
Waktu terus berjalan maju, berputar menuju masa depan bukan masa lampau.
Andai seorang gadis yang bernama Kanaya Zoetessa itu dapat mengulang waktu ia lebih memilih hidup di keluarga biasa yang harmonis, dari pada terlahir di keluarga yang penuh ambisi dan selalu menomor satu-kan pekerjaan dan uang.
Hari sudah malam, Naya membuka matanya perlahan, mengerjab-ngerjab menyempurnakan penglihatan serta ingatannya.
"gue ketiduran sampe malam, sialnya lupa lagi ngabarin orang rumah" kata Naya bangun dari berbaringnya.
Naya mengambil benda pipih canggih yang selalu ia bawa kemana-mana sekalipun itu ke sekolah.
Naya menatap datar HP nya setelah membuka aplikasi WhatsApp dan telepon, di sana sama sekali tidak ada notif telepon maupun chat yang berasal dari orang rumah untuk hanya sekedar menanyakan kabarnya.
Naya berpikir apa dia sama sekali tidak penting?! Ah sudahlah penting atau tidak, itu tidak akan mengubahnya.
"kryuk, kryuk" cacing-cacing di perut Naya sudah berdemo minta di isi.
Naya merongoh kantong saku-nya dan hanya mendapatkan lima ribu rupiah, lalu meronggoh tas nya mencari si kertas yang sangat berharga dan mendapatkan lagi dengan jumlah lebih empat puluh ribu. Tapi tenang dia mempunyai kartu kredit pribadi hasil uang jajan yang selalu ia tabung.
"apa gue nginep di sini aja ya? Engak engak gue besok harus sekolah untuk nyumpel mulut Nathan" Naya beranjak membenahi pakaiannya yang masih berupa seragam.
Mengambil tas nya dan mengelus pelan ban sepeda yang ia letakan di sofa single.
"maaf Bunah, Peety cuman tinggal ban doang"
Naya beranjak keluar dan mengunci pintu, lalu seperti biasa kunci nya ia letakan ke tempat semula.
Naya berjalan sendiri, di temani sunyi dan lampu jalan yang remang-remang, menikmati telisik angin malam yang ia biarkan menyapu seluruh tubuhnya hingga dingin meresap ke tulang.
"lo, cupu! Baru pulang, lo dari mana. Gak nyangka lo gadis liar" kata seseorang yang tiba-tiba menghentikan motornya mendadak dan mencekram kedua pundak Naya yang sedang mengeryit heran.
"gue bukan gadis liar, kalo ngomong yang belum tau fakta jangan asal ceplos" tepis Naya pada tangan hangat yang mencekrma pundaknya, ia sangat mengenal suara itu, suara yang membuat dia menangis tadi siang atau singkatnya adalah suara Rayen.
__ADS_1
"gue heran, malam-malam gini aja gue masih ketemu lo. Kebetulan apa jodoh?!!" kata Naya berbicara asal dan mengoyor begitu saja dari hadapan Rayen.
"jodoh! Lo pikir gue sudi berjodoh sama lo? Yang ada gue berdo'a agar gue jauh-jauh dari lo" kata Rayen yang membuat langkah Naya terhenti.
"dan lo pikir gue ber-Do'a supaya jadi jodoh gue, oh ayolah hidup gue masih rumit, lagian sekali gue minta jodoh tidak dengan modelan kayak elo" balas Naya yang tak kalah pedas.
"emang gue kurang apa, gue tampan, mapan, pintar, tinggi, cool, semua orang pasti ingin jadi istri gue" Rayen kembali berjalan dan berdiri di hadapan Naya.
"hueuh" Naya menatap jengah kerah Rayen.
"lo mau tau kekurangan lo versi gue?" tanya Naya dengan ketus.
"iya!!"
"kurang waras! Puas lo!!" kata Naya berteriak dan kembali ingin melangkah, namun bukan Rayen namanya kalo hanya diam tanpa melakukan sesuatu.
"bruk" Naya tersungkur hampir mencium jalan aspal, untung saja lutut dan sikut nya dapat menahan dengan baik.
"dengar ya cupu!! untuk lo, bicara sama gue gak gratis harus ada imbalan" kata Rayen tersenyum remeh menatap Naya yang tersungkur tanpa berniat membantu.
"lo gue sumpahin semoga kehidupan lo berjalan lancar dan baik Rayen yang terhormat, tapi sayang maksud gue antonim kata dari lancar dan baik" Naya berkata dengan menekan setiap perkataannya.
setelahnya Naya berlari tanpa menoleh atau pamit kepada Rayen. Toh apa untungnya dia pamit kepada Rayen, yang ada umpatan di berikan Rayen.
。。。
"Pah kenapa Naya tidak pulang-pulang juga, Papah juga melarang untuk menghubungi Naya" gelisah Ny. Tania mondar mandir di teres rumah.
"dia baik-baik saja" kata Tn. Dery merangkul istrinya.
Oliv yang melihat itu merasa jengah dan beranjak masuk sebelum mengatakan sesuatu yang membuat sang Mamah terdiam.
__ADS_1
"untuk apa Mamah khawatir pada Naya saat dia sudah besar, dulu waktu ia kecil kemana rasa khawatir Mamah itu!!"
"Pah, Mamah bukan tidak khawatirkan sama Naya waktu dulu, tapi Papah tau kan sebuah alasannya" kata Ny. Tania memeluk sang suami yang hanya meng 'iya' kan.
•••
"udah malam banget, gue cari taxi aja deh" kata Naya celingak-celinguk mencari taxi setelah keluar dari komplek kejora.
keberuntungan dan kebetulan taxi berhenti di depan Naya.
"taxi mba?" kata sopirnya menawarkan.
"oh iya pak, antarkan saya ke komplek Pelita emas" kata Naya bergegas masuk.
"siap mba" mobil Taxi pun meluncur melaju membelah keramaian ke tujuan yang di sebutkan Naya.
。。。
"dari mana kamu Rayen!? Setiap malam selalu keluyuran" ujar Tn. Alex, Dady Rayen yang kedudukannya sebelas dua belas dengan Tn. Dery, Papah Naya di kota itu.
"Dady sama momy juga kemana aja selama ini, hingga hanya sempat datang untuk hanya memarahi Rayen, lalu kembali pergi" ujar Rayen sinis degan berani menatap tajam ke Dady nya.
"kamu berani sekali menjawab perkataan Dady" kata Tn. Alex berdiri dari sofa yang ia duduki, mengangkat tangan hendak menampar Rayen namun keburu di cengah oleh istri nya Ny. Karina.
"apa Dady mau nampar Rayen?! Tampar Dad tampar, Momy kenapa menghalangi. Rayen udah biasa Mom dapat tamparan dari dady, Rayen udah kebal Mom bahkan hati Rayen pun juga udah kebal" Teriak Rayen, dia kembali menyambar jaketnya dan berlalu keluar rumah dengan membanting pintu.
"semua sama saja" kata Rayen lirih, dan melajukan motornya kencang entah kemana.
●●●
TBC
__ADS_1
episode ini unyu aja dulu, author lili lagi ga mood🤧, i'm sorry😙
Thank you for sweet readers...