CUPU!! Bodoamat

CUPU!! Bodoamat
NAYA & NATHAN


__ADS_3

"lo kenapa gak mau gue bonceng sih?"


"lo kenapa tiba-tiba gini sama gue?"


dua pertanyaan itu keluar dari mulut yang berbeda.


• • •


Hening menjeda interaksi mereka, pada akhirnya


"Terserah gue."


Dua kata itu meluncur bersamaan di dua mulut yang berbeda.


"Lo ngikutin gue?"


Lagi-lagi, ini sepertinya sedang di setting untuk mulut Naya dan Rayen mengucapkan hal sama dalam sperkiandetik yang sama.


"Apaain sih lo." Naya menghentak-hentakan kakinya. Raut wajahnya berbanding balik dengan raut wajah cengar-cengir Rayen saat ini.


"Eh bocil, tadi kita ngomong barengannya tiga kali berarti jodoh dong." Rayen menatap Naya seolah tanpa dosa, dan Naya memincingkan matanya siap menerkam Belaska.


"Uraian defenisi dari mana lo ambil." Ketus Naya. Notasi suaranya masih normal.


"dari definisi gue sendiri cil." Jawab Rayen santai, tanpa tau perkataanya membuat seseorang akan berteriak.


"GW BUKAN BOCIL BELASKA."


"Oh." Rayen cengo.


"Gue salah kah? Lo kan emang bocil ,tinggian juga ketek gue."


"Aaa... Aduhh.. aaa" seketika Rayen merintih, lengannya seperti sedang dijepit tuan krab.


"Belaska kurang ajar lo, omongan lo itu sama aja ngerendahi perikatan para gadis mungil."


"Aaaah, iya iya sorry sorry... Lepasin cubitannya."


"Belaska sialan!"


"Sorry sorry ayy." Ujar Rayen sambil mengelus bekas cubitan Naya, dalam hatinya mengerutu,,,


"Sialan nih cewe, dia kira di cubit itu enak apa." Diam-diam Rayen melirik sinis Naya.


Naya menghela nafas berat "Udahlah jangan ganggu gue lagi, lo udah gue maafin."


Naya memandang manik mata Rayen sebentar, terdiam, lalu menghela nafas lagi...


"Hah"


"Gue kepikiran, sikap lo sama gue itu tiba-tiba berubah cepat banget. Gue bahkan ngira kita gak akan pernah akur gini." Naya bergerak melipat tanganya di dada, secepat boboboy berubah menjadi tiga, tatapan Naya yang semula memandang Rayen penuh penjelasan, menjadi penuh kecurigaan.


"Emang harus banget ngasih alasan, emang berubah jadi baik itu perlu alasan?" Tanya Rayen balik.

__ADS_1


Naya terdiam lagi


"Ada alasan di setiap perbuatan, gue yakin semua hal yang kita lakuin itu ada alasanya." Ujar Naya,


"Terkecuali, lo gak perlu kepo alasan gue berubah tiba-tiba, yang terpenting yang perlu lo tau gue tulus. Kita temenan yah, kalo bisa sahabatan atau menua bersama haha" Sahut Rayen di selingi gelak tawanya di akhir kalimatnya yang membuat Naya, ahh lagi-lagi terdiam.


"Terserah lo deh Belaska, suka-suka lo. Gue udah gak minat terlibat sama lo, walau lo udah baik gini. Jangan buat gue bermimpi."


"Udah deh, cukup sampai disini aja lo buat sebaris kisah tentang kenangan gue di masa depan, selanjutnya lo gak perlu ada apalagi nampakin wajah lo itu dalam takdir gue, gue gak perlu elo."


"Gue juga gak minat temanan atau sahabatan apalagi menua sama lo, ck lo pikir gue mau dengan senang hati? Lo itu udah ninggalin kesan buruk sama gue, dan yang perlu lo tau hati gue gak semulia itu."


"Bagi gue berurusan sama banyak orang itu, sama aja melihara masalah baru, sekali lagi gue gak perlu elo, dan lo udah gue maafin." Naya bercerocos panjang lebar, dan beranjak meninggalkan Rayen.


Rayen diam, dia tidak mengejar Naya. Emangnya buat apa dia bela-belain ngejar gadis itu?


"Dih tu cewe pd banget." Rayen juga kembali menaiki motornya, dan melaju.


Menyisakan tempat yang tanpa sadar suatu saat nanti mungkin akan mereka ingat lagi.


.


"Gara-gara Belaska sialan itu gue harus jalan kakikan." Naya menghentak-hentak kakinya kesel.


"Intinya gue gak mau lagi berurusan sama Belaska sialan itu." Naya *******-***** tangannya kesel.


"Setiap kali berurusan sama tu Belaska pasti jadi gini, ujung-ujungnya gue yang di rugiin."


"Sabar Naya, Rayen emang gapentas buat lo yang baik ini" suara yang tiba-tiba muncul disamping cewek yang sedari tadi ngomel sendiri membuat ia terlonjak, hampir saja Naya mengeluarkan jurus harimau putihnya jika saja ia tidak melihat siapa sosok pengganggu diacara ngomelnya itu.


"ngagetin gue aja lo Nat."


Nathan terkekeh "sorry Nay." sembari mengacak-acak rambut Naya gemes.


"Apaansih lo Nat." Naya menepis tangan Nathan dari atas kepalanya.


Nathan hanya menanggapi dengan kekehan lagi.


"Mana motor lo yang serupa kek punya Belaska itu." Ujar Naya yang baru menyadari bahwa Nathan yang sedang berjalan disampingnya ini tanpa menggunakan motor percircle ala ala geng si Belaska.


"ada." jawab singkat Nathan, entah mengapa ia agak tidak suka saat Naya nyebut-nyebut Rayen di depannya.


"kok lo bisa tau gue disini, lo ngikutin gue ya." tuduh Naya pada Nathan.


"yoi." jawab Nathan dengan mantapnya.


"kurang kerjaan banget lo ngikutin gue." Naya memukul pelan lengan Nathan.


"gue khawatir lo diapa-apain sama Rey."


"ck" Naya malah berdecih mendengar jawaban Nathan.


"gausah sok peduli lo Nat."

__ADS_1


"emang salah kalo gue peduli sama lo?"


"gue cuman kasian sama diri gue sendiri, kalo ntar gue tau bahwa perduli lo itu cuman pura-pura."


Nathan tersenyum samar "gue gak sejahat itu kok."


"percaya sama gue, mungkin gue orang yang ditakdirin untuk ngebuat lo bahagia." perkataan Nathan barusan sontak membuat Naya memukul lengan Nathan lagi, kali ini dengan lebih bertenaga.


"sembarangan ngomong lo Nat." Naya mencebikan bibirnya.


"emang lo gamau gue bahagiain?"


bagi Naya pertanyaan Nathan itu mungkin hanya candaan, jadi dia tidak perlu menjawab serius, karena dari awal ia punya prinsip bahwa ia tidak akan baper pada cowo manapun, titik.


"sorry gak level." Naya mengibaskan kepangan rambutnya dan jawaban cewe si paling kepangan itu membuat Nathan gemes sendiri.


"hmm gaya lo."


"lo kok masaih ngikutin gue." Naya melirik Nathan.


"emang gaboleh?"


"terserah lo sih, kan yang pegel ntar juga kaki lo."


"gakapa sekalian olahraga, udah lama juga gak jalan gini."


"hmm."


mereka akhirnya sama-sama terdiam, dengan terus berjalan tanpa tujuan, semua terserah kaki Naya ingin melangkah kemana, karena ia juga sudah terbiasa berjalan tanpa tujuan seperti sekarang, tapi bedanya kali ini ia berjalan di temani dengan cowo yang bisa ia sebut sebagai teman cowo pertamanya.


"lo laper gak?" tanya Nathan membuka obrolan lagi.


"lumayan laper sih." sahut Naya.


"lo kalo gue ajak makan di warteg level gak?" Nathan bertanya dengan menatap wajah Naya dari samping.


"terserah lo, yang penting lo yang bayarin gue." Naya balas menatap Nathan.


Nathan menyunggingkan senyum. "siapa tau lo gak level, secarakan lo Anak dari Om..."


"sttt, gausah bawa asal usul gue." Naya refleks menginjak kaki Nathan.


"haha sorry." saking gemesnya dengan tingkah cewe di sampingnya itu Nathan rasanya refleks ingin jungkir balik.


"AYANG NATHANNN!"


. . .


haloooo i'm back


Bismillah masih ada pembaca yang mau baca, karena kelamaan bangett gak up, mungkin dah gak ada pembaca🥲tapi gpp tetap percaya diri.


K.A

__ADS_1


__ADS_2