
"Bahagia bukan perkara yang mudah untuk di cari dan di rasakan. memang bisa bahagia tapi sebagian bukan kebahagian sesungguhnya!! Sebenarnya juga kebahagian sesungguhnya lebih sering di dapat dari sebuah hal simple"
Kanaya Zoetessa
°°°
"Naya!! Bunah datang, apa kamu merindukan Bunah!?"
"Bunahhh Naya rindu" Naya menubruk memeluk tubuh Bunah Sella erat.
"Bunah juga rindu sama putri Zoe Bunah" Bunah Sella membalas pelukan Naya.
"Bunah jelaskan pada Naya mengapa Bunah pergi tiba-tiba lalu datang juga tiba-tiba, Bunah seperti hantu tau" kata Naya melepaskan pelukannya.
"Bunah tidak bisa menjelaskan, tapi Bunah cuman mampir sebentar untuk memberitahu sesuatu hal" Bunah Sella bergerak membelai pipi Naya.
"apa itu Bunah?!" tanya Naya penasaran.
"jangan terus-terusan menganggap diri mu bagian keluarga Samatha sesungguhnya, jangan lengah dan selidiki!! cari tau ada apa sebenarnya, jangan biarkan waktumu di habiskan oleh sebuah kebohongan! Buka lah semua yang di tutupi oleh orang-orang di sekitar mu" kata Bunah Sella dengan tatapan serius.
"maksud Bunah Sella apa?!!" Naya mengeryit bingung pada perkataan Bunah Sella barusan yang menurut Naya Ambigu.
Bukanya menjawab, Bunah Sella berbalik dan berjalan cepat menuju arah luar, membiarkan setiap panggilan dan teriakan Naya untuknya.
"Bunah! Bunah tunggu!"
"bunah!!"
"Bunah sella!!"
.
"BUNAH!!!" Naya berteriak dan terbangun dengan nafas memburu.
"hosh, hosh" Naya memperbaiki posisi berbaringnya menjadi bersandar, pikirannya sedang berterbangan mengingat-ngingat mimpinya barusan. Mimpi yang menurutnya seakan nyata dan mimpi yang menurutnya aneh! Iya, aneh. Seperti perkataan Bunah Sella di mimpi itu harus memang di lakukan.
"jangan terus-terusan menganggap dirimu bagian keluarga Samatha sesungguhnya?!!" Naya bergumam seorang diri di dalam kamarnya yang bercahaya hanya temaram.
"Kalau memang harus benar-benar di cari tau!! Dari mana gue harus memulai?!" Naya bertanya pada diri nya sendiri.
"Kebohongan!! Apa di dalam kebohongan itu Bunah Sella juga berperan?!"
__ADS_1
"Argh,,, cukup! Lupakan saja dulu, mari sambung tidur mu Naya" Naya kembali berbaring dan memejamkan matanya berharap ketika bangun besok bisa merasakan suasana yang lebih baik dari sekarang.
•••
"Hey tunggu!!" Naya yang baru saja ingin melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kelas, tiba-tiba berhenti, karena sebuah panggilan di belakangnya.
"Lo manggil gue?!!" kata Naya berbalik dan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya" kata Ziro, ternyata yang memanggil Naya barusan adalah Ziro.
"Ada urusan apa?!" tanya Naya langsung, tanpa basa-basi.
"Gak ada, gue cuman mau kenalan!" kata Ziro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hm, terus"
"Kenalin nama gue Erziro Alfano, lo boleh manggil gue Ziro dari XI IPA 1" Ziro bergerak mengulurkan tangannya.
Naya hanya menatap malas uluran tangan Ziro, uhh,,, dia tau, si Ziro ini pasti bukan mau berkenalan biasa, pasti ada sesuatu niat.
"Naya" ujar Naya singkat dan membalas uluran tangan Ziro.
"Noh mantan lo kegatelan pengen kenalan sama gue, tenang aja gue gak ada niatan buat suka sama mantan lo itu" ujar Naya bergedik acuh, dan masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukan lagi tiga mahluk yang beda nama itu.
"Lho kalian kenapa berdiri bertiga dan saling diam gitu?! Anying gue tau, pasti lagi ngedrama cinta segitaga kan, di sini Rayen lah jadi peran utama" kata Varel yang tiba-tiba nongol entah dari mana, tiba-tiba nongol aja gitu.
"Kutuliskan sebuah cerita cinta segitiga
Di mana akulah yang jadi peran utama" Naya kembali melewati tiga mahluk beda nama yang bertambah satu, sambil bersenandung ria dengan menyanyi lirik pertama lagu yang berjudul lelaki cadangan.
"Naya lo jangan salah paham, kita ini cuman berdiri bukan sedang melakoni kisah cinta segitiga" teriak Ziro pada Naya yang sudah lumayan jauh dari mereka.
"Ya terus apa hubunganya sama gue!! Orang gue cuman nyanyi" teriak Naya juga dan melanjutkan jalanya menuju kantin, guna mengisi perutnya yang hampir roboh pertahanan karena di demo si cacing perut yang kelaparan.
"NAYAAA!" Panggil Nathan dari jauh dan menghampiri Naya lalu merangkulnya.
"Apaan sih! Jangan rangkul-rangkul" kata Nya menepis tangan Nathan.
"Yaelah,,, btw lo mau kemana?" ujar Nathan memperbaiki letak ranselnya.
"Kantin" jawab Naya seadanya.
__ADS_1
"Ngapain?!" ugh... Nathan ini!! Kok bikin kesal ya?! Greget kan.
"Lo bilang mau ngapain?!" tanya Naya balik.
"Iya" angguk Nathan polos.
"Mau nyari harimau buat nge-mangsa elo. Puas!!" teriak Naya di telinga Nathan.
"Oi santuy dong, jangan emosi" ujar Nathan mengelus-elus telinganya yang terasa panas.
"Bodoamat, terserah gue dong" dengus Naya dan berjalan cepat meninggalkan Nathan.
"Naya tunggu!" teriak Nathan menyusul Naya, tanpa menghiraukan desas-desus mengejek tentangnya dan paling utama tentang Naya.
"Cih!! Dasar Cupu si jual mahal" umpat Rayen dari jauh yang sedari tadi mengintip interaksi antara Naya dan Nathan.
"Lo kenapa jadi kesal gitu liatnya?!" tepuk Varel di pundak Rayen.
"Jangan sok tau!!" ketus Rayen dan meninggalkan Varel.
"Lah siapa yang sok tau, gue kan cuman nanya!! Aneh tuh si Ray" kata Verel pada angin yang lewat.
•••
"Untuk tugas tadi, silahkan kalian buat kelompok, satu kelompok cukup tiga orang saja!" ujar Ibu Dini yang sudah memegang buku absen, untuk memilih anggota-anggota kelompok, sesuai sistem Ibu Dini sendiri.
"Doni, Angga dan Bella-Kelompok satu" ujar Ibu Dini meulai menyebutkan.
"Kelompok Dua-, Reva, Santi dan Dio" lanjut Ibu Dini.
"Kanaya, Renata dan Natha kalian berada di kelompok Tiga" kata Ibu Dini lagi yang membuat Naya tersenyum senang, karena sedari tadi ia mengajak Renata berbicara sedikit pun tidak di hiraukan.
"saya mau mengeritik teman kelompok saya Bu, saya ingin pindah ke kelompom lain kalau tidak Kanaya yang di pindah!!...?"
•••
**TBC
#Maaf baru update, sekali update cuman dikit, sorry😁😁...
thnkyou for sweet readers 💚💚**
__ADS_1