Crazy Cousin

Crazy Cousin
Penyelesaian Masalah


__ADS_3

Saat Pernikahan Morgan dan Reyna & Sebelum keberangkatan bulan madu mereka...


Mengetahui jika hotel yang dipakai pelaksanaan pernikahan Reyna dan Morgan akan dikepung sebagaimana perkataan Grandpa Jack, dengan gerak cepat Opa Alex menyuruh anak dan menantunya menyusun ulang serangan balik dan perlindungan bagi semua tamu yang hadir, terutama keluarga inti.


Lantas Marchel menjauh dan mulai mengotak-atik ponselnya menghubungi seluruh anak buahnya yang berada tak jauh dari tempat acara untuk bersiap. Juga meminta para petinggi hotel untuk mengusir orang-orang yang ada disekitar hotel agar tidak ada yang meliput bahkan memotret jikalau pertempuran tak lagi bisa dihindari.


Berbeda dengan Mikhael yang sibuk menjelaskan secara singkat pada para kerabat dan kolega jika pesta pernikahan putranya diakhiri sebelum waktunya karena alasan mendesak. Untungnya para keluarga dekat dan para tamun undangan tidak banyak bertanya dan membubarkan diri sebagaimana perintah sang Tuan rumah.


Sadar akan keadaan yang mulai kacau, Mikhayla pun turut serta membantu para pria keluarga Alexander dengan menyuruh Morgan dan Reyna untuk segera meninggalkan tempat dengan alasan bulan madu.


" Tapi aunty, bukankah bulan madu kami terjadwal masih lama? Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Daddy dan yang lain tampak sibuk?" tanya Reyna bingung.


" Tidak ada apa-apa, Rain. Menurut sama Mommy, okay? Lebih baik kalian segeralah pergi ke bandara, Mommy sudah memesankan tiket untuk kalian."


" Apakah.." Mikhayla yang sadar maksud pertanyaan putranya lantas mengangguk.


" Morgan, ayo bawa istrimu! Bukankah hal ini paling kau tunggu-tunggu? Sah loh ini," goda Mikhayla dengan ekspresi sebaik mungkin demi menyembunyikan kegusaran hatinya.


" Baik, mom. Honey, ayo! Apa yang Mommy bilang ada benarnya. Mau nanti ataupun sekarang, sama saja bukan? Bahkan lebih cepat lebih baik," ucap Morgan dengan tatapan nakalnya.


Reyna berdecak, namun tak urung mengikuti keinginan suami serta mertuanya.


Tiga puluh menit setelah kepergian keduanya benar saja perkataan Grandpa Jack, banyak pria berbaju serba hitam dengan otot-otot yang menonjol dilengan serta dada mereka memasuki ruangan.


Seluruh tatapan dipusatkan pada mereka, terutama para pria keluarga Alexander yang sudah pasang badan melindungi para pasangan mereka.


" Lyora,"


deg.


Grandma Lyora menyembulkan sebelah badannya dari balik badan kekar sang suami. Tatapannya menghunus tajam pada seorang wanita paruh baya yang memecah kerumunan para pria baju hitam dengan tongkat ditangannya.


" Owh, bit'ch." hina Grandma Lyora tersenyum mengejek membuat Grandpa Jack menatap sang istri.


" Dia?"


" Ya, dia. Mauren Lesander, ibu dari Monica. Si wanita gila yang menggilai putramu, Marchel Alexander."


" Suatu kehormatan masih diingat olehmu, Lyora. Ahh.. Mana mungkin kau tidak ingat padaku, jika aku adalah orang yang berhasil menghancurkan seluruh kebahagiaanmu, bukan?"


" Bahagia?" Grandma Lyora menatap Grandpa Jack dalam, " Bahagiaku bersamanya, ja'lang. Lantas bahagia mana yang kau maksud? Si bereng'sek itu? Uhh.. Sepertinya kau salah sasaran, bit'ch." balas Grandma Lyora menyeringai.


Mauren mendecis tajam, " Tutup mulutmu, ssyalan. Aku tidak lagi akan berbasa basi, di mana cucuku!!" teriaknya.


" Cucumu? Ahh.. Yang kau maksud adalah anak haram dari si Monica itu ya?" terka Grandma Lyora dengan wajah menyebalkan. " Aku tidak tahu. Kenapa kau bertanya padaku?"


" Kau!"


" Cih, sudah tua masih saja mencari masalah. Nenek, apa kau tidak malu dengan umur? Mulailah mengerjakan kebaikan! Kita tidak tahu kapan kau dikubur dalam tanah," celetuk Mikhael.


" Diam kau Mikhael!" Mauren menunjuk murka pada suami dari putri mendiang suaminya itu. " Tutup mulut busukmu sebelum aku— "


" Apa? Kau akan mencelakai keturunan kami dengan bantuan cucumu, lagi?" potong Marchel dingin. " Sebelum itu, apa kau tahu di mana dia berada? Tahu apa yang terjadi padanya?" lanjutnya menyeringai.


Mauren menatap Marchel dengan mata memicin disertai tangan yang terkepal erat.


" Beraninya kalian menculik cucuku! Kembalikan dia! Di mana Freyaku!!" murkanya.


" Di sini,"


Seluruh atensi teralihkan pada suara bariton seseorang. Di sana, di pintu masuk dengan santainya Gavin menyeret tubuh lemah Freya tanpa perasaan. Kondisi Freya sangatlah mengkhawatirkan, dengan banyaknya lebam di wajah serta lecet disertai bercakan darah diseluruh tubuh mulusnya.


" F-freya?" Mauren menatap cucunya penuh sesal. Meskipun dia jahat dan niatnya untuk membuat seluruh keturunan Lyora menderita masih berkobar dalam jiwa tuanya, tetap dia menyayangi cucu satu-satunya itu. Mauren tidak mempunyai siapapun kecuali Freya, dan jelas dia tidak ingin kehilangannya.

__ADS_1


" K-kau— "


Bruk!


Tubuh lemah Freya dihempas begitu saja oleh Gavin. Hal itu membuat Bella, Mikhayla dan Oma Lyandra menutup mulut mereka yang mengaga saking terkejutnya. Berbeda dengan Grandma Lyora yang puas dengan apa yang pemuda itu lakukan.


Melihat kesedihan yang terpasang jelas di mata wanita yang dulu menghancurkan kehidupannya tanpa sisa membuat Grandma Lyora merasakan kebahagiaan yang tidak dapat dijelaskan. Setiap melihat wanita itu hatinya tidak bisa ditahan untuk tidak merasakan sakit. Sebutlah dia jahat dengan berbahagia di atas penderitaan orang, tapi dia memang sangat puas dengan kehancuran Mauren sekarang.


" Tuhan memang Maha Adil. Saking adilnya aku masih diberi kesempatan untuk melihat balasan wanita itu di umurku yang tidak lagi muda," gumam Grandma Lyora yang langsung mendapat pelukan Grandpa Jack.


" Jangan terlalu terbawa emosi, sayang. Ingat umurmu," goda Grandpa Jack dibalas decakan malas oleh sang istri.


Sedangkan di depan mereka, si tua Mauren menangis meraba wajah lemas cucunya. Freya dia baringkan dengan berbantalkan pahanya membuat gaun putih yang dikenakannya berwarna merah akan darah Freya.


" F-frey? C-cucuku?"


Ditengah kesadarannya, Freya membuka mata. Ditatapnya sendu wanita yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang juga wanita yang berperan penting dalam kehancuran hidupnya.


" N-nenek? Uhuk.. "


" Sudah-sudah, cucuku. Jangan banyak bergerak dulu. Ayo, ayo kita ke rumah sakit. Kau butuh pertolongan pertama, kau butuh perawatan medis. Ayo, bantu aku syalann! Kenapa kalian diam saja!!" murka Mauren pada para ajudannya yang hanya diam dengan wajah datar.


Marchel berdecis melihatnya, " Kau masih berfikir mereka orangmu? Lihat baik-baik! Siapa orang-orang yang mengelilingimu!" ucapnya tersenyum sinis.


Dalam posisi duduk Mauren menatap sekeliling, seketika tawanya pecah menandakan seberapa frustasinya dia. Bagaimana bisa seperti ini? Rupanya para pengawal yang disewanya adalah orang-orang Marchel. Kenapa semua rencananya menjadi berantakan seperti ini?


" Marchell!!! Sialann kauu!"


" Hm. Aku anggap itu sebagai pujian,"


Tubuh Mauren lemas ditempat. Sekarang dia tidak punya kekuatan lagi, dia salah dengan masuk ke dalam jeratan para Alexander. Dia salah strategi, atau mungkin dia salah mencari lawan.


" Dasar keluarga biiadab! Kupastikan keluarga kalian—"


" Ne-nenek? Hentikan! Sampai kapan hati dan matamu tertutup akan kebenaran? Hem, sampai kapan?" lirih Freya lemas.


" Sejak awal bukan mereka yang salah, tapi kita. Nenek tahu itu, bukan? Tapi kenapa Nenek bersikeras menghancurkan orang yang bahkan kehidupan salah satunya sudah Nenek hancurkan?"


" Nek, hentikan. Hentikan Freya mohon, Freya lelah. Apa Nenek tidak merasa bersalah, apa Nenek tidak malu dengan apa yang Nenek lakukan? Nek, kita yang salah, kita. Bukan mereka."


" Karena dendam Nenek, dulu aku sampai mengkhianati sahabat baikku sendiri. Karena dendam Nenek, hidupku hancur karena rasa bersalah yang kian menggerogoti lerung jiwaku. Karena dendam Nenek pula aku dalam keadaan seperti ini. Sampai kapan dendam tak beralasan itu akan berakhir? Sampai kapan Nenek dikalahkan oleh rasa iri dalam diri Nenek sendiri? Sampai kapan Nek? Apakah sampai aku mati? Apa Freya harus mati dulu agar dendam Nenek— "


" Freya!" bentak Mauren. " Ma-maaf, cucuku. Nenek tidak bermaksud—"


Freya menggeleng-gelengkan kepalanya lemas, " Hentikan Nek, hentikan. Aku mohon hentikan. Freya capek Nek, Freya—"


" Aku tidak bisa berhenti sebelum membuatnya menderita," potong Mauren menatap Grandma Lyora tajam.


" Seharusnya aku yang berkata demikian, bit'ch. Bukankah kau yang merebut suamiku dulu? Bukankah aku yang seharusnya memiliki dendam kepadamu? Kenapa di sini kau yang bersikap seolah-olah semuanya berawal dariku?"


Semua orang terkejut mendengar penuntunan dari Grandma Lyora. Termasuk Mikhayla. Seketika kakinya selemas jelly jika saja Mikhael tidak menahan tubuhnya yang hendak jatuh.


" Ja-jadi, selama ini Ayah kandungku tidak mati? Melainkan memilih bersama wanita lain dan—"


" Sayang," Mikhael merengkuh tubuh istrinya membiarkan Mikhayla menangis hebat dalam pelukannya.


" Aku? Merebut? Kau saja yang tidak mampu menjaga—"


" Aku mungkin gagal mempertahankan rumah tanggaku. Tapi asal kau tahu, aku bersyukur atas kehadiranmu di antara rumah tangga kami dulu. Jika saja tidak ada kau Mauren si penggodaa, aku tidak akan pernah tahu sekuat apa cinta baajingan busuk itu. Jika saja tidak ada kau, aku tidak akan bercerai dengannya dan jika tidak ada kau, aku tidak akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupku." ucap Grandma Lyora menatap suaminya penuh kasih.


" Tapi Mauren, jujur saja, luka yang kau berikan kepadaku sangat berbekas di dalam hatiku. Sebagai sesama wanita, kau tidak akan mengerti betapa mengerikannya hidupku karena ulahmu. Tapi, untuk dendam aku masih waras dengan tidak membuat hidupku sendiri sengsara sepertimu. Aku mungkin tidak dendam atas perbuatanmu itu, tapi untuk membenci, tanya pada dirimu sendiri apa jika kau yang ada diposisiku kau dapat menyukaiku dengan sangat?"


" Lihat? Bahkan sang korban saja masih bermurah hati dengan tidak memintaku untuk menghancurkan wanita buusuk sepertimu. Kau tahu, Nyonya Mauren? Aku Alexander, dapat dengan mudah menghancurkanmu dalam hitungan jari!" tunjuk Opa Alex tepat di depan wajah Mauren.

__ADS_1


" Cih, banyak omong sekali kalian." ejek Mauraen. " Apa selama ini kalian mengira dendamku hanya pada Lyora saja? Bukankah ada dosa lain yang harus kau tebus padaku, Marchel?"


Alis Marchel terangkat satu seolah mengingat sesuatu, tak lama bibirnya membulat dengan kepala mengangguk-angguk.


" Karena aku membutuh putrimu, Monica?"


" Marchel!" pekik semua orang menatap Marchel tak percaya.


" E-ecel kau—, " Oma Lyandra menatap putranya tak percaya.


" Ya, aku membunuhnya. Aku menghilangkan nyawa bernamakan Monica. Benalu itu," lanjut Marchel tanpa beban.


" Benalu? Cih, ha ha ha... Benalu kau bilang? Benalu! Kau menyebut putriku yang begitu mencintaimu dengan sebutan benalu? Mati saja kau siaalan!!" murka Mauren melemparkan belati yang beruntungnya dapat dihindari oleh Marchel.


" Apa salahku? Bukankah Monica adalah pelaku kejahatan, dan orang jahat harus dimusnahkan, bukan? Dia, Monica. Telah menculik My Belle dan bahkan hampir membunuhnya. Aku sudah memberinya keringanan dulu dengan bernegosiasi denganya, tapi sepertinya putrimu memang bosan hidup. Hingga dia mati di tangan sahabatku," jelas Marchel dengan ekspresi wajah acuh tak acuh.


" M-maksudnya— "


" Ya, sayang." Marchel merangkul pundak istrinya. " Dia yang waktu itu menculikmu dan membawamu ke gudang gelap di tengah hutan. Dia Monica, ibu dari sahabat paaling baik putri kita bernama Freya. Mengerti sekarang, My Bellee?" ( Kejadiannya ada di Novel ' My Obsession Model ' Part ' HO ( Her Obsession ) ).


Bella menggelengkan kepalanya dengan wajah syok. Dia tahu Marchel gila, dia tahu suaminya gila. Tapi dia baru tahu jika Marchel ternyata lebih gila dari dugaannya.


" Aku tidak akan basa basi lagi. Akanku hancurkan kalian semuaa!!" Mauren mengeluarkan senjata api yang ternyata dia sembunyikan dibalik stoking panjangnya. Piistol itu dia arahkan pada Marchel dengan tatapan mata merah berair mengingat betapa mengenaskannya akhir hidup putrinya dulu. Dan semua itu karena Marchel.


" Mati kau, matilah kau Marchell!! "


Dor.


" Tidak!!"


Brak.


Pistoll itu tergeletak di lantai. Tangan Mauren gemetar memegang pundak cucunya yang ambruk dalam pelukannya.


" F-freya? K-kau? Kau melindungi dia? Kau mengorbankan dirimu sendiri Freya!!" amuk Mauren sedih bercampur marah.


" Uhuk," darah segar keluar dari mulut Freya. Tatapannya sayu dengan ringisan yang kentara menandakan tubuhnya tidak sedang baik-baik saja.


" A-apakah, apakah dengan kematianku dendam Nenek dapat terpuaskan? Hentikan. Sudah cukup, aku tidak kuat lagi. Aku lelah dengan dunia yang Nenek ciptakan untukku. Aku, a-aku— "


Brak.


Mauren menatap tubuh cucunya yang tergeletak di atas lantai dengan tubuh bersimbah darah. Air matanya jatuh melihat kepergian cucunya namun penyesalan tak kunjung hadir dalam hatinya yang sudah dibutakan oleh dendam.


Mata tajam wanita tua itu terangkat menatap satu persatu keluarga Alexander ditambah pria yang tadi dengan tidak berperasaan menyeret Freya yang sudah dalam kondisi lemah.


" Akanku hancurkan kalian. Tunggu saja, tunggu kehancuran kalian!!"


Dengan tergesa-gesa wanita itu kabur dari sana setelah merampas kunci mobil yang digenggam oleh Gavin. Karena posisi pria itu yang jauh lebih dekat dengannya.


" Hentikan!" Mikhael menatap Marchel dengan tatapan tak percaya.


" Hentikan apa bodoh! Aku harus mengejarnya. Beraninya dia kabur setelah membuat hidup putraku berantakan!" amuk Mikhael.


" Apa kau akan memukuli wanita tua, Mikhael? Kau bisa melakukannya?" ucap Marchel membuat Mikhael bungkam.


" Tapi—" Perkataan Mikhael terhenti saat bodyguard berlari dengan tergesa-gesa ke arah mereka.


" Apa apa?"


" Nyonya Mauren terlibat dalam kecelakaan maut, Tuan. Jasadnya sudah dikonfirmasi dan dievakuasi oleh pihak kepolisian setempat,"


Deg.

__ADS_1


Bella menatap suaminya, yang ditatap hanya menatap datar ke depan sana. Tidak lama setelahnya, sebuah seringaian muncul dibibirnya.


Tidak ada yang bisa lepas setelah mengusik seorang Marchel Alexander.


__ADS_2