakukan semua ini? Kenapa? Kenapa?.
Rasanya itu mustahil. Tapi sayangnya itu nyata.
Nayara menelusupkan kepalanya diantara kedua lutut. Dalam keheningan dan kondisi kepala yang mulai mendingin, dia telah mengambil keputusan.
" Mungkin menutup hati adalah cara agar tidak tersakiti, " Ucap Nayara lirih.
__ADS_1
_-_
TBC!